KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH DALAM PERSPEKTIF SYARI’AT


KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH DALAM PERSPEKTIF SYARI’AT

Oleh:Yakhsyallah Mansur

Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فِىْ الاَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّى أَعْلَمُ مَا لاَتَعْلَمُوْنَ {البقرة: 30}.

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi . Mereka bekata:’Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” (QS.Al-Baqarah: 30).

Menurut Ibnu Katsir, Imam Al-Qurthubi dan ulama yang lain telah menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya menegakkan khilafah untuk menyelesaikan dan memutuskan pertentangan antara manusia, menolong orang yang teraniaya, menegakkan hukum Islam, mencegah merajalelanya kejahatan dan masalah-masalah lain yang tidak dapat terselesaikan kecuali dengan adanya imam (pimpinan).

Selanjutnya Ibnu Katsir menukilkan kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi:

وَمَا لاَ يـَتـِمُّ اْلـوَاجـِبُ إِلاَّ بِهِ فَهـُوَ وَاجـِبٌ.

“Sesuatu yang menyebabkan kewajiban tidak dapat terlaksana dengan sempurn,maka dia menjadi wajib adanya”.

Ayat lain yang menjadi dalil wajibnya menegakkan khilafah adalah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ {النساء: 59}

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu, (QS.An-Nisa: 59).

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan agar orang yang beriman mentaati Ulil Amri.

Menurut Al-Mawardi, Ulil Amri adalah pemimpin yang memerintah umat Islam. Tentu saja Allah tidak memerintahkan umat Islam untuk mentaati seseorang yang tidak berwujud sehingga jelaslah bahwa mewujudkan kepemimpinan Islam adalah wajib. Ketika Allah memerintahkan untuk mentaati Ulil Amri berarti juga memerintahkan untuk mewujudkannya, demikian menurut Taqiyuddin An-Nabhani.

Kewajiban menegakkan khilafah juga didasarkan kepada beberapa hadits Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam antara lain:

لاَ يَحـِلُّ لـِثَلاَثـَةِ يَكـُوْنـُوْنَ بـِفـَلاَةِ مـِنْ فـَلاَةِ اْلاَرْضِ إِلاَّ اَنْ يـُؤَمـِّرَ عـَلـَيْهـِمْ اَحَـدَهُـمْ {رواه أحمد}.

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di permukaan bumi kecuali mengangkat salah seorang diantara mereka menjadi pimpinan” (HR.Ahmad).

Asy-Syaukani berkata:”hadits ini merupakan dalil wajibnya menegakkan kepemimpinan di kalangan umat Islam. Dengan adanya pimpinan umat Islam akan tehindar dari perselisihan sehingga terwujud kasih sayang diantara mereka. Apabila kepemimpinan tidak ditegakkan maka masing-masing akan bertindak menurut pendapatnya yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Di samping itu kepemimpinan akan meminimalisir persengketaan dan mewujudkan persatuan”.

Sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ {رواه البخاريعن ابى هريرة}.

“Dahulu Bani Israil senantiasa dipimpin oleh para Nabi, setiap mati seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya dan sesudahku ini tidak ada lagi seorang Nabi dan akan terangkat beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau bersabda: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama, maka untuk yang pertama dan berilah kepada mereka haknya, maka sesungguh nya Allah akan menanyakan apa yang digembala kannya.” (HR.Al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Hadits ini di samping menginformasikan kondisi Bani Israil sebelum Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam diutus sebagai Rasul dan Nabi terakhir yangs selalu dipimpin oleh para Nabi, juga merupakan Nubuwwah Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam tentang peristiwa yang akan dialami umat Islam sepeninggal beliau.

Nubuwwah adalah pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam tentang peristiwa yang akan terjadi.

Pada hadits ini Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam menjelaskan bahwa sepeninggal beliau umat Islam akan dipimpin oleh para khalifah, seperti Bani Israil dipimpin oleh para Nabi. Para khalifah ini akan memimpin umat Islam seperti para Nabi memimpin Bani Israil hanya saja mereka tidak menerima wahyu.

Oleh karena itu Abu Al-Hasan Al-Mawardi (w.450 H) mendefinisikan Imaamah (kepemimpinan umat Islam) sebagai

موضوعة لخلافة النبوة فى حراسة الدين وسياسة الدنيا.

“Kedudukan yang diadakan untuk menggantikan kenabian dalam rangka memelihara agama dan mengatur dunia).

Kata السياسة yang merupakan masdar dari kata ساس- يسوس , menurut An-Nawawi dalam “Syarh Muslim” mempunyai pengertian :

القيام على الشيئ بما يصلحه. “Mengatur sesuatu dengan cara yang baik”

Ketika menjelaskan hadits di atas Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata:”Di dalamnya mengandung petunjuk tentang keharusan adanya pemimpin bagi masyarakat (Islam) yang akan mengatur urusan mereka dan membawanya ke jalan yang baik serta melindungi orang-orang yang teraniaya”.

Para ulama mengomentari kewajiban menegakkan khilafah (kepemimpinan umat Islam) sebagai berikut

a. Asy Syaikh Muhammad Al-Khudlri Bik

Di dalam “Itmam Al-Wafa” mengatakan bahwa umat Islam telah sepakat tentang wajibnya menegakkan khilafah (kepemimpinan Islam) setelah Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam.

b. Al-Jurjani

“Mengangkat Imam adalah salah satu dari sebesar-besar maksud dan sesempurna-sempurna nya kemaslahatah ummat”.

c. Al-Ghazali.

“Ketentraman dunia dan keamanan jiwa dan harta tidak tercapai kecuali dengan adanya pimpinan yang ditaati oleh karenanya orang mengatakan:’Agama dan pimpinan adalah dua saudara kembar’. Dan karenanya pula orang mengatakan:’Agama adalah sendi dan pimpinan adalah pengawal. Sesuatu yang tidak ada akan hancur, dan sesuatu yang tidak ada pengawal akan tersia-sia.

d. Ibnu Khaldun

“Mengangkat Imam adalah wajib. Telah diketahui wajibnya pada syara’ dan ijma’ sahabat dan tabi’in. mengingat bahwa para sahabat segera membai’at Abu Bakar stelah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat dan menyerahkan urusan masyarakat kepadanya. Demikian pula pada tiap masa sesudah itu tidak pernah masyarakat diabiarkan dalam keadaan tidak berpemimpin. Semuanya merupakan ijma’ yang menunjukkan kewajiban adanya Imam.

e. Al-Mawardi

“Andaikata tidak ada Imam, masyarakat tentu menjadi kacau balau (anarkhis) dan tidak ada yang memperhatikan kepentingan mereka.

f. Yusuf Al-Qardhawi

“Disebutkan dalam “Mandzumah Al-Yanharah”

وواجـب نـصـب امام عادل # بالـشـرع فاعـلم لابحـكـم العـقـل.

“Kewajiban mengangkat Imam yang adil # adalah ketentuan syara’ buakan ketetapan akal”.

Oleh karena itu muslimin yang tidak memiliki Imam atau Khalifah, maka mereka semuanya menanggung dosa. Karena mereka telah melalaikan satu kewajiban, yaitu fardlu kifayah yang menjadi tanggung jawab mereka bersama untuk melaksanakannya.

Periodisasi Kepemimpinan Umat Islam

Dari Nu’man bin Basyir Radiallahu ‘Anhu, Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ {رواه احمد}.

”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehandak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemu- dian Allah mengangkatnya apabila Ia meng hendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyom bong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemu dian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengang katnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad).

Menurut hadits ini kepemimpinan umat Islam akan mengalami 4 zaman/period:

1. ZAMAN KENABIAN

Yaitu masa umat Islam dipimpin oleh Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam, masa kenabian ini selama 23 tahun

2. ZAMAN KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Yaitu masa umat Islam dipimpin oleh para khalifah yang mengikuti jejak Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam. Masa ini dimulai dengan dibai’atnya Abu Bakar As-Siddiq sebagai Khalifah setelah Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam wafat. Oleh karena itu Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama menyebut dirinya sebagai Khalifah Rasulullah (pengganti Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam). Selanjutnya Umar bin Khattab, sebagai Khalifah kedua menyebut dirinya sebagai Khalifah Khalifah Rasulullah (penggantinya pengganti Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam). Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, karena sebutannya terlalu panjang, hanya disebut Khalifah. Mulai sejak itu sebutan Khalifah dipakai secara populer. Sebutan tersebut terus dipakai sampai ke masa Ali bin Abi Thalib, sebagai khalifah keempat.

Masa Khilafah ‘Ala Mihajin Nubuwwah ini berlangsung selama kurang lebih 30 tahun, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Sallallhu ‘Alaihi Wasallam:

الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ {رواه ابو داود والترمذي}

“Masa pada ummatku itu tiga puluh tahun kemudian setelah itu masa kerajaan (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi).

3. ZAMAN MULKAN JABBARIYAH

Yaitu masa umat Islam dipimpin oleh para raja. Sebagai raja pertama adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan (w. 60 H).

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad, Mu’awiyah bin Abu Sufyan pernah berkata kepada Abdurrahman bin Abi Bakrah:

اَتَـقـُوْلُ اْلمُلـْكُ؟ فَقَدْ رَضِيـْنـَا بِاْلمـُلـْكِ.

“Apakah kamu berkata kami raja? Sungguh kami ridha dengan kerajaan”.

Masa Mulkan (kerajaan) ini terdiri dari dua periode yaitu Mulkan Adlan (kerajaan yang mengigit) dan Mulkan Jabariyah (kerajaan yang menyombong). Para ahli sejarah mencatat bahwa masa mulkan ini berakhir dengan diruntuhkannya Dinasti Utsmaniyah di Turki oleh Mustafa Kamal Pasya pada tahun 1342 H / 1924 M.

4. ZAMAN KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH

Yaitu masa umat Islam akan kembali dipimpin oleh para Khalifah yang mengikuti jejak kenabian setelah berlalunya masa Mulkan (kerajaan).

Usaha Menegakkan Khilafah Setelah Runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki.

Usaha menegakkan khilafah yang sesuai dengan tuntunan syari’at Islam telah dimulai sejak melemahnya Dinasti Utsmaniyah. Upaya ini diawali dengan dibentuknya Pan Islamisme di akhir abad ke-19 yang dipelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897).

Tujuan utama Pan Islamisme adalah mengembalikan kekhalifahan tunggal bagi dunia Islam sebagaimana yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin. Walaupun Pan Islamisme tidak memperlihatkan hasil konkrit namun telah menyadarkan umat Islam di berbagai tempat tentang pentingnya kesatuan dan kekhalifahan Islam.

Pada tahun 1919 di India telah dibentuk “All India Khilafah Conference” yang secara rutin mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan dan mengusahakan penyatuan ummat dan tegaknya khilafah. Pada tahun 1921, di Karachi diadakan lagi konferensi yang kedua dengan tujuan yang sama. Pada tahun 1926 di Kairo, Mesir diselenggarakan Kongres Khilafah yang diprakarsai oleh para ulama Al-Azhar.

Di samping itu masih banyak kongres-kongres lain yang diselenggarakan untuk menegakkan kembali khilafah di tengah kaum muslimin, namun belum membuahkan hasil yang mendasar.

Di Indonesia usaha menegakkan khilafah juga dilakukan oleh beberapa Organisasi Islam yang akhirnya terbentuk Komite Khilafah pada tahun 1926 yang berpusat di Surabaya. Tokoh-tokoh Islam Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap penegakkan khilafah antara lain, HOS.Cokroaminoto, KH.Mas Mansur, KH.Munawar Khalil, Abdul Karim Amrullah dan Wali Al-Fatah.

Di antara tokoh-tokoh tersebut Wali Al-Fatah (1326H-1396H / 1908M-1976M) adalah salah seorang yang konsisten dan secara transparan menda’wahkan wajibnya umat Islam menegakkan Khilafah dan mengangkat Imam.

Wali Al-Fatah menyatakan adanya Imam adalah wajib bagi umat Islam. Pelanggaran atas hal tersebut adalah dosa besar dan ini berarti suatu anarkhi, suatu perbuatan sendiri-sendiri yang tidak ada contohnya dalam syari’at Islam yang akan mengakibatkan timbulnya perpecahan di mana masing-masig kelompok atau golongan mengaku benarnya sendiri.

Wali Al-Fatah mengingatkan bahwa umat Islam akan dapat bersatu apabila mereka mempunyai Imam (pimpinan).

Satu umat tanpa pimpinan bukan umat namanya, tetapi hanya segundukan manusia yang masing-masing mengaku sebagai muslim tetapi tidak ada yang memimpin dan yang mengontrol.

Oleh karena itu Wali Al-Fatah mengajak para ulama untuk segera bangkit menelaah masalah kepemimpinan umat Islam dan mengangkat Imam sehingga kesatuan umat Islam dapat terwujud.

Namun ajakan ini kurang mendapat sambutan. Mereka menganggap ajakan ini bagaikan memutar jarum sejarah dan mengajak umat Islam kembali ke zaman unta bahkan ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin umat Islam dapat disatukan.

Mengingat pentingnya masalah kepemimpinan umat Islam ini, Wali Al-Fatah bersedia memikul beban untuk dibai’at menjadi Imaamul Muslimin. Pembai’atan ini dilaksanakan di Jakarta pada 10 Dzulhijjah 1372H / 20 Agustus1953M.

Setelah pembai’atan dilakukan, kemudian selama beberapa tahun diumumkan ke seluruh dunia untk mencari informasi apakah di tempat lain sudah ada Imam yang lebih dahulu dibai’at.

Sebagai konsekwensi apakah sudah ada Imam yang lebih dahulu dibai’at maka Wali Al-Fatah bersedia menjadi ma’mum karena tidak boleh ada dua Imam dalam satu masa bagi dunia Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا {مسلم}

“Apabila dibai’at dua khalifah (dalam satu masa), maka bunuhlah yang lain dari keduanya. (yaitu yang terakhir).” (HR. Muslim).

Sampai dengan Wali Al-Fatah meninggal dunia pada tahun 1396H / 1976M tidak didapat informasi bahwa di tempat lain sudah ada Imam yang dibai’at lebih dahulu. Maka sebelum jenazahnya dikuburkan, pada hari Sabtu 28 Dzulqa’dah 1396H / 20 November 1976M dibai’atlah sebagai penggantinya, hamba Allah Muhyiddin Hamidy menjadi Imaamul Muslimin hingga sekarang.

Mungkinkah Umat Islam Bersatu?

Menjawab keraguan orang tentang kemungkinan bersatunya umat Islam di bawah seorang Imam (khalifah), Dr.Yusuf Al-Qardhawi dengan tegas mengatakan bahwa kesatuan umat Islam adalah realita dan pasti akan terwujud bukan sebuah khayalan (utopia).

Di dalam risalahnya yang berjudul “Al-Ummah Al-Islamiyah Haqiqah la Wahn” beliau menyebutkan 6 (enam) criteria tentang kepastian terwujudnya kesatuan umat Islam:

1. Menurut Logik Agama

Al-Qur’an di dalam beberapa ayat menyatakanbahwa kaum muslimin adalah امة balikan امة واحدة bukan امما (beberapa umat). Hal ini dapat dilihat pada Surat Al-Baqarah: 143, Ali-Imran: 110, Al-Anbiya: 92, Al-Mu’minun: 52.

Sedang di dalam sunnah NAbi Shalallahu alaihi wa Sallam banyak sekali hadits yang menjelaskan pengertian umat sebagaimana yang disebutkan di atas, misalnya:

كان امتي يدخلون الجنة إلا من ابى {البخاري}.

“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau” (HR. Bukhari)

2. Menurut Logik Sejarah

Umat Islam pernah bersatu di bawah seorang khalifah dalam masa hampir seribu tahun dan meliputi daerah yang sangat luas mulai dari Cina di sebelah Timur dan Andalusia (Spanyol) di sebelah Barat. Walaupun pernah pula muncul beberapa khalifah dan ada sebagian wilayah yang memisahkan diri namun secara umum umat Islam tersebut masih merasa bahwa mereka adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari umat yang satu. Hal ini dikarenakan tujuan mereka satu, musuh mereka satu maslahah mereka satu dan beberapa unsure lain yang mengharuskan mereka tetap bersatu.

3. Menurut Logik Geografi

Dengan kehendak Allah, umat Islam menempati negeri-negeri yang saling berdekatan dan sambung menyambung antara satu dengan yang lainnya mulai dari Jakarta di sebelah Timur hingga Rabbath Al-Fath di sebelah Barat. Atau mulai dari Samudra Pasifik ke Samudra Atlantik.

4. Menurut Logik Realiti

Secara realita umat Islam adalah umat yang satu. Hal ini kita lihat ketika sebagian umat Islam menderita maka sebagian yang lain ikut merasa penderitaan itu.

Dalam kasus Masjid Al-Aqsha (Palestina) misalnya, kita lihat seluruh umat Islam di mana saja bangkit memberikan bantuan kepada Mujahidin yang berusaha membebaskan masjid Al-Aqshadari cengkeraman Zionis Yahudi.

Begitu juga kasus Bosnia-Herzigovina, dengan penuh perhatian kaum muslimin seluruh dunia mengikuti perkembangan perjuangan muslimin Bosnia dari hari ke hari dan memberikan bantuan apa saja yang mereka butuhkan

Setelah dunia Arab kalah dalam pertempuran melawan Israel pada tahun 1967, maka ketika dibuka pendaftaran sukarelawanuntuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Isarel, orang yang paling banyak mendaftarkan adalah kaum muslimin dari Pakistan. Sementara itu dalam jihad di bumi Afghanistan melawan komunis Rusia, kebanyakan mujahidin yang datang adalah kaum muslimin Arab, Afrika, Eropa dan Amerika.

Sampai saat ini para khatib seluruh dunia Islam senantiasa memanjatkan do’a pada setiap Jum’at untuk kebaikan, kesejahteraan dan kemuliaan negeri-negeri Islam seluruh dunia.

Dr. Yusuf Al-Qardhawi mengecualikan kesatuan menurut logika realita ini dari kelompok pemimpin yang otoriterdan para pemikir yang mengekor Barat karena mereka ini adalah individu muslim yang telah terpisah dari nurani umat dan mereka tidak pernah mau merasakan derita yang menimpa umat Islam.

5. Menurut Logik Non Muslim

Orang-orang non muslim tidak pernah menjadikan realita perpecahan dan perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam sebagai bukti bahwa umat Islam telah terpecah belah. Mereka tetap menganggap bahwa umat Islam itu adalah satu umat. Apabila terjadi perpecahan hanyalah perpecahan lahiriyah saja tetapi perasaan mereka tetap satu.

6. Menurut Logik Maslahat dan Tuntutan Zaman.

Seandainya perwujudan umat Islam dalam arti yang sebenarnya tidak ada menurut logika agama, sejarah, geografis, realitas kehidupan dan persepsi orang non muslim, maka sesuai logika maslahat dan tuntutan zaman wajib bagi kita menciptakan dan mengusahakan kesatuan umat Islam. Karena mustahil umat Islam akan mampu bersaing di era tekhnologi canggih ini secara sendiri-sendiri sementara itu kita saksikan negara-negara industri maju berkerja sama untuk menciptakan produk-produk tercanggih yang sejalan dengan tekhnologi terkini.

Pada masa lalu umat Islam memiliki seorang khalifah yang dapat mengajak umat Islam untuk bertindak bersama-sama dalam mengatasi problematika yang mereka hadapi. Mereka yang lemah dapat meminta pertolongan kepada khalifah apabila ada yang mengganggu. Hal ini menyebabkan musuh-musuh Islam berfikir panjang apabila hendak mengganggu umat Islam. Namun hari ini umat Islam tidak memiliki seorang khalifah yang melindungi mereka. Umat Islam telah melakukan kesalahan besar dengan menyia-nyiakan institusi khilafah dan tidak mampu mewujudkan gantinya. Aib (kesalahan) ini adalah kesalahan umat Islam bukan kesalahan Islam karena Islam telah mempersatukan umatnya dan mensyria’atkan tuntunan yang dapat mewujudkan kesatuan mereka dan memelihara keselamatan mereka.

Demikian sebagian uraian Dr. Yusuf Al-Qardhawi tentang kriteria yang memperkuat bukti akan terwujudnya kesatuan umat Islam. Namun kesatuan itu tidak akan datang begitu saja. Untuk mewujudkannya perlu kerja keras dan perjuangan yang berkesinambungan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kerja keras dala menggapai cita-cita, sebagaimana firman-Nya:

إن الله لايغير ما بقوم حتى يغيروا ما بانفسكم {الرعد: 11}.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri” (QS.Ar-Ra’d: 11).

Usaha yang paling fundamental untuk mewujudkan persatuan umat adalah dengan menegakkan institusi khilafah / imaamah. Karena hanya dengan adanya seorang khalifah / imam umat Islam dapat bersatu.

Dengan dibai’atnya Wali Al-Fatah sebagai Imaamul Muslimin berarti umat Islam telah memiliki Imam kembali. Apabila pada pembai’atan tersebut atau pada perjalanan keimaamahan sesudahnya dipandang terdapat berbagai kekurangan maka tugas umat Islam bersama untuk menyempurnakannya. Karena masalah Imam, bukan masalah yang harus diperebutkan tetapi masalah kewajiban syari’at.

Siapapun yang dibai’at, asal memenuhi syarat maka yang lain wajib membai’atnya dan mentaatinya.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إن امر عليكم عبد مجدع (حسبتها قالت) أسود يقودكم بكتاب الله فاسمعوا له وأطيعوا {مسلم عن يحي بن حصين}.

“Apbila diangkat untuk memimpin kamu seorang budak yang terpotong hidungnya –say (Yahya bin Hushain) mengira, dia (Ummu Hushain) berkata-yang hitam, selama memimpin kamu dengan kitab Allah maka dengarlah dan taatilah (HR.Muslim dari Yahya bin Hushain).

Wallahu A’lam Bissawwab

Maraji’

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Toha Putra, Semarang, t.t.
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari, Dar Al-Fikr, t.t.
  3. An-Nawawi, Syarh Muslim, Dahlan, Bandung, t.t.
  4. Asy-Syaukani, Nail Al-Authar, Dar Al-Fikr, t.t.
  5. Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, Al-Nas’ani Al-Halabi, 1326H.
  6. Muhammad Al-Khudlri Bik, Itmam Al-Wafa’, Maktabah Tsaqafiyah, Beirut, 1402H.
  7. Yusuf Al-Qardhawi, Al-Ummah Al-Islamiyah Haqiqah la Wahn, Maktabah Wahbah, t.t.
  8. Wali Al-Fatah, Khilafah “Ala Minhajin Nubuwwah, Amanah, Bogor, 1415H.
  9. Taqiyuddin An-Nabhani, Sistem Khilafah, Terjemah.Muhammad Al-Khaththath, dkk, Khazanal Islam, Jakarta, Cetakan I, 1416H.
  10. Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, Cetakan VI, 1999.

MEMPERSIAPKAN SUASANA THALABUN NUSRAH UNTUK MERAIH KEKUASAAN


Selepas Tunisia dan Mesir, dunia kini menyaksikan domino effect (kesan domino) dari kebangkitan rakyat secara besar-besaran yang melanda negara-negara Arab lainnya seperti Yemen, Bahrain, Maghribi dan yang semakin membesar sekarang, Libya. Dari kebangkitan besar-besaran yang berlaku ini yang disifatkan sebagai ‘kuasa rakyat’ (people power), satu perkara yang tidak boleh kita nafikan adalah adanya ‘kuasa tentera’ di dalam menentukan kejayaan revolusi dan pemerintahan sesebuah negara. Sesungguhnya rakyat tidak akan dapat menjatuhkan suatu rejim sekiranya tidak mendapat sokongan dari tentera, sepertimana yang telah kita lihat di Tunisia, Mesir, Indonesia dan lain-lain. Di dalam perjuangannya, Hizbut Tahrir (Hizb) telah menjelaskan secara terperinci betapa pentingnya kedudukan tentera selaku pihak yang mesti dituntut pertolongan (thalabun nusrah) demi meraih kekuasaan.

Inilah ‘proses akhir’ yang Hizb senantiasa jelaskan untuk meraih kekuasaan yakni melalui thalabun nusrah daripada tentera sebagai ahlul quwwah (golongan yang mempunyai kekuatan). Terkait dengan hal ini, Hizb juga sering ditanya, bilakah umat akan berhasil meraih kekuasaan dan menegakkan Khilafah Islamiyah melalui aktiviti thalabun nusrah yang Hizb bincangkan? Dalam ruangan yang cukup terbatas ini, Sautun Nahdhah kali ini cuba menjelaskan persoalan ini dari aspek suasana yang perlu ada atau perlu disiapkan oleh Hizb atau mana-mana gerakan sekalipun sebelum meraih kekuasaan melalui penegakan Daulah Khilafah.

Pengertian Thalabun Nusrah

Dalam konteks thalabun nusrah, ada beberapa perkara penting yang harus difahami oleh para pengembang dakwah Islam, iaitu:-

  1. Pengertian thalabun nusrah secara lughah (bahasa) mahupun secara syar’i
  2. Bagaimana suasana thalabun nusrah di Madinah al-Munawarah dipersiapkan dan bagaimana suasana seperti itu dipersiapkan pada masa sekaran.
  3. Realiti umat Islam sekarang, dari sisi apakah mereka telah memiliki persiapan (bersedia) untuk menerima perkara yang besar ini atau belum?
  4. Bagaimanakah cara menyempurnakan thalabun nusrah hingga wujud keupayaan untuk mendorong terjadinya penyerahan kekuasaan?

Secara bahasa, an-nusrah dan al-munasarah memiliki makna i’anah ‘ala al-amr (menolong atas suatu perkara) [Ibnu Mandzur, hlm. 210]. Secara syar’i, thalabun nusrah adalah aktiviti meminta pertolongan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki autoriti (amir) kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk tujuan penyerahan kekuasaan dan penegakan Daulah Islamiyah atau untuk tujuan-tujuan lain yang berhubungan dengan dukungan terhadap dakwah, misalnya:-

(i) untuk melindungi para pengembang dakwah di negeri-negeri kaum Muslimin agar mereka dapat menyampaikan maksud dan tujuan dakwah mereka di tengah-tengah masyarakat

(ii) untuk menyingkirkan pelbagai macam keburukan, baik yang akan menimpa mahupun yang telah menimpa para pengembang dakwah, misalnya, meminta pertolongan dari tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh agar penguasa tidak menangkap dan memenjarakan pengembang dakwah atau berdiri teguh bersama pengembang dakwah ketika mereka melakukan aktiviti dakwah

(iii) untuk memperkenal dan menunjukkan kekuatan Hizb kepada masyarakat dengan sokongan dan kerjasama orang-orang yang memiliki kekuataan dan pengaruh ini, setelah mereka masuk Islam (jika belum Islam) dan qana’ah (yakin) terhadap pemikiran-pemikiran dan tujuan-tujuan dakwah Hizb.

Adapun thalabun nusrah yang bertujuan untuk istilam al-hukm (penerapan kekuasaan) dan penegakan Daulah Khilafah Islamiyah, ini memerlukan sejumlah keadaan dan syarat-syarat yang berbeza dengan bentuk thalabun nusrah yang telah dijelaskan di atas. Syarat-syarat yang mesti dipenuhi adalah sebagai berikut:-

(i) Terbentuknya ra’yu al-’am (pendapat umum / public opinion) tentang Islam dan Hizb yang bersumber dari wa’yu al-’am (kesedaran umum) di suatu negara kaum Muslimin

(ii) Terpenuhinya syarat-syarat khusus di suatu negara di mana nusrah ingin diperolehi yang mana negara tersebut mesti memiliki kemampuan untuk melindungi kewujudan dan keberlangsungan Daulah Islamiyah. Negara tersebut juga hendaklah mampu memberikan perlindungan mandiri terhadap Daulah Islamiyah dan tidak berada di bawah perlindungan negara lain atau dikuasai secara langsung oleh negara lain

(iii) Keikhlasan ahlul quwwah dalam menolong dakwah, penerimaan mereka yang sempurna terhadap Islam dan Daulah Islamiyah serta tidak adanya keraguan dan kekhuatiran pada diri mereka terhadap kekuatan lain atau negara lain atau terhadap kelompok-kelompok Islam lain mahupun kelompok non-Islam yang memiliki tujuan yang berbeza dengan tujuan sebenar Islam.

Thalabun nusrah untuk meraih kekuasaan adalah hukum syarak yang berhubung erat dengan metode meraih kekuasaan. Penyerahan kekuasaan tidak akan terjadi tanpa adanya aktiviti thalabun nusrah serta terpenuhinya syarat-syarat di atas, tidak kira sama ada kekuasaan tersebut diserahkan oleh ahlul quwwah atau diminta dari ahlul quwwah.

Mempersiapkan Suasana Nusrah

Siapa sahaja yang mengkaji Sirah Nabi SAW akan menyaksikan bahawa baginda melakukan beberapa aktiviti penting dan berkesinambungan sebelum mempersiapkan suasana nusrah dan istilam al-hukm di Madinah. Langkah pertama yang baginda lakukan adalah berjumpa delegasi suku Khazraj yang berkunjung ke Makkah dan meminta mereka masuk Islam. Setelah masuk Islam, baginda memerintahkan mereka kembali ke Madinah untuk mendakwahkan Islam kepada kaum mereka. Setibanya di kota Madinah, mereka menzahirkan keIslaman mereka dan mengajak kaum mereka masuk Islam. Jumlah kaum Muslimin kemudiannya terus bertambah. Pada tahun berikutnya, mereka kembali menemui Rasulullah SAW di mana jumlah mereka ketika itu adalah 12 orang. Nabi SAW menerima mereka dan mengutus Mus’ab bin Umair ra untuk menjadi pengajar mereka di Madinah. Akhirnya, melalui tangan Mus’ab bin Umair ra, para pembesar Auz dan Khazraj masuk Islam serta menunjukkan dukungan dan kesetiaan mereka yang amat kuat terhadap Islam.

Setelah melihat kesediaan masyarakat Madinah, yang tampak pada masuk Islamnya para pembesar Auz dan Khazraj serta terbentuknya ra’yul am tentang Islam yang lahir dari wa’yul am penduduk Madinah, Rasulullah SAW pun meminta mereka untuk menemui baginda pada musim haji. Dari sini dapat disimpulkan bahawa realiti Madinah sebelum terjadinya Baiat Aqabah II (baiat yang menandakan terjadinya penyerahan kekuasaan di Madinah) adalah realiti yang dipersiapkan untuk pembentukan ra’yul am bagi membela Islam dengan kekuatan. Ertinya, Madinah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga Islam diterima oleh majoriti penduduk Madinah dan menjadi ra’yul am yang mampu mendominasi para penganut agama lain di Madinah. Tidak hanya itu, ra’yul am tersebut juga ditujukan agar masyarakat Madinah bersedia membela kepimpinan baru, yakni kepimpinan Rasulullah SAW. Ra’yul am untuk membela Islam tersebut lahir dari wa’yul am majoriti masyarakat Madinah dan para pembesarnya atas hakikat Islam dan atas diri Rasulullah SAW dalam kapasiti baginda sebagai seorang nabi dan pemimpin takattul (kelompok) Sahabat.

Rasulullah SAW belum bersedia menerima nusrah li istilam al-hukm kecuali setelah keadaan-keadaan di atas terwujud dan yakin dengan kesediaan penduduk Madinah. Setelah yakin terhadap kesediaan penduduk Madinah untuk menerima dan membela kekuasaan Islam, Rasulullah SAW meminta wakil penduduk Madinah dengan disertai Mus’ab bin Umair menemui baginda di Bukit Aqabah. Tujuan pertemuan itu adalah meminta nusrah dari penduduk Madinah agar menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada baginda dan meminta kesediaan mereka untuk membela baginda dengan harta, anak-anak, isteri dan nyawa mereka. Aktiviti thalabun nusrah di Bukit Aqabah (sebagai langkah muqaddimah istilam al-hukm) menjadi sempurna setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan menegakkan Daulah Islamiyah di sana.

Terbentuknya ra’yul am yang lahir dari wa’yul am merupakan syarat mutlak yang mesti dipenuhi oleh suatu negara yang hendak didapatkan thalabun nusrah li istilam al-hukm. Negara tersebut juga mestilah memiliki kemampuan untuk melindungi kewujudan dan kelangsungan Daulah Islamiyah secara mandiri dan tidak berada di bawah pengaruh atau dominasi negara lain. Ra’yul am untuk membela Islam, Hizb dan pengikut-pengikutnya hendaklah lahir dari wa’yul am untuk membela Islam dan Hizb. Jika ini tidak dipenuhi, maka di negara tersebut tidak mungkin berlaku aktiviti thalabun nusrah li istilaam al-hukm, baik secara syar’i mahupun ‘aqli. Jikalau dipaksakan juga aktiviti nusrah di negara tersebut, maka selain melanggar ketentuan syariah dalam konteks thalabun nusrah, aktiviti tersebut juga mungkin berakhir dengan kegagalan dan kehancuran.

Adapun yang dimaksud dengan ra’yul am pada konteks sekarang adalah, adanya keinginan untuk diatur dan diperintah oleh kekuasaan Islam pada majoriti kaum Muslimin yang ada di sebuah negara yang layak dilakukan thalabun nusrah. Keinginan tersebut juga harus muncul pada diri ahlul-quwwah (panglima tentera, pemimpin kabilah yang kuat dan seumpamanya) dan tidak cukup hanya muncul pada majoriti kaum Muslimin semata-mata. Adapun yang dimaksud dengan wa’y al-’am adalah kesedaran umum terhadap beberapa hal iaitu:-

  • tentang Islam, terutama pemikiran tentang Khilafah dan pemerintahannya
  • tentang permusuhan dan usaha-usaha penyesatan yang dilakukan kaum kafir untuk menghalang tegaknya Khilafah
  • kesedaran umat Islam bahawa mereka tidak akan pernah dapat keluar dari masalah kecuali mereka membebaskan diri mereka dari pemerintahan yang menerapkan hukum-hukum kufur
  • kesedaran terhadap tipudaya dan permainan politik kaum kafir untuk memalingkan umat dari jalan yang benar. Di samping itu, di tengah-tengah umat juga harus tumbuh kesedaran tentang Hizb dan keikhlasan ahli-ahlinya dalam membebaskan umat dari dominasi sistem kufur serta kesediaan Hizb untuk melakukan perkara yang amat besar ini.

Kesediaan Umat

Keadaan umum umat Islam sekarang menunjukkan bahawa mereka berhasil menyiapkan suasana nusrah dan istilam al-hukm. Hal ini boleh dilihat dari realiti berikut ini:-

1. Pandangan umum untuk membela Islam

Di banyak negara, ra’yul am untuk membela Islam dan keinginan untuk hidup di bawah naungan Daulah Islamiyah telah terbentuk secara massa (besar-besaran) pada majoriti penduduknya. Keadaan seperti ini boleh dilihat di Algeria, Turki, Sudan, Mesir, Jordan dan Pakistan. Besarnya ra’yul am di negara-negara ini boleh dilihat dari hasil pilihanraya serta banyaknya masirah (demonstrasi aman) yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam yang secara terbuka menyerukan penegakan syiar-syiar Islam.

2. Terjadinya proses pembentukan ra’yul am untuk membela Hizb di beberapa negara umat Islam

Pembentukan ra’yul am untuk membela Hizb, dari sisi penerimaan umat terhadap pemikiran-pemikiran Hizb seperti pemikiran Khilafah Islamiyah dan pandangan-pandangan politiknya, telah berhasil dengan cukup baik. Di beberapa negara seperti Indonesia, Turki, Sudan dan Pakistan, Hizb telah berhasil menghimpun umat sehingga mereka rela membantu dan membela Hizb dalam melawan sepak terajang kaum kafir. Cuma sayangnya, ra’yul am untuk membela Hizb terpaksa berhadapan dengan sejumlah halangan sehingga masih tidak memungkinkan bagi Hizb untuk memimpin umat dan meraih kekuasaan dari mereka. Faktor-faktor penghalangnya adalah:-

(i)    penyelewengan fakta yang dilakukan oleh para penguasa terhadap Hizb seperti digembar-gemburkan pendapat bahawa Hizb adalah gerakan teroris, menyimpang, sesat dan sebagainya

(ii)    penyesatan pendapat yang dilakukan oleh ulama-ulama yang menjadi kakitangan penguasa fasik dan zalim untuk menyerang Hizb, keikhlasannya serta pandangan-pandangannya, umpamanya mereka mengembangkan pemikiran tentang bolehnya ada banyak pemimpin di negara-negara umat Islam, Khilafah adalah suatu khayalan, kewajipan menerima demokrasi dan sebagainya

(iii)    adanya parti-parti dan gerakan-gerakan yang memiliki hubungan dengan penguasa mahupun dengan negara-negara imperialis yang terus-menerus menentang Hizb dan keikhlasannya.

Namun demikian, usaha pendustaan dan penyesatan fakta mahupun serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini, sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Akibatnya, umat semakin yakin akan kepimpinan dan keikhlasahan Hizb dalam memperjuangkan hak-hak umat. Ra’yul am untuk membela Islam, Hizb dan aktivisnya semakin hari semakin menguat dan tumbuh pesat hampir di seluruh negara-negara umat Islam.

Menyempurnakan Nusrah

Aktiviti thalabun nusrah untuk meraih kekuasaan dari umat hanya boleh sempurna ketika ra’yul am yang lahir dari wa’yul am untuk membela Islam dan Hizb telah lahir di tengah-tengah umat secara sempurna di dalam sesebuah negara yang hendak ditegakkan Daulah Islamiyah di dalamnya. Namun, musuh-musuh dakwah terutama kaum kafir imperialis dan para penguasa yang merupakan ejen penjajah senantiasa berusaha menghalang terwujudnya ra’yul am tersebut dengan cara menyerang pandangan-pandangan Hizb, keikhlasan ahli-ahlinya serta metode perubahan yang ditempuh oleh Hizb. Ini dilakukan oleh penguasa jahat ini agar ra’yul am tentang Islam dan Hizb yang lahir dari wa’yul am untuk membela Islam dan Hizb, tidak tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar ini, tugas utama Hizb adalah menjaga konsistensi dirinya untuk berpegang teguh di atas pemikiran dan pandangannya yang sahih serta menjaga keikhlasan perjuangannya dari semua bentuk tipudaya dunia. Dari sinilah dapat disimpulkan bahawa tugas utama Hizb pada masa sekarang dalam konteks untuk menyiapkan suasana nusrah, adalah berpegang teguh kepada mabda’ (ideologi) Islam tanpa keluar sedikit pun darinya dan menjaga keikhlasan perjuangannya dari seluruh bentuk penyimpangan dan kecenderungan-kecenderungan duniawi.

Oleh yang demikian, aktiviti yang harus dilakukan oleh Hizb dan mana-mana kelompok dakwah yang berpegang kepada metode Rasulullah dalam usaha mereka untuk mewujudkan perkara-perkara di atas adalah:-

Pertama, memelihara keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara memupuk ketaatan dan mendekatkan diri kepadaNya dalam seluruh aspek. Ini kerana, sesugguhnya Allah tidak akan menyerahkan amanah agama ini kecuali kepada orang-orang yang bertakwa, ikhlas dan dekat denganNya [TMQ an-Nur (24):55].

Kedua, sabar untuk selalu berkorban dan melaksanakan tugas-tugas dakwah dengan bersungguh-sungguh. Kaum kafir imperialis berusaha untuk menghancurkan kekuatan Hizb melalui kakitangan mereka dari kalangan penguasa Muslim. Untuk itu, pada saat Hizb berhasil meraih dukungan umat secara besar-besaran melawan sistem kufur dan penjaganya seperti yang terjadi di Uzbekistan, para penguasa segera mengisytiharkan perang terhadap aktivis dan pendukung Hizb. Dalam keadaan seperti ini, aktivis-aktivis Islam tidak boleh mundur atau melonggarkan perjuangannya, sebaliknya mereka harus mencurahkan segenap tenaga dan pengorbanannya untuk berpegang teguh dengan perjuangan Islam yang lurus dan suci.

Ketiga, meningkatkan tenaga dan aktiviti yang dimaksudkan untuk menjadi ‘benteng’ bagi umat. Ini kerana, musuh-musuh Islam berusaha terus-menerus untuk meletakkan di hadapan umat pelbagai macam pendustaan, penyesatan dan makar terhadap Hizb, pemikiran dan pandangan-pandangannya. Usaha itu dilakukan untuk menjauhkan umat dari Hizb dan dari aktivis-aktivisnya. Oleh kerana itu, para aktivis dakwah harus meningkatkan tenaga dan aktiviti yang difokuskan untuk menjaga umat dari semua bentuk penyesatan, pendustaan dan makar ini, sekaligus untuk menghancurkan dinding penyesatan yang diletakkan di hadapan umat [TMQ at-Taubah (9):105].

Keempat, para aktivis dakwah harus menonjolkan karakter dirinya sebagai seorang Mukmin yang selalu ikhlas dalam beramal dan senantiasa mengikatkan diri dengan hukum syariah serta tekun dalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aktiviti-aktiviti inilah yang akan mendekatkan Hizb dan aktivis-aktivis dakwah kepada nusrah (pertolongan) Allah di kala Hizb berada pada dawr tafa’ul ma’a al-ummah. (tahapan berinteraksi dengan umat).

Wallahu a’lam.

[Disunting dari Tahayya‘ al-Ajwa‘ Li Thalab an-Nusrah, Abu al-Mu’tasim, majalah al-Wa’ie (bahasa arab) No. 282-283 Rajab-Sya’ban 1431 H, Beirut.]

DAULAH KHILAFAH


 

Secara ringkas, Imam Taqiyyuddin An Nabhani mendefinisikan Daulah Khilafah sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariat Islam dan mengembang risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Imam Taqiyyuddin An Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam).

Dari definisi ini, jelas bahawa Daulah Khilafah adalah hanya satu untuk seluruh dunia. Kerana nas-nas syara’ (nushush syar’iyah) memang menunjukkan kewajipan umat Islam untuk bersatu dalam satu institusi negara. Sebaliknya haram bagi mereka hidup dalam lebih dari satu negara.

Apa Hukumnya Mendirikan Khilafah?

Kewajipan tersebut didasarkan pada nas-nas al-Qur`an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas. Dalam al-Qur`an Allah SWT berfirman:

“Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…” (TMQ. Ali-’Imran [3]: 103).

Rasulullah SAW dalam masalah persatuan umat ini bersabda: “Barangsiapa mendatangi kalian – sedang urusan (kehidupan) kalian ada di bawah kepemimpinan satu orang (Imam/Khalifah) – dan dia hendak memecah belah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jemaah kalian, maka bunuhlah dia!” [HR. Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” [HR. Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah), lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksima mungkin. Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.” [HR. Muslim].

Di samping itu, Rasulullah SAW menegaskan pula dalam perjanjian antara kaum Muhajirin – Anshar dengan Yahudi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Surat Perjanjian ini dari Muhammad – Nabi antara orang-orang beriman dan kaum muslimin dari kalangan Quraisy dan Yatsrib – serta yang mengikut mereka dan menyusul mereka dan berjihad bersama-sama mereka – bahawa mereka adalah umat yang satu, di luar golongan orang lain…” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, Jilid II, hal. 119).

Nas-nas al-Qur`an dan as-Sunnah di atas menegaskan adanya kewajipan bersatu bagi kaum muslimin atas dasar Islam (hablullah) – bukan atas dasar kebangsaan atau ikatan palsu lainnya yang dicipta penjajah yang kafir – di bawah satu kepemimpinan, iaitu seorang Khalifah. Dalil-dalil di atas juga menegaskan keharaman berpecah-belah, di samping menunjukkan pula jenis hukuman syar’ie bagi orang yang berupaya memecah-belah umat Islam menjadi beberapa negara, iaitu hukuman mati.

Selain al-Quran dan as-Sunnah, Ijma’ Sahabat pun menegaskan pula prinsip kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Abu Bakar Ash Shiddiq suatu ketika pernah berkata,”Tidak halal kaum muslimin mempunyai dua pemimpin (Imam).” Perkataan ini didengar oleh para Sahabat dan tidak seorang pun dari mereka yang mengingkarinya, sehingga menjadi ijma’ di kalangan mereka.

Bahkan sebahagian fuqoha menggunakan Qiyas ‘sumber hukum keempat’ untuk menetapkan prinsip kesatuan umat. Imam Al Juwaini berkata,”Para ulama kami (mazhab Syafi’i) tidak membenarkan akad Imamah (Khilafah) untuk dua orang…Kalau terjadi akad Khilafah untuk dua orang, itu sama halnya dengan seorang wali yang menikahkan seorang perempuan dengan dua orang laki-laki!

Ertinya, Imam Juwaini mengqiyaskan keharaman adanya dua Imam bagi kaum muslimin dengan keharaman wali menikahkan seorang perempuan dengan dua orang lelaki yang akan menjadi suaminya. Jadi, Imam/Khalifah untuk kaum muslimin wajib hanya satu, sebagaimana wali hanya boleh menikahkan seorang perempuan dengan satu orang laki-laki, tidak boleh lebih. (Lihat Dr. Muhammad Khair, Wahdatul Muslimin fi Asy Syari’ah Al Islamiyah, majalah Al Wa’ie, hal. 6-13, no. 134, Rabi’ul Awal 1419 H/Julai 1998 M)

Jelaslah bahawa kesatuan umat di bawah satu Khilafah adalah satu kewajipan syar’i yang tak ada keraguan lagi padanya. Kerana itu, tidak menghairankan bila para imam-imam mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bersepakat bulat bahawa kaum muslimin di seluruh dunia hanya boleh mempunyai satu orang Khalifah saja, tidak boleh lebih:

“…para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumullah– bersepakat pula bahawa kaum mulimin di seluruh dunia pada saat yang sama tidak dibenarkan mempunyai dua imam, baik keduanya sepakat mahupun tidak.” (Lihat Syaikh Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416) Hukum menegakkan Khilafah itu sendiri adalah wajib, tanpa ada perbezaan pendapat di kalangan imam-imam mazhab dan mujtahid-mujtahid besar yang alim dan terpercaya.

Siapapun yang menelaah dalil-dalil syar’ie dengan cermat dan ikhlas akan menyimpulkan bahawa menegakkan Daulah Khilafah hukumnya wajib atas seluruh kaum muslimin. Di antara argumentasi syar’ie yang menunjukkan hal tersebut.

Dalil Al-Quran

Di dalam al-Quran memang tidak terdapat istilah Daulah yang bererti negara. Tetapi di dalam al-Quran terdapat ayat yang menunjukkan wajibnya umat memiliki pemerintahan/negara (ulil amri) dan wajibnya menerapkan hukum dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian.” (TMQ. An-Nisaa` [4]: 59).

Ayat di atas telah memerintahkan kita untuk mentaati Ulil Amri, iaitu Al Haakim (Penguasa). Perintah ini, secara dalalatul iqtidha`, bererti perintah pula untuk mengadakan atau mengangkat Ulil Amri itu, seandainya Ulil Amri itu tidak ada, sebab tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk mentaati pihak yang eksistensinya tidak ada. Allah juga tidak mungkin mewajibkan kita untuk mentaati seseorang yang keberadaannya berhukum mandub.

Maka menjadi jelas bahawa mewujudkan ulil amri adalah suatu perkara yang wajib. Tatkala Allah memberi perintah untuk mentaati ulil amri, bererti Allah memerintahkan pula untuk mewujudkannya. Sebab adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajipan menegakkan hukum syara’, sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri menyebabkan terabaikannya hukum syara’. Jadi mewujudkan ulil amri itu adalah wajib, kerana kalau tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram, iaitu mengabaikan hukum syara’ (tadhyii’ al hukm asy syar’ie).

Di samping itu, Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengatur urusan kaum muslimin berdasarkan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Maka putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TMQ. Al-Ma’idah [5]: 48).

“Dan putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (TMQ. Al-Ma’idah [5]: 49).

Dalam kaedah usul fiqh dinyatakan bahawa, perintah (kitab) Allah kepada Rasulullah juga merupakan perintah kepada umat Islam selama tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya untuk Rasulullah (Kitabur rasuli kitabun li ummatihi malam yarid dalil yukhashishuhu bihi). Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah tersebut hanya kepada Rasulullah SAW.

Oleh kerana itu, ayat-ayat tersebut bersifat umum, iaitu berlaku pula bagi umat Islam. Dan menegakkan hukum-hukum yang diturunkan Allah, tidak mempunyai makna lain kecuali menegakkan hukum dan pemerintahan (as sultan), sebab dengan pemerintahan itulah hukum-hukum yang diturunkan Allah dapat diterapkan secara sempurna. Dengan demikian, ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya keberadaan sebuah negara untuk menjalankan semua hukum Islam, iaitu negara Khilafah.

Dalil As-Sunah

Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Aku mendengar Rasulullah mengatakan, ‘Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, nescaya dia akan menemui Allah di Hari Kiamat dengan tanpa alasan. Dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” [HR. Muslim].

Nabi SAW mewajibkan adanya bai’at pada leher setiap muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Padahal bai’at hanya dapat diberikan kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Jadi hadis ini menunjukkan kewajipan mengangkat seorang Khalifah, yang dengannya dapat terwujud bai’at di leher setiap muslim. Sebab bai’at baru ada di leher kaum muslimin kalau ada Khalifah/Imam yang memimpin Khilafah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bahawasanya Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.” [HR. Muslim]

Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.” Para Sahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajipan mereka.” [HR. Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai dari amirnya (pemimpinnya), maka bersabarlah. Sebab barangsiapa memisahkan diri dari penguasa (pemerintahan Islam) walau sejengkal saja lalu ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. Muslim].

Hadis pertama dan kedua merupakan pemberitahuan (ikhbar) dari Rasulullah SAW bahawa seorang Khalifah adalah laksana perisai, dan bahawa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum muslimin. Pernyataan Rasulullah SAW bahawa seorang Imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya faedah-faedah keberadaan seorang Imam, dan ini merupakan suatu tuntutan (thalab). Sebab, setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya, apabila mengandung celaan (adz dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan (thalab at tarki), atau merupakan larangan (an nahy); dan apabila mengandung pujian (al mad-hu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan (thalab al fi’li). Dan kalau pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau jika ditinggalkan mengakibatkan terabaikannya hukum syara’, maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu bererti bersifat pasti (fardu). Jadi hadis pertama dan kedua ini menunjukkan wajibnya Khilafah, sebab tanpa Khilafah banyak hukum syara’ akan terabaikan.

Hadis ketiga menjelaskan keharaman kaum muslimin keluar (memberontak, membangkang) dari penguasa (as sulthan). Bererti keberadaan Khilafah adalah wajib, sebab kalau tidak wajib tidak mungkin Nabi SAW sampai begitu tegas menyatakan bahawa orang yang memisahkan diri dari Khilafah akan mati jahiliyah. Jelas ini menegaskan bahawa mendirikan pemerintahan bagi kaum muslimin statusnya adalah wajib.

Rasulullah SAW bersabda pula : “Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah), lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin. Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya, penggallah leher orang itu.” [HR. Muslim].

Dalam hadis ini Rasululah SAW telah memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang-orang yang merebut kekuasaan mereka. Perintah Rasulullah ini bererti perintah untuk mengangkat seorang Khalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan cara memerangi orang-orang yang merebut kekuasaannya. Semua ini merupakan penjelasan tentang wajibnya keberadaan penguasa kaum muslimin, iaitu Imam atau Khalifah. Sebab kalau tidak wajib, nescaya tidak mungkin Nabi SAW memberikan perintah yang begitu tegas untuk memelihara eksistensinya, iaitu perintah untuk memerangi orang yang akan merebut kekuasaan Khalifah.

Dengan demikian jelaslah, dalil-dalil As Sunnah ini telah menunjukkan wajibnya Khalifah bagi kaum muslimin.

Dalil Ijma’ Sahabat

Sebagai sumber hukum Islam ketiga, Ijma’ Sahabat menunjukkan bahawa mengangkat seorang Khalifah sebagai pemimpin pengganti Rasulullah SAW hukumnya wajib. Mereka telah sepakat mengangkat Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, ridlwanullah ‘alaihim.

Ijma’ Sahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan Khalifah, nampak jelas dalam kejadian bahawa mereka menunda kewajipan menguburkan jenazah Rasulullah SAW dan mendahulukan pengangkatan seorang Khalifah pengganti beliau. Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu kewajipan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah untuk melakukan kesibukan lain sebelum jenazah dikebumikan. Namun, para Sahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW ternyata sebahagian di antaranya justeru lebih mendahulukan usaha-usaha untuk mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah. Sedangkan sebahagian Sahabat lain mendiamkan kesibukan mengangkat Khalifah tersebut, dan ikut pula bersama-sama menunda kewajipan menguburkan jenazah Nabi SAW sampai dua malam, padahal mereka mampu mengingkari hal ini dan mampu mengebumikan jenazah Nabi secepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan (ijma’) mereka untuk segera melaksanakan kewajipan mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tak mungkin terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorang Khalifah adalah lebih wajib daripada menguburkan jenazah.

Demikian pula bahawa seluruh Sahabat selama hidup mereka telah bersepakat mengenai kewajipan mengangkat Khalifah. Walaupun sering muncul perbezaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadi Khalifah, namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenai wajibnya mengangkat seorang Khalifah, baik ketika wafatnya Rasulullah SAW mahupun ketika pergantian masing-masing Khalifah yang empat. Oleh kerana itu Ijma’ Sahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat mengenai kewajipan mengangkat Khalifah.

Dalil Dari Kaedah Syar’iyah

Ditilik dari analisis usul fiqh, mengangkat Khalifah juga wajib. Dalam usul fiqh dikenal kaedah syar’iyah yang disepakati para ulama:

“Sesuatu kewajipan yang tidak sempurna kecuali adanya sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula keberadaannya.” Menerapkan hukum-hukum yang berasal dari Allah SWT dalam segala aspeknya adalah wajib. Sementara hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa adanya kekuasaan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Maka dari itu, berdasarkan kaedah syar’iyah tadi, eksistensi Khilafah hukumnya menjadi wajib.

Jelaslah, berbagai sumber hukum Islam tadi menunjukkan bahawa menegakkan Daulah Khilafah merupakan kewajipan dari Allah SWT atas seluruh kaum muslimin.

Pendapat Para Ulama

Seluruh imam mazhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 416:

“Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahawa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahawa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya…”

Tidak hanya kalangan Ahlus Sunnah saja yang mewajibkan Khilafah, bahkan seluruh kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah ‘termasuk Khawarij dan Mu’tazilah’ tanpa kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkat seorang Khalifah. Kalau pun ada segelintir orang yang tidak mewajibkan Khilafah, maka pendapatnya itu tidak perlu ditolak, kerana bertentangan dengan nas-nas syara’ yang telah jelas.

Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265 menyatakan: “Menurut golongan Syiah, minoriti Mu’tazilah, dan Asy A’riyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.” Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal juz 4 hal. 87 mengatakan: “Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji`ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah).”

Bahawa Khilafah adalah sebuah ketentuan hukum Islam yang wajib bukan haram apalagi bid’ah – dapat kitab temukan dalam khazanah Tsaqafah Islamiyah yang sangat kaya. Berikut ini sekelumit saja rujukan yang menunjukkan kewajipan Khilafah:

 

  • Imam Al Mawardi, Al Ahkamush Shulthaniyah, hal. 5,
  • Abu Ya’la Al Farraa’, Al Ahkamush Shulthaniyah, hal.19,
  • Ibnu Taimiyah, As Siyasah Asy Syar’iyah, hal.161,
  • Ibnu Taimiyah, Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hal. 62,
  • Imam Al Ghazali, Al Iqtishaad fil I’tiqad,hal. 97,
  • Ibnu Khaldun, Al Muqaddimah, hal.167,
  • Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, juz 1 hal.264,
  • Ibnu Hajar Al Haitsami, Ash Shawa’iqul Muhriqah, hal.17,
  • Ibnu Hajar A1 Asqallany, Fathul Bari, juz 13 hal. 176,
  • Imam An Nawawi, Syarah Muslim, juz 12 hal. 205,
  • Dr. Dhiya’uddin Ar Rais, Al Islam Wal Khilafah, hal.99,
  • Abdurrahman Abdul Khaliq, Asy Syura, hal.26,
  • Abdul Qadir Audah, Al Islam Wa Audla’una As Siyasiyah, hal. 124,
  • Dr. Mahmud Al Khalidi, Qawaid Nizham Al Hukum fil Islam, hal. 248,
  • Sulaiman Ad Diji, Al Imamah Al ‘Uzhma, hal.75,
  • Muhammad Abduh, Al Islam Wan Nashraniyah, hal. 61,
  • dan masih banyak lagi yang lainnya.

Adapun buku-buku yang mengingkari wajibnya Khilafah – seperti Al Islam Wa Usululul Hukm oleh Ali Abdur Raziq, Mabadi` Nizham Al Hukmi fil Islam oleh Abdul Hamid Mutawalli, Tidak Ada Negara Islam oleh Nurcholis Madjid – sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai buku yang serius dan bermutu. Sebab isinya bertentangan dengan nas-nas syara’ yang demikian jelas dan terang. Buku-buku seperti ini tak lain hanya sampah yang kotor yang merupakan penyambung lidah kaum kafir penjajah dan agen-agennya iaitu para penguasa muslim yang zalim yang selalu memaksakan sekularisme kepada umat Islam dengan berbagai argumentasi palsu yang berkedok studi “ilmiah” atau studi “sosiohistori-objektif”, dengan tujuan untuk menghapuskan hukum-hukum Allah dari muka bumi dengan cara menghapuskan idea Khilafah yang bertanggung jawab melaksanakan hukum-hukum tersebut.

Mengembalikan Kehidupan Islam

– Sumber : Hizbut Tahrir Malaysia –

http://www.mykhilafah.com


 

%d bloggers like this: