SEBELAS JENIS MANUSIA YANG DIDOAKAN MALAIKAT


PERCAYA kepada malaikat adalah antara rukun iman. Ada malaikat yang ditugaskan berdoa kepada makhluk manusia dan sudah tentu seseorang yang didoakan malaikat mendapat keistimewaan. Dalam hidup, kita sangat memerlukan bantuan rohani dalam menghadapi ujian yang kian mencabar. Bantuan dan sokongan malaikat sangat diperlukan.

Kali ini penulis ingin menyenaraikan antara jenis manusia yang akan menerima doa malaikat.  Ketika itulah sewaktu kita menghadapi masalah, kerumitan, keperluan dan bimbingan, bukan saja kita perlukan kekuatan doa dari lidah, tetapi juga sokongan malaikat.

Antara orang yang mendapat doa malaikat ialah:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesiapa yang tidur dalam keadaan suci, malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci.”

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Tidaklah salah seorang antara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali kalangan malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.'”

 3. Orang yang berada di saf depan solat berjemaah.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat ke atas (orang) yang berada pada saf depan.”

4. Orang yang menyambung saf pada solat berjemaah (tidak membiarkan kekosongan di dalam saf).

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat selalu berselawat kepada orang yang menyambung saf.”

5. Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca al-Fatihah.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Jika seorang imam membaca…(ayat terakhir al-Fatihah sehingga selesai), ucapkanlah oleh kamu ‘aamiin’ kerana sesiapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang lalu.”

 6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Kalangan malaikat akan selalu berselawat kepada satu antara kalian selama ia ada di dalam tempat solat, di mana ia melakukan solat.”

 7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Asar secara berjemaah.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Kalangan malaikat berkumpul pada saat solat Subuh lalu malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.

“Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat Asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat Asar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?”

Mereka menjawab: ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, ampunilah mereka pada hari kiamat.'”

 8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, malaikat itu berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'”

 9. Orang yang membelanjakan harta (infak).

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak…’ “

 10. Orang yang sedang makan sahur.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat kepada orang yang sedang makan sahur.”

 11. Orang yang sedang menjenguk (melawat) orang sakit.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga Subuh.”

 Itulah antara mereka yang mendapat doa malaikat. WAllahu’alam. Semoga kita termasuk dan tersenarai sama. InsyaAllah

RUKUN IMAN 2 – PERCAYA KEPADA PARA MALAIKAT


I. DEFINISI MALAIKAT

Menurut bahasa ملائكة bentuk jama’ dari ملك. Dikatakan ia berasal dan kata (risalah), dan ada yang menyatakan dan (mengutus), dan ada pula yang berpendapat selain dan keduanya.

Adapun menurut istilah, ia adalah salah satu jenis makhluk Allah yang Ia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepadaNya serta mengerjakan semua tugas-tugas-Nya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mereka letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20).

Dan mereka berkata, ‘Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikatmalaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tiada mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al-Anbiya’: 26-27).

II. KEPERCAYAAN MANUSIA TENTANG MALAIKAT SEBELUM ISLAM

Wujud malaikat diakui dan tidak diperselisihkan oleh umat manusia sejak dahulu kala. Sebagaimana tidak seorang jahiliyah pun diketahui mengingkarinya, meskipun cara penetapannya berbeda-beda antara pengikut para nabi dengan yang lainnya.

Orang-orang musyrik menyangka para malaikat itu anakanak perempuan Allah Subhanallah (Mahasuci Allah). Allah telah membantah mereka dan menjelaskan tentang ketidaktahuan mereka dalam firman-Nya,

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka men yaksikan penciptaan malaikatmalaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Az-Zukhruf: 19).

Atau apakah kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, ‘Allah beranak’. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash-Shaffat: 150-152).

III. BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Iman kepada malaikat adalah rukun iman yang kedua. Maksudnya yaitu meyakini secara pasti bahwa Allah mempunyai para malaikat yang diciptakan dan nur, tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah titahkan kepada mereka.

Dalil-dalil yang mewajibkan beriman kepada malaikat:

1. Firman Allah dalam surat al-Baqarah,

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dan Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya dan rasul-rasulNya…” (Al-Baqarah: 285).

Allah menjadikan iman ini sebagai akidah seorang mukmin.

2. Firman Allah pada ayat lainnya,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi-nabi…” (Al-Baqarah: 177).

Allah mewajibkan percaya kepada hal-hal tersebut di atas dan mengafirkan orang-orang yang mengingkarinya. Allah berfirman, dan barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Han Kemudian, maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).

3. Sabda Rasulullah ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang iman,

Iaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan Hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik mahu pun yang buruk.” (HR. Muslim, 1/37 dan al-Bukhari, 1/19-20).

Rasulullah menjadikan iman itu adalah dengan mempercayai semua yang disebut tadi. Sedangkan iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman tersebut. Keberadaan malaikat ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang pasti (qath‘iy), sehingga mengingkarinya adalah kufur berdasarkan ijma’ umat Islam, karena ingkar kepada mereka bererti menyalahi kebenaran al-Quran dan as-Sunnah.

IV. MACAM-MACAM MALAIKAT DAN TUGASNYA

Malaikat adalah hamba Allah yang dimuliakan dan utusan Allah yang dipercaya. Allah menciptakan mereka khusus untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah putera-puteri Allah dan bukan pula putera-puteri selain Allah. Mereka membawa risalah Tuhannya, dan menunaikan tugas masing-masing di alam ini. Mereka juga bermacam-macam, dan masing-masing mempunyai tugas-tugas khusus. Di antara mereka adalah:

1 – Malaikat yang ditugaskan menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada para rasul-Nya, Ia adalah ar-Ruh al-Amin atau Jibril. Allah berfirman,

Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syuara: 193-194).

Allah menyifati Jibril dalam tugasnya menyampaikan al-Qur’an dengan sifat-sifat yang penuh pujian dan sanjungan,

Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (At-Takwir: 19-21).

2 – Malaikat yang diserahi urusan hujan dan pembagiannya menurut kehendak Allah. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah dan Nabi s.a.w. beliau bersabda,

Tatkala seorang laki-laki bërada di tanah lapang (gurun) dia mendengar suara di awan, ‘Siramilah kebunfulan,’ maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air di suatu tanah yang berbatu hitam, maka saluran air di situ dan saluransaluran yang ada telah memuat air seluruhnya…” (HR. Muslim, 4/2288).

Ini menunjukkan bahwa curah hujan yang dilakukan malaikat sesuai dengan kehendak Allah s.w.t.

3 – Malaikat yang diberikan trompet, iaitu Israfil, Ia meniupnya sesuai dengan perintah Allah dengan tiga kali tiupan: tiupan faza’ (ketakutan), tiupan sha’aq (kematian) dan tiupan ba’ts (kebangkitan). Begitulah yang disebut Ibnu Jarir dan mufassir lainnya ketika menafsirkan firman Allah,

…di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anam: 73).

Dan firman Allah,

…kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 99),

Dan ayat-ayat lainnya yang ada sebutan, “an-nafkhu fishshur” (meniup terompet).

4 – Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan rakan-rakannya. Tentang tugas malaikat ini Allah berfirman,

Katakanlah, ‘Malaikat maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11).

…sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban.” (AlAnam: 61).

5 – Para malaikat penjaga syurga. Allah mengabarkan mereka ketika menjelaskan perjalanan orang-orang bertakwa dalam firman-Nya,

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombong (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal didalamnya’.” (Az-Zumar:73).

6 – Para malaikat penjaga Neraka Jahanam, mereka itu adalah Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah Malik. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ketika menyifati Neraka Saqar,

Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat.” (Al-Muddatstsir: 27-30).

Dan Allah bercerita tentang penduduk neraka,

Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (Az-Zukhruf: 77).

7 – Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala urusan-nya. Mereka adalah Mu’aqqibat, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam firman-Nya,

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan uca pan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam han dan yang berjalan (menampakkan din) di siang han. Bagi manusia ada malaikatmalaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Rad:10-11).

Dan firman Allah,

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…” (A1-An’am: 61).

8 – Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal yang baik mahupun amal yang buruk. Mereka adalah al-Kiram al-Katibun (para pencatat yang mulia). Mereka masuk dalam golongan Hafazhah (para penjaga), sebagaimana firman Allah,

Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80).

(Iaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17-18).

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12).

Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menyebut tentang mereka banyak sekali.

V. HUBUNGAN MALAIKAT DENGAN MANUSIA

Allah mewakilkan kepada malaikat urusan semua makhluk termasuk urusan manusia. Jadi mereka mempunyai hubungan yang erat dengan manusia semenjak ia berupa sperma. Hubungan ini disebutkan Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Ighatsatul Lahfan’, beliau berkata, Mereka diserahi urusan penciptaan manusia dan satu fasa ke fasa yang lain, pembentukannya, penjagaannya dalam tiga lapis kegelapan, penulisan rezeki, amal, ajal, nasib celaka dan bahagianya, menyertainya dalam segala urusan-nya, penghitungan ucapan dan perbuatannya, penjagaannya dalam hidupnya, pencabutan ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika untuk diperlihatkan kepada Penciptanya.

Merekalah yang ditugasi mengurus adzab dan nikmat dalam alam barzakh dan sesudah kebangkitan. Mereka yang ditugasi membuat alat-alat kenikmatan dan adzab, Mereka yang meneguhkan (iman) bagi hamba yang mukmin dengan izin Allah, yang mengajarkan baginya apa yang bermanfaat, yang berperang membelanya. Merekalah para walinya (penolongnya) di dunia dan di akhirat. Mereka yang menjanjikannya kebaikan dan mengajak kepadanya, melarang kejahatan serta memperingatkannya. Maka mereka adalah para wali dan ansharnya, penjaga dan mu ‘allim (pengajar)nya, penasihat yang berdoa dan beristighfar untuknya, yang selalu bershalawat atasnya Selama ia mengajarkan kebaikan untuk manusia. Mereka yang memberi khabar gembira dengan karamah Allah ketika tidur, mati dan ketika dibangkitkan. Merekalah yang membuatnya zuhud di dunia dan menjadikannya cinta kepada akhiratnya.

Mereka yang mengingatkan ketika ia lupa, yang menggiatkannya ketika ia malas, dan menenangkannya ketika ia panik. Mereka yang mengupayakan kebaikan dunia dan akhiratnya. Merekalah para utusan Allah dalam mencipta dan mengurusnya. Mereka adalah safir (duta) penghubung antara Allah dan hamba-Nya. Turun dengan perintah dari sisi-Nya di seluruh penjuru alam, dan naik kepada-Nya dengan perintah (membawa urusan).”

Sedangkan dalil-dalil keterangan di atas adalah al-Qur’an dan as-Sunnah yang tentunya amat panjang jika disebutkan, di samping memang dalil-dalil itu terkenal dan masyhur.

AKIDAH ISLAM


Pengenalan

     

  1. Akidah dari segi bahasa bererti simpulan iman ataupun pegangan yang kuat atau satu keyakinan yang menjadi pegangan yang kuat
  2. Akidah dari sudut istilah ialah kepercayaan yang pasti dan keputusan yang muktamat tidak bercampur dengan syak atau keraguan pada seseorang yang berakidah sama ada akidah yang betul atau sebaliknya
  3. Akidah Islam ialah kepercayaan dan keyakinan terhadap Allah sebagai rabb dan ilah serta beriman dengan nama-namaNya dan segala sifat-sifatNya juga beriman dengan adanya malaikat, kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhirat dan beriman dengan taqdir Allah sama ada baik atau buruk termasuk juga segala apa yang dating dari Allah. Seterusnya patuh dan taat pada segala ajaran dan petunjuknya. Oleh itu, akidah Islam ialah keimanan dan keyakinan terhadap Allah dan RasulNya serta apa yang dibawa oleh Rasul dan dilaksanakan dalam kehidupan
  4.  

Pengertian Akidah

     

  1. Setiap umat Islam wajib mengetahui, mempelajari dan mendalami ilmu akidah supaya tidak berlaku perkara-perkara yang membawa kepada penyelewengan akidah kepada Allah swt
  2. Akidah sebenar adalah akidah yang berdasarkan pada al-Quran dan As-Sunnah
  3.  

Ilmu Akidah

Ilmu Tauhid

Ilmu yang menerangkan tentang sifat Allah swt yang wajib diketahui dan dipercayai

Ilmu Usuluddin

Suatu ilmu yang kepercayaan dalam agama Islam, iaitu kepercayaan kepada Allah swt dan pesuruhNya

Ilmu Makrifat

Suatu ilmu yang membahaskan perkara-perkara yang berhubung dengan cara-cara mengenal Allah swt

Ilmu Kalam

Sesuatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliah (ilmiah) sebagai perisai terhadap segala tentangan daripada pihak lawan

Ilmu Akidah

Suatu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara yang berhubung dengan keimanan kepada Allah swt

Huraian Rukun Iman

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Umar Ibni Al-Khattab r.a bahawa di dalam pertemuan malaikat Jibril dengan Rasulullah saw di dalam sebuah majlis yang dihadiri oleh ramai sahabat-sahabat Rasulullah saw maka Jibril telah mengemukakan pertanyaan kepada Rasulullah saw yang bermaksud:-

“Jibril telah berkata kepada Rasulullah, kamu terang kepadaku mengenai iman maka jawab Rasulullah, iman itu ialah bahawa kami beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada rasul-rasul, kepada hari kemudian dan kamu beriman bahawa habuan dan peruntukan bagi kamu sama ada baik atau buruk adalah semua daripada Allah swt, maka Jibril pun berkata kamu telah berkata benar.”

Jadi, dari ayat Al-Quran dan hadith dapatlah disimpulkan bahawa iman itu ialah 6 perkara iaitu:

     

  1. Percaya kepada Allah
  2. Percaya kepada Malaikat
  3. Percaya kepada Kitab
  4. Percaya kepada Rasul
  5. Percaya kepada Hari Kiamat
  6. Percaya kepada Qada’ dan Qadar
  7.  

Percaya Kepada Allah Swt

Erti beriman dengan Allah Ta’ala itu ialah mengetahui, percaya dan beriktikad dengan perkara-perkara yang wajib, perkara-perkara mustahil dan perkara yang harus bagi Allah Ta’ala.

Beriman dengan Allah juga bermaksud:

     

  1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah
  2. Membenarkan dengan yakin akan keEsaan Allah, baik dalam perbuatanNya menjadikan alam dan makhluk seluruhnya mahupun dalam menerima ibadat setiap makhluk
  3. Membenarkan dengan yakin bahawa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, suci dari segala kekurangan dan suci juga dari menyerupai segala yang baharu
  4.  

“Wahai sekalian manusia! Beribadatlah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu (menjadi orang-orang yang ) bertaqwa –

(Surah Al-Baqarah:21)

Ertinya bahawa Allah itu adalah pencipta setiap benda yang ada di ala ini termasuk bumi langit dan planet-planet yang lain, yang dapat dilihat atau tidak, semuanya adalah kepunyaan Allah swt

Percaya kepada Allah ini adalah pokok kepada kepercayaan atau rukun-rukun iman yang lain kerana dengan adanya Allah maka adanya yang lain-lain itu.

     

  1. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyyah Allah swt
  2. Tauhid Rububiyah bermaksud hanya Allah sahaja sebagai Rabb (pencipta, pemilik, pemerintah, memberi rezeki dan seumpamanya). Tidak boleh dijadikan, dianggap atau dirasakan yang lain sebagai rabb atau bersama-sama Allah menjadi Rabb.
  3. Tauhid Uluhiyyah bermaksud orang Islam yang beriman dengan keimanan yang sebenar, dia hanya mengambil Allah sebagai Ilah. Dia tidak meletakkan Allah bersama-sama yang lain sebagai Ilah. Allah sahaja sebagai pujaan dan sembahannya. Maklud Ilah ialah sesuatu yang dipuja dan disembah.
  4. Mempelajari dan memahami ajaran Allah
  5. Maksud beriman kepada Allah juga sepatutnya kita mempelajari dan memahami segala yang datang daripada Allah melalui RasulNya sama ada dalam al-Quran atau al-Sunnah. Maksud beriman kepada Allah bukan sekadar percaya tentang kewujudan Allah tetapi termasuk juga segala apa yang datang daripada Allah swt
  6.  

Yakin dan Melaksanakan Petunjuk Allah swt
Antara maksud dan tuntutan iman kepada Allah ialah yakin terhadap apa yang datang daripada Allah. Yakin dengan kebenaran, kesempurnaan Islam sebagai satu Din yang shamil dan kamil serta terbaik

Percaya kepada Malaikat

Ertinya ialah bahawa Allah telah menjadikan sejenis makhluk halus yang keadaan asalnya tidak boleh dilihat, bukan lelaki dan bukan perempuan. Hidup mereka sentiasa taat kepada perintah Allah tanpa sesekali menderhakainya. Malaikat dijadikan oleh Allah daripada cahaya. Sabda Rasulullah saw (terjemahanya):

”Malaikat itu dijadikan daripada cahaya, jin dijadikan daripada api yang tidak berasap & dijadikan nabi Allah Adam sebagaimana yang diterangkan iaitu daripada tanah”–(Hadith riwayat Muslim)

Nama dan Tugas Malaikat

     

  1. Jibril – Menyampaikan wahyu dan perintah Allah kepada nabi-nabi & rasul-rasulNya untuk disampaikan kepada manusia
  2. Mikail – Mengawal cekerawala termasuk matahari, bulan, bintang-bintang, hujan & panas dan lain mengikut yang dikehendaki oleh Allah
  3. Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk yang bernyawa apabila sudah sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah
  4. Israfil – Meniup sengkekala apabila tiba masanya
  5. Raqib – Mencatit amalan baik yang dilakukan oleh manusia
  6. Atid – Mencatit amalan jahat yang dilakukan oleh manusia
  7. Mungkar – Menyoal manusia di dalam kubur
  8. Nakir – Menyoal manusia di dalam kubur
  9. Ridhwan – Mengawal syurga
  10. Malik – Mengawal neraka
  11.  

Antara tugas-tugas Malaikat seperti:

     

  1. Membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul
  2. Bertasbih dan patuh dan sujud pada Allah
  3. Memikut Arsy
  4. Berdoa untuk orang-orang beriman
  5.  

Peranan Malaikat di Akhirat seperti memberi salam pada ahli syurga, mengazab ahli neraka dan seumpamanya

Hikmat Beriman Kepada Malaikat

     

  1. Seseorang itu menyedari bahawa dia sentiasa diawasi oleh Malaikat maka dia akan sentiasa menjaga tingkah laku yang berkelakuan baik, menjaga tutur kaya yang walau dimana dia berada
  2. Seseorang akan segera insaf dan tidak mengulangi kesalahan dan kesilapan kerana menyedari setiap tutur kata dan gerak laku yang tidak terlepas daripada catitan Malaikat Raqib & Atid
  3. Seseorang muslim akan sentiasa melakukan apa yang disuruh Allah dan menghindar apa yang dilarang Allah supaya selamat di alam kubur kerana dia mengetahui apabila dia mati, dia akan ditanya dan diseksa oleh Malaikat di dalam kubur
  4.  

Percaya Kepada Kitab

Orang-orang Islam wajib percaya bahawa Allah swt telah menurunkan beberapa buah kitab kepada rasul-rasulNya. Isi pengajaran kitab-kitab itu adalah mengandungi ajaran-ajaran mengenai amal ibadat untuk akhirat dan juga petunjuk-petunjuk untuk memperbaiki kehidupan manusia di dunia

Kitab-kitab yang wajib diketahui ialah:

     

  1. Zabur : Nabi Daud (dalam bahasa Qibti)
  2. Taurat : Nabi Musa (dalam bahasa Ibrani)
  3. Injil : Nabi Isa (dalam bahasa Suryani)
  4. Al-Quran : Nabi Muhammad saw (dalam bahasa Arab)
  5.  

Firman Allah swt yang bermaksud:

”Pada mulanya manusia itu adalah umat yang satu (menurut agama Allah yang satu tetapi akhirnya mereka telah berselisih faham), maka Allah telah mengutuskan nabi-nabi sebagai pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan syurga), dan pemberi amaran (kepada yang engkar dengan balasan azab neraka), dan Allah menurunkan bersama nabi-nabi itu kitab-kitab suci yang mempunyai keterangan-keterangan benar untuk menjalankan hukuman di antara manusia mengenai apa yang mereka pertikaikan”

(Surah Al-Baqarah: 213)

Al-Quran merupakan kitab terakhir sekali diturunkan oleh Allah & penutup kepada segala kitab-kitab yang terdahulu

Percaya Kepada Rasul

Seseorang Islam diwajibkan beriman bahawa Allah telah mengutuskan beberapa orang rasul yang dipilihNya daripada jenis manusia yang cukup sempurna. Mereka membimbing manusia kepada kehidupan yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat

Sifat-sifat yang wajib bagi Rasul:

     

  1. Siddiq – Benar pada segala percakapan, perkhabaran & perbuatan
  2. Amanah – Jujur dan tidak membuat kesalahan
  3. Tabligh – Menyampaikan semua perintah Allah kepada manusia
  4. Fathonah- Bijaksana
  5.  

  • Erti Rasul dari segi bahasa : Utusan yang menyampaikan sesuatu perutusan seseorang kepada orang lain
  • Erti Rasul dari segi istilah: Lelaki utusan Allah yang menerima wahyu Allah untuk dirinya yang wajib disampaikan kepada umat manusia agar mereka dapat melalui jalan yang lurus dan diredhai Allah
  • Dari segi keaslian : al-Quran tetap asli tidak ada perubahan dan tidak mampu dipinda oleh manusia manakala kitab-kitab lain berubah dan tidak asli
  • Al-Quran sesuai untuk semua zaman dan tempat, manakala kitab-kitab lain untuk tempoh-tempoh tertentu sahaja
  • Bahasa Al-Quran adalah bahasa arab yang hidup pemakainnya sepanjang masa, iaitu sentiasa digunakan oleh ramai dan banyak negara di seluruh dunia
  •  


    Hikmah Beriman Dengan Kitab-kitab

    Menunjukkan bahawa agama yang dating daripada Allah adalah satu sahaja iaitu Islam yang terkandung di dalam kitab-kitab yang datAng daripada Allah mendahului. Para Nabi semasa ke semasa sehinggalah kitab al-Quran.

    Umat manusia di sepanjang zaman sebenarnya memerlukan agama yang satu iaitu Islam, yang berteraskan akidah tauhid. Ini semua terkandung dalam semua kitab-kitab yang datang daripada Allah.

    Perbezaan dari segi syariat perkara penting berkaitan pelaksanaan dalam agama boleh berlaku. Yang ditegah secara tegas ialah perbezaan dari segi akidah atau perkara-perkara usul. Ini terbukti dalam syariat-syariat kitab-kitab dari satu nabi dengan nabi yang lain berbeza, tetapi akidah dan perkara pokok yang lain semuanya sama.

    Semua para Nabi adalah Islam. Tidak ada percanggahan antara al-Quran dan Taurat sebagaimana juga tidak ada pertentangan dengan Injil dan kitab-kitab lain.

    Percaya Kepada Hari Akhirat

    Beriman kepada hari Akhirat merupakan masalah yang paling berat dari segala macam akidah dan kepercayaan manusia. Sejak zaman sebelum Islam sampailah sekarang manusia telah memperkatakan masalah ini. Para ahli fakir selalu menempatkan persoalan ini sebagai inti penyelidikan, sebab beriman kepada hari akhirat akan membawa manusia kepada keyakinan adanya satu kehidupan duniawi dan penciptaan manusia. Demikianlah pentingnya masalah ini hingga turunnya ayat-ayat Allah menerangkan kedudukan hari Akhirat.

    Lima fasa pola beriman kepada hari Akhirat:

       

    1. Tahap kehancuran makhluk yang ada di muka bumi. Terjadi gempa bumi, di mana gunung-gunung menjadi debu, air laut mendidih meluap-luap, bintang-bintang berguguran, langit bergulungan, sedang manusia mabuk dan pitam. Kemudian musnahlah segala makhluk sama ada yang bernyawa mahupun tidak, hanya Allah yang tetap kekal
    2. Hari kebangkitan di mana manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan dipadang Mahsyar
    3. Diperlihatkan seluruh amal perbuatan di dunia dahulu. Tidak ada yang tersembunyi sama ada yang jahat mahupun yang baik, sekalipun sebesar zarah
    4. Hari menghisab di depan mahkamah keadilan Allah, dimana manusia akan memperolehi keputusan yang paling adil tanpa ada penganiayaan
    5. Hari keputusan di mana manusia akan menerima ganjaran yang setimpal dengan amalannya. Di sini saat yang dijanjikan akan dipenuhi sebagai tujuan penciptaan manusia. Mereka yang banyak amal kebajikan ditempatkan di syurga dan banyak amalan kejahatan akan ditempatkan di neraka
    6.  

    Kepentingan Beriman dengan Hari Akhirat

       

    1. Memperbaharui kesedaran tentang hakikat adanya alam akhirat yang merupakan tempat manusia menerima balasan dan juga tempat yang kekal abadi untuk semua manusia
    2. Mempertingkatkan keimanan dengan merasai keagongan Allah Rabul-Alamin selaku pemerintah dan penguasa serta tuan punya Alam, pencipta dan pemilikan hari Akhirat dan segala isi kandungannya
    3. Melembutkan hati manusia dengan mengingati mati dan Hari Akhirat
    4. Mengalakkan orang Islam melakukan ma’ruf (kebaikan) dan meninggalkan kejahatan
    5.  

    Beriman Kepada Qada Dan Qadar’

    Maksud Takdir

       

    1. Takdir ataupun ketentuan Allah terhadap makhluknya khususnya manusia dapat dibahagikan kepada dua:
    2. Ketentuan tentang nature yang mengandungi sebab musabab
    3. Takdir atau ketentuan Allah terhadap makhlukNya, khususnya manusia
    4.  

    Sikap Orang Islam Dalam Menerima Takdir Allah

       

    1. Menerima dan redha terhadap apa yang ditakdirkan oleh Allah, kerana Allah Maha Adir dan tidak mungkin melakukan kezaliman terhadap makhlukNya. Apa yang Allah tentukan kepada manusia di luar dari pilihan manusia adalah kebijaksanaan dan keadilan Allah. Ada sesuatu hikmah di sebalik ketentuan itu. Mungkin apa yang kita rasa baik adalah buruk bagi kita dan demikianlah sebaliknya. Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui
    2. Mestilah bersabar sekiranya Allah takdirkan sesuatu yang buruk yang berlaku ke atas diri kita. Mungkin di sebalik apa yang berlaku itu ada sesuatu yang baik yang Allah akan anugerahkan kepada kita
    3.  

    Peringkat-Peringkat Iman

       

    1. Iman Taqlid – Iman ikut-ikutan, hanya semata-mata mengikut pendapat orang lain
    2. Iman Ilmu – Beriman semata-mata kerana berilmu dan berdasarkan pada fikiran tidak terletak di hati
    3. Iman A’yan – Iman yang terletak di dalam hati. Iman ini dimiliki oleh orang-orang soleh
    4. Iman Hak – Iman sebenar yang terlepas dari nafsu syaitan. Iman ini dimiliki oleh golongan muqarabbin, iaitu orang yang hampir dengan Allah
    5. Iman Hakikat – Iman peringkat tertinggi yang boleh dicapai oleh manusia. Iman ini hidup semata-mata untuk Allah dan Rasul serta hari Akhirat seperti para sahabat nabi
    6.  

    Iman Bertambah Dan Iman Berkurang

    Iman manusia sentiasa bertambah dan berkurang mengikut amalan. Perkara-perkara yang perlu dilakukan untuk meneguhkan iman:

       

    1. Melawan hawa nafsu
    2. Mengosongkan hati daripada sifat-sifat tercela
    3. Membiasakan diri dengan sifat-sifat terpuji
    4. Melahirkan keikhlasan berbakti & berkorban semata-mata kerana Allah
    5. Memperbanyakkan amalan-amalan sunat
    6. Bertafakur, iaitu memerhatikan tanda-tanda kebesaran dan kekuasan Allah
    7.  

    Kepentingan Mempelajari Ilmu Akidah

    Antara beberapa kepentingan mempelajari ilmu akidah termasuklah:

       

    1. Supaya terhindar daripad ajaran-ajaran sesat yang akan merosakan akidah seseorang terhadap Allah swt
    2. Meneguhkan keimanan dan keyakinan kepada sifat-sifat kesempurnaanNya
    3. Memantapkan akidah seseorang supaya tidak terikut dan terpengaruh dengan amalan-amalan yang boleh merosakan akidah
    4. Audit dan Timbangan Amalan. Antaranya perkara yang akan dialami oleh manusia di akhirat ialah hisab dan timbangan amalan
    5. Balasan Syurga dan Neraka. Berdasarkan nas-nas al-Quran menunjukkan bahawa orang yang mempunyai amalan baiknya banyak sehingga memberatkan timbangan amalan baik ia akan dimasukan ke dalam syurga, manakala mereka yang sebaliknya akan dimasukan ke dalam neraka
    6. Dapat mengeluarkan hujah-hujah yang boleh mematahkan hujah daripada pihak lawan yang cuba memesongkan akidah seseorang
    7.  

    Kepentingan Akidah Dalam Kehidupan Manusia

       

    1. Akidah Sebagai Asas
    2. Akidah Sebagai Penentu atau Pendorong
    3.  

    Penyelewengan Dan Kerosakan Akidah

       

    1. Melalui Percakapan atau ucapan
    2. Melalui Perbuatan
    3. Melalui Iktikad dalam hati
    4.  

    Pembinaan Akidah

       

    1. Memahami konsep Islam yang sebenarnya dan memahami konsep akidah secara khusus
    2. Membersihkan hati dengan cara meninggalkan dosa dan melakukan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah
    3. Sentiasa berjihad melawan nafsu dan syaitan untuk beriltizam dengan Islam
    4. Bersama-sama dengan orang-orang yang soleh atau sentiasa mencari suasana yang baik
    5. Sentiasa berdoa memohon pimpinan Allah
    6. Bertawakal kepada Allah
    7.  

    Kesimpulan

    Secara keseluruhannya, konsep akidah amat mudah dipelajari dan difahami secara umum kepada sesiapa sahaja yang ingin mengamalkan akidah secara istiqamah(berterusan). Secara tidak langsung, masyarakat yang mengamalkan konsep akidah yang betul akan melahirkan sebuah negara yang tinggi ilmu, amal dan akhlaknya.

    %d bloggers like this: