• Assalammu'alaikum wbt. Blog ini membicarakan pelbagai topik agama yang merangkumi Artikel Umum, Akhir Zaman, Al-Quran, Hidayah Allah, Kebangkitan Islam, Satanisme, As-Siyasah, Doa & Bacaan, Fiqh Ibadah, Darah Wanita, Haji & Umrah, Korban & Akikah, Puasa, Solat, Toharoh, Zakat, Fiqh Muamalat, Hadis Pilihan, Ilmuwan Islam, Isu Semasa, Budaya Kufur, Islam Liberal, Pluralisme, Sekularisme, Syiah, Wahabiyyah, Kebesaran Allah, Kisah Teladan, Qishosul Anbiya', Sejarah Islam, Sirah Nabawi, Tafsir Al-Qur'an, Tasawwuf & Akhlak, Tauhid / 'Aqidah, Tazkirah, Akhirat, Bulan Islam, Kematian, Kisah Al-Quran, Tokoh Muslim, Ulama' Nusantara, Video Agama dan sebagainya. Semoga pembaca mendapat faedah ilmu dari pembacaan artikel dalam blog ini.. dalam mencari rahmat, keampunan dan keredhaan Illahi. InsyaAllah Ta'ala.

    CURRENT MOON PHASE

  • Pusat Latihan WoodValley Village, Sg. Congkak, Hulu Langat, kini dibuka untuk Penginapan Percutian, Program Hari Keluarga, Team Building dan Penempatan Kursus. Untuk tempahan dan info lanjut, sila hubungi:

    1) Arshad: 016-700 2170 2) Fahmi: 017-984 9469 3) Azleena: 012-627 2457

    [[ Download Brochure ]]

    [[Lawat Laman Web]

    -------------------------------------------
  • Klik untuk subscribe ke blog ini dan anda akan menerima email pemberitahuan tentang artikel terbaru. Taipkan email anda di kotak bawah:

    Join 65 other followers

  • KLIK PAUTAN

    • None
  • TERBARU DIMINATI

MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH


Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

Apa Itu Syi’ah?

Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)

Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)

Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan putaran waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)

Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya. Rafidhah, diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna, meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).

Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:

Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’. (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:

Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137).

Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36). Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?

Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen). (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi’ah Rafidhah?

Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ada) 17.000 ayat.”

Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata:

…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian… (Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir)

Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata:

Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)

Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata:

Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi. (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)

Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)

Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah) (Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)

Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah:

Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah… (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata:

Mereka itu adalah suatu kaum yang bercita-cita untuk menghabisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih. (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)

Imamah ini (menurut mereka) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)

Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata:

Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada. (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)

Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami:

Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah. (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)

Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata:

Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.

Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:

Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu. (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi.

Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata:

Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali. (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah

Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.

1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata:

Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah. (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)

2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata:

Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)…. (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)

3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.

4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)

5. Al-Imam Al-Bukhari berkata:

Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka. (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)

6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata:

Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah. (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)

Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.

____________________________________________
Sumber : http://www.asysyariah.com

SYIAH DI MALAYSIA & KESANNYA KEPADA UMAT ISLAM


Petikan daripada Majalah i (BIL. 100 FEB 2011) hlm. 16 dan 17.

Syiah di Malaysia & Kesannya Kepada Umat Islam

FADLAN MOHD OTHMAN

Berkenaan dengan Syiah di Malaysia dan kesannya kepada umat Islam, dapatlah saya bahagikan jawapan saya kepada beberapa fasa seperti berikut:

Fasa pertama; Apakah yang dimaksudkan dengan Syiah?

Menjadi kebiasaan para ulama, apabila membicarakan perihal sesuatu perkara, mereka akan meletakkan definisi atau pengertiannya dari dua sudut utama iaitu Bahasa Arab dan Istilah. Tujuannya adalah supaya perbahasan dan perbincangan menjadi jelas dan terarah.

Di dalam Bahasa Arab, Shi’ah bererti penolong dan pembantu.

Manakala dari sudut Istilah pula, dapatlah dirumuskan bahawa Shi’ah adalah satu kumpulan manusia yang dinisbahkan kepada umat Islam, mengutamakan Ali r.a. terhadap para Sahabat yang lain dan mengutamakan keluarga Rasulullah s.a.w. yang terpilih sahaja di samping membawa kepercayaan yang menyeleweng dan terpesong berkenaan perkara-perkara asasi dalam Islam seperti ketuhanan, kenabian, al-Imamah (pemerintahan), pendirian berkenaan para sahabat, dan juga para isteri Rasulullah s.a.w. (Definisi secara terperinci dapatlah dirujuk dalam: Hukum Ulamak2 Islam Terhadap Shiah Dahulu dan Sekarang, karangan Ibnu Umar. Kuala Lumpur: Virtue Publications. Cetakan 1987. Halaman 9.)

Golongan Shi’ah terbahagi pula kepada beberapa kelompok iaitu kelompok yang melampau, pertengahan dan ikut-ikutan.

Kelompok yang melampau adalah kelompok yang menyeleweng dan mempertikaikan perkara-perkara dasar dalam Islam seperti mengatakan bahawa al-Qur’an telahpun diselewengkan oleh para Sahabat r.a., Ali lebih hebat daripada Rasulullah s.a.w., ‘Aishah isteri Rasulullah adalah penzina, Abu Bakr dan Umar adalah penjenayah, mencerca para Sahabat dan menganggap kebanyakan mereka fasiq atau murtad. Cendekiawan di kalangan kelompok inilah yang dihukum sesat dan kufur oleh ulama muktabar dalam Islam. Kelompok ini dikenali sebagai, al-Imamiyyah @ al-Ithna ‘Asyariyyah @ al-Ja‘fariyyah.

Kelompok yang pertengahan pula adalah kelompok yang dikenali sebagai Zaidiyyah yang walaupun berbeza dengan Umat Islam tetapi tidak melampau seperti kelompok pertama.

Adapun kelompok ikut-ikutan pula, mereka adalah yang mengaku Shi’ah tetapi tidak mengetahui ajaran-ajaran Shi’ah.

Fasa kedua; Adakah wujud perbezaan antara Shi’ah dan Ahlus Sunnah?

Sebelum meneruskan perbincangan, perlu rasanya dijelaskan apakah yang dimaksudkan dengan Ahlus Sunnah. Perkataan ‘Ahl’ dari sudut Bahasa Arab bererti ahli manakalah perkataan ‘Sunnah’ dari sudut Bahasa Arab bererti jalan dan cara. Melihat kepada sudut Istilah, Ahlus Sunnah membawa erti orang yang berpegang dengan manhaj dan cara pelaksanaan Islam yang dipelopori oleh Rasulullah s.a.w.

Sememangnya daripada penjelasan ringkas di atas, kita sudah dapat melihat perbezaan di antara Shi’ah dan Ahlus Sunnah. Akan tetapi untuk menjadikannya lebih nyata dan terang, marilah sama-sama kita melihat jadual berikut yang menjelaskan sebahagian pegangan Syiah yang sesat dan menyeleweng:

Syi’ah

Ahlus Sunnah

Al-Qur’an telahpun diselewengkan oleh para Sahabat r.a. Al-Qur’an terpelihara daripada sebarang penyelewengan
Ali lebih hebat daripada Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w. lebih hebat daripada sekelian makhluk
‘Aishah isteri Rasulullah adalah penzina ‘Aishah isteri Rasulullah adalah suci dan merupakan Ibu kepada orang-orang yang beriman
Abu Bakr dan Umar adalah penjenayah Abu Bakr dan Umar adalah sebaik-baik umat Islam selepas Rasulullah s.a.w. dan para nabi dan rasul
Mencerca kebanyakan para Sahabat dan menghukum mereka adalah fasiq dan murtad Menghormati para Sahabat dan mempercayai mereka dipuji oleh Allah Ta’ala

Fasa ketiga; Apakah Syiah bahaya?

Melihat kepada perkataan ‘bahaya’, sebenarnya kita boleh bahagikan kepada dua situasi. Pertama, bahaya terhadap agama dan kedua, bahaya terhadap keselamatan.

Berkenaan bahaya Syiah terhadap agama, berdasarkan sedikit maklumat yang telahpun saya utarakan sebentar tadi, kita dapat merumuskan bahawa Syiah memang merbahaya dan menjadi antara ancaman utama yang menggugat kesucian Islam yang berteraskan al-Qur’an dan al-Sunnah al-Sahihah. “Bahaya” dari sudut ini jauh lebih besar daripada bahaya dari sudut keselamatan. Bahaya dari sudut keagamaan inilah yang menuntut pihak berwajib untuk bangkit menjelaskan penyelewengan yang ada pada aliran Syiah ini samada dalam bentuk seminar, wacana, forum mahupun debat atau muzakarah antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Jika perkara ini dapat direalisasikan, masyarakat akan mendapat maklumat seimbang di antara kebenaran dan kebatilan, seterusnya dapat membuat penilaian dan pilihan yang sewajarnya.

Manakala bahaya Syiah terhadap keselamatan pula, perkara ini sebenarnya merujuk kepada kadar ketaksuban mereka yang beraliran Syiah. Setakat ini, menurut pandangan saya, Syiah di Malaysia masih belum menimbulkan apa-apa kekacauan. Ini mungkin dapat dilihat dari sudut sifat masyarakat Malaysia yang sememangnya lemah-lembut. Ertinya, “Bahaya kepada keselamatan” adalah perkara yang cukup subjektif. Mana-mana kumpulan dan aliran pun berpotensi menjadi bahaya apabila sebahagian daripada mereka yang kurang ilmu bertindak menjangkau ajaran dan garis panduan pemimpin mereka. Jika ini berlaku, perlulah dibezakan antara individu yang tersilap dengan doktrin ajaran yang dijunjung. Ketelanjuran yang mungkin berlaku tidak semestinya menggambarkan kepincangan doktrin, sebaliknya hanyalah menunjukkan kelemahan kawalan semangat dan emosi si pengikut.

Sebagai penutup, ingin saya tekankan bahawa segala bentuk penyelewengan dalam kepercayaan dan pegangan Islam perlulah ditangani dan dibanteras secara berhemah dan penuh ilmiah. Umat Islam harus dididik atas dasar “Basirah” iaitu kekuatan hujjah yang yang nyata. Allah Ta’ala telah berfirman (Yusuf 12:108):

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

Justeru, umat Islam haruslah memulakan proses pemantapan Aqidah dengan menyelami ayat-ayat al-Quran berpandukan tafsiran absah para ulama muktabar, seiringan dengan pengamatan hadith-hadith Rasulullah s.a.w. berdasarkan huraian tepat ulama Ahlus Sunnah yang menitik beratkan kesahihan fakta dan kesucian ajaran Islam. Seterusnya, harus wujud sekumpulan cendekiawan atau ilmuan yang dapat menjelaskan kepada masyarakat dan membezakan antara kesucian ajaran Islam dan kedurjanaan penyimpangan doktrin menyeleweng. Semoga Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran dan memudahkan kita melaksanakannya, juga memperlihatkan kepada kita kebatilan dan memudahkan kita menjauhinya. Aamiin.

Sumber: http://fadlan-mohd-othman.blogspot.com

DI MANA BAHAYANYA SYIAH ?


Oleh Ustaz Hj Hishamuddin Mansor.
(http://usthjhishamuddinmansor.blogspot.com)

1. Mengkafir / Melaknat Para sahabat dan isteri Nabi

Ramai berpendapat kumpulan Syiah yang mengkafirkan para sahabat ialah kelompok Syiah di zaman dahulu, sedangkan Syiah yang berpangkalan di Iran sekarang adalah Syiah yang sangat menghormati para sahabat Nabi saw. Dakwaan ini adalah tidak benar, kerana Syiah yang ada di Iran sekarang (Syiah Imamiyah) sehingga hari ini masih tetap mengkafir dan melaknat para sahabat Nabi saw termasuk isteri-isteri baginda. Ini dapat dibuktikan melalui karya tokoh-tokoh utama mereka antaranya Ayatollah Ruhullah Khomeini, pengasas revolusi Iran. Dalam kitabnya Kasyful Asrar beliau menulis,

Ayatollah Ruhullah Khomeini - Pengasas Revolusi Iran

Abu Bakar dan Umar telah banyak meyalahi hukum-hukum Allah yang terang. Mereka berdua telah banyak mempermain-mainkan hukum hakam Tuhan, mereka menghalalkan dan mengharamkannya mengikut sesuka hati sendiri. Mereka berdua telah melakukan kezaliman ke atas Saidatina Fatimah dan anak-cucunya”. (Imam Khomeini : Kasyful Asrar, 110)

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab itu adalah bersumberkan kekafiran dan kesesatan yang bertentangan dengan ayat-ayat Allah yang termaktub di dalam Al-Quranul Karim. (Imam Khomeini : Kasyful Asrar : 116)

Mereka juga berpendapat bahawa hanya tiga orang sahaja yang masih beriman setelah kewafatan Rasullullah saw. Dari Abu Ja’afar a.s katanya,

Semua manusia adalah riddah (murtad) selepas Nabi saw kecuali tiga orang. Beliau di tanya : Siapakah tiga orang itu ? Beliau menjawab : Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Zar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi .” (Sheikh At-Tho’ifah : Rajalul Kasyi : 6)

Daripada Ali r.a berkata,

Semua orang telah murtad sepeninggalan Rasulullah saw kecuali empat orang sahaja”. (Sulaim bin Qais: As-Saqifah : 92)

Sebab utama mereka mengistiharkan Saidina Abu Bakar, Umar dan Usman r.anhum sebagai kafir kerana mereka dianggap telah merampas jawatan khalifah daripada Saidina Ali kwj. Manakala para sahabat lain yang turut mengiktiraf kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman juga diwartakan kafir.

Tidak cukup dengan itu, mereka turut mengeluarkan kata-kata cacian, dan laknat yang diabadikan dalam bentuk doa yang dikenali sebagai ‘Doa Dua Berhala’. Berikut adalah isi kandungan doa tersebut :

Ya Allah, laknatilah olehmu dua berhala Quraisy dan dua Toghu (Abu Bakar dan Umar), dua pendusta, dua anak perempuannya (‘Aisyah dan Hafshah) yang mana mereka berdua menyalahi perintah engkau, mengingkari wahyu engkau, mengingkari nikmat engkau dan menderhaka terhadap wahyu engkau dan mengubah agama engkau dan menyelewengkan Al-Quran dan menyintai seteru engkau dan mengingkari nikmat batin engkau dan menggagalkan perkara-perkara fardhu engkau dan melanggar ayat-ayat engkau dan memusuhi wali-wali engkau dan melantik musuh engkau dan memerangi negara engkau dan merosakkan hamba-hamab engkau. Ya Allah laknatilah mereka berdua dan pengikut-pengikutmereka dan wali-wali mereka dan penyokong-penyokong mereka, kekasih-kekasih mereka. Maka sesungguhnya mereka telah meruntuhkan institusi kenabian”. ( Al-Syed Manzur Hussain: Tuhfah Al-‘Awwam : 330)

Syiah Imamiyah menganggap doa ini cukup penting untuk diamalkan kerana kononnya ia telah disyariat serta mempunyai pelbagai fadhilat. Antara fadhilat dan kelebihan mereka yang membacanya ialah ,

Barangsiapa yang membaca doa ini sekali, maka Allah akan menulis baginya 70 000 kebaikan, menghapus 70 000 keburukkan dan mengangkat 70 000 darjat serta memenuhi puluhan ribu keperluan. Dan barangsiapa yang melaknat Abu Bakar dan Umar pada pagi hari, tidak akan ditulis baginya satu keburukkan sehingga petang, dan barangsiapa melaknat keduanya pada petang hari, takkan ditulis baginya satu keburukkan sehingga pagi tiba”. (Dhiya’u Ash Shalihin : 513)

Abu Lukluah

Di dalam kitab Zadul Maad karya Mulla Baqir Majlisi ada menyebut tentang kelebihan bergembira pada hari pembunuhan Saidina Umar, sehinggakan Syiah Imamiyah berpendapat penganutnya boleh melakukan apa sahaja pada hari kematian Saidina Omar kerana pada hari itu dosa mereka tidak akan dicatat oleh malaikat.

Rasulullah saw bersabda : Bahawa Allah SWT memerintahkan kepada para malaikat supaya menjadikan hari kematian orang yang zalim itu sebagai hari Syiahku dan keluargaku. Allah menugaskan para malaikat yang mencatat perbuatan hamba-hambaNya supaya berhenti mencatat dosa pada hari itu dan tiga hari berikutnya. Maka untuk itu, untukmu Muhammad dan untuk umatmu, tiga hari dosa tidak ditulis. Hari-hari itu adalah sebagai cuti untuk menghargai pewaris-pewarismu, untukmu dan untuk keluargamu dan pencinta-pencintamu yang bersusah payah supaya berhari raya.”

Selanjutnya di dalam kitab ini juga ditulis,

Dan barangsiapa yang memeriahkan hari raya ini, aku bersumpah dengan kehormatan dan kemuliaanku, akan ku beri ganjaran-ganjaran para malaikat yang mengililingi ‘Arasy dan akan ku beri syafaat untuknya dan untuk kaum keluarga terdekatnya… ”

Syiah Imamiyyah amat membenci isteri-isteri Rasulullah saw, khususnya Saidatina Aisyah. Tokoh ulama besar mereka Maulla Baqir Al-Majlisi telah mengadakan satu bab yang khusus dalam kitabnya, Hayatul Qulub bertajuk “Bab yang ke 55 pada menyatakan kecelakaan Aisyah .” Di dalam bab ini berkali-kali pengarangnya mengatakan Aisyah dan Hafshah sebagai munafik dan kafir.

Beliau mengemukakan riwayat yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafshahlah yang telah meracuni Nabi sehingga mengakibatkan kewafatan baginda. Al-Aisyyasyi telah meriwayatkan dengan sanad yang muktabr dari Imam Ja’afar Sadiq bahawa Aisyah dan Hafshah telah mensyahidkan Rasulullah dengan meracuni baginda.

Komentar

Ternyata fahaman Syiah yang mengkafir dan melaknat para sahabat serta isteri-isteri Nabi saw khususnya Aisyah, merupakan satu perbuatan yang sangat terkutuk dan tidak boleh diterima oleh akal yang waras. Terdapat banyak ayat Al-Quran yang memuji para sahabat Nabi saw serta isteri-isteri baginda.. Antaranya ialah firman Allah SWT,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ >أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١٠٠﴾

Dan orang-orang terdahulu yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar”, dan orang-orang yang menurut( jejak langkah) mereka dengan kebaikkan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka Syurga-Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar . ” (Surah At-Taubah : 100)

Al-Quran sangat memuliakan isteri-isteri Rasulullah saw. Firman Allah SWT,

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَ‌ٰلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا ﴿٥٣﴾

…Dan kamu tidak boleh sama sekali menyakiti Rasulullah dan tidak boleh berkahwin dengan isterinya sesudah ia wafat selama-lamanya. Sesungguhnya segala yang tersebut itu adalah amat besar dosanya di sisi Allah SWT “.(Surah Al-Ahzab : 53)

Dalam sepotong hadis, Nabi saw sangat melarang umatnya daripada mencela para sahabat. Sabda baginda saw,

لا تسبوا أصحابى فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفة

Maksudnya : Janganlah kamu mencela para sahabatku. Kalaulah seseorang kamu menafkahkan emas sebesar bukit Uhud, nescaya belum sampai secupak atau setengah cupak dari apa yang mereka nafkahkan”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Satu ketika para sahabat telah bertanyakan Rasulullah saw, “Siapakah antara golongan manusia yang paling baik ?”. Jawab Nabi saw,

قرنى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Maksudnya : Mereka yang ada pada kurunku, kemudian mereka yang datang selepas itu, kemudian mereka yang datang selepas itu. (Sahih Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Berdasarkan hadis di atas, para ulama sepakat mengatakan bahawa generasi yang paling baik dalam sejarah ialah generasi Nabi saw iaitu para sahabat baginda. Kenyataan ini menafikan dakwaan puak Syiah yang menganggap bahawa semua sahabat Nabi saw telah murtad.

Mengatakan para sahabat dan isteri Rasulullah saw sebagai kafir seolah-olah menunjukkan Nabi Muhammad saw telah gagal dalam usaha mendidik para sahabat dan isteri baginda sehingga semuanya menjadi murtad selepas kewafatannya. Dan lebih dahsyat lagi, dakwaan seperti ini seolah-olah menunjukkan Allah SWT itu bersifat lemah kerana melantik Nabinya yang gagal melaksanakan tanggungjawab !.

2. Meyakini Ar-Raj’ah

Dendam Syiah Imamiah tidak terhenti begitu sahaja. Dendam yang begitu mendalam dilampiaskan melalui satu akidah yang mereka cipta iaitu Ar-Raj’ah. Ar-Raj’ah ialah keyakinan orang-orang Syiah bahawa imam mereka yang ke dua belas iaitu Muhammad bin Al-‘Askari atau digelar Qaim Ali Muhammad ( penegak keluarga Muhammad) akan dibangkitkan semula di akhir zaman sebagai Imam Mahdi. Apabila Imam Mahdi muncul kelak, dia akan menghidupkan semula semua para sahabat yang menjadi musuh utama Syiah Imamiyah untuk membalas dendam serta menghukum para sahabat. Berkata Sayid Al-Murtadho di dalam kitabnya Al-Masail Al-Nashriyyah :

Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar akan disalib pada saat itu di atas satu pohon di zaman Al-Mahdi (Imam mereka yang kedua belas) dan pohon itu pertamanya basah sebelum penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya. 

Imam Mahdi juga akan menghidupkan semula Saidatina ‘Aisyah dari kubur untuk dilaksanakan hukuman hudud ke atas dirinya. Inilah yang disebut oleh Imam mereka Muhammad Al-Baqir dalam kitabnya Haqul Yakin,

Jika Al-Mahdi keluar, maka sesungguhnya dia akan menghidupkan ‘Aisyah Ummul Mukminin dan dia akan melaksanakan hukuman hudud ke atas diri ‘Aisyah”.

Ada juga di antara mereka yang beranggapan bahawa yang akan dibangkitkan nanti bukan sahaja Imam mereka yang kedua belas tetapi seluruh imam-imamnya. Menurut At-Tarbasi,

Para Imam akan dibangkitkan kembali (raj’ah) sebelum kiamat sebagai mukjizat mereka”. (At-Tarbasi : Majma’ Al-Bayan)

Komentar

Ternyata kepercayaan orang-orang Syiah bahawa manusia yang telah meninggal dunia boleh dihidupkan semula ke alam dunia adalah satu keyakinan yang dusta dan amat jelas bertentangan dengan nas al-Quran. Allah SWT menegaskan bahawa roh mereka yang telah meninggal dunia itu akan tetap berada di alam barzakh sehingga pada hari Qiamat. FirmanNya :

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ﴿٩٩﴾ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿١٠٠﴾

Kesudahan golongan yang kufur engkar itu apabila sampai ajal maut kepada salah seorang di antara mereka, berkatalah ia : Wahai Tuhanku, kembalikanlah daku (hidup semula di dunia); supaya aku mengerjakan amal-amal yang soleh dalam perkara-perkara yang telah aku tinggalkan”. Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata yang dia sahaja yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka ada alam barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari Qiamat)”. (Al-Mukminun : 99-100)

3. Menganggap Imam-Imam mereka maksum

Diantara doktrin utama golongan Syiah adalah kepimpinan umat Islam sepatutnya berada di tangan Saidina Ali kwj dan keturunannya setelah wafatnya Rasulullah saw. Dari doktrin ini wujudlah 12 orang Imam bermula dari Saidina Ali sehinggalah yang terakhir iaitu Muhammad bin Hassan Al-‘Askari.

Imam Khomeini pemimpin revolusi Iran yang menjadi idola bagi negara Syiah Iran dan kelompok Hizbullah di Lubanan beranggapan bahawa Imam-Imam mereka lebih mulia daripada para Malaikat dan Nabi-Nabi. Kata-katanya yang sesat itu telah ditulis dalam kitabnya yang masyhur iaitu Hukumat Al-Islamiyyah seperti berikut:

Sesungguhnya Imam-Imam kita mempunyai satu kedudukkan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh Nabi yang di utus ”

Diriwayatkan juga daripada Jaafar As-Sadiq :

Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Aku mengetahui apa yang ada di Syurga dan di Neraka. Aku mengetahui ilmu tentang zaman silam dan ilmu tentang zaman akan datang ”. (Usul Kafi, jilid 1 : 261)

Komentar

Tidak terdapat nas sama ada dari Al-Quran dan Hadis yang menyokong iktikad mereka. Malah ini adalah satu kepercayaan yang jauh menyeleweng, kufur, sesat dan khurafat serta tidak boleh diterima olah akal yang waras.

Kesimpulan

Melihat tingkah laku Syiah di Iraq yang semakin menjadi-jadi dan bermaharajalela selepas kejatuhan Saddam Hussein, masjid-masjid puak sunnah di bakar, ulama-ulama sunnah dibunuh, kampung-kampung mereka di bom, seolah-olah puak Sunnah mahu dihapuskan dari bumi Iraq, Prof. Dr. Yusof Al-Qardhawi, seorang ulama besar Islam yang sering mengumandangkan seruan ke arah taqrib (pendekatan) bagaikan hilang sabar.

Prof. Dr. Yusof Al-Qardhawi

Dalam satu kenyataannya semasa menutup Muktamar Antarabangsa Pendekatan Antara Mazhab, beliau berkata,

Tidak mungkin berlaku pendekatan jika Syiah masih terus berpegang dengan akidah yang mencela sahabat r.a…. ”

Katanya lagi,

Tidak mungkin boleh berlaku pendekatan antara orang yang mengatakan Umar r.anhu (semoga Allah meredhainya) dengan orang yang mengatakan Umar la’nahullahu (semoga allah melaknatnya). Atau antara yang mengatakan Aisyah radhiallahu ‘anha (semoga Allah meredhainya) dengan orang yang mencaci dan menghinanya dngan tuduhan yang sangat keji.

Wallahualam.

Di kuliahkan,
Di sekitar Masjid dan Surau daerah Seremban.
Surat tauliah JMKNNS.M.01-10/6(23)

______________________________________________

Dinukil dari,

  1. Mohd Yaakub Mohd Yunus, Kenapa Kita Perlu Menolak Syiah, Majalah i Mac 2007
  2. Zain Y.S , Syiah dan Sahabat Rasulullah saw, Majalah i Mac 2007
  3. http://www.islam.gov.my/e-rujukan/syiah.html
  4. http://www.darulkautsar.com/pemurnianaqidah/syiah/bahayasyiah.htm
  5. Dr. Mohd Asri Zainal Abidin, Pertelingkahan Para Sahabat Nabi saw: Antara Ketulinan Fakta Dengan Pembohongan Sejarah , Pustaka Yamien Sdn Bhd, Kuala Lumpu 2002.

SYIAH DI MALAYSIA & KESANNYA KEPADA UMAT ISLAM


Oleh: Ustaz Fadlan Mohd Othman
Pensyarah Jabatan Pengajian al-Quran & al-Sunnah, Fakulti Pengajian Islam, UKM


Berkenaan dengan Syiah di Malaysia dan kesannya kepada umat Islam, dapatlah saya bahagikan jawapan saya kepada beberapa fasa seperti berikut:

Fasa pertama; Apakah yang dimaksudkan dengan Syiah?

Menjadi kebiasaan para ulama, apabila membicarakan perihal sesuatu perkara, mereka akan meletakkan definisi atau pengertiannya dari dua sudut utama iaitu Bahasa Arab dan Istilah. Tujuannya adalah supaya perbahasan dan perbincangan menjadi jelas dan terarah.

Di dalam Bahasa Arab, Shi’ah bererti penolong dan pembantu.

Manakala dari sudut Istilah pula, dapatlah dirumuskan bahawa;

Shi’ah adalah satu kumpulan manusia yang dinisbahkan kepada umat Islam, mengutamakan Ali r.a. terhadap para Sahabat yang lain dan mengutamakan keluarga Rasulullah s.a.w. yang terpilih sahaja di samping membawa kepercayaan yang menyeleweng dan terpesong berkenaan perkara-perkara asasi dalam Islam seperti ketuhanan, kenabian, al-Imamah (pemerintahan), pendirian berkenaan para sahabat, dan juga para isteri Rasulullah s.a.w. (Definisi secara terperinci dapatlah dirujuk dalam: Hukum Ulamak2 Islam Terhadap Shiah Dahulu dan Sekarang, karangan Ibnu Umar. Kuala Lumpur: Virtue Publications. Cetakan 1987. Halaman 9.)

Golongan Shi’ah terbahagi pula kepada beberapa kelompok iaitu kelompok yang melampau, pertengahan dan ikut-ikutan.

Kelompok yang melampau adalah kelompok yang menyeleweng dan mempertikaikan perkara-perkara dasar dalam Islam seperti mengatakan bahawa al-Qur’an telahpun diselewengkan oleh para Sahabat r.a., Ali lebih hebat daripada Rasulullah s.a.w., ‘Aishah isteri Rasulullah adalah penzina, Abu Bakr dan Umar adalah penjenayah, mencerca para Sahabat dan menganggap kebanyakan mereka fasiq atau murtad. Cendekiawan di kalangan kelompok inilah yang dihukum sesat dan kufur oleh ulama muktabar dalam Islam. Kelompok ini dikenali sebagai, al-Imamiyyah @ al-Ithna ‘Asyariyyah @ al-Ja‘fariyyah.

Kelompok yang pertengahan pula adalah kelompok yang dikenali sebagai Zaidiyyah yang walaupun berbeza dengan Umat Islam tetapi tidak melampau seperti kelompok pertama.

Adapun kelompok ikut-ikutan pula, mereka adalah yang mengaku Shi’ah tetapi tidak mengetahui ajaran-ajaran Shi’ah.

Fasa kedua; Adakah wujud perbezaan antara Shi’ah dan Ahlus Sunnah?

Sebelum meneruskan perbincangan, perlu rasanya dijelaskan apakah yang dimaksudkan dengan Ahlus Sunnah. Perkataan ‘Ahl’ dari sudut Bahasa Arab bererti ahli manakalah perkataan ‘Sunnah’ dari sudut Bahasa Arab bererti jalan dan cara. Melihat kepada sudut Istilah, Ahlus Sunnah membawa erti orang yang berpegang dengan manhaj dan cara pelaksanaan Islam yang dipelopori oleh Rasulullah s.a.w.

Sememangnya daripada penjelasan ringkas di atas, kita sudah dapat melihat perbezaan di antara Shi’ah dan Ahlus Sunnah. Akan tetapi untuk menjadikannya lebih nyata dan terang, marilah sama-sama kita melihat jadual berikut yang menjelaskan sebahagian pegangan Syiah yang sesat dan menyeleweng:

Syi’ah Ahlus Sunnah
Al-Qur’an telahpun diselewengkan oleh para Sahabat r.a. Al-Qur’an terpelihara daripada sebarang penyelewengan
Ali lebih hebat daripada Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w. lebih hebat daripada sekelian makhluk
‘Aishah isteri Rasulullah adalah penzina ‘Aishah isteri Rasulullah adalah suci dan merupakan Ibu kepada orang-orang yang beriman
Abu Bakr dan Umar adalah penjenayah Abu Bakr dan Umar adalah sebaik-baik umat Islam selepas Rasulullah s.a.w. dan para nabi dan rasul
Mencerca kebanyakan para Sahabat dan menghukum mereka adalah fasiq dan murtad Menghormati para Sahabat dan mempercayai mereka dipuji oleh Allah Ta’ala

Fasa ketiga; Apakah Syiah bahaya?

Melihat kepada perkataan ‘bahaya’, sebenarnya kita boleh bahagikan kepada dua situasi. Pertama, bahaya terhadap agama dan kedua, bahaya terhadap keselamatan.

Berkenaan bahaya Syiah terhadap agama, berdasarkan sedikit maklumat yang telahpun saya utarakan sebentar tadi, kita dapat merumuskan bahawa Syiah memang merbahaya dan menjadi antara ancaman utama yang menggugat kesucian Islam yang berteraskan al-Qur’an dan al-Sunnah al-Sahihah. “Bahaya” dari sudut ini jauh lebih besar daripada bahaya dari sudut keselamatan. Bahaya dari sudut keagamaan inilah yang menuntut pihak berwajib untuk bangkit menjelaskan penyelewengan yang ada pada aliran Syiah ini samada dalam bentuk seminar, wacana, forum mahupun debat atau muzakarah antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Jika perkara ini dapat direalisasikan, masyarakat akan mendapat maklumat seimbang di antara kebenaran dan kebatilan, seterusnya dapat membuat penilaian dan pilihan yang sewajarnya.

Manakala bahaya Syiah terhadap keselamatan pula, perkara ini sebenarnya merujuk kepada kadar ketaksuban mereka yang beraliran Syiah. Setakat ini, menurut pandangan saya, Syiah di Malaysia masih belum menimbulkan apa-apa kekacauan. Ini mungkin dapat dilihat dari sudut sifat masyarakat Malaysia yang sememangnya lemah-lembut. Ertinya, “Bahaya kepada keselamatan” adalah perkara yang cukup subjektif. Mana-mana kumpulan dan aliran pun berpotensi menjadi bahaya apabila sebahagian daripada mereka yang kurang ilmu bertindak menjangkau ajaran dan garis panduan pemimpin mereka. Jika ini berlaku, perlulah dibezakan antara individu yang tersilap dengan doktrin ajaran yang dijunjung. Ketelanjuran yang mungkin berlaku tidak semestinya menggambarkan kepincangan doktrin, sebaliknya hanyalah menunjukkan kelemahan kawalan semangat dan emosi si pengikut.

Sebagai penutup, ingin saya tekankan bahawa segala bentuk penyelewengan dalam kepercayaan dan pegangan Islam perlulah ditangani dan dibanteras secara berhemah dan penuh ilmiah. Umat Islam harus dididik atas dasar “Basirah” iaitu kekuatan hujjah yang yang nyata. Allah Ta’ala telah berfirman (Yusuf 12:108):

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada termasuk orang-orang yang musyrik.

Justeru, umat Islam haruslah memulakan proses pemantapan Aqidah dengan menyelami ayat-ayat al-Quran berpandukan tafsiran absah para ulama muktabar, seiringan dengan pengamatan hadith-hadith Rasulullah s.a.w. berdasarkan huraian tepat ulama Ahlus Sunnah yang menitik beratkan kesahihan fakta dan kesucian ajaran Islam. Seterusnya, harus wujud sekumpulan cendekiawan atau ilmuan yang dapat menjelaskan kepada masyarakat dan membezakan antara kesucian ajaran Islam dan kedurjanaan penyimpangan doktrin menyeleweng. Semoga Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran dan memudahkan kita melaksanakannya, juga memperlihatkan kepada kita kebatilan dan memudahkan kita menjauhinya. Aamiin.

PENDUSTAAN SYIAH DI DALAM SEJARAH ISLAM


PENGENALAN

Ulamak ilmu jarh wa ta’dil (penilaian keadilan perawi hadith) telah bersetuju secara keseluruhannya bahawa fenomena pembohongan di kalangan syiah adalah lebih menonjol dan ketara berbanding dengan kelompok-kelompok yang lain. Kitab-kitab ilmu jarh wa ta’dil yang masyhur seperti kitab-kitab Imam Bukhari, Ibnu ‘Adi, Ibnu Mu’ien, Ad-Daruquthni dan lain-lain penulisan mereka yang berikhtisaskan hal ehwal sanad periwayatan, secara nyata membuat kesimpulan bahawa, pembohongan oleh syiah adalah yang paling banyak di kalangan ahli qiblat. Bahkan muncul pepatah yang berbunyi ‘lebih pembohong dari rafidhi (syiah)’ sebagai mengisyaratkan kepada betapa seseorang itu sangat kuat berdusta.

Sebagai contoh, Abu Muawiyah Ad-Dharir Al-Kufi berkata, aku telah mendengar Al-A’masy menyebut, “…aku telah menemui orang ramai dan tidaklah mereka menamakan syiah itu melainkan sebagai para pendusta.” (lihat : Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16). Al-Khatib Al-Baghdadi juga pernah meriwayatkan dengan sanad kepada Ibnu Al-Mubarak, beliau berkata, “Abu ‘Ismah telah bertanya kepada Abu Hanifah : daripada siapakah kamu memerintahkan aku supaya mendengar (untuk mengambil dan meriwayatkan hadith)?” Abu Hanifah menjawab, “Daripada setiap mereka yang adil pada hawa nafsunya melainkan syiah, kerana sesungguhnya usul aqidah mereka adalah menghukum sesat para sahabat Muhammad SAW”. (lihat : Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi ms. 203).

Bahkan Hamad bin Salamah telah berkata, “telah berkata syeikh mereka (syiah) bahawa: Sesungguhnya jika kami berkumpul, kami akan memperelokkan satu-satu riwayat dan kemudian kami jadikan ia sebagai hadith!” (lihat: Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16). Selain itu, Yunus bin Abdul A’la telah berkata, “Asyhab telah berkata: Imam Malik telah ditanya pendapatnya mengenai syiah rafidhah”. Imam Malik menjawab, “janganlah kamu bercakap dengan mereka dan jangan meriwayatkan apa-apa dari mereka. Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.” (lihat: Al-Muntaqa oleh Adz-Dzahabi, ms. 21). Harmalah juga pernah bekata, “aku mendengar Imam Asy-Syafie berkata: aku tidak pernah melihat seseorang membuat kesaksian palsu selain daripada syiah ar-rafidhah”. (lihat : Al-Kifayah fi ‘Ilmi Ar-Riwayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi ms. 202).

Lebih jauh daripada itu, syiah telah menjadikan pendustaan sebagai syiar mereka lalu diimejkan jenayah itu dengan imej keagamaan dengan menamakannya sebagai ‘Taqiyyah’. Misalnya mereka berkata, “Tiada iman bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah” Kalam ini mereka nisbahkan kepada Muhammad Al-Baqir sebagai pengkhianatan dan pencelaan ke atas Al-Baqir. (lihat: Al-Kafi fil Usul oleh Al-Kulaini, bab At-Taqiyyah juzuk 2 ms. 19).

ALUL BAYT DAN PEMBOHONGAN SYIAH

Pembohongan syiah bukan sahaja mendapat komentar oleh para ulamak hadith dan lain-lainnya, bahkan turut diulas oleh Saidina Ali RA dan para Alul Bayt sendiri. Misalnya, Abu Amr Al-Kasyi menyebut di dalam kitab Ar-Rijal, “Abu Abdillah (iaitu Jaafar As-Sadiq) telah berkata: sesungguhnya kami Alul Bayt adalah orang-orang yang benar, tetapi kami tidak bebas dari terkena pendustaan ke atas kami. Lantas kebenaran kami telah gugur disebabkan oleh pendustaan mereka ke atas kami di kalangan manusia. Rasulullah SAW adalah sebenar-benar insan tetapi Musailamah telah mendustainya, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib adalah orang benar selepas Rasulullah SAW dengan kesaksian daripada Allah tetapi dia telah didustakan oleh Abdullah bin Saba’ -Laknatullah ‘Alaih-. Manakala Abu Abdillah Al-Husein bin Ali pula telah ditimpa bencana Al-Mukhtar (Ats-Tsaqafi). ..Manakala Ali bin Al-Husein pula telah didustakan oleh Abdullah bin Al-Harith Asy-Syami dan Bannan… begitu juga dengan Al-Mughirah bin Said serta As-Sirriey dan Abu Al-Khattab…” Lantas beliau menyambung, “… laknat Allah ke atas mereka semua, dan kami juga tidak terlepas dari didustakan oleh pendusta. Cukuplah Allah (sebagai pelindung kami) dari bencana sekalian pendusta, semoga Allah merasakan ke atas mereka kepanasan besi yang terbakar”. (lihat: Ar-Rijal oleh Al-Kasyi ms. 257).

Sesungguhnya golongan syiah telah mencipta banyak hadith dan riwayat palsu yang bertepatan dengan kehendak hawa nafsu mereka sebagaimana mereka mencipta hadith palsu di dalam bab kelebihan Ali dan Alul Bayt. Mereka juga mencipta banyak nas palsu untuk mencela pada sahabat RA khususnya Abu Bakar RA dan Umar Al-Khattab RA. (lihat contohnya di dalam Syarh Nahjil Balaghah oleh Ibnu Abi Al-Haddad, juzuk 2 ms.135). Syiah juga mencipta hadith palsu untuk menghina Muawiyah RA. Satu contoh mudah adalah hadith yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW kononnya Baginda berkata, “jika kamu melihat Muawiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah dia” (lihat: Al-Alie’ Al-Masnu’ah fi Al-Ahadith Al-Maudhu’ah oleh As-Sayuti, juzuk 1 ms. 323) Bukan sahaja di dalam membahaskan tentang Ali RA dan Muawiyah RA, bahkan syiah juga mencipta banyak pembohongan terhadap para sahabat RA yang lain. Jika mereka berani untuk mendustakan Nabi SAW maka seudah tentulah pembohongan ke atas selain Baginda itu jauh lebih mudah bagi mereka.

IBNU TAIMIYAH DAN SYIAH

Penulisan Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Minhaj As-Sunnah adalah di antara penulisan yang paling baik di dalam proses mendedah dan menyingkap perancangan dan taktik syiah merosakkan kesucian Islam di dalam masalah aqidah, hadith, fiqh dan sejarah. Katanya, “… sesungguhnya ahli ilmu telah bersepakat dengan naqal,, riwayat dan isnad bahawa syiah itu adalah sedusta-dusta kaum, pembohongan di kalangan mereka telah begitu lama, dan sebab itulah para imam dan ulamak Islam mengenali mereka sebagai kelompok yang beridentitikan ‘kaki dusta’” (lihat: Minhaj As-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah juzuk 1 ms. 16).

Minhaj As-Sunnah karangan Ibnu Taimiyah - Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim

Jika dibuat penelitian terhadap riwayat-riwayat yang dipelopori oleh syiah, kita akan menemui kesimpulan bahawa golongan ini tidak pernah memperincikan hadith- hadith mereka kepada soal amanah, ‘adalah (keadilan perawi) dan penjagaan serta hafalan. Kitab-kitab muktabar mereka seperti Al-Kafi dan sebagainya, penuh dengan riwayat-riwayat yang disanadkan kepada sedusta-dusta perawi. Ini adalah kerana, pertimbangan kesahihan riwayat mereka hanyalah berpaksikan kepada sikap taasub, hawa nafsu dan kebencian mereka terhadap kepimpinan dan ulamak Islam. Jelas sekali mereka tidak menerima riwayat melainkan ia dibawa oleh perawi yang semazhab dengan mereka, iaitu cukup dengan kedudukan perawi itu seorang syi’e imami. Tidak menjadi soal sama ada perawi itu seorang yang teliti atau lalai, benar atau pembohong, mereka tidak menilai riwayat-riwayat dengan satu kaedah ilmiah sebagaimana yang kita lihat di kalangan ulamak Ahli Sunnah Wal Jamaah. Kaedah ini adalah intisari terpeliharanya ajaran Islam bahkan dikagumi oleh pengkaji- pengkaji barat seperti Margolioth dan lain-lain. Seringkali apabila ditanya siapakah perawi hadith ini, syiah akan menjawab, ia diriwayatkan oleh Al-Husein, Al-Baqir atau Musa Al-Kadzim… maka muktamadlah ia. (lihat: Asy-Syiah fi ‘Aqa’idihim wa Ahkamihim oleh Amir Muhammad Al-Kadzimi Al-Qazwini ms. 6, dinaqalkan dari Wa Jaa’a Daurul Majus oleh Dr. Abdullah Al-Gharib ms. 121)

Ibnu Taimiyah ketika membantah dakwaan Ibnu al-Muthahhar Al-Hulliy Ar-Rafidhi yang mendakwa di dalam kitabnya Minhaj Al-Karamah bahawa perawi-perawi syiah adalah tsiqah, beliau berkata,

“.. Kami (ahli sunnah dan hadith) mengkritik perawi-perawi kami dari kalangan ahli sunnah tanpa membuat sebarang penambahan. Kami mempunyai tulisan yang banyak sekali untuk menilai sama ada mereka adil atau dhaif, benar atau lalai, dusta atau keliru. Kami tidak menyokong mereka secara batil sebagai usul walaupun dengan kesalehan dan keelokan ibadat mereka. Bahkan kami menggugurkan periwayatan mereka sebagai hujah sekiranya mereka banyak melakukan kesilapan di dalam meriwayatkan hadith dan lemah ingatan walaupun mereka itu terdiri daripada wali-wali Allah. Sedangkan kalian (syiah) menetapkan seorang perawi itu sebagai tsiqah (berkepercayaan) hanya kerana dia seorang syiah imami, tanpa mengira dia itu seorang yang pelupa atau kuat ingatan, berdusta atau bercakap benar. Dengan itu penuhlah di tangan kalian berita dan khabar lisan kalian yang berdusta atau tidak diketahui kesahihannya. Sama perihalnya dengan Ahli Kitab Yahudi dan Kristian dengan pendustaan syiah Ar-Rafidhah sebagai perbandingan…”

“… Kami mengetahui bahawa Khawarij itu lebih jahat daripada kalian, tetapi walaupun begitu kami tidak menuduh mereka sebagai pendusta. Ini adalah kerana kami telah  pun menguji mereka dan jelasnya mereka itu bercakap benar. Maka bagi mereka itu apa yang benar dan ke atas merekalah kesalahan-kesalahan yang dilakukan.Sedangkan di sisi kalian, yang benar itu dianggap seperti titik hitam yang keji…! Sedangkan Ahli Sunnah dan Hadith tidak merestui pembohongan walaupun ia boleh memberikan keuntungan pada hawa nafsu. Lihat sahaja berapa banyak riwayat mengenai kelebihan Abu Bakar, Umar, Uthman bahkan Muawiyah serta yang lain-lainnya di dalam hadith-hadith yang sanadnya diriwayatkan oleh  An-Naqqasy, Al-Qathi’ie, Ats-Tsa’labi, Al-Ahwazi, Abi Naiem, Al-Khatib, Ibnu Asakir dan lain-lainnya. Akan tetapi ulamak hadith tidak menerima sekiranya ada keterangan tentang berlakunya pendustaan di dalamnya bahkan jika pada isnad hadith itu ada sahaja seorang perawi majhul yang tidak diketahui perihalnya, maka hadith itu ditangguhkan penerimaannya. Sedangkan kalian (syiah) hanya mensyaratkan hadith di sisi kalian bahawa ia bertepatan dengan hawa nafsu biarpun ia umpama daging yang busuk mahupun lemak!” (lihat Al-Muntaqa oleh Adz-Dzahabi ms. 480)

IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH DAN SYIAH

Ketika mengulas tentang syiah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyatakan, “Manakala Ali bin Abi Thalib, hukum hakam dan fatwanya begitu tersebar sekali. Akan tetapi, semoga Allah membinasakan syiah, mereka telah merosakkan banyak daripada ilmunya (Ali bin Abi Thalib) dengan melakukan pendustaan ke atas beliau. Oleh yang demikianlah, anda dapati kebanyakan ashabul hadith dan ahlus sahih tidak berpegang kepada hadith dan fatwa Ali bin Abi Thalib melainkan jika ia datang melalui periwayatan Ahli Baytnya dan pengikut Abdullah bin Mas’ud.” (lihat : ‘A’lam Al-Muwaqqi’ien oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, juzuk 1 ms. 21)

Jelaslah kelihatan di dalam pengamatan kita, bahawa kebanyakan riwayat yang wujud mencela khilafah Amirul Mu’minin Uthman bin Affan RA. adalah daripada golongan syiah. Mereka tidak meriwayatkan berita-berita tentang peristiwa berkenaan daripada perawi yang menyaksikan kejadiannya, bahkan hanya mendengar daripada yang mendengar, berdusta dari yang berdusta. Dalam banyak keadaan juga, seorang perawi banyak meriwayatkan kejadian yang berlaku berpuluh tahun sebelum itu.

Berikut adalah pendapat para ulamak jarh wa ta’dil berhubung dengan beberapa orang perawi syiah terkemuka. Mereka adalah di antara pemilik riwayat-riwayat yang terdapat di dalam kitab sejarah yang utama seperi kitab Tarikh Ar-Rusul wal Muluk oleh Imam At-Thabari. Merekalah juga tokoh ahli akhbar (akhbariyyin) yang paling banyak menyumbang riwayat berhubung dengan fitnah yang berlaku di zaman Saidina Uthman dan Ali RA. Riwayat-riwayat berkenaan memperlihatkan pengolahan kisah dengan gambaran khusus untuk mereka menyebarkan propaganda syiah di awal-awal terasasnya sejarah Islam, selepas mereka menipu ramai manusia atas nama agama dan kecintaan kepada Alul Bayt!

Kita kemukakan tiga contoh perawi syiah yang merupakan antara perawi yang wujud di dalam periwayatan Tarikh At-Thabari. Penjelasan ini bertujuan untuk memperlihatkan  bagaimana mudarat yang telah syiah lakukan terhadap sejarah Islam. Mereka yang mahu melanjutkan pengetahun berhubung dengan perawi-perawi syiah, kitab-kitab ilmu jarh wa-ta’dil mempunyai banyak catatan berhubung dengan mereka. Bahkan terdapat juga buku yang mengumpulkan maklumat berhubung dengan perawi syiah secara khusus. Misalnya kitab Rijal Asy-Syiah fil Mizan oleh Abdul Rahman Abdullah Az-Zar’ie, cetakan Darul Arqam, Kuwait.

Abu Mikhnaf Lut bin Yahya

Abu Hatim berkata mengenainya : matruk (ditinggalkan -yakni tidak diambil periwayatannya). Ad-Darulquthni pula mengatakan bahawa beliau dhaif (lemah). Ibnu Mu’ien berkata: dia itu tidak dipercayai dan tidak mempunyai sebarang nilai.. Ibnu ‘Adie mengatakan bahawa beliau ini syiah pekat yang menjadi tuan punya kisah-kisah (akhbar) kaum itu. Adz-Dzahabi mengatakan bahawa beliau seorang ikhbari (ahli akhbar) yang cuai dengan periwayatannya serta tidak dipercayai.

Hisham bin Muhammad bin As-Saib Al-Kalbi

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Sesungguhnya beliau adalah pemilik hikayat-hikayat malam (samar) dan perihal nasab. Padaku tidaklah ada seorang pun yang mengambil hadith daripadanya. Ad-Darulquthni pula memberi komentar bahawa Al-Kalbi ini matruk. Ibnu Asakir mengatakan bahawa beliau ini syiah rafidhie yang tidak boleh dipercayai. Al-’Uqaili mengatakan bahawa padanya ada kelemahan (dari segi jarh wa ta’dil). Ibnu Al-Jarud dan Ibnu As-Sakan menyenaraikan Al-Kalbi di dalam kitab Ad-Dhu’afa (perawi-perawi yang dhaif) mereka. Al-Kalbi juga dicela oleh Al-Asma’ani.  Ibnu Hibban juga mengatakan bahawa beliau meriwayatkan daripada bapanya yang mana mereka berdua terkenal dengan kisah-kisah karut dan akhbar yang tidak diketahui asal-usulnya. Juga sangat melampau di dalam berpegang dengan mazhab syiahnya.. Ibnu Mu’ien berkata: beliau itu seorang yang tidak dipercayai, pendusta dan sering tercicir di dalam periwayatannya. Ibnu ‘Adie berkata: Hisham Al-Kalbi itu lebih terkenal dengan hikayat-hikayat malam (samar) dan setahu aku tidaklah ia mempunyai sebarang musnad bahkan  bapanya juga adalah al-kazzab (sangat pendusta). Adz-Dzahabi pula memberi komen: Hisham itu tidak boleh dipercayai.

Jabir bin Yazid Al-Ju’fie

Ibnu Mu’ien berkata : Jabir itu seorang yang sangat pendusta, hadithnya tidak ditulis dan tiada kemuliaan baginya. Zaidah bin Qudamah Ats-Tsaqafi Al-Kufi berkata : sesungguhnya Al-Ju’fie itu demi Allah seorang seorang yang sangat pendusta dan beriman dengan akidah Ar-Raj’ah. Abu Hanifah pula menyebut : Di kalangan orang yang pernah aku temui, tiadalah yang lebih pendusta dari Jabir Al-Ju’fie. Tidaklah aku berikan dia satu-satu pendapatku melainkan ia akan mendatangiku dengan sesuatu yang telah ia lakukan kepada pendapatku. An-Nasa’ie berkata : matruk. Abu Daud pula berkata : Tiadalah sebarang kekuatan pada hadithnya (Al-Ju’fie) di sisiku. Asy-Syafie berkata :  Aku mendengar Sufian bin Uyainah berkata: Aku mendengar kalam Jabir Al-Ju’fie lantas aku segera menyembunyikan diri kerana bimbang kami akan ditimpa oleh bumbung! Yahya bin Ya’la pula menyebut : Aku mendengar Zaidah Ats-Tsaqafi Al-Kufi berkata : Jabir A-Ju’fie itu seorang syiah Ar-Rafidhie yang mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW. Ibnu Hibban pula memberikan komentarnya : Beliau (Al-Ju’fie) itu adalah saba’ie pengikut Abdullah bin Saba’. Beliau mempercayai bahawa Ali itu akan kembali ke dunia. Al-Jourjanie berkata : Beliau itu sangat pendusta.

Kesimpulan

Ketiga-tiga perawi tadi adalah pemegang kepada riwayat-riwayat utama berhubung dengan peristiwa fitnah di zaman Saidina Uthman RA yang terdapat di dalam kitab Tarikh Al-Umam War-Rusul oleh Imam At-Thabari. Merekalah yang bertanggungjawab terhadap riwayat-riwayat dusta yang memburuk-burukkan para sahabat Rasulullah SAW seperti Uthman bin Affan RA., Aishah RA. dan Muawiyah bin Abi Sufian RA. Kefahaman umat Islam terhadap beberapa peristiwa getir di zaman itu seperti Perang Jamal dan Siffin, Majlis Tahkim, pembunuhan Husein RA dan sebagainya, juga dicemari dengan riwayat-riwayat para pembohong seperti perawi yang telah kita sebutkan di atas.   Oleh yang demikian, amat penting bagi kita untuk membuat penilaian semula terhadap Sejarah Islam yang kita fahami selama ini. Mana-mana riwayat yang didapati bercanggah dengan kedudukan para Sahabat RA dan Baginda SAW sendiri, hendaklah dikaji semula dan dinilai berdasarkan kedudukan perawi yang meriwayatkannya.

Tahqiq Mawaqif As-Sahabah fil Fitnah min Riwayat Al-Imam At-Thabari wal Muhaddithin

Ini adalah anjuran Imam At-Thabari sendiri sebagaimana yang beliau nyatakan di dalam muqaddimah kitabnya Tarikh Al-Umam wal Muluk (Tarikh At-Thabari) yang masyhur itu; bahawa kesahihan riwayat-riwayat yang dikemukakannya hendaklah ditentukan dengan menilai sanad yang beliau sertakan pada hampir setiap riwayat. Janganlah nanti kerana menganggap kitab Tarikh At-Thabari itu muktabar, maka kita mengabaikan kaedah yang disyaratkan kepada mereka yang ingin mengambil manfaat daripada penulisannya itu. Sesungguhnya  semua ini berhajatkan kepada disiplin ilmu yang tinggi, maka janganlah nanti ada pula yang mencabuli kebenaran yang menjadi hak Allah tanpa ilmu pengetahuan yang nyata. Allah SWT berfirman:

“Dan ada di antara manusia yang membantah perkara-perkara yang berhubung dengan Allah SWT, tidak berdasarkan sebarang pengetahuan, dan ia menurut tiap-tiap syaitan yang telah sebati dengan kejahatan.” (Al-Hajj 22 : 3)

FirmanNya lagi:

“Dan ada di antara manusia yang membantah perkara-perkara yang berhubung dengan Allah SWT dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan, dan tidak berdasarkan sebarang keterangan atau Kitab ALlah yang menerangi kebenaran. Ia membantah sambil memalingkan sebelah badannya dengan sombong angkuh sehingga menghalang dirinya dan orang lain dari jalan agama Allah; ia akan beroleh kehinaan di dunia dan Kami akan merasakannya azab membakar pada hari kiamat kelak” (Al-Hajj 22 : 8-9)

_________________________________

Artikel asal: SaifulIslam.com

Artikel ini diterjemah dan disunting berdasarkan tesis PhD Dr. Muhammad Amahzun bertajuk “Tahqiq Mawaqif As-Sahabah fil Fitnah min Riwayat Al-Imam At-Thabari wal Muhaddithin” yang diterbitkan dalam bentuk buku oleh Dar At-Thayyibah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh.

%d bloggers like this: