TIMBANGAN DAN PERHITUNGAN AMAL


Oleh: KH. A. Zakaria

Manusia akan mengalami dua kali hidup dan dua kali mati. Mati yang pertama adalah sebelum kita hidup di dunia ini. Sedangkan kematian kedua adalah setelah kita hidup di dunia ini. Hidup yang pertama adalah kehidupan kita di dunia ini. Dan kehidupan yang kedua adalah setelah kematian kita dari kehidupan dunia ini. Kehidupan yang pertama adalah masa untuk menanam amal shaleh. Kehidupan kedua adalah untuk menerima balasan dari kehidupan pertama.

Sekarang adalah masa menanam amal shaleh untuk mati nanti. Orang kafir, menganggap hari ini adalah masa menanam. Nasib hari akhir nanti tergantung kepada tanaman hari ini. Orang yang tidak meyakini hari akhir tidak akan beramal, maka ia tidak berbuat apa-apa. Maka nanti di akhirat orang kafir terbelalak karena tidak mempunyai amal apa-apa. Maka tempat kembalinya adalah ke nereaka. Surga dan nereka adalah tempat kehidupan manusia yang kedua.

Ada beberapa kriteria manusia dalam memasuki neraka dan surga. Ada orang yang sudah dijamin surga dan mereka sudah diumumkan di dunia ini. Orang-orang ini diantaranya adalah sepuluh sahabat yang dijamin masuk sorga oleh Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam. Mereka ialah Abu Bakar radhiya alläh ‘anh, Umar bin Khatab radhiya alläh ‘anh, Utsman bin Affan radhiya alläh ‘anh, Ali bin Abi Thalib radhiya alläh ‘anh, Thalhah radhiya alläh ‘anh, Zubair bin ‘Awwan radhiya alläh ‘anh, Sa’ad bin Malik radhiya alläh ‘anh, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiya alläh ‘anh, dan Sa’id bin Zaid radhiya alläh ‘anh.

Manakala ada yang sudah di jamin untuk masuk surga, di sisi lain ada yang sudah pasti masuk neraka. Diantaranya adalah Abu Lahab. Al-Qur`an menyatakan:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab: 1-5)

Ada pula yang masuk surga namun harus dibersihkan terlebih dahulu dari dosa-dosanya. Ini adalah orang yang memiliki keimanan, namun ia banyak melakukan dosa. Manakalah dosa-dosanya telah dibersihkan dengan siksaan, maka ia akan memasuki surga.

Ada juga yang fifty-fifty (setengah-setengah). Kesalahan dan amal shalehnya sama. Mereka di tahan di al-A’raf. Mereka hanya diperliahatkan surga dengan kenikmatannya. Mereka pun ingin memasukinya. Esok harinya, ia diperlihatkan neraka, kemudian ia berlindung diri dari siksaan tersebut.

Ada yang menanam amal shaleh, namun ia juga menanam perbuatan zhalim, seperti akan dijelaskan di depan. Di samping itu ada pula yang menanam, namun ia pun berbuat syirik. Maka hancurlah amal kebaikannya.

Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Zumar: 65)

Ada juga orang yang beramal, namun asal beramal. Ia tidak selektif. Perbuatan amal ini tergolong bid’ah, fahua raddun (maka itu adalah tertolak), karena tidak ada SK; tidak ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah.
Mengenai catatan dan timbangan amal ini, al-Qur`an mengatakan:

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ (47)

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya: 47)

Timbangan Allah pada hari kiamat adalah adil. Tidak akan ada yang dizhalimi. Seluruh kebaikan dan keburukan akan diperlihatkan. Ayat ini harus menyadarkan kita bahwa perbuatan apa pun akan diperlihatkan Allah pada hari kiamat. Kita pun harus ingat bahwa setiap hari kita diingatkan dalam shalat dengan kalimat maaliki yaumiddin (Yang menguasai di hari Pembalasan).

Semua Orang Akan Diperlihatkan Catatan Amalnya

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا (48) وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu[883] (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun”. (QS. Al-Kahfi: 48-49)

Dalam ayat ini diperinci bahwa kita dihisab dengan datang berkelompok. Dalam ayat lain disebutkan bahwa datangnya kita kepada Allah adalah dengan furada (sendiri-sendiri). Ini tidak bertentangan. Memang bahwa kita akan berbaris, akan tetapi manakala menghadap kepada Allah adalah dengan sendiri-sendiri.

Pada hari itu, orang yang durhaka akan takut dan gemetar. Semua amalnya tercatat dengan rapi. Mereka mendapatinya dengan nyata di hadapan mata. Allah pun tidak akan menzhalimi mereka.

Katakanlah hari ini kita sedang main film; kita dishooting. Maka nanti rekaman kita akan diputar. Tentu tidak akan ada yang terlewat.

Semua Orang Akan Dipanggil Dengan Buku Catatan Amalnya

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (71) وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا (72)

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. Al-Isra: 71-72)

Tadi sudah disampaikan, bahwa kita akan dipanggil bersama dengan imamnya. Ada yang memahami bahwa nanti bagi yang bermazhab akan diminta pertanggung jawab dengan imamnya. Maka mereka akan ditanggung jawab oleh imam tersebut. Padahal, imam di sini adalah catatan amal shaleh, bukan pemimpin.

Imam itu bisa berarti pimpinan dan juga berari catatan amal. Seperti dalam surat Yaasin dikatakana: “Wa naktubu ma qaddamu wa atsarhum wa kulla sya`in ahsainahu fi imam mubin” (Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata). Ini jelas berarti catatan amal. Begitupula dalam surat al-Isra di atas adalaha catatan amal, bukan berarti pemimpin. Dalam ayat ini kalimat Imam berarti catatan amal diperkuat dengan kalimat “faman utiya kitabahu bi yaminihiI” (Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya).

Tentang Orang Yang Bangkrup

Di akhirat nanti, akan ada orang-orang yang pailit. Dalam hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ». (مسلم)

Dari Abu Hurairah radhiya alläh ‘anh, sesungguhnya Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrup?” Para shahabat menjawab: “Orang yang bangkrup diantara kami ialah orang yang tidak punya dirham (uang) dan tidak punya harta.” Maka Rasulullah shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Akan tetapi ia sungguh telah memaki seseorang, menuduh orang lain, makan harta yang bukan haknya, membunuh, dan memukul orang lain. Maka diambillah kebaikannya, kemudian diberikan kepada orang lain (yang pernah ia sakiti) dan juga kepada yang lainnya (yang pernah dizhalimi). Jika telah habis seluruh kebaikannya, sebelum diadili, maka diambil alihlah dosa-dosa yang dizhalimi dan diserahkan padanya sebagai ganti. kemudian ia diseret ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

Kesan di kita yang bangkrut adalah orang yang tidak punya apa-apa, berusaha gagal, dan di sana-sini banyak hutang. Padahal dalam pandangan Allah dan Rasulnya tidak demikian. Orang yang bangkrut adalah muflis. Mereka banyak menanam amal shaleh, namun ia pun banyak menzhalimi orang lain. Dalam hadits lain digambarkan bahwa nanti di akhirat ada seseorang yang amal shalehnya sangat banyak. Manakala setiap orang terpesona oleh banyak amal shalehnya, tiba-tiba ada orang yang pernah dizhaliminya di dunia meminta bayaran dengan amalnya. Apakah menceritakan keburukan orang lain, menyakiti, memakan harta orang lain, dan lain sebagainya akan diganti dengan amal shalehnya. Pada akhirnya, akan ada orang yang kezhalimannya belum lunas, sementara amal shalehnya sudah habis. Maka dosa orang yang dizhaliminya menjadi tanggungan dirinya.

Imam Bukhari pernah menyuruh pembantunya untuk membawa makanan kepada tamu. Sebelum sampai, apa yang dibawa pembantunya malah tumpah kepada diri Imam Bukhari. Maka imam Bukhari memarahinya. Namun, di tengah kemarahannya itu ia sadar, bahwa itu tidak benar. Maka pembantunya itu dimerdekakan. Ia tidak maus menzhalimi pembantunya, maka ia memerdekakannya.

Penilaian terhadap fisik masih dominan di antara kita. Untuk main bola, kemarin kita melihat ada dukungan yang penuh sampai digelar istigotsah. Dukungan istigotsah dikerahkan untuk kemenangan Timnas. Meskipun tidak ada hubungannya, acara itu dilakukan. Acara ini diadakan karena mendukung terhadap hal yang berkaitan dengan fisik.

Hisablah Amal Kita Selagi Masih di Dunia

قَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: “حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، وَتَأَهَبُّوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ عَلَى مَنْ لَا تَخْفَى عَلَيْهِ أَعْمَالُكُمْ

Dari ‘Umar radhiya alläh ‘anh, ia berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (nanti di hari kiamat) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah kalian untuk dihadapkan dalam peristiwa yang besar, yaitu dihadapkan kepada Dzat (Allah) yang tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya amal kalian. (Ibnu Katsir, Jilid 1, hlm. 25)

Di masyarakat kita yang baru berjalan adalah hisab badan dengan timbang badan. Seharusnya yang dihisab adalah amal. Bukan fisik semata. Shahabat Umar bin Khathab setiap malam hari melakukan muhasabah. Ia mengambil tongkat, kemudian memukulkannya terhadap anggota badan yang melakukan kezhaliman di siang harinya. Umar melakukan muhasabah dengan cara demikian. Kita tidak usah mengikuti caranya, yang penting adalah bagaimana melakukan muhasabahnya.

Mohon Maaf Selagai Masih Hidup

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا ، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ » (البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiya alläh ‘anh, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang pernah zhalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia minta dihalalkan (mohon maaf) dari perbuatan tersebut. Karena sesungguhnya pada saat itu tidak ada dinar dan tidak pula dirham, sebelum pahala kebaikannya diambil untuk saudaranya. Jika ia tidak mempunyai kebaikan, maka diambillah kejahatan-kejahatan saudaranya itu, dan dibebankanlah (dosanya) kepadanya. (HR. Imam Bukhari)

Zhalim adalah suatu penganiayaan. Zhalim dapat terjadi pada orang lain dan terhadap diri sendiri. Al-Bukhari menilai bahwa banyak perbuatan yang sederhana adalah perbuatan zhalim. Suatu kali, Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam mengambil sesuatu kemudian diberikan kepada orang yang ada di sebelah kanannya. Hal itu terus beliau lakukan, padahal di sebelah kiri ada Abu Bakar radhiya alläh ‘anh. Umar bin Khatab radhiya alläh ‘anh mengatakan: “Abu Bakar! Ya Rasulullah”. Nabi mengatakan: “Al-Aiman, al-Aiman” (yang sebelah kanan, sebelah kanan dahulu).

Di lain kesempatan Ibnu Abbas berada di sebelah kanan Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasululläh meminta izin kepada Ibnu Abbas radhiya alläh ‘anh untuk menggunakan sesuatu. Namun Ibnu Abbas yang masih kanak-kanak itu tidak mengijinkan. Maka Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam pun tidak memaksanya. ini baru kezhaliman kecil. Islam sangat memperhatikan untuk tidak berbuat zhalim, meskipun itu adalah kecil dan sederhana. Bila kita berbuat zhalim, maka seringlah melakukan pembebasan kezhaliman tersebut.

Empat Hal Yang Menjadi Inti Pertanyaan

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ». (الترمذي)

Dari Abu Hurairah radhiya alläh ‘anh, ia berkata: “Rasululläh shallallähu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak henti-henti kaki seorang hamba (berdiri) pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, sejauh mana ia telah mengamalkannya; tentang hartanya, dari mana ia mengusahakannya dan untuk apa ia membelanjakannya; dan tentang badannya, bagaimana ia menjadikannya hingga lusuh. (HR. Imam Tirmidzi)

Umur adalah anugerah Allah. Begitupula dengan ilmu, harta dan jasad adalah pemberian dari Allah. Namun, apakah sampai kita miliki adalah dengan cara yang benar? Dan apakah pula semua itu digunakan dalam hal yang benar? Hadits ini memberi peringatan dan catatan kepada kita mengenai perkara-perkara yang harus kita perhatikan. Maka hadits ini harus semakin memperkuat kesadaran kita untuk giat beramal.

Hindari perbuatan yang menghancurkan perbuatan amal kita seperti syirik, bid’ah dan kezhaliman-kezhaliman agar hisab dan timbangan amal shaleh kita ada dan menguntungkan.

(Yusup dari Jihad Persis di Viaduct)

Sumber: http://www.staipi-garut.ac.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: