RUKUN IMAN 5 – PERCAYA KEPADA HARI AKHIRAT


I. BERIMAN KEPADA HARI AKHIR SERTA MAKSUDNYA

Beriman kepada hari Akhir adalah rukun ke lima dan rukun-rukun iman. Ertinya ialah meyakini dengan pasti kebenaran setiap hal yang diberitakan oleh Allah dalam kitab suci-Nya dan setiap hal yang diberitakan oleh Rasul-Nya mulai dari apa yang akan terjadi sesudah mati, fitnah kubur, adzab dan nikmat kubur, dan apa yang terjadi sesudah itu seperti kebangkitan dari kubur, tempat berkumpul di akhirat (mahsyar), catatan amal (shuhuf), perhitungan (hisab), timbangan (mizan), telaga (haudh), titian (shirath), pertolongan (syafa‘ah), syurga dan neraka serta apa-apa yang dijanjikan Allah bagi para penghuninya.

Dail-dalil tentang kewajiban beriman terhadap hal-hal tersebut banyak sekali. Ada yang bersifat umum tentang beriman kepada perkara-perkara akhirat sebagai pujian atas orang-orang mukmin yang mengimani adanya hari Akhir, atau sebagai perintah untuk mengimani hal tersebut. Ada juga yang bersifat khusus untuk sebahagian perkara akhirat, seperti adzab kubur dan kenikmatannya, kebangkitan (ba‘ts), pengumpulan (hasyr) dan lain-lain. Hal itu banyak sekali disebut di dalam al-Qur’an dan Sunnah yang suci.

Pertama: Dalil-dalil Umum

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah 2: 62)

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧﴾

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam perang. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah 2: 177)

Sabda Rasulullah sebagai jawaban atas pertanyaan Jibril tentang iman,

“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik mau pun yang buruk.” (HR. Muslim 1/36-37)

Kedua: Dalil-dalil Khusus tentang Sebagian Perkara Akhirat

a) Firman Allah tentang kebangkitan (ba‘ts),

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ ﴿١٦﴾

Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dan kuburmu) di Hari Kiamat.” (Al-Mu’minun: 16)

b) Firman Allah tentang Perhitungan (hisab),

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ ﴿٦﴾ فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ﴿٧﴾ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ﴿٨﴾ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا ﴿٩﴾ وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا ﴿١١﴾ وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢﴾

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Ada pun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Ada pun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku.’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (Al-Insyiqaq: 6-12)

Ayat-ayat di atas menunjukkan balasan atas amal kebaikan, hisab (perhitungan) yang mudah, pemberian catatan amal (shuhuf) bagi para ahli kebaikan dengan tangan kanan dan kesenangan sesudah itu, serta menunjukkan hisab yang sulit, pemberian shuhuf kepada orang-orang yang berbuat jahat dari belakang punggungnya dengan tangan kiri dan siksa neraka sesudah itu.

c) Firman Allah,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾

Sesungguhnya Kami telah memberimu al-Kautsar.” (Al-Kautsar: 1)

Iaitu telaga yang diberikan kepada Rasulullah s.a.w., sebagai tempat minum umatnya, kecuali orang yang menyalahi sunnahnya.

II. MANHAJ (METODE) AL-QUR’AN DALAM MENETAPKAN BA‘TS

Sesungguhnya di antara ajaran Rasulullah yang ditentang oleh kebanyakan masyarakat Jahiliyah adalah tentang kebangkitan dari kubur. Mereka menganggap mustahil hidup kembali setelah tubuh hancur dan melebur dengan tanah. Allah mengisahkan hal ini dalam firman-Nya,

وَإِن تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ وَأُولَـٰئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ ۖ وَأُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٥﴾

Dan jika (ada sesuatu) yang kamu hairankan, maka yang patut menghairankan adalah ucapan mereka, ‘Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?’ Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Ar-Ra’d: 5)

Allah juga berfirman,

قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ ﴿٨٢﴾ لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَـٰذَا مِن قَبْلُ إِنْ هَـٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ ﴿٨٣﴾

Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang dahulu kala!” (Al-Mu’minun: 82-83)

Sebagaimana mereka juga mengucapkan,

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۖ ذَ‌ٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ ﴿٣﴾

Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” (Qaf: 3)

Allah berfirman tentang mereka,

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُم بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ ﴿١٠﴾

Dan mereka berkata, ‘Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhtinnya.” (As-Sajdah: 10)

Ayat-ayat yang disebutkan Allah tentang pengingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan lebih banyak dari yang kami kemukakan. Semuanya mengisahkan ketidak-percayaan mereka tentang apa yang dijanjikan Allah mengenai perkara kehidupan akhirat dan hisab amal perbuatan.

Al-Qur’an telah meyakinkan adanya ba’ts beserta sanggahan atas orang-orang yang mengingkarinya dengan kaedah yang hebat dan jitu, sehingga memaksa akal yang sihat untuk menerimanya dan tunduk kepadanya. Kebanyakan metode itu boleh disaksikan, dikesan dengan pancaindera serta difahami oleh akal secara nyata. Di antaranya terjadi pada keadaan-keadaan tertentu seperti-mana yang diberitakan oleh al-Qur’an.

Beberapa kaedah-kaedah tersebut ada empat macam, iaitu:

– Kaedah pertama:

Beristidlal dengan penciptaan langit dan bumi dan perkara-perkara yang agung yang menjadi saksi atas kesempumaan dan kecanggihan ciptaan Allah serta bukti atas kekuasaan Allah yang kukuht; suatu perkara yang mengharuskan kemaha-kuasaan Allah atas perkara yang lebih kecil dari itu. Allah menjelaskan hal ini:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلَّا كُفُورًا ﴿٩٩﴾

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah berkuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (Al-Isra: 99)

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٣٣﴾

Masihkah mereka ingkar dan tidak mahu memikir serta mengetahui Bahawa Sesungguhnya Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi Dengan tidak mengalami kesukaran Dalam menciptakannya – berkuasa menghidupkan makhluk-makhluk Yang telah mati? sudah tentu berkuasa! Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Al-Ahqaf: 33)

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٥٧﴾

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir/al-Mukmin: 57)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini semuanya menjelaskan bahwa menciptakan manusia serta membangkitkan sesudah mati adalah lebih mudah dan lebih ringan daripada menciptakan makhluk-makhluk raksasa in Padahal semuanya itu kecil bagi Allah s.w.t.

– Kaedah kedua:

Beristidlal akan adanya ba‘ts dengan penciptaan manusia pertama kali, oleh karena siapa yang dapat menciptakan manusia pasti mampu mengembalikannya untuk kedua kalinya. Kepastian seperti ini banyak terdapat di dalam al-Quran, seperti firman Allah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ ﴿٥﴾

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitis mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dari yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Al-Hajj: 5).

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٧﴾

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha-tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ar-Rum: 27)

Tidakkah manusia itu melihat dan Mengetahui, Bahawa Kami telah menciptakan Dia dari (setitis) air benih? Dalam pada itu (setelah Kami sempurnakan kejadiannya dan tenaga kekuatannya) maka dengan tidak semena-mena menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya (mengenai kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang mati), serta ia mengemukakan satu misal perbandingan kepada Kami (tentang kekuasaan itu), dan ia pula lupakan keadaan Kami menciptakannya sambil ia bertanya: “Siapakah Yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah hancur seperti debu?” Katakanlah: “Tulang-tulang yang hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan yang telah menciptakannya pada awal mula wujudnya; dan ia Maha mengetahui akan segala keadaan makhluk-makhluk (yang diciptakan-Nya);

أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ ﴿١٥﴾

(setelah mereka melihat dan memerhatikan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan itu) maka adakah Kami telah lemah dengan ciptaan yang pertama itu (sehingga Kami tidak dapat mengadakannya semula? Tidak! Dan merekapun tidak mengingkari kekuasaan Kami). bahkan mereka berada dalam keadaan keliru dan ragu-ragu tentang ciptaan makhluk-makhluk (hidup semula) dalam bentuk Yang baharu. (Qaaf: 15)

Pada ayat-ayat yang kami kemukakan di atas juga pada ayat-ayat lain yang serupa terdapat teguran yang menggugat orang-orang yang ingkar agar mahu melihat dan merenungi dirinya sendin; dari mana pertama kali ia diciptakan, juga agar merenungi masa-masa yang telah mereka lalui setiap tahapan yang selalu herbeda dengan yang sebelumnya. Maka, yang mampu mengadakan manusia dari tidak ada niscaya Dia tiada berkesulitan mengembalikannya sekali lagi, sebaliknya hal itu lebih mudah dari menciptakannya pertama kali. Perbezaan itu kalau diukur dengan akal dan kebiasaan manusia. Sedangkan menurut Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari yang lain, semuanya mudah bagi-Nya.

– Kaedah ketiga:

Allah menegakkan dalil adanya hari kebangkitan sesudah mati dengan menghidupkan bumi sesudah matinya, seperti yang terdapat dalam ayat, antara lain:

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ ﴿٥﴾

Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٥٧﴾

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan, seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Al-A’raf: 57)

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَ‌ٰلِكَ تُخْرَجُونَ ﴿١١﴾

Dan yang menurunkan air dan langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (Az-Zukhruf: 11)

Dalam ayat-ayat terdahulu dan yang sejenisnya Allah menjelaskan bahawasanya menghidupkan sesudah mati adalah sangat mungkin bagi Tuhan Yang Maha Mengatur semua urusan. Bukti kongkritnya selalu dapat anda amati, iaitu dengan melihat tanah yang kering, gersang dan tandus tidak berkehidupan, maka Allah mendatangkan air hujan, sesudah itu ia menjadi hijau dan subur, pepohonan, bunga-bunga serta buah-buahan bertebaran di mana-mana. Maka Yang Maha-kuasa menghidupkan ini akan berkuasa pula menghidupkan kembali jasad-jasad yang telah musnah tak berbekas dan Dia Maha Mengetahui segala ciptaan-Nya.

– Kaedah Keempat:

Metode ini adalah apa yang dikhabarkan dalam al-Qur’an bahawa Allah telah menghidupkan sebahagian orang yang sudah mati di dunia. Ini sudah pasti merupakan tanda kekuasan-Nya yang memaksa orang-orang yang mengingkari untuk kembali mengakui dan membenarkan agama para rasul dan ia akan menambah iman orang-orang mukmin. Di antaranya, Allah berfirman,

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ ﴿٧٢﴾ فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَ‌ٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٧٣﴾

Dan ingatlah, ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (Al-Baqarah: 72-73)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ ﴿٢٤٣﴾

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (al-Baqarah: 243)

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَـٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَانظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢٥٩﴾ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَـٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٢٦٠﴾

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Baqarah: 259-260)

Kaedah ini juga yang terjadi melalui tangan Nabi Isa sebagai mukjizat baginya, iaitu menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Tidak diragukan lagi, bahawa dalil-dalil tersebut di atas dengan pasti telah membuktikan akan adanya hari Kebangkitan, karena Yang dapat menghidupkan kembali satu jiwa sesudah matinya pasti Dia mampu menghidupkan semua jiwa. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah,

مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ ﴿٢٨﴾

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Luqman: 28)

Oleh karena pentingnya keimanan kepada hari Kebangkitan terhadap kehidupan duniawi demi tercapainya hikmah ilahiyah serta adanya orang yang mengingkarinya, maka dalil-dalilnya di dalam al-Quran dijelaskan dengan metode yang bermacam-macam. Apabila keperluan kepada sesuatu sangat diperlukan maka dalilnya lebih ditegaskan sebagai rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

III. APA YANG ADA SESUDAH KEMATIAN?

Yang ada sesudah kematian adalah pertanyaan dua malaikat, nikmat kubur dan azab kubur. Al-Qabru adalah kata tunggal dan al-qubur, artinya mengubur mayat. Khabar dari Rasulullah telah sampai secara mutawatir tentang adanya pertanyaan dua malaikat, nikmat kubur dan azabnya. Kerana itu mengimaninya adalah wajib.

Nikmat dan siksa tersebut adalah berlaku untuk ruh dan jasad sesuai dengan hubungan ruh terhadap jasad dalam kehidupan barzakhiyah dan hubungan ini berbeza dengan hubungan ruh terhadap jasad ketika ada dalam kehidupan dunia. Jadi hukum-hukum kehidupan barzakh ini berlaku untuk ruh, sedangkan jasad mengikutinya, berbeza dengan kehidupan dunia. Berdasarkan hal ini dapat difahami bahawa nikmat dan azab kubur berlaku bagi orang yang berhak menerimanya, baik itu dikubur mahupun tidak, dimakan binatang buas atau terbakar hingga menjadi abu atau tenggelam di laut ataupun yang lainnya. Sedang dalil-dalil untuk itu sangatlah banyak, antara lain:

a) Firman Allah,

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 27)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Bara’ Ibn ‘Azib dari Nabi, beliau bersabda tentang ayat di atas:

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh,” Ayat ini turun menjelaskan tentang adzab kubur; maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah Rabbmu?’ Dia menjawab, ‘Rabb saya adalah Allah, dan nabi saya adalah Muhammad s.a.w. Maka itulah (makna) firman Allah, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.” (HR. Muslim 4/2201)

Jadi penafsiran ayat oleh hadis tersebut menunjukkan adanya pertanyaan di dalam kubur. Hal ini dijelaskan oleh dalil-dalil berikutnya.

b) Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata, Nabi Allah s.a.w. bersabda,

Sesungguhnya seorang hamba jika telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggal pergi oleh pengantarnya, sesungguhnya dia itu mendengar suara ketukan sandalnya’. Beliau bersabda, ‘Datang kepadanya dua malaikat, lalu mereka mendudukkannya dan menanyainya, ‘Apa yang engkau katakan tentang orang ini?’ Beliau bersabda, ‘Ada pun orang mukmin maka dia akan menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya.’ Beliau bersabda, ‘Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu dari neraka, Allah telah menggantinya untukmu ternpat duduk dari syurga.’ Nabi Allah bersabda, ‘Maka ia melihat keduanya.’ Qatadah berkata, ‘Diberitakan kepada kami bahawa di dalarn kuburnya akan diperluas untuknya 70 hasta dan dipenuhi atasnya kenikmatan yang segar sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2200, lihat Shahih al-Bukhari 11/ 123).

c) Imam al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dan Ibnu Abbas r.a, ia berkata,

Rasulullah s.a.w. berjalan melewati dua kuburan, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena perkara besar,’ kemudian beliau bersabda, ‘Benar, adapun yang satu maka ia telah melakukan adu domba, adapun yang lainnya kerana dia tidak bersembunyi semasa membuang air kecil dan tidak membersihkan diri dari percikan-percikan kencingnya dengan betul.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kemudian beliau mengambil batang kayu segar dan dibelah menjadi dua, kemudian rnenancapkan masing-masing di atas kuburan tadi kemudian bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan (azabnya) selama (dua batang kayu tadi) tidak kering’.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 11/134)

d) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, ‘Rasulullah berdoa,

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dan adzab kubur, dan adzab neraka, dan danifitnah kehidu pan dan kematian, serta dan fitnah Dajjal.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 11/24, dan lihat Muslim 4/2200)

Dalil-dalil ini dan yang seumpamanya menunjukkan, orang yang mati akan diuji di dalam kubumya, maka barangsiapa yang ditetapkan imannya oleh Allah dan menjawab dengan benar maka diluaskan baginya di dalam kubumya serta diberi sebagian dari kenikmatan akhirat. Dan siapa yang menyimpang dari kebenaran dan sesat di dalam hidupnya, maka dia tidak akan boleh/mampu menjawab dengan benar pertanyaan kedua malaikat tersebut, sehingga ia dipukuli dengan palu dan besi dan dihimpit di dalam kubumya serta menerima siksaan sesuai dengan dosa-dosanya sampai datang Hari Kiamat atau sampai pada waktu tertentu (terbatas).

Jadi adzab kubur itu ada dua macam:

Pertama:

Terus menerus sampai Hari Kiamat iaitu untuk orang kafir dan munafik dan sebagian ahli maksiat, seperti pemberitaan Allah tentang keluarga Firaun:

لنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ ﴿٤٦﴾

Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat dikatakan kepada malaikat, ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir/al-Mukmin 40: 46)

Kedua:

Sementara, berlaku untuk waktu yang terbatas kemudian berhenti. Iaitu siksaan untuk sebagian ahli maksiat yang ringan kejahatannya. Ia disiksa sesuai dengan kejahatannya kemudian diringankan siksaan atasnya atau dihentikan sama sekali kerana maksiatnya tidak berhak menerima azab kecuali sebatas itu, atau kerana adanya sebagian yang boleh melebur dosa sesudah kematiannya seperti doa anaknya yang soleh atau sedekah jariyah yang ditinggalkannya di dunia atau ilmunya yang dimarifaatkan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

IV. KIAMAT DAN TANDA-TANDANYA

Kiamat adalah tibanya saat yang disebutkan dalam firman Allah s.w.t. seperti:

Dan pada hari terjadinya Kiamat.” (Ghafir 40: 46 dan al-Jatsiyah: 27)

Kiamat disebutkan dalam al-Qur’an dengan beberapa nama, antara lain: Al-Qari’ah, al-Ghasyiyah, ath-Thammah, al-Waqi’ah, al-Haqqah, ash-Shakhkhah, Yaumul-Hisab dan Yaumud Din.

Dalil-dalil kepastian datangnya banyak sekali, antara lain:

a) Firman Allah,

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ ﴿٧﴾

Dan sesungguhnya Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahawasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj 22: 7)

b) Firman Allah,

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٥٩﴾

Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Ghafir/Mukmin 40: 59)

c) Firman Allah,

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ ﴿١﴾

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1)

d) Sabda Rasulullah s.a.w.,

Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat seperti ini’, beliau membandingkan antara jari telunjuk dan jari tengah.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari 6/206, Muslim 11/592)

Sekalipun ada kepastian akan terjadinya dan kewajiban mengimaninya, tetapi Allah merahsiakan bila Kiamat terjadi dan tidak seorang pun mengetahui waktunya, akan tetapi Allah memberitahukan tanda-tandanya yang menunjukkan dekatnya kejadian Kiamat.

Dalil-dalil yang menunjukkan hanya Allah saja yang mengetahui Hari Kiamat sangat banyak, di antaranya ialah:

a) Firman Allah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٨٧﴾

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raaf 7: 187)

Pertama: Dalil-dalil tentang Kekhususan Ilmu Allah Mengenai Kiamat

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Kiamat” (Luqman 31: 34)

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا ﴿٦٣﴾

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya” (al-Ahzaab 33: 63)

Kedua: Tanda-tanda Kiamat

Ketika hikmah Allah menghendaki untuk menyembunyikan waktu terjadinya, Dia memberitahukan kepada Nabi-Nya s.a.w, tanda-tanda kedatangannya, kemudian beliau memberitahukan kepada kita tanda-tanda yang banyak sekali yang munculnya merupakan pertanda dekatnya Hari Kiamat. Tanda-tanda itu ada dua: alamat (tanda) shughra menunjukkan dekatnya Kiamat, sedangkan alamat Kubra menunjukkan bahwa ia sudah di ambang pintu.

Di antara tanda-tanda shughra (kecil) yaitu:

a) Malaikat Jibril ketika bertanya bila Hari Kiamat, beliau menjawab,

Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya, tetapi saya akan memberitahukanmu tentang tanda-tandanya, jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta berlumba-lumba dalam mendirikan bangunan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 1/20 dan lihat Muslim 1/39)

b) Berperangnya orang muslim melawan orang Yahudi dan kemenangan orang-orang muslim atas mereka. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahawasanya Rasulullah bersabda,

Tidak akan terjadi Kiamat sebelum orang Islam memerangi orang Yahudi. Maka orang Islam membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon; maka batu dan pohon itu berkata, ‘Ya Muslim, wahai hamba Allah, inilah orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah,’ kecuali pohon gharqad, kerana sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2239, dan lihat al-Bukhari IV/51).

Tanda-tanda shughra (kecil) yang diberitakan oleh Rasulullah s.a.w., sangat panjang pembahasannya berikut dalil-dalilnya, seperti pendeknya waktu, berkurangnya amal, munculnya berbagai fitnah, banyaknya pembunuhan, pelacuran, kefasikan dan lain-lain.

Tanda-tanda kubra (besar)

a) Keluarnya Dajjal. Rasulullah s.a.w., telah memberitahukan kemunculannya dengan hadis yang banyak jumlahnya sehingga mencapai mutawatir. Para nabi telah memperingatkan umat dan kaumnya daripadanya. Sedangkan Rasulullah s.a.w., menyebutnya sebagai fitnah terbesar yang terjadi semenjak penciptaan Nabi Adam hingga Hari Kiamat. Dan di antara doa beliau adalah meminta perlindungan-Nya dari fitnah Dajjal dan memerintahkan umatnya untuk berdoa seperti itu.

Di antara hadits-hadits yang memperingatkan darinya ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a., bahwasanya Rasulullah bersabda,

Tidak ada seorang nabi pun yang diutus melainkan ia memperingatkan umatnya dari yang buta sebelah dan pendusta. Ingatlah, dia itu buta sebelah matanya. Dan sesungguhnya Rabbmu (Allah) tidak buta sebelah mata-Nya. Dan di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 9/75-76, lihat Muslim 4/2248)

b) Turunnya Nabi Isa di atas menara putih di sebelah timur Damaskus, kemudian beliau membunuh Dajjal dan mengajak kepada Islam serta memberlakukan hukum Islam, menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapuskan jizyah.

Dalil-dalil tentang hal ini banyak sekali, di antaranya ialah hadits al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w., bersabda,

Tidak terjadi Kiamat sebelum turun di tengah-tengah kalian Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil, dia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah dan melimpahlah harta sampai tidak seorang pun yang mahu menerima.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 3/178, dan lihat Muslim 1/136).

c) Munculnya matahari dari barat. Ini adalah pertanda sangat dekatnya Hari Kiamat dan permulaan bergolaknya hukum alam yang normal, kerana dahsyatnya pengaruh pertanda ini dan telah putusnya harapan sehingga ketika orang-orang melihat tanda ini mereka merasa takut dan resah kemudian semuanya beriman, akan tetapi imannya tidak ada ertinya lagi kerana tidak diterima, kerana sebelumnya mereka tidak mahu beriman. Sebagaimana firman Allah,

هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انتَظِرُوا إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿١٥٨﴾

Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” (al-An’am 6: 158)

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,

Tidak terjadi Kiamat sebelum matahari terbit dar barat; jika sudah terbit dari barat maka manusia semuanya beriman. Pada hari itu imannya orang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak berbuat baik dalam masa imannya, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya.” (HR. Muslim 1/137, dan lihat alBukhari 8/ 132)

Dan masih banyak lagi tanda-tanda yang tidak kami sebutkan, seperti munculnya al-Mahdi, binatang ajaib (Dabbah), asap dan api di negeri Hijaz dan sebagainya. Kejadian-kejadian ini saling berdekatan dan berakhir dengan hancurnya dunia serta matinya semua makhluk. Allah berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ ﴿٦٨﴾

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (az-Zumar 39: 68)

Rasulullah s.a.w. ditanya tentang shur, maka beliau menjawab iaitu tanduk yang ditiup (lihat Musnad Imam Ahmad 11/ 162 dan 192). Yang meniup adalah Israfil lalu matilah makhluk yang ada di langit dan di bumi kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah.

Wallahu a’lam.

RUKUN IMAN 4 – PERCAYA KEPADA PARA NABI DAN RASUL


Erti Nabi dan Rasul

Dari segi bahasa nabi bererti pembawa berita.Adapun dari segi istilah , nabi bererti lelaki yang dipilih oleh Allah untuk diberikan wahyu kepada dirinya sahaja dan tidak diperintah bagi disampaikan kepada orang lain.Rasul pula dari segi bahasa bererti utusan.Adapun dari segi istilah iaitu lelaki yang dipilih oleh Allah untuk diberikan wahyu bagi dirinya dan wajib atasnya menyampaikan kepada orang lain.Adalah tiap – tiap rasul itu nabi tetapi tidak semestinya tiap – tiap nabi itu rasul.

Ciri – ciri Nabi dan Rasul

  1. Lelaki
  2. Paling sempurna akalnya
  3. Paling sempurna akhlaknya
  4. Paling sempurna kejadiannya
  5. Baik budi pekerti

Hukum Beriman dengan Nabi dan Rasul

Hukum beriman dengan nabi dan rasul itu wajib dan menjadi kafir sesiapa yang mengingkarinya kerana ia termasuk di dalam rukun iman yang enam.

Firman Allah Taala

Rasulullah telah beriman kepada apa Yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang Yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Mereka berkata): “Kami tidak membezakan antara seorang Dengan Yang lain Rasul-rasulnya”.

Ayat di atas datang dalam bentuk khabar yang membawa maksud wajib beriman dengan rasul kerana Allah tidak mensifatkan orang yang beriman itu melainkan orang yang beriman dengan rasul – rasul.

Di dalam hadis Jibril rasulullah saw menerangkan salah satu daripada rukun iman itu ialah

Bahawa kamu beriman dengan Allah , para malaikatNya , kitab – kitabNya dan rasul – rasulNya…

Hikmah Diutuskan Rasul

Mengutuskan rasul – rasul itu tidak wajib bagi Allah namun Allah dengan kasih sayangnya kepada makhluk mengutuskan rasul – rasul untuk mengingatkan umat manusia terhadap perintah – perintah Allah dan memimpin mereka ke arah keselamatan di dunia dan di akhirat.Di samping itu juga supaya manusia tidak dapat berdalih lagi di akhirat kelak bahawa mereka tidak diutuskan rasul. Firman Allah swt.

Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang Yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang Yang kafir dan Yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu.

Bilangan Nabi dan Rasul

Tidak ada ketentuan yang pasti tentang bilangan nabi dan rasul.Tetapi kaul yang paling hampir menyebutkan bahawa bilangan nabi itu berjumlah seratus dua puluh empat ribu orang dan tiga ratus tiga belas orang daripadanya dipilih menjadi rasul.Adapun yang wajib diketahui nama – namanya secara tafsil hanyalah dua puluh lima orang kerana dua puluh lima orang tersebut telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran yang mana tidak ada khilaf di kalangan ulama tentang kenabian dan kerasulan mereka.

Nama rasul yang dua puluh lima.

Berikut adalah nama – nama rasul yang dua puluh lima alaihimussolatu wassalam:-

1: ADAM 2: IDRIS 3: NUH 4: HUD 5: SALLEH
6: IBRAHIM 8: ISMAIL 9: ISHAQ 10: YA’QUB 11: YUSUF
12: AYYUB 12: ZULKIFLI 13: ZULKIFLI 14: SYU’AIB 15: YUNUS
16: MUSA 17: HARUN 18: ILYAS 19: ILYASA 20: DAUD
21: SULAIMAN 22: ZAKARIYA 23: YAHYA 24: ISA 25: MUHAMMAD

Daripada dua puluh lima yang tersebut lima orang daripadanya merupakan nabi yang berpangkat ulul azmi.Mereka ialah :-

  1. Nuh as
  2. brahim as
  3. Musa as
  4. Isa as
  5. Muhammad saw

Ulul azmi ertinya nabi – nabi yang mempuyai keazaman dan ketabahan yang kuat di dalam menanggung tugas menegakkan agama Allah dan semasa menjalankan tugas tersebut mereka banyak disakiti oleh kaum masing – masing. Wajib atas tiap – tiap mukallaf menghafaz nama – nama rasul yang dua puluh lima yang tersebut dengan sekira – kira jika ditunjukkan nama – nama mereka kepadanya nescaya dia dapat mempastikan bahawa nama tersebut rasul atau tidak.

RUKUN IMAN 3 – PERCAYA KEPADA KITAB


BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

Al-Qur’an Al-Karim

Kitab suci al-Qur’an al-Karim yang diturunkan oleh Allah Taala kepada Nabi Muhammad s.a.w. – Nabi dan Rasul yang akhir sekali, ialah kitab suci yang akhir sekali yang memansukhkan kitab-kitab suci yang terdahulu daripadanya. Al-Qur’an al-Karim diturunkan oleh Allah Taala kepada Baginda s.a.w. dalam masa umat manusia terutama kaum Yahudi dan Nasrani berada dalam persengketaan dan perselisihan dalam berbagai-bagai masalah termasuk masalah ketuhanan dan kerasulan. Masing-masing pihak membenarkan pihaknya dan menyalahkan yang lain.

Al-Qur’an al-Karim, antara lain, mempunyai dua tugas yang besar: 

Pertama – Mengakui kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab suci yang terdahulu daripadanya, mengenai beribadat kepada Allah semata-mata, beriman kepada Rasul-Rasul-Nya, menjalankan kebenaran dan keadilan,  berakhlak dengan sifat-sifat yang mulia dan mengakui benar adanya balasan pada hari akhirat. 

Kedua – Mengawasi kitab-kitab yang tersebut serta mendedahkan perubahan,  pindaan dan tokok tambah yang terdapat dalam kitab-kitab itu yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. 

Hakikat ini ditegaskan oleh Allah Taala di dalam al-Qur’an al-Karim, ertinya:

Dan Kami turunkan kepada mu (wahai Muhammad) kitab al-Qur’an dengan membawa kebenaran,  untuk mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang terdahulu daripadanya dan untuk memelihara serta mengawasinya. (48, Surah al-Maidah).

Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah (atau menukar ganti) kalam Allah (isi kitab Taurat), dari tempat dan maksudnya yang sebenar. (46, Surah an-Nisaa’).

Dan di antara orang-orang yang berkata:  `Bahawa kami ini orang-orang Nasrani,  Kami juga telah mengambil perjanjian setia mereka, maka. mereka juga melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya. (14, Surah al-Maidah).

Jelasnya, sesiapa yang hendak mencari kebenaran dan hendak mencapai pengajaran-pengajaran Ilahi yang benar,  tidak akan dapat di mana-manapun selain daripada yang terhimpun di dalam al-Qur’an al-Karim kerana al-Qur’anlah kitab suci yang terpelihara keasliannya dan terselamat pengajarannya daripada sebarang perubahan,  pindaan dan tokok tambah, serta telah disambut dan diterima oleh umat Islam dari Nabi Muhammad s.a.w.  yang menerimanya dari Malaikat Jibril a.s yang membawa turunnya dari Allah s.w.t.

Al-Qur’an juga sebuah kitab yang terhimpun di dalamnya:

  1. Dasar-dasar suci dan mulia dan sebenar-benar cara serta sebaik-baik peraturan. 

  2. Segala apa jua yang diperlukan oleh umat manusia meliputi aqidah kepercayaan,  amal ibadat,  adab sopan dan segala bentuk muamalat (kira bicara dan perhubungan sesama manusia dalam bidang perniagaan,  perusahaan dan sebagainya). 

  3. Segala peraturan yang menjamin wujudnya orang perseorangan yang sempurna,  keluarga yang mulia, masyarakat yang baik dan kerajaan yang adil.

Hakikat ini diterangkan oleh Allah Taala dalam ayat 15-16, Surah al-Maidah. Di antara maksud-maksudnya:

  1. Bahawa umat Muhammad s.a.w,  telah datang kepada mereka – dari Allah s.w.t. – seorang Rasul selaku obor atau suluh yang menerangi pandangan hati nurani manusia dan sebuah kitab al-Qur’an yang menyatakan segala yang dihajati oleh umat manusia untuk kesempurnaan dan kesentosaannya.

  2. Bahawa melalui Rasul dan Kitab yang tersebut, Allah Taala – dengan peraturan dan undang-undangnya, menunjukkan jalan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kepada sesiapa yang menerima dan menurut peraturan dan cara bawaan hidup yang diredhaiNya.

  3. Mengeluarkan manusia dari gelap gelita kufur,  kejahilan, maksiat dan sebagainya, kepada sinaran cahaya iman,  ilmu pengetahuan,  amal ibadat dan perkara-perkara yang mulia. 

  4. Memimpin manusia ke jalan yang tidak ada kebimbangan sesat bagi sesiapa yang melaluinya dan tidak pula berat atau payah dijalani, iaitulah jalan – “As-Siratal Mustaqin” – yang betul lurus.

Hadis Pertama

Hakikat ini juga ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadisnya:

Dari Ali, ra., katanya: Ingatlah, aku telah mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda: “Awaslah, sesungguhnya akan berlaku kekacauan dan bala bencana yang besar”. Aku bertanya: “Apakah caranya untuk menyelamatkan diri dari bencana itu, Ya Rasulullah? ” Baginda menjawab:  “(Caranya ialah berpegang teguh kepada ajaran) kitab Allah ia mengandungi kisah-kisah perihal umat-umat – yang terdahulu dari kamu dan berita perkara-perkara yang akan datang sesudah kamu, serta hukum-hukum mengenai apa yang berlaku di antara kamu (kitab Allah al-Qur’an) dialah yang menjadi pemutus (antara yang benar dengan yang salah) bukan keterangan yang olok-olok; sesiapa jua dari golongan yang sombong angkuh, meninggalkannya (dengan tidak menurut hukumnya): akan dibinasakan oleh Allah dan sesiapa yang mencari pertunjuk dari yang lainnya akan disesatkan oleh Allah;  al-Quran ialah tali Allah yang teguh kukuh dan dialah pengajaran yang menjadi ikutan dan dialah juga As-Siratul Mustaqim (jalan yang lurus). Dialah kitab yang dengan sebab berpegang teguh kepada ajarannya, hawa nafsu seseorang tidak akan menyeleweng atau terpesong; dan dialah kitab yang kalimah-kalimahnya tidak akan bercampur aduk atau berkesamaran dengan kata-kata makhluk;  dan alim ulama pula tidak merasa puas daripada mengkaji isi kandungannya; (demikian juga) keindahan,  kemanisan dan kelazatan membacanya tidak akan susut atau hilang meskipun ia dibaca dengan berulang-ulang dan kandungannya yang menakjubkan,  tidak berkesudahan. Dialah kitab yang  menjadikan sekumpulan jin semasa mendengarnya tidak tertahan hati menerimanya sehingga mereka memujinya dengan berkata “Sesungguhnya kami mendengar bacaan al-Qur’an yang – menakjubkan,  yang memimpin ke jalan yang benar,  lalu kami beriman kepadanya.” (Demikian juga) sesiapa yang memperkatakan sesuatu dengan berdasarkan kitab itu, benarlah perkataannya; dan sesiapa yang beramal dengan ajarannya, diberikan pahala;  dan sesiapa yang membuat keputusan berdasarkan hukum-hukumnya, adillah keputusannya; dan sesiapa yang berdakwah supaya orang ramai menurut ajaran-ajarannya, sudah tentu ia (dan mereka) beroleh hidayah petunjuk ke jalan yang lurus.” (Tirmizi dan Darimi)

Firman Allah Taala, maksudnya: “Dan hendaklah kamu sekalian berpegang teguh kepada kitab Allah Al-Qur’an .. (103, Ali-Imran).
“.. Dan apa jua suruhan yang dibawa oleh Rasulullah kepada kamu, maka ambillah akan dia serta amalkan, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya …” (7, Al-Hasyr).

Hadis Kedua

Dari Zaid bin Arqam, r.a. katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kitab Allah Azza wa Jalla ialah tali Allah (sebab yang membawa kepada rahmat Allah), sesiapa yang menurutnya: Beradalah ia dalam hidayat pertunjuk yang sebenar-benarnya dan (sebaliknya) sesiapa yang meninggalkannya: Beradalah ia dalam kesesatan. ” (Muslim)

Hadis ini mengandungi:

  1. Kitab Allah ialah jalan perhubungan seseorang dengan Allah. 
  2. Nasib seseorang bergantung kepada mengikut atau tidaknya akan kitab Allah. 

Huraiannya:

Pertama – Kitab Allah Al-Qur’an Al-Karim:

Allah S.W.T. Tuhan pencipta alam seluruhnya dan pencipta manusia khasnya. Manusia tidaklah seperti keadaan kayu dan batu, dan tidaklah seperti keadaan haiwan-haiwan yang lain, tetapi manusia adalah sejenis makhluk yang kejadiannya tersusun dari jasmani dan rohani, serta berkeadaan dengan sifat-sifat istimewa berbanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Oleh itu maka tak patut manusia hanya tinggal manusia,  tidak lebih dari itu, bahkan wajiblah ada perhubungannya dengan Allah penciptanya; maka jalan perhubungan seseorang dengan Allah itu tidak lain melainkan Al-Qur’an al-Karim.

Di dalam Al-Qur’an ada keterangan-keterangan, ada tunjuk ajar untuk seseorang mencapai keselamatan;  ada yang berupa suruhan, ada yang berupa larangan,  sama ada dalam bahagian ibadat,  mahu pun dalam bahagian bidang-bidang kehidupan, yang wajib dipatuhi, di mana seseorang itu berada dan dalam zaman mana ia hidup, hingga hari kiamat. 

ltulah sebabnya Al-Qur’an itu disifatkan dengan “Tali Allah” yang teguh kukuh, sesiapa yang berpegang dengannya selamatlah dia, dan sesiapa yang mencuaikannya binasalah dia.

Kedua – Nasib seseorang dalam alam kehidupan:

Perkara nasib sentiasa dipersoalkan oleh setiap orang dalam setiap masa,  lebih-lebih lagi dalam zaman sains dan teknologi mi. Mereka berusaha, mereka bertindak dengan tujuan membaiki dan membela nasibnya.

Tetapi walau bagaimanapun, nasib yang mereka maksudkan itu tidak lebih dari nasib dalam kehidupan dunia sahaja, katalah tentang senang atau susah,  atau lain-lain lagi; semuanya setakat dalam dunia,  dengan tidak memandang kepada akhirat – alam kesudahan masing-masing; dan semuanya mengikut ukuran lahir semata-mata dengan tidak memandang kepada nilaian akhlak dan peri kemanusiaan;  maka dengan sebab itulah dalam berusaha untuk membaiki dan membela nasib kerapkali berlaku pencerobohan terhadap nasib orang lain, atau menyentuh maruah diri sendiri atau diri orang lain.

Adapun nasib yang dimaksudkan oleh agama ialah nasib yang meliputi kehidupan dunia dan akhirat sama,  sedang manusia dengan fikirannya sendiri hanya dapat mengetahui perkara jasmani dalam dunia ini,  itupun kadarnya sangat terbatas; pada hal hakikat manusia bukanlah jasmani sahaja bahkan jasmani dan rohani sama;  maka manusia walaupun seberapa bijak fikiran mereka tak dapat mengetahui dengan sahnya perkara rohani itu, lebih-lebih lagi perkara alam akhirat. 
Dengan yang demikian, maka untuk membaiki nasib dan mencapai kebahagiaan dunia akhirat, wajiblah seseorang itu menurut ajaran kitab Allah dan menjauhkan diri dan segala larangannya.

Hadis Ketiga

Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., bahawa Baginda bersabda: “Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, iaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah,” (s.a.w.).
(Imam Malik).

Hadis ini mengandungi:

  1.  Pusaka Peninggalan Rasulullah s.a.w. yang kekal abadi. 
  2. Kitab Allah dan sunnah Rasulullah s.a.w. menjamin keselamatan umat manusia.

Huraiannya:

Pertama – Pusaka Peninggalan Rasulullah s.a.w.:

Baginda tidak meninggalkan harta benda yang menjadi pusaka kepada waris-warisnya. Sebagai seorang Rasul,  Baginda diberi mukjizat-mukjizat yang membuktikan kerasulannya dan mukjizat-mukjizat itu habis apabila lalu masanya, tidak dapat disaksikan oleh orang-orang kemudian, kecuali satu mukjizat yang kekal hingga ke hari kiamat,  yang lebih berguna dari harta benda, bukan sahaja untuk waris-warisnya bahkan untuk umat manusia seluruhnya dalam segala tempat dan segala zaman. 
Peninggalannya itu ialah “Kitab Allah Al-Qur’an” yang diwahyukan kepadanya dan “Sunnah”nya yang meliputi, perkataannya, perbuatannya dan taqrirnya (ketiadaan larangannya).

Kedua – Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s.a.w. menjamin keselamatan umat manusia: 

Jaminan keselamatan yang diberi melalui “Kitab Allah” dan “Sunnah RasulNya itu ialah dengan jalan tiap-tiap seorang mengamalkan sendiri segala ajaran keduanya, menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya; bukan dengan jalan menyimpan keduanya di rumah untuk diambil berkat sahaja, bukan dengan jalan dibaca dengan tujuan yang lain daripada mencari keredhaan Allah Azza wa Jalla dan bukan pula dengan cara menumpang amalan orang lain, walau pun di antara anak dengan ayah, atau di antara isteri dengan suami;  tidaklah seperti keadaan keselamatan dalam alam nyata ini, yang biasanya seseorang yang lebih kuasanya boleh memberi perlindungan selamat kepada orang lain yang ia kehendaki.

Usaha untuk mencapai keselamatan yang sejati ialah berpegang teguh kepada ajaran-ajaran kitab Allah dan jalan pimpinan Rasulullah s.a.w.

Hadis Keempat

Dari Al-‘Irbaadh bin Sariyah, r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. telah menasihati dan mengingati kami, pada suatu hari lepas sembahyang Subuh,  dengan satu nasihat dan peringatan yang sangat-sangat mendalam dan berkesan, yang menjadikan (Pendengar-pendengarnya) menitiskan air mata dan menjadikan hati (mereka) gerun gementar. Lalu berkatalah salah seorang lelaki (di antara kami): “Sesungguhnya nasihat ini nasihat orang yang memberi selamat tinggal, maka apakah pesanan yang tuan hendak pesankan kepada kami Ya Rasulullah? ” Baginda menjawab:  “Aku berpesan kepada kamu dengan taqwa kepada Allah,  dan mendengar serta taat kepada (pemerintah kamu) sekalipun ia seorang hamba bangsa Habsyi, kerana sesungguhnya sesiapa di antara kamu yang hidup (selepas ku) akan melihat perselisihan yang banyak dan (dengan yang demikian) berjaga-jagalah kamu, jauhkanlah diri dan perkara-perkara baharu (yang diada-adakan dalam agama), kerana sesungguhnya perkara-perkara itu adalah sesat;  oleh itu sesiapa di antara kamu yang berada dalam zaman berlakunya yang demikian, maka hendaklah ia menurut jalanku dan jalan khalifah-khalifah (ku) yang mendapat pimpinan lagi beroleh hidayat pertunjuk; berpegang teguhlah kamu kepadanya dengan seteguh-teguhnya.” (Tirmizi)

Menurut hadis Abu Daud,  (Baginda bersabda): “Dan berjaga-jagalah kamu! Jauhkanlah diri dan perkara-perkara baharu (yang diada-adakan dalam agama), kerana sesungguhnya tiap-tiap perkara yang diada-adakan) itu bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu sesat. ”
Hadis yang kelima ini mengandungi:

  1. Rasulullah s.a.w. seorang ahli pidato yang amat bijaksana.
  2. Dalam pidato-pidatonya, kerapkali Baginda berpesan supaya bertaqwa daripada terkena kemurkaan Allah.
  3. Orang-orang Islam diwajibkan taat kepada pemerintah dengan tidak memandang kepada asal keturunannya.
  4. Amaran Baginda tentang berlakunya perselisihan dalam kalangan umat Islam.
  5. Jalan bawaan Rasulullah s.a.w. dan jalan pimpinan khalifah-khalifah Al Rashidin hendaklah sentiasa dijadikan pedoman.

Huraiannya:

Pertama – Rasulullah s.a.w. Seorang Ahli Pidato Yang Amat Bijaksana:

Sebagai seorang Rasul yang terpilih,  yang sentiasa mendapat pimpinan dari Allah s.w.t. melalui malaikat Jibril (a.s.), sudah tentu nasihat-nasihat dan pengajaran Baginda memberi kesan yang sangat-sangat mendalam dan mempengaruhi pendengar-pendengarnya, sehingga hati yang keras menjadi lembut,  yang pengecut menjadi berani,  dan yang cuai menjadi tekun, bertindak dengan bersungguh-sungguh.

Kedua – Soal Taqwa:

Dalam pidatonya, Baginda kerapkali berpesan supaya bertaqwa daripada terkena kemurkaan Allah s.w.t. “Taqwa” ialah cara memelihara dan menjaga diri dan lain-lainnya kerana takut terkena sebarang perkara yang merosakkan atau yang mencacatkan.

Kerosakan-kerosakan itu ada kalanya mengenal hidup di dunia,  dan ada kalanya mengenai hidup di akhirat. Bagi menjaga dan mengawal kerosakan atau kecacatan hidup di dunia,  hendaklah dipelajari ilmu pengetahuan yang berhubung dengan undang-undang kejadian alam serta diikuti dan dijalankan dengan sempurna. 

Misalnya bagi mencegah kekalahan dan kerosakan dalam perjuangan,  hendaklah mengetahui cara-cara dan peraturan melawan musuh,  serta menyediakan alat-alat kelengkapan yang dikehendaki oleh keadaan dan zaman.  Selain dan itu hendaklah pula disertakan dengan kekuatan rohani iaitu bersatu hati, tetap dan tabah serta bertawakal kepada Allah Taala.

Demikian juga, bagi menjaga kerosakan atau kecacatan hidup di akhirat, hendaklah mencegahnya dengan iman yang ikhlas, tauhid yang tulin, dan amal yang salih serta menjauhi segala yang bertentangan dengan semuanya itu, seperti bawaan syirik, perbuatan maksiat, dan akhlak yang memburukkan seseorang atau masyarakat.

Pendeknya “Bertaqwa” ialah berusaha menjalankan sebab-sebab yang dijadikan Tuhan untuk mencapai musababnya – Seperti beriman dan beramal salih untuk mencapai nikmat kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat kelak dan berusaha menurut jalan dan peraturan yang betul untuk mencapai kejayaan di dunia.

Ketiga – Orang-orang Islam diwajibkan taat kepada ketua,  sekalipun ketua itu dari golongan hamba abdi:

Seseorang ketua,  dengan sifatnya pemegang teraju pemerintahan sesebuah negara, atau sesebuah masyarakat, atau sesebuah pejabat, atau lain-lainnya, wajib dipatuhi oleh set!p orang yang di bawah perintahnya, selagi tidak bercanggah dengan hukum-hukum Islam,  sebagaimana yang dinyatakan oleh sebuah hadis,  yang maksudnya: “Tidak harus mentaati seseorang makhluk dalam perkara melanggar perintah Tuhan”.

Patuh setia dan seluruh rakyat itu menjadikan segala urusan pemerintahan berjalan dengan baik,  dapat memberikan hak-hak kepada tuan punya masing-masing mengikut apa yang wajib.  Kalau tidak, akan berlakulah berbagai-bagai huru-hara. Memandang kepada besarnya kepentingan taat setia terhadap ketua atau pemerintah,  dan besarnya bencana ketiadaan taat setia itu maka Rasulullah s.a.w. wajibkan juga mematuhi walaupun ketua atau pemerintah itu dari golongan hamba abdi, sekiranya ia dengan ilmu pengetahuannya berpeluang menjadi ketua, pada hal ketua atau pemerintah itu – selain daripada ilmu pengetahuan yang melayakkannya – menurut dasar syarak hendaklah dari keturunan yang mu1ia.

Keempat – Amaran Baginda tentang berlakunya perselisihan dalam kalangan umat Islam:

Amaran yang telah diberikan oleh Rasulullah s.a.w. telah berlaku dan menjadi kenyataan. Orang-orang Islam telah pun mengalami perselisihan sesama sendiri, sama ada dalam soal-soal i’tikad kepercayaan dan amal ibadat,  mahu pun dalam soal-soal politik, sehingga menyebabkan berlakunya perkara-perkara yang tidak diingini

Kelima – Perlunya berpandu kepada jalan bawaan Rasulullah S.A.W. dan jalan pimpinan khalifah-khalifah Ar-Rasyidin:

Sebagaimana perlunya pedoman dalam perjalanan atau pelayaran untuk mengelakkan sesat barat, maka demikianlah pula perlunya berpandukan jalan bawaan Rasulullah s.a.w. dan jalan pimpinan khalifah-khalifah Al-Rasyidin dalam bawaan hidup seseorang sehari-hari, lebih-lebih lagi pada masa berlakunya pertelingkahan.

Setelah memberi amaran tentang berlakunya persengketaan dalam kalangan umatnya, Baginda iringi pula dengan pesanan supaya mereka sentiasa berpandukan kepada jalannya dan jalan khalifah-khalifahnya, serta melarang keras dari melakukan perkara-perkara baharu yang diada-adakan dalam agama – dengan berdasarkan akal fikiran semata-mata dan keinginan hawa nafsu – kerana buruk padahnya.

Hadis Kelima

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi sesungguhnya akan berlaku kepada umatku perkara-perkara yang betul-betul sama seperti apa yang telah berlaku kepada Bani Israil, sehingga jika ada di antara mereka orang yang berzina dengan ibunya dengan berterang-terang, nescaya akan ada dalam kalangan umatku orang yang melakukan perkara yang demikian; dan sesungguhnya kaum Bani Israil telah berpecah belah kepada tujuh puluh dua puak dan umatku pula akan berpecah belah kepada tujuh puluh tiga puak,  semuanya (akan dihumbankan) dalam neraka kecuali satu puak sahaja”. Sahabat-sahabat Baginda bertanya: “Siapa dia puak yang satu itu ya Rasulullah? ” Baginda menjawab:  “Puak itu ialah puak yang tetap di atas jalanku dan jalan sahabat-sahabatku.” (Tirmizi)

Menurut hadis Abu Daud,  ada tambahan, iaitu: “Dan sesungguhnya akan timbul dalam kalangan umatku beberapa puak yang dijalari oleh bahaya penyakit suka mengada-adakan bid’ah sebagaimana menjalarnya bahaya penyakit anjing gila kepada mangsanya – tidak ada satu urat atau satu sendi tubuhnya melainkan penyakit itu meresap masuk menjalarinya.”

Hadis ini mengandungi:

Penegasan Rasulullah s.a.w. tentang perkara-perkara buruk yang akan berlaku dalam kalangan umatnya yang wajib dijauhi, supaya mereka tetap teguh menurut jalannya dan jalan sahabat-sahabatnya.

Huraiannya:

Perkara-perkara buruk yang diperingati oleh junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. itu ialah:

Pertama – Umat Islam akan melakukan penyelewengan dari ajaran-ajaran Islam yang sebenar, seperti yang telah dilakukan oleh kaum Bani Israil.  Baginda menyebutkan perihal kaum Bani Israil ini kerana penyelewengan mereka adalah seburuk-buruk contoh yang wajib dijauhi dan disingkirkan.

Meskipun mereka pada mulanya diberikan berbagai nikmat dan keistimewaan,  diturunkan kepada mereka kitab-kitab suci,  dan diutuskan kepada mereka beberapa banyak Nabi-nabi dan Rasul-rasul, tetapi kebanyakan mereka tetap kufur ingkar, dan terus melakukan berbagai-bagai jenayah dan kekejaman di sepanjang-panjang sejarahnya. Mereka telah runtuh dan kekejaman di sepanjang-panjang sejarahnya. Mereka telah runtuh akhlaknya, hilang lenyap peri kemanusiaannya, dan berpecah belah kepada berbagai-bagai puak dalam kepercayaan dan fahaman-fahamannya serta mengadakan berbagai-bagai helah untuk memutarbelitkan ajaran-ajaran dan hukum-hukum agamanya. Merekalah juga yang telah menimbulkan dan mengembangkan berbagai-bagai isme atau fahaman, seperti fahaman komunis, fahaman kapitalis dan lain-lainnya yang merosakkan ketenteraman dan susunan masyarakat serta perekonomian negara-negara dunia yang dijalannya.

Bahkan merekalah yang mengembangkan kebudayaan kuning yang lucah itu dan melanggar tata tertib dan kesopanan – melalui filem-filemnya, akhbar-akhbar dan majalah-majalahnya, fesyen-fesyen pakaiannya, dan kelab-kelab malamnya, sehingga berhaklah mereka dilaknat oleh Allah Taala di dalam kitab-kitab suciNya, dilaknat oleh malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, dan seluruh umat manusia yang berperi kemanusiaan. 

Baginda juga pernah memberi ingat dengan tegasnya – sebagaimana yang tersebut dalam salah satu hadisnya: Bahawa umatnya akan terpengaruh dan menjadi pak turut dengan buta tuli kepada segala apa jua yang datangnya dari kaum Yahudi dan Nasrani. 
Baginda menyebutkan secara khusus kedua-dua kaum itu, kerana mereka, selain diberikan kitab-kitab dan diutuskan Rasul-rasul yang memimpin mereka, merekalah sahaja yang berpengaruh dan banyak angkaranya pada zaman Baginda. Kalau kaum-kaum yang diberikan kitab dan pimpinan itu diingatkan kita jangan terpengaruh kepada penyelewengannya, maka kaum-kaum yang tidak diberi kitab dan tidak pula menerima pimpinan, lebih-lebih lagi wajib kita menolak bulat-bulat segala apa yang mereka sogok-sogokkan kepada kita dari perkara-perkara yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam kita seperti yang kita saksikan pada zaman kita ini – dari kaum-kaum Majusi,  Komunis, Etheis dan lain-lainnya.

Apa yang telah diperingatkan oleh Rasulullah s.a.w. mengenai penyelewengan yang akan berlaku dalam kalangan umatnya itu telahpun berlaku dan menjadi kenyataan. Sebagaimana yang disaksikan sekarang ada di antara orang-orang Islam yang suka meniru bulat-bulat apa yang datang dari orang-orang yang bukan Islam,  meskipun perkara-perkara yang ditiru itu bertentangan dengan ajaran dan akhlak Islam. 

Di antara perkara-perkara itu ialah perbuatan setengah perempuan-perempuan Islam yang – selain daripada tidak mematuhi perintah Al-Qur’an menyuruh mereka menutup kepala meliputi belahan leher bajunya – mereka pula membesarkan hiasan kepalanya dengan berbagai-bagai cara yang di antaranya menggunakan rambut-rambut palsu. Ada pula yang menghaluskan bulu keningnya. Ada juga yang berpakaian tetapi mereka seolah-olah bertelanjang kerana nipisnya dan tidak menutup aurat. Ada juga yang berjalan di khalayak ramai dengan cara yang tidak sopan seperti lagak perempuan-perempuan jahat.  Ada pula di antara mereka yang memakai pakaian lelaki dan ada yang berlagak seperti lelaki,  sedang segala perbuatan yang demikian adalah dikutuk oleh Islam.

Selain dari itu, terdapat wanita-wanita yang rela dipamirkan badannya, yang menggunakan pakaian yang sempit dan singkat, mendedahkan aurat, sengaja memperlihatkan bentuk badan, dan lain-lain lagi yang bertentangan dengan hukum dan kesopanan Islam.
Ada pula di antaranya yang keluar dan rumahnya dengan menggunakan berbagai perhiasan yang menarik perhatian,  dengan menggunakan berjenis-jenis bedak muka dan gincu bibir, serta memakai bau-bauan yang harum pada hal semuanya itu – seperti juga segala perhiasan yang lain – hanya ditentukan dan digalakkan oleh agama supaya dilakukan di rumah khasnya untuk suaminya.

Wanita-wanita Islam dilarang memperlihatkan hiasan tubuhnya kecuali kepada suami dan orang-orang lelaki yang menjadi mahramnya serta orang-orang yang tertentu, seperti yang tersebut di dalam Al-Qur’an al-Karim (Ayat 31, Surah Al-Nur).

Demikian juga halnya perkara-perkara buruk yang berlaku dalam kalangan kaum lelaki.  Ada di antara orang-orang lelaki Islam yang telah hilang langsung perasaan cemburunya terhadap isterinya dan perempuan-perempuan yang di bawah jagaannya, sehingga dia hampir-hampir bersifat dengan sifat orang “Dayus” yang dikutuk oleh Islam dan diharamkan oleh Allah dari masuk syurga,  seperti sikapnya membiarkan isterinya atau perempuan-perempuan yang di bawah jagaannya bebas keluar, bebas bercampur gaul dengan orang-orang lelaki yang bukan mahramnya, bebas dipeluk oleh lelaki asing dalam pesta-pesta tari menari, dan sebagainya.

Ada pula lelaki yang berlagak dan berhias seperti perempuan,  dan yang memakai pakaian perempuan. Semuanya itu, sama ada yang dilakukan oleh kaum lelaki atau kaum perempuan adalah haram dan dikutuk sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam banyak hadis-hadisnya, serta menyatakan balasan buruk masing-masing, sehingga ditegaskan ada di antara mereka yang melakukan perkara-perkara buruk itu, bukan sahaja tidak akan masuk syurga,  bahkan tidak dapat mencium baunya, sedang bau syurga boleh didapati dan jarak yang jauh.

Kedua – Akan berlaku perpecahan dalam kalangan umat Islam mengenai akidah kepercayaan dan amalan agama,  seperti yang telah berlaku kepada kaum Bani Israil, pada hal perpecahan yang demikian bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenar, dan semua puak yang berpecah itu salah dan sesat belaka, kecuali satu sahaja, iaitu puak yang tetap menurut jalan pimpinan Rasulullah s.a.w. dan bawaan sahabat-sahabatnya, dengan tidak mengurangi,  menokok tambah, atau menyeleweng sedikit pun.

Selain dan itu, menurut tambahan yang terdapat pada hadis Abu Daud yang tersebut, Baginda mengingatkan bahawa akan timbul dalam kalangan umatnya beberapa puak yang dijalari oleh bahaya penyakit hawa nafsu suka mengurangi,  menokok tambah, atau menyeleweng dari jalan yang sebenar, seperti menjalarnya bahaya penyakit anjing gila kepada mangsanya.

Ingatan yang tegas dan jelas yang diberikan oleh Baginda itu, ialah supaya umatnya tetap menurut jalan pimpinannya dan bawaan sahabat-sahabatnya.

WaAllahhu ‘alam

Sumber: IslamGrid

RUKUN IMAN 2 – PERCAYA KEPADA PARA MALAIKAT


I. DEFINISI MALAIKAT

Menurut bahasa ملائكة bentuk jama’ dari ملك. Dikatakan ia berasal dan kata (risalah), dan ada yang menyatakan dan (mengutus), dan ada pula yang berpendapat selain dan keduanya.

Adapun menurut istilah, ia adalah salah satu jenis makhluk Allah yang Ia ciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepadaNya serta mengerjakan semua tugas-tugas-Nya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mereka letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20).

Dan mereka berkata, ‘Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikatmalaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tiada mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al-Anbiya’: 26-27).

II. KEPERCAYAAN MANUSIA TENTANG MALAIKAT SEBELUM ISLAM

Wujud malaikat diakui dan tidak diperselisihkan oleh umat manusia sejak dahulu kala. Sebagaimana tidak seorang jahiliyah pun diketahui mengingkarinya, meskipun cara penetapannya berbeda-beda antara pengikut para nabi dengan yang lainnya.

Orang-orang musyrik menyangka para malaikat itu anakanak perempuan Allah Subhanallah (Mahasuci Allah). Allah telah membantah mereka dan menjelaskan tentang ketidaktahuan mereka dalam firman-Nya,

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka men yaksikan penciptaan malaikatmalaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Az-Zukhruf: 19).

Atau apakah kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, ‘Allah beranak’. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Ash-Shaffat: 150-152).

III. BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Iman kepada malaikat adalah rukun iman yang kedua. Maksudnya yaitu meyakini secara pasti bahwa Allah mempunyai para malaikat yang diciptakan dan nur, tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Allah titahkan kepada mereka.

Dalil-dalil yang mewajibkan beriman kepada malaikat:

1. Firman Allah dalam surat al-Baqarah,

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dan Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya dan rasul-rasulNya…” (Al-Baqarah: 285).

Allah menjadikan iman ini sebagai akidah seorang mukmin.

2. Firman Allah pada ayat lainnya,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi-nabi…” (Al-Baqarah: 177).

Allah mewajibkan percaya kepada hal-hal tersebut di atas dan mengafirkan orang-orang yang mengingkarinya. Allah berfirman, dan barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Han Kemudian, maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).

3. Sabda Rasulullah ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang iman,

Iaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan Hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik mahu pun yang buruk.” (HR. Muslim, 1/37 dan al-Bukhari, 1/19-20).

Rasulullah menjadikan iman itu adalah dengan mempercayai semua yang disebut tadi. Sedangkan iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman tersebut. Keberadaan malaikat ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang pasti (qath‘iy), sehingga mengingkarinya adalah kufur berdasarkan ijma’ umat Islam, karena ingkar kepada mereka bererti menyalahi kebenaran al-Quran dan as-Sunnah.

IV. MACAM-MACAM MALAIKAT DAN TUGASNYA

Malaikat adalah hamba Allah yang dimuliakan dan utusan Allah yang dipercaya. Allah menciptakan mereka khusus untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah putera-puteri Allah dan bukan pula putera-puteri selain Allah. Mereka membawa risalah Tuhannya, dan menunaikan tugas masing-masing di alam ini. Mereka juga bermacam-macam, dan masing-masing mempunyai tugas-tugas khusus. Di antara mereka adalah:

1 – Malaikat yang ditugaskan menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada para rasul-Nya, Ia adalah ar-Ruh al-Amin atau Jibril. Allah berfirman,

Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syuara: 193-194).

Allah menyifati Jibril dalam tugasnya menyampaikan al-Qur’an dengan sifat-sifat yang penuh pujian dan sanjungan,

Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (At-Takwir: 19-21).

2 – Malaikat yang diserahi urusan hujan dan pembagiannya menurut kehendak Allah. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah dan Nabi s.a.w. beliau bersabda,

Tatkala seorang laki-laki bërada di tanah lapang (gurun) dia mendengar suara di awan, ‘Siramilah kebunfulan,’ maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air di suatu tanah yang berbatu hitam, maka saluran air di situ dan saluransaluran yang ada telah memuat air seluruhnya…” (HR. Muslim, 4/2288).

Ini menunjukkan bahwa curah hujan yang dilakukan malaikat sesuai dengan kehendak Allah s.w.t.

3 – Malaikat yang diberikan trompet, iaitu Israfil, Ia meniupnya sesuai dengan perintah Allah dengan tiga kali tiupan: tiupan faza’ (ketakutan), tiupan sha’aq (kematian) dan tiupan ba’ts (kebangkitan). Begitulah yang disebut Ibnu Jarir dan mufassir lainnya ketika menafsirkan firman Allah,

…di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anam: 73).

Dan firman Allah,

…kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 99),

Dan ayat-ayat lainnya yang ada sebutan, “an-nafkhu fishshur” (meniup terompet).

4 – Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan rakan-rakannya. Tentang tugas malaikat ini Allah berfirman,

Katakanlah, ‘Malaikat maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11).

…sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban.” (AlAnam: 61).

5 – Para malaikat penjaga syurga. Allah mengabarkan mereka ketika menjelaskan perjalanan orang-orang bertakwa dalam firman-Nya,

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombong (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal didalamnya’.” (Az-Zumar:73).

6 – Para malaikat penjaga Neraka Jahanam, mereka itu adalah Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah Malik. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ketika menyifati Neraka Saqar,

Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat.” (Al-Muddatstsir: 27-30).

Dan Allah bercerita tentang penduduk neraka,

Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)’.” (Az-Zukhruf: 77).

7 – Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala urusan-nya. Mereka adalah Mu’aqqibat, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam firman-Nya,

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan uca pan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam han dan yang berjalan (menampakkan din) di siang han. Bagi manusia ada malaikatmalaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Rad:10-11).

Dan firman Allah,

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…” (A1-An’am: 61).

8 – Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal yang baik mahupun amal yang buruk. Mereka adalah al-Kiram al-Katibun (para pencatat yang mulia). Mereka masuk dalam golongan Hafazhah (para penjaga), sebagaimana firman Allah,

Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80).

(Iaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17-18).

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12).

Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menyebut tentang mereka banyak sekali.

V. HUBUNGAN MALAIKAT DENGAN MANUSIA

Allah mewakilkan kepada malaikat urusan semua makhluk termasuk urusan manusia. Jadi mereka mempunyai hubungan yang erat dengan manusia semenjak ia berupa sperma. Hubungan ini disebutkan Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Ighatsatul Lahfan’, beliau berkata, Mereka diserahi urusan penciptaan manusia dan satu fasa ke fasa yang lain, pembentukannya, penjagaannya dalam tiga lapis kegelapan, penulisan rezeki, amal, ajal, nasib celaka dan bahagianya, menyertainya dalam segala urusan-nya, penghitungan ucapan dan perbuatannya, penjagaannya dalam hidupnya, pencabutan ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika meninggal, pembawa ruhnya ketika untuk diperlihatkan kepada Penciptanya.

Merekalah yang ditugasi mengurus adzab dan nikmat dalam alam barzakh dan sesudah kebangkitan. Mereka yang ditugasi membuat alat-alat kenikmatan dan adzab, Mereka yang meneguhkan (iman) bagi hamba yang mukmin dengan izin Allah, yang mengajarkan baginya apa yang bermanfaat, yang berperang membelanya. Merekalah para walinya (penolongnya) di dunia dan di akhirat. Mereka yang menjanjikannya kebaikan dan mengajak kepadanya, melarang kejahatan serta memperingatkannya. Maka mereka adalah para wali dan ansharnya, penjaga dan mu ‘allim (pengajar)nya, penasihat yang berdoa dan beristighfar untuknya, yang selalu bershalawat atasnya Selama ia mengajarkan kebaikan untuk manusia. Mereka yang memberi khabar gembira dengan karamah Allah ketika tidur, mati dan ketika dibangkitkan. Merekalah yang membuatnya zuhud di dunia dan menjadikannya cinta kepada akhiratnya.

Mereka yang mengingatkan ketika ia lupa, yang menggiatkannya ketika ia malas, dan menenangkannya ketika ia panik. Mereka yang mengupayakan kebaikan dunia dan akhiratnya. Merekalah para utusan Allah dalam mencipta dan mengurusnya. Mereka adalah safir (duta) penghubung antara Allah dan hamba-Nya. Turun dengan perintah dari sisi-Nya di seluruh penjuru alam, dan naik kepada-Nya dengan perintah (membawa urusan).”

Sedangkan dalil-dalil keterangan di atas adalah al-Qur’an dan as-Sunnah yang tentunya amat panjang jika disebutkan, di samping memang dalil-dalil itu terkenal dan masyhur.

RUKUN IMAN 1 – PERCAYA KEPADA ALLAH


Tauhid Dalam Fahaman

Tauhid berdasarkan kepada “la ilaha illa’ Llah, Muhammadur-Rasulullah”: “Tidak ada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”. Atau “asyhadu an la ilaha illa’Llah, wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”:

Aku menyaksikan bahawa tiada tuhan yang wajib disembah dengan sebenarnya melainkan Allah dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah Rasulullah.

Ianya diwajibkan dalam ayat, antaranya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ ﴿١٩﴾

Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan mintalah ampun kepadaNya bagi salah silap yang engkau lakukan dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan dan (ingatlah), Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat). – Surah Muhammad: Ayat 19.

Penyaksian itu adalah hasil daripada keyakinan iman tanpa syak dan ragu tentang hakikat keTuhanan yang Maha Esa, yang merupakan paksi bagi segalanya. Keyakinan ini datang daripada ilmu dan juga kesedaran batin orang yang berkenaan yang disebutkan sebagai ilmul-yakin, atau ‘ainul-yaqin atau haqqul-yaqin. Ilmul-yaqin datang daripada tahap keyakinan yang timbul daripada ilmu berkenaan dengan kebenaran tauhid hasil daripada pengetahuannya, dengan berdasarkan bukti-bukti, samaada yang berifat nakli atau akli atau intelektuil. ‘Ainul-yaqin timbul daripada tahap tertentu dalam kesedaran batin berkenaan dengan hakikat tauhid. Haqqul-yaqin merujuk kepada pengenalan hakikat tauhid berdasarkan kepada “penyaksian batin” – musyahadah – tentang kebenaran itu yang tidak meninggalkan apa-apa keraguan lagi.

Keimanan tentang ketauhidan ini berkembang menjadi keimanan terhadap “rukun-rukun iman” yang lain- keimanan tentang para malaikat dengan tugas-tugasnya, para rasul a.s.s. dengan tugas-tugas mereka, kitab samawi dengan ajaran-ajarannya, terakhir ialah al-Qur’anul-Karim, tentang akhirat dan akhirnya qadha’ dan qadar.Semuanya dihuraikan oleh para ulama Ahlis-Sunnah dalam teks-teks usulud-din mereka, Allah memberi rahmat kepada mereka.

Keimanan terhadap Allah dan mentauhidkannya dengan huraian-huraian tentang sifat-sifatNya yang tidak terkira, dan kemudian dibicarakan sebagai kunci kepada pengenalanNya dua puluh sifat atau tiga belas, itu berdasarkan dalil-dalil akal atau dalil nakal, yang kita tidak bicarakan secara terperinci di sini. Bagaimanapun memadailah kalau kita sebutkan sifat-sifat itu – untuk memperbaharukan ingatan kita tentangnya – sebagai wujud, qidam atau sediakala, baqa’ atau kekal, menyalahi sekelian makhluk, berdiri sendiri, esa, hayat atau hidup, ilmu, qudrat atau kuasa, kehendak, mendengar, melihat, dan berkata-kata yang semuanya dirumuskan ulama berdasarkan Qur’an dan Sunnah, bukan sebagaimana dituduh oleh setengah pihak,daripada falsafah Yunani Purba; kemudian ditambah dengan perbincangan tentang sifat-sifat hal keadaanNya hidup, berilmu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berkata-kata.

Perbincangan tentang mentauhidkan Allah juga dilakukan dengan membicarakan nama-namaNya yang sembilan puluh sembilan itu dengan menyebut nama-namaNya: Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, al-Quddus, as-Salam, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-‘Aziz, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan seterusnya dengan huraian-huraian maknanya sebagaimana yang ada misalnya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam huraiannya berkenaan dengan maksud ayat yang bererti: “Dan bagi Allah Sifat-Sifat Yang Paling Indah, maka kamu serulah Ia dengan menyebutnya …”.

Mentauhidkan Allah dan beriman kepada rukun-rukun iman yang lainnya sebagai natijah daripada beriman kepada ketauhidan Allah itu menimbulkan kesan dalam kehidupan manusia yang disebut dalam setengah hadith sebagai “cawangan-cawangan iman” (‘shu’ab al-iman’).Sebagai contoh dalam “Fathul-Bari” dihuraikan hadith:

الايمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الايمان

Iman ada enam puluh lebih cawangannya, dan malu bertempat adalah satu cawangan daripada keimanan.

Dalam hadith sahih riwayat Bukhari yang lain dinyatakan keimanan itu lebih daripada tujuh puluh cawangan, dan yang tertingginya ialah mengucap “tiada tuhan melainkan Allah”, yang paling rendah sekali ialah membuang duri atau sesuatu yang menyakitkan dari jalan.

Dalam “Fahul-Bari” dalam memberi huraian berkenaan dengan “cawangan-cawangan” iman hasil daripada tauhid dan keyakikan iman, pengarangnya membahagikan kesan-kesan itu kepada beberapa bahagian seperti “amalan-amalan hati”. Dinyatakannya bahawa amalan-amalan hati terdiri daripada: keimanan terhadap Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, QadarNya, Hari Akhirat. Alam Kubur, Bangkit sesudah mati, Berhimpun di Akhirat, Hitungan amal, Neraca Timbangan Amal, Titian Sirat, Syurga, Neraka; kasih dan benci kerana Allah, kasihkan rasul, iktikad tentang keagungan Rasul dan kemuliannya, berselawat terhadapnya, mengikut sunnahnya, mengamallkan sifat ikhlas dalam amalan, tidak bersikap riya dalam amalan, meninggalkan kemunafikan, bertaubat, takut kepada Allah, berharap kepadaNya, bersyukur kepadaNya, menunaikan janji dan amanah semuanya, sabar, redha dengan ketetapan dan hukumNya, bertawakkal kepadaNya, bersikap dengan sifat kasih sayang (rahmah), tawadhu’, memuliakan orang tua, kasihkan orang muda,tidak takabur, tidak ‘ujub, tidak hasad dengki, tidak berdendam, tidak marah bukan pada tempatnya.

“Amalan lidah” terdiri daripada: berlafaz dengan kalimah tauhid, membaca Qur’an, mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, berdo’a, berzikir mengingat dan menyebut nama-nama Allah, beristighfar,dan menjauhi perbuatan dan percakapan yang sia-sia (ijtinab al-laghw).

“Amalan badan” disebutkan:berada dalam keadaan suci bersih dari segi lahir dan pada hukumnya, menjauhi najis-najis, menutup aurat, melakukan sembahyang yang wajib dan sunat, juga menunaikan zakat, membebaskan hamba abdi (boleh dikiaskan dengan keadaan moden dengan “hamba-hamba abdi ekonomi” dan sebagainya), mengamalkan sifat pemurah (al-jud), memberi makan kepada mereka yang memerlukannya, memuliakan para dhif, melakukan puasa yang wajib dan sunatnya, demikian pula menunaikan haji, dan umrahnya, melakukan tawaf, dan beriktikaf, berusaha untuk menghayati malam lailatul-qadar, berpindah untuk menyelamatkan agama bila itu dituntut oleh agama, berhijrah dari negeri syirik (dengan syarat-syaratnya), menunaikan nazar, bersungguh-sunguh menjaga iman dengan teguhnya, menunaikan kaffarah, mengawal diri daripada kejahatan dengan berkahwin, melaksanakan hak-hak keluarga, mentaati para ketua dan bersikap lemah lembut kepada para hamba (termasuk orang-orang bawahan).

Berkenaan dengan kehidupan dan pergaulan dengan orang ramai: mengikut jama’ah Muslimin, mentaati waliyul-amri, mendamaikan mereka yang berkelahi, berperang melawan mereka yang memberontak dan golongan Khawarij (yang menentang waliyul-amri), bertolong-bantu dalam melakukan kebaikan, menyuruh perkara-perkara yang baik dan melarang perkara-perkara yang mungkar, mengamalkan aturan-aturan jenayah berat mengikut Islam, melakukan jihad, termasuk ke dalamnya menjaga sempadan untuk menyelamatkannya daripada para seteru, menunaikan amanah-amanah, termasuk menunaikan “khumus” (dari rampasan perang), memberi orang berhutang, dan membayar hutang, memuliakan tamu, bergaul dengan akhlak yang baik (‘husn al-mu’amalah’), termasuk ke dalamnya menghimpunkan harta dari punca-punca yang halal, membelanjakan harta pada tempatnya yang hak, tidak bersikap membazir, dan tidak melampau-lampau dalam perbelanjaan (termasuk kalau sekarang “conspicuous consumerism”: berbelanja kerana menunjuk-nunjuk bukan kerana keperluan yang menasabah), menjawab orang memberi salam, mendoakan orang yang bersin, menahan diri daripada menyakiti orang lain, menjauhkan diri daripada kesia-siaan, membuang duri (atau apa-apa yang memudaratkan) dari jalan.

Beliau menyatakan mungkin cawangannya itu tujuh puluh sembilan sifat dengan mengambil kira menceraikan setengah daripada apa yang digandingkan dan tidak diasingkan.

Amalan-amalan, sifat-sifat serta sikap yang timbul itu semuanya daripada ketauhidan kepada Allah yang ada dalam diri manusia. Kesannya jelas kelihatan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat serta negara dan umat bila ketauhidan itu mantap.

Kesan Tauhid Dalam Fahaman Orang Yang Beriman

Kalau dilihat dari segi yang berbeza, boleh disebutkan bahawa implikasi tauhid ke atas manusia dan kehidupannya boleh dilihat dari beberapa segi, antaranya ialah:

Dari segi fahamannya tauhid memaksudkan bahawa yang diyakini sebagai kebenaran tanpa tara ialah Keesaan Allah; tidak ada syak dan ragu lagi padanya. Buktinya samaada yang bersifat akli atau nakli menjadi dalil tentang kebenarannya; dalil dari pengalaman dan kesedaran batin itu merupakan bukti yang paling kuat untuk diri seseorang berpegang kepada kebenarannya. Itulah maksud tertinggi dari ayat yang bererti:

قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٠٨﴾

Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku dan orang-orang yang menurutku, menyeru manusia umumnya kepada ugama Allah dengan berdasarkan keterangan dan bukti yang jelas nyata. Dan aku menegaskan: Maha suci Allah (dari segala iktiqad dan perbuatan syirik); dan bukanlah aku dari golongan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.” (Surah Yusuf: Ayat 108).

Ini memberi paksi kepada manusia, peribadi, dan hidup serta tamadunnya. Ini boleh dimisalkan sebagai adanya tempat duduki yang tetap dan teguh, tidak kucar kacir, bukan tidak stabil.

Sebagai contoh kita boleh sebutkan bagaimana kita ini tetap atas kerusi, kerusi tetap demikian kerana ada lantai bangunan, bangunan itu tetap atas asasnya, asas bangunan itu tetap kerana ada bumi yang tetap, bumi tetap kerana ianya berada dalam sistem solar yang dengan gravitinya dan lain-lainnya menyebabkan ia tetap.Demikianlah manusia merasa tetap teguh dengan keyakinannya kepada tauhid; dengannya ia merasa tetap ada tempat berpijak bagi jiwa, hati dan akalnya.

Tauhid pada fahaman juga memaksudkan bahawa yang disembah dengan sebenarnya hanyalah Allah Yang Esa sahaja, tidak ada yang lain lagi. Penyembahan dalam erti pengabdian – ‘ubudiyyah – hanyalah untuk Allah sebagaimana yangg dinyatakan dalam al-Fatihah, “Engkaulah sahaja Yang kami sembah, dan kepada Engkalah sahaja kami meminta pertolongan”. Hakikat ini ternyata dalam ayat yang bermaksud: “Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaKu”.

Fahaman tauhid yang mendalam menyebabkan tidak ada lagi kuasa-kuasa lain yang dinisbahkan Kuasa Tuhan padanya; hilang takhyul, fahaman syirik, dan sihir, hilang amalan bernujum yang disalahkan Syara’, dan hilang pemujaan yang dilarang Syara’ terhadap jin-jin dan lain-lainnya. Termasuk hilang pemujaan kepada perkara-perkara maknawi seperti akal, kecerdasan manusia, atau mana-mana aspek kepandaian atau ilmu manusia.Semuanya natijah daripada keyakinan terhadap KeEsaan Allah.

Tauhid pada fahaman ini memberi kepada insan matlamat hidup yang terakhir yang memberi makna kepada segala kegiatan. Manusia yang beriman kepada tauhid bertugas dan berusaha dalam konteks mencari keredhaan Allah di dunia ini, yang membawa kepada kebahagiaan yang kekal abadi. Ini jelas dalam pembacaan doa si mukmin selepas daripada takbir sembahyang, iaitu do’a yang bermaksud: “Sesungguhnya sembahyangku, pengorbananku, hidupku (termasuk perjuanganku, profesiku, perlaksanaan tugasku) adalah bagi Allah Tuhan Yang mentadbir sekelian alam”. Dengan ini tidak ada kekosongan atau kehilangan makna – “loss of meaning” – dalam hidupnya. Semuanya mendapat makna dalam konteks mencari keredhaan Tuhan. Dalam konteks seperti inilah Nabi s.a.w. menyatakan keheranannya tentang hidup si mukmin sampaikan bila kakinya terkena duripun ada mempunyai makna. Penyakit “kehilangan makna” tidak akan berlaku atas si mukmin yang berkesan keimanannya dalam membentuk jiwa dan kablbunya.

Keimanan tentang tauhid menjadikan si mukmin tidak putus asa dalam hidupnya walau bagaimamanapun teruknya cabaran yang dihadapi dan walau bagaimana negatifnya suasana yang dihadapi, sehinggakan kalau dilihat dari segi perkiraan duniawi tidak ada apa-apa yang boleh dilakukan sekalipun, ia tidak berputus asa. Inilah antaranya yang dimaksudkan oleh ayat Qur’an yang bermaksud:

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ﴿٨٧﴾

Jangan kamu berputus asa daripada pertolongan Allah, sesungguhnya tidak berputus asa daripada rahmat (atau pertolongan) Allah melainkan orang-orang kafir.  –  Surah Yusuf: Ayat 87.

Di sinilah tauhid memberi asas kepada aksiologi si mukmin, sehingga sistem nilainya lengkap dan tinggi.

Aksiologi Daripada al-Asma’-al-Husna

Tauhid pada fahaman menjadikan insan yang yakin kepada tauhid itu mendapat “peta” pembangungan peribadinya pada “Diri Tuhan Sendiri Dengan Sifat-SifatNya Yang Maha Sempurna dan Nama-NamaNya Yang Maha Indah” (al-Kamalat wa’l-Asma’ al-Husna). Maksudnya, sebagaimana yang dihuraikan antaranya dalam “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan hadith Tirmidi yang bermaksud: “Tuhanmu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, maka sesiapa yang membilangnya ia masuk ke dalam Syurga”. Maksudnya, antaranya, dihuraikan bahawa hendaklah insan yang beriman itu menjadikan peribadinya terbentuk mengikut pengajaran yang boleh didapati daripada maksud nama-nama Tuhannya.

Misalnya kalau Allah bersifat dengan sifat Kasihan Belas – dengan NamaNya al-Rahim – maka si mukmin sebagai hamba Tuhannya hendaklah bersifat dengan sifat kasihan belas pada paras manusiawinya. Dengan itu maka ia “hampir” kepada Tuhannya melalui sifat itu. Dengan itu ianya lebih hampir kepada kesempurnaannya sebagai manusia yang beriman. Kalau Tuhan bernama al-Malik – Raja dengan sifat-sifatNya sesuai dengan Nama “al-Malik” itu, maka hendaklah si hamba membentuk peribadi sesuai dengan kedudukan sebagai ”raja” yang menguasai dirinya supaya taat kepada Tuhan dan menjalankan KehendakNya, jangan membiarkan dirinya menjadi rendah dan berkhidmat kepada syaitan.

Allah bernama al-‘Alim – Yang Maha Mengetahui – maka manusia yang beriman hendaklah membentuk dirinya menjadi orang yang berilmu, yang mengenal Tuhannya, ajaran Tuhannya, dan mengetahui ilmu-ilmu lain dalam konteks ketauhidan Tuhannya serta mengetahui ilmu-ilmu untuk menjadikan dirinya dan hidupnya bermaruah dalam dunia ini. Dengan itu jadilah ianya hampir kepada Tuhannya melalui sifatnya berilmu itu.Kalau dikiaskan kepada bangsa, maka bangsa itu bangsa yang berilmu yang martabatnya mulia kerana ilmunya. Di sini keimanan kepada Tauhid membawa implikasi dalam bidang epistemologi atau faham ilmu dan aksiologi atau faham nilai yang sangat diperlukan kejelasannya.

Di sini kita lihat bagaimana kepentingan ilmu diberikan perhatian yang sangat pokok oleh para ulama Islam, seperti Imam al-Ghazali rd dan Ibn Khaldun rh antara yang sekian ramai itu. Dan Ibn Khaldun rh menghendaki supaya ahli ilmu itu mencapai kemahiran yang memuncak dalam bidang ilmunya sampai menjadi sebagai sepertri tabiat yang kedua bagi dirinya, seolah-olah seperti terbang burung di angkasa dan bernang ikan dalam air. Kata-kata bandingan itu bukan dari Ibn Khaldun rh tetapi dari penulis ini. Beliau menggunakan istilah “malakah” untuk mengungkapkan kemahiran tertinggi dalam ilmu itu.

Sebab sedemikian pentingnya ilmu ini maka Imam al-Ghazali rd menghuraikan bagaimana ahli ilmu yang berkhidmat dengan baik dalam pengembangan ilmunya berdamping diri dengan Tuhan – bertaqarrub- melalui kegiatannya itu; demikian pula pelajar yang mempalajari ilmu yang berguna – ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum kerana Tuhan dan kerana berkhidmat kepada umat dalam fardhu kifayah – bertaqarrub kepada Tuhan dalam kegiatan pembelajarannya.

Selain dari itu beliau menghuraikan bagaimana dalam konteks tauhid semuanya berkhidmat kepada Tuhan, mulai daripada ahli ibadat semata (‘abid), sampai kepada pengajar ilmu, penuntut ilmu, petugas menjaga keluarga (muhtarif), peribadi yang berkhidmat untuk masyarakat (walin), dan ahli tauhid taraf tertinggi yang tenggelam dalam pengalaman tauhidnya yang memuncak (muwahhid) semuanya berfungsi dalam menjayakan tauhid dalam hidupnya masing-masing – mulai dari orang biasa sampai kepada petugas masyarakat dan penjaga keluarga juga ahli rohaniah yang tertinmggi sekali dalam umat.Dalam konteks masyarakat moden kitra boleh kiaskan mereka yang terlibat di dalamnya dengan tugas-tugas mereka masing-masing.

Kalau Tuhan bernama dengan nama as-Sattar – Yang menutup aib hambanya, kemudian di akhirat bila ia beruntung Ia ampunkan aib itu- maka hendaklah si mukmin itu menutup aib jirannya dan kenalannya supaya dengan itu aib dirinya tidak di”buka” oleh Tuhan di hadapan sekalian makhluk di Akhirat nanti. Allahumma salimna.

Kalau Tuhan bernama al-Mutakabbir – Yang membesarkan DiriNya, Yang Takburr, kerana Ia berhak dengan perbuatan demikian – maka hendaklah si mukmin berendah diri kepada Tuhannya dan kepada sekelian mukminin, tetapi bertakabur dengan Setan supaya dengan itu ia tidak membiarkan dirinya menjadi “khadam” kepada Setan, yang meruntuhkan kemuliaan dirinya, sampai dirinya akan menjadi “yang sehina-hinanya”.

Dengan ini si hamba mempunyai sifat kemuliaan diri atau harga diri yang sebaiknya sebagai khalifah Tuhan di bumi dan hambaNya.

Bila Tuhan bernama dengan Nama an-Nafi’ – Yang Memberi Menfaat kepada sekalian akhlukNya – maka si mukmin hendaklah membentuk peribadi sebagai orang yang mendatangkan kemanafaatan kepada orang lain, bukan sebaliknya. Ini jelas pula daripada hadith Nabi s.a.w. yang bermaksud: “Manusia yang sebaik-baiknya ialah orang yang paling mendatangkan faedah kepada manusia”.

Kalau Allah bernama dengan Nama al-Muhaimin – Yang Menjaga – maka para hamba hendaklah pada paras manusawinya menjadi penjaga sekalian yang mesti dijaga dirinya, keluarganya, bangsanya, umatnya, agamanya, demikian seterusnya dan janganlah ia menjadi perosak. Demikianlah apa yang disebut sebagai “bahagian hamba” – hazz al-‘abd – oleh pengarang “Tafsir al-Jamal” dalam hubungan dengan Nama-Nama Allah yang menjadi penentu dalam hidupnya dari segi metafisikanya, faham alamnya, aksiologi atau faham nilainya, epistemologi atau faham ilmunya.

Tauhid Dalam Amalan

Bila kita menjurus kepada amalan, maka tauhid menjadikan manusia itu menunaikan ibadatnya, seperti sembahyangnya – sebab itu pengabdian kemuncak, terlambang dengan hakikat ianya dikurniakan waktu mi’raj Rasul s.a.w. – puasanya, zakatnya, hajinya, nazarnya, kafarahnya, membaca Qur’an, wirid dan zikirnya, do’anya, bahkan, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali rd dalam “Ihya’”nya, “Hendaklah semua gerak-geri hidup kamu dan diam kamu menjadi ibadat atau penolong kepada ibadat kepada Tuhan,” sampaikan Imam utama ini rd menyatakan bahawa bermainpun biarlah berlaku dalam konteks pengabdian atau ibadat kepada Tuhan!

Tauhid pada amalan menyebabkan manusia berakhlak dengan akhlak yang mulia seperti bersifat benar, amanah, ikhlas, kasihan belas, bertimbang rasa, bersaudara, berkasih sayang dalam keluarga dan masyarakat, bermaaf-maafan bukan berdendam, pemurah bukan bakhil dalam kebajikan, bukan membazir, bukan melampau dalam berbelanja,berhemat dan cermat, bukan hanya waktu ekonomi gawat sahaja, menjaga perpaduan bukan mengusahakan perpecahan, apa lagi dalam umat menghadapi ancaman, berkerjasama dalam kebajikan, iaitu berkerjasama dalam keluarga, dalam masyarakat, bangsa dan umat, antara rakyat dengan rakyat, antara rakyat dengan pihak penganjur, berkerjasama antara ulama, cendekiawan, para pemimpin, hartawan dan orang awam. Bersifat gigih dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan dan jasa kepada manusia semuanya.

Tauhid menyebabkan berlaku perpaduan dalam keluarga dan timbulnya keluarga bahagia dan perkasa yang membantu dalam membina masyarakat yang beradab, berilmu, dan perkasa dengan amalan-amalan “budaya perkasa” atau “strong culture”. Ini boleh dikaitkan dengan kata-kata terkenal “Hidup bersendikan adat, adat bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitab” yang melambangkan kesepaduan hidup ketamadunan yang terbimbing oleh wahyu dan ajaran agama dengan dibantu oleh keupayaan dan akal manusiawi.

Tauhid dalam amalan ditimbulkan dalam hidup manusia dengan penuh ketaatan kepada Kehendak Tuhan yang terjelma dalam ketaatan kepada Hukum Syara’Nya dalam ibadatnya, hidup keluarganya, mu’amalahnya, hidup kenegaraannya, budayanya, ilmu pengetahuan dan sainsnya, teknologi dan penyelidikan serta maklumatnya. Ketaatan kepada Tuhan dalam semua perkara inilah merupakan manifestasi tauhid dalam tamadun manusia selain daripada tauhid yang nyata dalam hidup peribadi dan keluarga serta masyarakatnya. Adanya kederhakaan dalam masyarakat manusia – kerana dunia bukan akhirat- adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi – “human failings” – bukan kerana agamaa bukan praktikal atau “above human”. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an dalam ayat yang bermaksud “Tuhan tidak membebankan diri manusia melainkan setakat apa yang termampu olehnya”, dan dalam konteks yang lain Allah berfirman, maksudnya “Allah tidak membebankan sesuatu diri manusia melainkan daripada apa yang dikurniakan kepadanya (daripada Ni’matNya)”.

Tauhid pada amalan membawa manusia membina hidup ketamadunan mengikut apa yang diajarkan oleh Tuhan dalam budaya ilmunya, siasahnya, ekonominya, hidup kemasyarakatannya, keseniannya dan budayanya, perang dan damainya. Penyelewengan-penyelewengan yang berlaku adalah kerana kelemahan-kelemahan manusiawi dari segi individu dan kelompoknya. Agama datang untuk menyembuhkan manusia dan tamadun daripada “kelemahan-kelemahan manusiawinya” bukannya untuk mengazabkan manusia atau menghalangnya bersuka-suka secara rasional dan menasabah serta sejahtera dalam dunia ini.

Sebab itu dalam sejarah dan realiti kehidupan mengikut kadar yang berbeza-beza tauhid dan prinsipnya terbayang dalam hidup mereka yang beriman dalam keyakinannya kepada tauhid, ibadatnya, hidup akhlaknya, keluarganya, mayarakatnya, dan umatnya. Terbayang hakikat ini dalam sistem ilmunya – hubungan harmonis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umumnya sebagaimana yang terbayang dalam huraian Ibn Khaldun rh dalam “al-Muqaddimahnya”, dalam persuratan Islam, seni benanya, perancangan bandarnya, serta keharmonian antara alam tabi’I dan alam binaan manusia (“human built environment”).

Al-Marhum Prof Ismail Raji al-Faruqi dalam buku terkenalnya “Tawhid: Its Implications For Thought and Life” berbicara dengan meluasnya aspek-aspek dan implikasi tauhid ini dengan menyebut tentang tauhid sebagai inti pengenalan agama, sebagai intisari Islam, sebagai prinsip sejarah, prinsip metafisika, prinsip etika, susunan sosial, prinsip ummah, prinsip keluarga, prinsip susunan siasah, prinsip susunan ekonomi, prinsip susunan hidup seluruh dunia, serta prinsip estetika.

Kesyirikan Yang Bercanggah Dengan Tauhid Pada Fahaman

Dilihat dari segi fahamannya, kesyirikan ialah menisbahkan kuasa atau Sifat-sifat Tuhan kepada makhluk-makhluk atau kuasa-kuasa selain daripada Allah Tuhan Yang Sebenarnya.

Kesyirikan bermakna menyembah yang selain daripada Allah atau kuasa-kuasa yang selain daripadanya; atau memuja yang lain selain daripadanya sebagaimana Ianya disembah dan dipuja, atau sebagaimana IaNya dimuliakan dan disanjungi. Ini disebutkan sebagai syirik yang besar dan nyata (syirik akbar atau syirik jaliy). Syirik ini kalau orang yang berkenaan tidak bertaubat daripadanya, ia akan menyebabkan azab yang berkekalan. Nau’udhu billahi min dhalik.

Syirik yang satu lagi ialah syirik kecil atau syirik yang tersembunyi (syirik asghar atau syirik khafy). Syirik kecil ialah syirik dalam erti misalnya melakukan kebaikan kerana lain daripada berniat mencari keredhaan Tuhan, seperti seseorang melakukan ibadat kerana hendak mencari pengaruh; atau memberi sedekah dengan niat supaya disanjung dan diterima sebagai peribadi yang mempunyai keutamaan; demikian seterusnya; itu syirik kecil atau syirik tersembunyi yang membatalkan pahala amalkan dan kebajikan; ianya bukan menyebabkan kekal dalam azab di Akhirat; bagaimanapun ia menyebabkan amalan menjadi sia-sia tanpa pahala, bahkan menyebabkan azab sesuai dengan keadaan berat atau ringannya kesalahan orang yang berkenaan.

Dalam hubungan dengan syirik yang sedemikian Allah menyoal dalam al-Qur’an:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا ﴿٤٣﴾

Adakah kamu (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginan nafsunya sendiri (“hawahu”) sebagai tuhan? Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? – Surah al-Furqan: Ayat 43.

Adapun amalan duniawi, seperti pertukangan atau sesuatu kemahiran yang dimiliki, bila seseorang itu melakukan usahanya dengan baik dan bahkan cemerlang supaya amalannya diberikan nilaian dan prestasi yang baik, dengan itu ianya menjadi popular, dengan itu ia mendapat rezeki yang halal, itu tidak termasuk ke dalam perkara keji yang disebut di atas. Bahkan orang yang berkenaan, kalau ia orang yang beriman, boleh memasang niat bahawa ia sedang melakukan kerja untuk menguatkan ekonomi umat, untuk memberi kekuatan kepadanya, sebagaimana yang dianjurkan oleh Ibn al-Hajj rh dalam kitabnya yang terkenal “al-Madkhal” itu. Bahkan ini boleh termasuk ke dalam maksud hadith nabi yang bererti:

Sesiapa yang menuntut dunia yang halal kerana hendak mengelak dirinya daripada meminta-minta dari orang lain, kerana memenuhkan keperluan keluarganya, dan kerana kasihan belas kepada jirannya (dan ia membantu mereka dengan hartanya itu), maka ia datang ke Ahirat pada Hari Kiamat dengan wajahnya gemilang seperti bulan pernama empat belas hari bulan.

Seorang ahli sains yang membuat penyelidikan membina senjata yang ampuh yang boleh mempertahankan bangsanya daripada diceroboh oleh pihak musuh, dengan itu ia menjaga agamanya dan bangsanya serta negaranya, atau ia boleh memberi kekuatan kepada saudaranya Muslimin dalam negeri lain supaya tidak dianiayai oleh pihak lain, maka itu adalah perbuatan yang paling bermakna dalam khidmat kepada umat. Boleh diingatkan pada zaman klasik bagaimana al-Baghdadi rh menyebut bahawa satu daripada golongan Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah yang berjasa kepada umat yang menentukan kedudukan umat ialah orang-orang yang menjaga sempadan negeri umat Islam supaya tidak diceroboh oleh musuh (“al-murabitun”). Maka maksudnya termasuklah golongan yang menjayakan fungsi demikian dengan mengadakan senjata yang berkesan untuk tujuan itu. Dengan itu maka terlaksanalah juga suruhan dalam ayat al-Qur’an seperti berikut;

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ ﴿٦٠﴾

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).  – Surah al-Anfal: Ayat 60.

Berseesuaian dengan keadaan dan zaman berkenaan; kalau pada zaman kita ini ianya merujuk kepada kekuatan senjata yang sesuai dengannya.

Dan tidaklah boleh dikatakan syirik orang yang mempertahankan negara itu, kecualilah ia menganggap negera itu seperti Tuhan baginya! Dijauhkan Allah dari yang demikian itu!

Syirik Dalam Perbuatan

Ringkasnya syirik besar dan nyata dalam perbuatan merujuk kepada perbuatan memuja apa-apa selain dari Allah sebagaimana memuja Allah; termasuk ke dalamnya memuja makhluk-makhluk halus atau manusia melebihi batasan; adapun sifat kasihkan seseorang kerana ia melakukan kebaikan kepada orang ramai, itu adalah perkara yang baik yang termasuk ke dalam maksud hadith Nabi saw yang bererti: “Sesiapa yang tidak mengenang budi kepada manusia (yang melakukan kebaikan kepadanya), maka orang itu tidak sempurna dalam perbuatannya bersyukur kepada Allah”.

Termasuk amalan yang mesti dielakkan ialah sihir sebab ia memusnahkan keimanan manusia dan boleh memnbawa kepada kesyirikan. Dalam media amalan sihir dilaporkan membawa kepada pembunuhan selain daripada akibat-akibat lain yang membahayakan serta memusnahkan hubungan baik ahli masyarakat.

Syirik kecil dan tersembunyi ialah sifat ria, iaitu melakukan kebaikan dalam agama kerana mengharapkan perhatian dan sanjungan manusia; itu membatalkan amalan dan kebajikan seseorang; adapun perbuatan yang bersifat duniawi, seperti pertukangan dan kemahiran maka itu tidak mengapa, walaupun yang lebih baiknya ialah seseorang itu menjalankan profesinya dan kemahirannya dengan niat menguatkan umat dalam rangka menjalankan fardhu kifayahnya, seperti yang tersebut dalam kitab Imam al-Ghazali rd atau kitab Ibn al-Hajj rh.

Dalam ajaran Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah bertawassul adalah harus, samaada pada orang yang hidup atau orang yang sudah meninggal dunia. Tidak perlu dijadikan masalah bila ada setengah kalangan yang menganggap itu kesyirikan; sebab yang diminta ialah dari Allah; orang yang mulia itu disebut kedudukannya yang mulia di sisi Allah. Dengan itu maka permohonan itu cepat makbulnya.

Perbuatan melawat makam mereka yang utama dan menghadiahkan pahala amalan juga perbuatan yang mulia di sisi Ahlis-Sunnah, dan berdo’a di makam orang itu, dengan barakahnya, maka do’a itu boleh dikabulkan dengan segera. Itupun amalan yang bukan dilarang dalam Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, walaupun ada pihak-pihak yang melarangnya seperti Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Ibn Taimiyyah. Itu adalah pandangan mereka, yang berlawanan dengan pandangan jumhur. Allahumma sallimna wal-Muslimin. Mereka yang mahu menganggap pandangan mereka berdua itu lebih utama dari jumhur, itu adalah pilihan masing-masing. Hendaklah diamalkan adab dalam berbeza pendapat dalkam perkara-perkara seperti ini dan jangan dijadikan isu sampai sesuatu puak melemparkan tuduhan bid’ah dan sesat kepada pihak lain. Apa lagi kalau sampai timbul sikap menghalalkan darah dan berperang sama Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab yang berperang menjatuhkan Turki ‘Uthmaniah yang menyebabkan sampai sekarang umat tidak mempunyai khilafah seperti anak-anak tanpa bapa. Dan pihak musuh cenderung untuk membiarkan pemikiran seperti ini supaya Islam hancur dari dalam, asalkan pihak mereka pula tidak terjejas. Lain halnya kalau sesuatu perkara itu sudah diijma’kan salahnya, maka perlulah itu dinyatakan dengan terang.

Demikian pula tidak perlu dikatakan syirik kepada mereka yang mengadakan aturan-aturan duniawi dalam mana-mana bidang kegiatan seperti komunikasi, pengangkutan, pertanian, dan yang sepertinya yang berupa aturan-aturan profesi yang menjayakan bidang yang berkenaan sesuai dengan tabiat kemahiran demikian itu. Mereka yang mengadakan aturan-aturan itu demi untuk menjaga kejayaan bidang-bidang itu – asalkan ianya tidak berlawanan dengan kehendak agama yang mahu menjaga kemaslahatan nyawa, agama, maruah, harta, keturunan manusia, keamanan dan apa juga yang diperlukan – bukannya boleh ditafsirkan sebagai “merampas” Hakimiyyatu’Llah atau Kuasa membentuk Aturan yang ada pada Allah – oleh itu perbuatan mereka itu berupa kesyirikan. Kita perlu mengelak diri daripada kecenderungan Khawarij yang sedemikian itu yang telahpun mengakibatkan kegetiran dalam sejarah da’wah di setengah negara di Asia Barat. Perkara sedemikian tidak perlu kita mengulanginya di tempat lain.

Perkara yang seperti ini disentuh dengan baiknya oleh Hasan al-Hudaibi rh dalam bukunya yang terkenal itu iaitu “Du’atun la Qudah” (Pendakwah Bukan Penghukum).

Perbincangan tentang kesyirikan tidaklah perlu terlanjur sampai timbul dakwaan-dakwaan dan tuduhan-tuduhan, antaranya seperti:

  1. syirik kecil itu sebahagian yang tidak terpisah daripada syirik besar, yang membawa kepada menghalalkan darah orang yang terlibat di dalamnya;
  2. atau tuduhan bahawa kefahaman ulama Ahlis-Sunnah tentang tauhid umumnya salah;
  3. atau Abu Jahal lebih mengetahui tentang la ilaha illa’Llah daripada ulama Islam;
  4. atau tuduhan bahawa kesyirikan di muka bumi bermula dengan perbuatan ahli ilmu dan agama, kerana mereka cinta kepada para wali;
  5. atau tuduhan bahawa para kufar yang mengetahui tentang kekufuran mereka adalah lebih baik terbimbing daripada orang-orang yang beriman -inna’l-kuffara ‘lladhina ya’rifuna kufran ahda sabilan minal-mu’minin<
  6. atau tuduhan “Keadaan sedemikian merusutnya sehingga sampai, di kalangan kebanyakan manusia, menyembah orang-orang agama adalah amalan yang paling baik, disebutkan sebagai kewalian, manakala menyembah ulama fikah dikatakan sebagai ‘pengetahuan dan ilmu fikah’. Kemudian keadaan menjadi merusut lagi sampai orang-orang yang tidak auliya’ pun disembah selain dari Allah, dan pada darjah kedua pula, mereka yang jahil”
  7. Juga tuduhan yang menyatakan bahawa sya’ir Burdah oleh al-Busiri sebagai sesuatu yang berupa kesyirikan (kerana memuji nabi s.a.w. -p).
  8. atau tuduhan bahawa panggilan “qadil-qudah” – kadhi dari sekelian kadhi – sama dengan “Syahin-syah- raja sekelian raja” (yang membawa kepada menghukumkan orang yang berkenaan kafir)
  9. atau sampai membawa kepada fahaman bahawa Allah s.w.t. mempunyai Dua Tangan, tangan kanan memegang langit dan yang satu lagi memegang bumi.”

Kesimpulan

Sebagai kesimpulannya kita melihat bahawa tauhid yang berasaskan kenyataan:

“tiada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah” atau “aku menyaksikan bahawa tidak ada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah, dan aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah pesuruh Allah”

itu membawa maksud dan keyakinan bahawa hakikat yang sebenar-benarnya hanya satu sahaja, iaitu Allah, dan Ia Tuhan Yang Maha Esa, yang kita sembah. Keredhaan Dia sahaja terakhirnya yang kita cari; KehendakNya sahaja yang kita ikut; hakikat ini mendatangkan kesan pada faham alam kita, faham ilmu, dan faham nilai. Ini yang menentukan konsep kita tentang kehidupan, budaya, tamadun, ilmu, dan nilai. Inilah yang menentukan ibadat, hidup rohani, akhlak, peraturan hidup, serta perjuangan dalam kehidupan individu, dan kolektif serta ketamadunan kita. Sepatutnya inilah hakikat dan prinsip yang memartabatkan dan memuliakan kita dari dunia sampai ke alam yang kekal abadi.

Inilah yang menyatupadukan serta menguatkan kita dalam percaturan hidup, bukan sebaliknya. Kesyirikan ialah mempelbagaikan Tuhan yang berupa dosa dan jenayah terbesar, diikuti oleh syirik kecil memuja nafsu dan keinginan sendiri yang membawa kepada penyelewengan hidup dengan pelbagai perkara negatif dalam hidup individu, kolektif serta budaya dan ketamadunan.

Pengembalian semula kepada kefahaman yang tepat dan meluas tentang tauhid serta penghayatannya yang menyeluruh dengan implikasi-implikasinya, dengan penolakan syirik dalam fahaman dan amalan sejauh-jauhnya, dalam rangka fahaman dan amalan hidup Sunni, inilah yang menjamin kejayaan dan kebahagiaan sesungguhnya; dan inilah yang menentukan nasib sebenarnya bagi diri dan umat kita.

Wallahu a’lam.

~dikemaskini dari laman web IslamGrid~

PENJELASAN AQIDAH ISLAM YANG TEPAT BAHAWA ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT


Fasal 1

**************************************************
Penjelasan
Bahawa Allah Maha Suci Dari Sifat Duduk Dan Bertempat
Dengan Dalil-Dalil Al-Quran, Hadis, Ijmak Dan Akal

sumber: http://al-dununiyy.blogspot.com

1. Dalil al-Quran

Sesungguhnya Allah taala tidak memerlukan segala makhluk-Nya. Demi mensucikan Allah dari sifat persamaan dengan makhluk-Nya dan dari sifat berhajat kepada suatu tempat atau dari sifat berhajat kepada masa cukuplah dengan firman Allah taala:
ليس كمثله شىء
Mafhumnya:
Tiada suatupun yang sama seperti-Nya” [Surah al-Shura, ayat 11]

Al-Imam al-Qurtubi berkata ketika mentafsir ayat di atas dalam kitabnya Tafsir al-Qurtubi[1]:

>وقد قال بعض العلماء المحققين: التوحيد إثبات ذات غير مُشْبِهَة للذوات ولا مُعَطَّلة من الصفات وزاد الواسطي رحمه الله بيانًا فقال: ليس كذاته ذات ولا كاسمه اسم ولا كفعله فعل و لا كصفته صفة إلا من جهة موافقة اللفظ… وهذا كله مذهب أهل الحق والسنة والجماعة رضي الله عنهم
Maksudnya:
“Dan sesungguhnya sebahagian ulama muhaqqiqin telah berkata: “Tauhid itu ialah penetapan suatu zat yang tidak menyerupai zat-zat yang lain dan tidak menafikan sifat-sifat, al-Wasiti menambah suatu penjelasan dengan berkata: “Tiada suatu zat pun seperti zat-Nya, tiada suatu perbuatan pun seperti perbuatan-Nya dan tiada suatu sifat pun seperti sifat-Nya melainkan dari segi persamaan lafaz… Dan ini semuanya ialah mazhab Ahlul-Haqq was-Sunnah wal-Jama^ah radiyaLlahu ^anhum”. Intaha.

Allah taala berfirman:

هل تعلم له سميًا
Mafhumnya:
…apakah engkau mengetahui ada suatu yang sama dengan Dia?” [Surah Maryam, ayat 65]Al-Imam al-Qurtubi mentafsirkan ayat di atas dalam kitabnya Tafsir al-Qurtubi[2]: 

قال ابن عباس: يريد هل تعلم له ولدًا أي نظيرًا أو مثيلا
Maksudnya:
“Ibn ^Abbas berkata: “Firman Allah taala itu bermaksud: “Adakah engkau mengetahui Dia ada anak yakni sebanding atau semisal dengan-Nya?”.Allah taala berfirman:
ولم يكن له كفوًا أحد
Mafhumnya:
…dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya”. [Surah al-Ikhlas, ayat 4]. Antara sifat ketidaksamaan Allah dengan sesuatu selain-Nya ialah sifat kewujudan-Nya yang tidak pernah didahului dengan ketiadaan dan tidak ada permulaan bagi kewujudan-Nya. Dengan kata lain, tiada suatupun yang wujud tanpa didahului oleh ketiadaan melainkan Allah taala! Oleh itu, Allah telah wujud sebelum selain-Nya wujud. Inilah yang disebut sebagai azali atau keazalian. Ini berdasarkan firman Allah taala:
هو الأول
Mafhumnya:
Dia-lah Yang Maha Awal”. [Surah al-Hadid, ayat 3]
Ayat 3 surah al-Hadid di atas ditafsirkan dengan dalil hadis yang menyusul di bawah.

2. Dalil Hadis

Rasulullah sallahu ^alayhi wa-sallam bersabda:


كان الله ولم يكن شيءٌ غيره

Mafhumnya:
Allah ada azali dan selain-Nya tiada pun”. [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan al-Bayhaqi]Al-Hafiz Ibn Hajar al-^Asqalani (w. 852 H) menghuraikan hadis di atas dalam kitabnya Fathul-Bari dengan katanya[3]:

والمراد بكان في الأول الأزلية وفي الثاني الحدوث بعد العدم

Maksudnya:
“Dan maksud kana dalam lafaz yang pertama ialah keazalian (kewujudan tanpa didahului oleh ketiadaan atau kewujudan tanpa permulaan) dan dalam lafaz kedua ialah kebaharuan selepas ketiadaan (kewujudan yang didahului oleh ketiadaan atau kewujudan yang ada permulaan)”. Intaha.Justeru, Allah taala sentiasa wujud azali dalam keadaan tiada suatupun yang bersama keazalian-Nya. Tiada suatu air pun, tiada suatu udara pun, tiada suatu bumi pun, tiada suatu langit pun, tiada suatu Kursi pun, tiada suatu Arasy pun, tiada suatu manusia pun, tiada suatu jin pun, tiada suatu malaikat pun, tiada suatu tempat pun dan tiada suatu masa pun bersama keazalian-Nya! Oleh itu, Allah taala wujud sebelum kewujudan tempat tanpa suatu tempat, dan Dia-lah yang telah mencipta tempat dan Arasy serta Dia tidak berhajat pun kepada ciptaan-Nya.

Rasulullah sallaLlahu ^alayhi wa-sallam bersabda:

اللهمّ أنت الأول فليس قبلك شيء, وأنت الاخر فليس بعدك شيء, وأنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء

Mafhumnya:
Ya Allah! Engkau al-Awwal maka tiada suatupun sebelum-Mu, Engkau al-Akhir maka tiada suatupun selepas-Mu, Engkau al-Zahir maka tiada suatupun di atas-Mu, dan Engkau al-Batin maka tiada suatupun di bawah-Mu”. [Diriwayatkan oleh Muslim]Al-Hafiz Ahmad ibn al-Husayn al-Bayhaqi (w. 458 H) berkata dalam kitabnya al-Asma’ wa al-Sifat[4]:

استدل بعض أصحابنا بنفي المكان عن الله تعالى بقول النبي: ((أنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء)) وإذا لم يك فوقه شيء ولا دونه شيء لم يكن في مكان

Maksudnya:
“Sebahagian para sahabat kami mengambil dalil tentang penafian tempat daripada Allah taala dengan sabdaan Nabi :
((أنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء)).

Dan jika tiada suatupun di atas-Nya dan tiadapun di bawah-Nya maka Allah tidak berada di suatu tempat pun”. Intaha.

3. Dalil Ijmak

Kaum muslimin telah bersepakat bahawa Allah taala tidak bertempat di suatu tempat, tidak diliputi oleh sebarang tempat, tidak mendiami langit dan tidak juga mendiami Arasy kerana Allah taala wujud sebelum kewujudan Arasy, langit dan tempat. Allah taala mustahil berubah dari suatu keadaan kepada suatu keadaan dan dari suatu sifat kepada suatu sifat kerana perubahan keadaan dan sifat adalah sifat makhluk. Oleh itu, Allah taala wujud dengan kewujudan yang azali tanpa suatu tempat pun, dan selepas Dia mencipta tempat Dia masih wujud tanpa bertempat.

Ketahuilah bahawa para ulama yang terdiri daripada ahli hadis, ahli fiqh, ahli tafsir, ahli bahasa Arab, ahli usul, para ulama empat mazhab iaitu mazhab-mazhab Shafi^i, Hanafi, Maliki dan Hanbali – kecuali tokoh mazhab yang berpegang dengan aqidah tajsim – , ulama sufi yang benar semua mereka ini berpegang dengan aqidah yang mensucikan Allah dari tempat.

Antara ulama yang membawa nukilan ijmak Ahlus-Sunnah di atas aqidah yang mensucikan Allah taala dari tempat ialah al-Imam Abu Mansur ^Abdul-Qahir ibn Tahir al-Baghdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq baynal-Firaq[5]:

وأجمعوا – أي أهل السنة والجماعة – على أنه – أي الله – لا يحويه مكان ولا يجوي عليه زمان

Maksudnya:
“Dan mereka – iaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah – berijmak bahawa Dia – iaitu Allah – tidak diliputi oleh suatu tempat dan tidak dilalui ke atas-Nya oleh suatu masa”. Intaha. 

Al-Shaykh Imamul-Haramayn Abul-Ma^ali ^Abdul-Malik ibn ^AbduLlah al-Juwayni al-Shafi^i al-Ash^ari (w. 478 H) menjelaskan ijmak tersebut dalam kitabnya al-Irshad[6]:


ومذهب أهل الحقّ قاطبة أنّ الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيّز والتخصص بالجهات
 

Maksudnya:
“Dan mazhab Ahlul-Haqq bersepakat bahawa Allah subhanahu wa-ta^ala disucikan dari sifat mengambil lapang atau ruang dan disucikan dari sifat pengkhususan dengan arah”. Intaha. 

4. Dalil Akal

Allah taala berfirman:

وقالوا لو كنَّا نسمع أو نعقل ما كنَّا فى أصحب السعير

Maksudnya:
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. [Surah al-Mulk, ayat 10] 

Akal di sisi ulama tauhid adalah saksi bagi syarak dan bukanlah asal bagi agama. Oleh itu, para ulama tauhid tidak berbicara tentang hak Allah taala semata-mata bergantung kepada akal, bahkan mereka berbicara tentang perkara ini dari sudut pendalilan dengan akal berdasarkan perkhabaran yang sahih daripada Rasulullah sallaLlahu ^alayhi wa-sallam. Justeru, akal yang sejahtera tidak keluar dari perkara yang dibawa oleh syarak dan tidak saling bertentangan.

Dalil akal yang menunjukkan bahawa Allah taala itu maha suci dari tempat ialah jikalah akal boleh menerima bahawa Allah taala wujud tanpa bertempat sebelum penciptaan segala tempat, maka pastilah akal juga boleh menerima bahawa Allah taala juga wujud tanpa bertempat selepas penciptaan tempat dan ini bukanlah suatu penafian kewujudan Allah taala.

Perubahan keadaan dan sifat itu mustahil berlaku ke atas Allah taala kerana perubahan adalah bukti kebaharuan (kewujudan yang didahului oleh ketiadaan) yakni kemakhlukan. Kebaharuan atau kemakhlukan pula menafikan sifat ketuhanan. Iktikad tidak berdiri di atas perkara yang ditanggap oleh sangkaan, tetapi berdiri tegak di atas perkara yang boleh ditanggap oleh akal yang waras lagi sejahtera yang merupakan saksi kepada syarak.

___________________________________________
[1] Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Dar al-Fikr, Beirut, jil. 8, juz. 16, hlm. 10.
[2] Ibid, jil. 6, juz. 11, hlm. 54.
[3] Ibn Hajar al-^Asqalani, Fathul-Bari, Dar al-Rayyan, Kaherah, juz. 6, hlm. 334.
[4] Al-Bayhaqi, al-Asma’ was-Sifat; Bab ma ja’ fil-^Arsh wal-Kursi, Dar Ihya’ al-Turath al-^Arabi, Beirut, hlm. 400.
[5] Al-Farq baynal-Firaq, Dar al-Ma^rifah, Beirut, hlm. 333.
[6] Al-Juwayni, al-Irshad ila Qawati^il-Adillah fi Usulil-I^tiqad, Mu’assasah al-Kutub al-Thaqafiyyah, Beirut, hlm. 58.

TAUHID MENOLAK JAHILIYYAH DAN MEMBENTUK MASYARAKAT ISLAM


Islam nizam yang lengkap

Islam adalah nizam atau sistem yang lengkap dan menyeluruh. Islam terbina di atas asas yang kukuh. Islam terdiri daripada rukun-rukun yang besar, cabang-cabang dan ranting-ranting yang kecil saling memaut dan tertegak di atas asas yang kuat. Islam laksana pokok, berasal daripada sebiji benih, kemudian mengeluarkan akar, seterusnya tumbuh batang, dahan, cabang, ranting dan daun sehingga menjadi pokok rendang. Namun setiap helai daun berhubung rapat dengan akar pokok itu.

Islam bererti penyerahan diri

Islam bererti penyerahan diri dan kepatuhan hamba sepenuhnya kepada Allah SWT. Islam menarik manusia daripada menyembah sesama hamba kepada menyembah Allah Yang Maha Esa. Islam menghendaki manusia tunduk dan patuh kepada kekuasaan dan peraturan-Nya sahaja dalam semua urusan hidup. Islam dibawa oleh Rasulullah SAW bertujuan untuk memperbetulkan perhambaan manusia sama seperti ia datang melalui para rasul sebelum baginda. Islam datang untuk mengalihkan kepatuhan manusia kepada kehendak dan pemerintahan Allah SWT seperti alam ini yang sentiasa berjalan di atas landasan pemerintahan Allah SWT. Manusia adalah sebahagian daripada alam. Justeru itu manusia dan alam mestilah selaras dalam kepatuhan kepada Pencipta.

Hamba yang memperhambakan diri kepada Allah

Semua manusia adalah hamba Allah SWT. Namun, manusia tidak akan menjadi hamba Allah SWT yang sebenar melainkan apabila dia tunduk dan patuh kepada kekuasaan Allah dengan memegang panji-panji Lailaha Illallah mengikut fahaman: “Tiada kekuasaan yang lain selain daripada kekuasaan Allah SWT. Tiada peraturan yang lain selain daripada peraturan Allah SWT. Tiada syariat yang lain selain daripada syariat Allah SWT. Tiada kekuasaan seseorang ke atas seseorang yang lain, kerana kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah SWT.” Hamba-hamba yang beginilah yang akan membentuk rupa bangsa (ummah) yang dikehendaki Islam. Rupa bangsa aqidah yang menggabungkan seluruh bangsa dan warna kulit di bawah panji-panji Allah SWT.

Tauhid menolak jahiliyyah

Mentauhidkan Allah SWT atau mengesakan Allah SWT sebenarnya menolak jahiliyyah. Ini kerana tauhid membawa implikasi mengabdikan diri kepada Allah SWT semata-mata dalam semua lapangan hidup, sedangkan jahiliyyah ialah keluar daripada mengabdikan diri kepada Allah SWT, atau tidak melakukan pengabdian kepada-Nya semata-mata. Aqidah yang tidak betul akan melahirkan jahiliyyah. Juga akan terbina di atasnya segala rupa bentuk penyelewengan dalam konsep hidup, tingkah laku dan aktiviti manusia.

Aqidah yang betul akan …

Aqidah yang betul akan meletakkan manusia pada darjat sebenar dan membetulkan tindak-tanduk manusia pada setiap zaman dan tempat. Aqidah yang betul mengarahkan manusia kepada matlamat hakiki melalui jalan sahih. Aqidah yang betul hidup dan nampak kesannya yang sempurna dalam perasaan, tingkah laku, pegangan, konsep dan amalan manusia, tanpa terpisah antara satu sama lain.

Aqidah yang salah melahirkan jahiliyyah

Sekiranya kesan dalam kehidupan manusia berlaku dalam bentuk yang lain daripada yang dinyatakan di atas, bererti ada ciri-ciri jahiliyyah meskipun pelaku-pelakunya mengaku beriman kepada Allah SWT. Kesan jahiliyyah itu lambat laun akan terserlah dengan nyata lantaran aqidah yang salah atau tidak tepat. Begitulah sunnah Allah SWT. Orang Arab jahiliyyah pun mengakui ketuhanan Allah SWT, tetapi natijah jahiliyyah tetap tertonjol dalam kehidupan mereka. Firman Allah SWT:

Sekiranya engkau bertanyakan mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Nescaya mereka berkata: Allah.” (Luqman: 25) “Sekiranya engkau bertanyakan mereka: Siapakah yang menjadikan mereka? Nescaya mereka berkata: Allah.” (Az-Zukhruf: 87) “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rezeki kepada kamu daripada langit dan bumi atau siapakah yang berkuasa (mencipta) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan hidup dari mati dan mengeluarkan mati dari hidup, siapakah yang mentadbir semua ini? Nescaya mereka berkata: Allah.” (Yunus: 31)

Walaupun orang Arab jahiliyyah mengetahui Allah SWT, mengakui segala sesuatu ciptaan-Nya dan di bawah tadbiran-Nya, tetapi mereka tidak beriman dalam ertikata sebenar. Mereka menolak peraturan dan hukum Allah S.W.T dalam kehidupan. Mereka tahu tetapi tidak mengikuti apa yang mereka tahu. Mereka memperhambakan diri kepada ilah-ilah yang lain daripada Allah S.W.T. Mereka melaksanakan syari’at yang lain daripada syari’at Allah S.W.T. Mereka disebut Jahiliyyun (golongan yang jahil).

Syari’at dan aqidah tidak boleh dipisahkan

Syariat tidak boleh dipisah dan diceraikan daripada aqidah. Garis pemutusnya ialah sama ada berhukum dengan apa yang Allah SWT tanzilkan atau sebaliknya (berhukum dengan jahiliyyah). Jika seseorang itu beriman kepada Allah SWT dan menerima Uluhiyyah-Nya (ketuhanan), sudah tentu juga menerima Hakimiyyah-Nya (hukuman dan undang-undang-Nya). Allah SWT adalah Pencipta dan Pemilik, maka Dia-lah yang berhak ditaati. Syariat-Nya sahaja yang berhak dipatuhi dan diikuti. Jika tidak, maka lahirlah jahiliyyah. Oleh kerana jahiliyyah itu tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT, sudah pasti jahiliyyah itu mengikut hawa nafsu. Firman Allah SWT:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara kamu menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu menurut hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu daripada sebahagian yang diturunkan Allah kepada kamu. Jika mereka berpaling (daripada hukum yang diturunkan Allah), maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Maidah: 49)

Sebarang peraturan atau hukum yang tidak bersumberkan syara’ sebenarnya termasuk dalam ahwa’. Syariat Allah bersih daripada pengaruh ahwa’. Seseorang itu perlu membuat keputusan sama ada ingin mengikut syariat Allah SWT (lalu dia menjadi muslim) atau mengikut ahwa’ (lalu dia terdiri daripada golongan jahiliyyah).

Hanya satu yang benar

1. Kedatangan Islam untuk menetapkan satu tali atau satu alat sahaja yang menghubungkan manusia dengan Allah SWT. Apabila tali itu putus maka tidak ada lagi tali dan alat penghubung yang lain. Firman Allah SWT:

Kamu tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapa-bapa atau anak-anak atau saudara-saudara atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sunagi, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka puas terhadap limpah (rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (Al-Mujadalah: 22)

2. Terdapat satu sahaja golongan Allah SWT. Golongan Allah SWT tidak berbilang-bilang atau berbelah bahagi. Golongan atau puak lain adalah golongan atau puak syaitan dan thaghut. Firman Allah SWT: “Orang-orang yang beriman berperang pada jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang pada jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, kerana tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)

3. Hanya terdapat satu jalan yang boleh sampai kepada matlamat keredhaan Allah S.W.T. Jalan-jalan lain tidak akan sampai kepada keredhaan-Nya. Firman Allah SWT:

Dan yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu daripada jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu bertaqwa. (Al-An’am: 153)

4. Hanya satu sistem yang benar iaitu sistem Islam, manakala sistem-sistem lain adalah jahiliyyah belaka. Firman Allah SWT:

Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al-Maidah: 50)

5. Hanya satu undang-undang atau syariat yang benar iaitu undang-undang atau syariat Allah SWT, manakala undang-undang lain adalah berlandaskan hawa nafsu belaka. Firman Allah SWT:

Kemudian kami jadikan kamu di atas satu syariat (peraturan) urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jathiyah: 18)

6. Kebenaran hanya satu, tunggal dan tidak berbelah-bahagi. Selainnya adalah sesat belaka. Firman Allah SWT:

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu sebenarnya; maka tiada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan, maka bagaimanakah kamu dipalingkan daripada kebenaran? (Yunus: 32)

7. Akhirnya, hanya satu negara atau masyarakat yang diredhai Allah SWT iaitu negara Islam atau masyarakat Islam. Masyarakat Islam ialah masyarakat yang di dalamnya tertegak Din Islam, berjalan syariat Islam dan berkuatkuasa peraturan-peraturan Allah. Semua warganya bersatu dan saling hormat menghormati. Negara atau masyarakat yang dimaksudkan itu pernah wujud dan terbentuk pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat baginda. Tenaga pembentuknya adalah aqidah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah SAW mengikut arahan Allah SWT. Jalannya bermula dengan penegakan kalimah tauhid Lailaha Illallah  yang membawa manusia tunduk dan patuh kepada kekuasaan Allah SWT.

Jalan yang terpaksa menempuh kesusahan

Tiada jalan lain melainkan satu jalan sahaja untuk mengembalikan Islam dan masyarakat Islam, iaitu jalan iman. Jika di permulaan Islam, iman telah menjadi tenaga pembangunan Islam, maka iman juga mesti menjadi tenaga pembangunan Islam pada zaman mutakhir ini. Jalan untuk sampai kepada pembentukan masyarakat Islam ini terpaksa menempuh kesusahan, rintangan, kesakitan dan sebagainya. Allah SWT Yang Maha Suci, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tidak bermaksud menyeksa orang-orang mu’min. Malah Allah SWT Maha Mengetahui bahawa inilah satu-satunya jalan untuk menegakkan masyarakat Islam yang tunduk dan patuh kepada-Nya. Jalan inilah yang dapat memebersihkan muka bumi daripada thaghut. Bumi tidak akan bersih melainkan setelah terkibarnya panji-panji Lailaha Illallah .

Masyarakat akan menikmati kebebasan sebenar

Apabila aqidah sudah bertapak dan menjadi asas yang kukuh, umat manusia mengenal Allah SWT dan menyembah-Nya. Setelah manusia memisahkan diri daripada penguasaan hawa nafsu durjana dan iman meresap ke dalam hati dan jiwa manusia, maka Allah SWT akan melakukan apa hendak dilakukan-Nya. Bumi akan bersih daripada kekuasaan taghut seluruhnya. Masyarakat akan menikmati kebebasan daripada sebarang penginayaan dan penindasan sosial, akan tertegaklah sistem Islam yang adil mengikut perintah Allah SWT.

Senario yang sama

Angkatan pejuang Islam kini sedang menghadapi keadaan yang sama seperti yang dihadapi oleh angkatan Islam pertama. Umat Islam ketika itu adalah golongan yang kecil. Mereka menghadapi empayar besar iaitu Rom di barat dan Farsi di timur. Kedua-dua empayar itu memiliki kekuatan tentera, senjata, kekayaan, kepandaian berperang, pengalaman dan politik yang lebih hebat daripada umat Islam. Walaupun demikian, suatu yang luar biasa dan paling mengagumkan telah berlaku dalam sejarah. Umat yang kerdil ini telah berjaya mengalahkan dua empayar itu dalam masa tidak sampai setengah abad. Bagaimana hal ini boleh terjadi? Penafsiran sejarah berdasarkan kebendaan dan ekonomi tidak dapat menjelaskannya. Hanya satu sahaja dapat memberi penjelasan yang kukuh, iaitu kekuatan Iman. Iman mendorong umat Islam untuk berjihad dengan penuh keberanian.

Perlukan persediaan yang lengkap

Bagi mewujudkan umat Islam sedemikian rupa bukanlah boleh dengan pengakuan mulut sahaja. Sebelumnya mesti melalui susur galur dan perencanaan kukuh, sempurna dan mantap. Dengan ini barulah akan lahir kesabaran dan ketahanan untuk menghadapi berbagai rupa rintangan dan ancaman. Jahiliyyah tidak menjelma dalam bentuk teori semata-mata. Jahiliyyah wujud dalam bentuk gerakan kemasyarakatan yang serba lengkap. Jahiliyyah telah lama bertapak dan berakar umbi dalam masyarakat. Oleh itu usaha untuk menghapuskan jahiliyyah mestilah tidak terbatas sekadar teori semata-mata. Bahkan mestilah dilakukan usaha bersungguh-sungguh dengan persediaan yang rapi dalam semua bidang. Usaha yang teratur dan penyusunan yang kuat perlu diwujudkan agar dapat melumpuh dan menghapuskan pengaruh jahiliyyah yang meluas dan melebar.

%d bloggers like this: