KEBANGKITAN DARI TIMUR


Kita telah melihat hadist-hadist tentang Kebangkitan Islam kedua. Hadist-hadist itu menyebutkan janji Tuhan tentang kebangkitan Islam kedua di akhir zaman ini. Kita telah ketahui bahwa ciri-ciri zaman zekarang adalah telah memenuhi ciri-ciri akhir zaman. Kerusakan ada dimana-mana. Hampir semua aspek kehidupan manusia telah jauh dari Tuhan. Islam sudah tidak memiliki jati dirinya. Islam sudah dipandang sebelah mata oleh musuh-musuh Islam. Bukan karena besarnya musuh-musuh Islam, tapi karena lemahnya umat Islam itu sendiri. Kita telah ketahui bahwa banyak negara-negara Islam yang kaya raya, menjadi “ceti dunia” atau dengan kata lain negara donor. Tapi apa yang terjadi? Mengapa Islam tidak dipandang megah? Hal itu terjadi kerana umat Islam sudah seperti buih di lautan dan telah terkena penyakit Al Wahan. Seperti hadist Rasulullah SAW :

Rasulullah SAW bersabda: “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang makan dengan rakus.” Sahabat bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Rasulullah, “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah, “Karena ada dua penyakit yaitu mereka ditimpa penyakit Al Wahan.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu Al Wahan?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati”

Tetapi dengan keadaan seperti itu Tuhan berjanji melalui lidah Rasulullah bahawa Islam akan kembali bangkit untuk kedua kalinya di akhir zaman ini. Hadist Rasulullah SAW:

Dan telah mengeluarkan Abu Daud dan Tabrani dari Abdullah bin Mas’ud dari pada Nabi SAW sabdanya “Kalau tidak tinggal dari umur dunia kecuali sehari, nescaya Allah panjangkan hari itu sampai diutuskan kepadanya seorang lelaki (Al Mahdi) dari keluargaku sama namanya dengan namaku dan nama ayahnya dengan ayahku dan dia memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezaliman”.

Bagaimana pun kerosakan di dunia, Tuhan telah berjanji melalui Rasulullah SAW, Islam pasti akan kembali bangkit untuk kali keduanya.

Di hadist lain disebutkan bahawa :

Dan telah mengeluarkan Ibni Abi Syaibah dan Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan dan Ibnu Majah dan Abu Nu’aim dari Ibnu Mas’ud, katanya : “Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekelompok anak-anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihat akan mereka, maka kedua mata Rasulullah berlinang air mata dan wajah beliau berubah. Akupun bertanya : “Mengapakah kami melihat pada wajahmu, sesuatu yang kami tidak sukai?”. Beliau menjawab : “Kami Ahlul bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia, kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak, sampai datangnya suatu kaum dari sebelah Timur yang membawa bersama mereka panji-panji berwarna hitam. Mereka meminta kebaikan , tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kemenangan. Lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu, tetepi mereka tidak menerimanya hingga mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kedurjanaan. Siapa diantara kamu yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka walalupun merangkak di atas salji. Sesungguhnya dialah Al Mahdi.”

Telah mengeluarkan Tabrani dalam Al Ausat, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW telah mengambil tangan Ali dan bersabda :

“Akan keluar dari sulbi ini pemuda yang memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Pemuda dari Bani Tamim, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi”.(dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti)

Dari Tsauban R.A, dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, akan datang Panji Panji Hitam dari sebelah Timur, seolah olah hati mereka kepingan kepingan besi. Barangsiapa mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbaiatlah kepada mereka sekalipun merangkak diatas salju.(dikeluarkan dari Al Hasan bin Sofyan dari Al hafiz Abu Nuaim) (dari kitab Al Hawi lil fatawa oleh Imam Sayuti)

Sebelum Islam masuk, Nusantara adalah daerah beragama budha-hindu dan menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Lalu datanglah beberapa gelombang wali-wali yang langsung berasal dari timur tengah. Banyak ditemukan di beberapa negeri di Malaysia makam para wali-wali.

Jika kita perhalusi dan mengkaji lagi setelah Malaysia dijajah oleh penjajah saat itu yang salah satu misinya adalah mengkafirkan umat Islam di Nusantara, tetapi ternyata umat Islam dia Asia Tenggara tidak dapat di musnahkan, malah semakin membesar. Hal ini tidak terjadi di Afrika. Penjajahan di Afrika dapat mengubah agama di sana yang semula Islam menjadi bukan Islam.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa para wali atau yang disebut oleh ahli sejarah sebagai pedagang dari Hujarat itu datangnya ke Tanah Air, tidak ke China, ke Roma, atau Persia yang waktu itu menjadi Empire. Jawabannya adalah karena mereka menagih janji Tuhan melalui Rasulullah SAW bahwa Islam akan bangkit untuk kedua kalinya di bumi sebelah Timur. Hati mereka digerakan oleh Tuhan untuk mempersiapkan timur ini. Kita adalah orang Timur. Sebenarnya ini adalah kasih sayang Tuhan kepada kita. Hanya Melayulah bangsa yang belum pernah memegang kekuasaan dunia. Tetapi Tuhan menjanjikannya melalui Kebangkitan Islam kedua.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu. |Qs Fussilat 41: 53|

Wallahualm..

ANTARA SINAR DAN CAHAYA


Sumber Artikel: http://iffah-muhsin.blogspot.com/

Masa di mana ilmu metafizik tidak dapat membezakan di antara sinar dan cahaya, kita menemui konsep sains al Quran dalam masalah ini salah satunya Al Quran menerangkan tentang matahari. Al Quran mengilustrasikan matahari sebagai sinar dan menggambarkan bulan sebagai cahaya,ini adalah satu bentuk ayat wasfiyah,sebagaimana Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahayadan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Surah Yunus : 5)

Sinar adalah suatu yang terpancar langsung dari benda yang terbakar serta bercahaya dengan sendirinya manakala sinar ini jatuh pada benda yang gelap maka sinar tersebut akan memancar.

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاء بُرُوجاً وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجاً وَقَمَراً مُّنِيراً

Maksudnya: “Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang (buruj) dan menjadikan padanya siraaj dan bulan yang munir.” (surah al-Furqan ayat 61)

Hal yang sama ditekankan dalam surah al-Nabak ayat 13 yang bermaksud, “Dan Kami yang jadikan siraajan wahhaaja (iaitu matahari).”

Dalam surah an-Nuh ayat 15 hingga 16 pula Allah berkata, “Tidakkah Kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat dan Allah menciptakan pada langit-langit itu bulan sebagai nuur dan matahari sebagai siraaj.”Di dalam Hans Wehr: A Dictionary Of Modern Written Arabic, siraj diertikan sebagai ‘lamp’, ‘light’ yang bermaksud ‘pelita’, ‘lampu,. Makna wahaaja pula adalah burn, blaze, flame yang bermaksud membakar, menyala, berapi. Justeru matahari sebagai siraaj dan siraajan wahaaja mengeluarkan cahaya sendiri melalui proses tertentu yang berlaku di dalamnya.

Nuur diertikan sebagai brightness, gleam, glow yang bermaksud bercahaya, menyilau. Muniir pula diertikan sebagai luminous, radiant, shining yang bermaksud bercahaya, bersinar. Justeru bulan sebagai nuur dan muniir tidak mengeluarkan cahaya sendiri sebaliknya ia mamantulkan cahaya matahari yang menimpanya.

Ayat-ayat ini menjelaskan mengenai perbezaan antara matahari dan bulan dalam konteks cahaya yang dikeluarkan kedua-duanya. Mengikut al-Quran, matahari membakar dan dengan itu mengeluarkan cahaya sedangkan bulan hanya bersinar iaitu menerima dan memantulkan cahaya. Kiasannya adalah seperti lampu dan cermin, lampu mengeluarkan cahaya, sedangkan cermin hanya memantulkan cahaya.

Kenyataan ini adalah selari dengan penemuan sains semasa kerana matahari adalah sebuah bintang sedangkan bulan adalah satelit. Seperti bintang-bintang yang lain, kestabilan matahari dan sinaran cahaya yang keluar daripadanya bergantung kepada tenaga yang mampu dihasilkannya.

Perbezaan jelas antara sinar dan cahaya sudah diterangkan oleh Allah SWT 1400 tahun silam yang menjadi penegas bagi mukjizat sains Al Quran Al Karim.

Sebenarnya ilmu metafizik yang ada dalam kehidupan kita waktu ini merupakan akumulasi ilmu pengetahuan di kurun ke 21 tetapi baru beberapa tahun terakhir sahaja ilmu metafizik dapat membezakan di antara sinar dan cahaya.

Sumber: Quran Saintifik, Dr. Danial Zainal Abidin

SOLAT (RUKU’)


Oleh: Ustaz Ahmad Adnan Fadzil (http://fiqh-am.blogspot.com)

Apa hukum ruku’?

Ruku’ adalah wajib di dalam solat. Tidak sah solat tanpa ruku’. Seorang sahabat Nabi s.a.w. iaitu Huzaifah r.a. pada suatu hari ia melihat seorang lelaki menunaikan solat tanpa melakukan ruku’ dan sujud dengan sempurna. Maka ia berkata; “Engkau sebenarnya tidak mengerjakan solat. Jika engkau mati, engkau mati bukan di atas fitrah Nabi Muhammad s.a.w.” (Riwayat oleh Imam al-Bukhari).

Bagaimana melakukan ruku’ dengan sempurna?

  1. Sebelum menundukkan badan untuk ruku’, ucapkan takbir sambil mengangkat tangan –setentang bahu atau telinga-, kemudian barulah turunkan badan.
  2. Tapak tangan hendaklah mencapai lutut, jari-jari tangan direnggangkan antara satu sama lain dalam keadaan memegang lutut. Abu Humaid as-Sa’idi r.a. menceritakan; “Nabi tatkala ruku’, baginda menjadikan dua tangannya mencapai dua lututnya” (Riwayat al-Bukhari). Wail bin Hujrin r.a. menceritakan; “Nabi s.a.w. tatkala ruku’ baginda merenggangkan antara jari-jarinya dan tatkala sujud baginda menghimpunnya (yakni merapatkannya)” (Riwayat al-Hakim). Dalam hadis Ibnu ‘Umar r.a., Nabi memerintahkan; “Apabila kamu ruku’, letakkan dua tapak tanganmu di atas dua lututmu, kemudian renggangkan antara jari-jari tanganmu dan berikutnya tetapkanlah diri di dalam ruku’ itu hingga semua anggota berada di dalam posisinya” (Riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dalam soheh keduanya).
  3. Semasa ruku’, belakang badan hendaklah diratakan/disamakan dari punggung hingga ke kepala di mana kepala berada dalam keadaan selari dengan belakang; iaitu tidak ditinggi atau didongakkan dan tidak pula ditundukkan, akan tetapi pertengahan. Ini berdasarkan hadis ‘Aisyah r.a. yang menceritakan sifat solat Nabi s.a.w; “Apabila ruku’, Nabi s.a.w. tidak meninggi atau mendongakkan kepalanya dan tidak juga menunduknya, akan tetapi tengah-tengah antara keduanya (sehingga kepalanya kelihatan rata dengan punggung)”. (Riwayat Imam Muslim)
  4. Siku hendaklah dijauhkan dari rusuk. Abu Humaid r.a. menceritakan; “Nabi s.a.w. tatkala ruku’, baginda meletakkan dua tangannya ke atas dua lututnya seolah-olah memegangnya, menegangkan (yakni meluruskan) dua tangannya (yakni dari pergelangan hingga bahu-pent.) serta memisahkannya dari dua rusuknya” (Riwayat Imam at-Tirmizi. Hadis ini menurut Imam at-Tirmizi adalah hasan soheh).
  5. Ruku’ wajib dikerjakan dengan tomaninah iaitu berada di dalam keadaan tetap dan tenang di dalam posisi ruku’ di atas sebelum bangun darinya.
  6. Semasa ruku’ disunatkan membaca zikir-zikir yang warid dari Nabi terutamanya tasbih.

Apa makna Tomaninah? Apa hukum Tomaninah di dalam solat?

Tomaninah bermakna memastikan diri tetap, tenang dan tidak tergesa-gesa dalam sesuatu posisi solat sebelum berpindah ke posisi yang lain. Sekurang-kurang kadar tomaninah ialah sekali tasbih.

Hukum tomaninah adalah wajib semasa ruku’, I’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud. Sabda Nabi s.a.w. (tatkala baginda mengajar solat kepada seorang lelaki yang salah dalam mengerjakan solatnya); “…..kemudian (setelah membaca al-Quran) ruku’lah sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan ruku’ itu, kemudian bangkitlah dari ruku’ hingga badan kamu lurus/tegak berdiri, kemudian sujudlah sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan sujud itu, kemudian kamu bangkitlah dari sujud sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan duduk (antara dua sujud) itu. Seterusnya kamu lakukanlah sedemikian pada (rakaat-rakaat) solat kamu keseluruhannya” (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Nabi bersabda; “Tidak sah solat seorang lelaki yang tidak menetapkan tulang sulbinya semasa ruku’ dan sujud” (Riwayat Imam at-Tirmizi dari Abu Mas’ud al-Badari r.a.. Hadis ini menurut beliau; hasan soheh).

Apa hukum membaca tasbih ketika ruku? Berapakah bilangan Tasbih yang sebaiknya dan berapa had maksimanya?

Hukum bertasbih semasa ruku’ adalah sunat. Selain dari tasbih, harus dibaca zikir-zikir lain yang warid dari Nabi s.a.w. semasa ruku’. Sekurang-kurang bilangan tasbih –untuk mendapat pahala bertasbih semasa ruku’- ialah sekali. Lafaznya ialah,

“سبحان ربي العطيم” atau “سبحان ربي العطيم وبحمده”.

Namun bilangan yang sempurna ialah sekurang-kurangnya tiga kali. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. menceritakan;

Adalah Nabi s.a.w. apabila ruku’ baginda membaca;

“سُبْحَاْنَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ”

tiga kali dan apabila sujud baginda membaca;

“سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ”

tiga kali” (Riwayat Imam Abu Daud. Hadis ini dinyatakan oleh Imam as-Suyuti sebagai hasan. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, no. 6710)

Bagi yang bersolat sendirian, digalakkan memperbanyakkaan tasbih melebihi tiga kali iaitu lima, tujuh, sembilan sehingga sebelas kali. Jumhur ulamak mazhab Syafi’ie berpandangan; bilangan sebelas adalah yang maksima. Namun Imam as-Subki berpendapat; ia tidak terikat dengan bilangan tertentu. Siapa menghendaki ia boleh menambah seberapa banyak tasbih yang ia suka. Adapun orang yang menjadi imam, ia tidak digalakkan menambah terlalu banyak tasbih kerana dibimbangi memberatkan sebahagian makmumnya. Sebahagian ulamak berkata; memadai imam bertasbih tiga kali sahaja untuk memberi keringanan kepada makmumnya. Namun Ibnu al-Mubarak berpandangan; digalakkan imam bertasbih lima kali supaya makmum di belakangnya sempat bertasbih tiga kali. (Dalail al-Ahkam, 1/289).

Sunat bertasbih semasa ruku’ itu adalah pandangan jumhur ulamak. Ada di kalangan ulamak yang mewajibkannya, antara mereka ialah Imam Ahmad dan al-Hasan.

Adakah harus membaca al-Quran ketika ruku’?

Tidak harus kerana Nabi s.a.w. menegahnya dengan sabdanya;

Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca al-Quran ketika ruku’ atau sujud. Adapun di dalam ruku’, maka hendaklah kamu agungkan Tuhan kamu. Sementara di dalam sujud, hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, nescaya doamu pasti akan diperkenankan” (Riwayat Imam Muslim).

PERKARA BERHUBUNG MUALAMAT


MURABAHAH (JUALAN PENAMBAHAN UNTUNG)

Iaitu menyebutkan harga modal barang-barang yang dibeli kepada orang yang akan membeli dengan memberi syarat,supaya barang itu diberi untung.

Contoh 1:

Umpamanya seseorang berkata: “Barangku ini aku beli berharga RM100,sekarang berilah aku keuntungan 10%” lalu diterima oleh orang yang akan membeli.

-Maka penjual diatas mendapat untung RM10 dari modal belian beharga RM100.

Contoh 2:

Umpamanya seseorang berkata: “Saya jual rumah ini dengan harga yang saya beli dengan tambahan untung 10%”.

Contoh 3:

Umpamanya seseorang berkata: “Saya jual kepada anda sebagaimana saya beli serta untung satu dirham pada tiap-tiap sepuluh dirham” jawab pembeli itu,saya terima.

-Maka sahlah jualan itu.

Contoh 4:

Umpamanya seseorang berkata :”Aku hendak menjual barang-barangku yang telah kubeli, bila engkau mahu membeli barangku itu semua maka tiap-tiap 10 buah, engkau aku beri sebuah. Jadi yang dibeli adalah 9, sedangkan yang satu lagi adalah hadiah.”

WADI’AH (SIMPANAN)

Ertinya barang yang diserahkan (diamanatkan) kepada seseorang supaya barang itu dijaga dengna baik. Jadi barang Wadiah itu beerti barang amanat yang harus dikembalikan kepada orang yang empunya,bila ia datang meminta.

Firman Allah s.w.t:

وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ﴿٢٨٣﴾

Dan jika kamu berada dalam musafir (lalu kamu berhutang atau memberi hutang yang bertempoh), sedang kamu tidak mendapati jurutulis, maka hendaklah diadakan barang gadaian untuk dipegang (oleh orang yang memberi hutang). Kemudian kalau yang memberi hutang percaya kepada yang berhutang (dengan tidak payah bersurat, saksi dan barang gadaian), maka hendaklah orang (yang berhutang) yang dipercayai itu menyempurnakan bayaran hutang yang diamanahkan kepadanya, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah kamu (wahai orang-orang yang menjadi saksi) menyembunyikan perkara yang dipersaksikan itu dan sesiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya dan (ingatlah), Allah sentiasa Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan. – (Surah Al-Baqarah ayat 283)


Firman Allah s.w.t:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿٥٨﴾

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya) dan apabila kamu menjalankan hukum di antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhanNya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa Mendengar, lagi sentiasa Melihat. – (Surah An-nisa’ ayat 58)

BAI’USSALAM (PENANGGUHAN PENYERAHAN BARANG)

Perkataan Salam itu asal maknanya serah atau tangguh, maksudnya disini iaitu menjual sesuatu barang yang disifatkan kepada tanggungan seseorang yakni jual secara pesanan atau order(memesan barang).

Contoh 1: Umpamanya Zaid berkata kepada si Ali: “Buatkanlah saya satu seluar dari kain wool yang berwarna kuning muda, ukurannya 105cm panjang, 70cm pinggang, 25.5cm besar kaki, 43cm lebar pinggul, kocek belakang satu dan sebagainya dengan harga RM100.

Firman Allah s.w.t :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَ‌ٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِن تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٢٨٢﴾

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang piutang yang diberi tempoh hingga ke suatu masa yang tertentu maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa bayarannya) itu dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil (benar) dan janganlah seseorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah mengajarkannya. Oleh itu, hendaklah dia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu merencanakan (isi surat hutang itu dengan jelas) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah dia mengurangkan sesuatu pun dari hutang itu. Kemudian jika orang yang berhutang itu bodoh atau lemah atau dia sendiri tidak dapat hendak merencanakan (isi itu), maka hendaklah direncanakan oleh walinya dengan adil (benar) dan hendaklah kamu mengadakan dua orang saksi lelaki dari kalangan kamu. Kemudian kalau tidak ada saksi dua orang lelaki, maka bolehlah, seorang lelaki dan dua orang perempuan dari orang-orang yang kamu setujui menjadi saksi, supaya jika yang seorang lupa dari saksi-saksi perempuan yang berdua itu maka dapat diingatkan oleh yang seorang lagi dan jangan saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil menjadi saksi dan janganlah kamu jemu menulis perkara hutang yang bertempoh masanya itu, samada kecil atau besar jumlahnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih membetulkan (menguatkan) keterangan saksi dan juga lebih hampir kepada tidak menimbulkan keraguan kamu. Kecuali perkara itu mengenai perniagaan tunai yang kamu edarkan sesama sendiri, maka tiadalah salah jika kamu tidak menulisnya dan adakanlah saksi apabila kamu berjual beli dan janganlah mana-mana jurutulis dan saksi itu disusahkan dan kalau kamu melakukan (apa yang dilarang itu), maka sesungguhnya yang demikian adalah perbuatan fasik (derhaka) yang ada pada kamu. Oleh itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan (ingatlah), Allah (dengan keterangan ini) mengajar kamu dan Allah sentiasa Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (Surah Al-Baqarah ayat 282)

AL-IJARAH (UPAHAN)

Menurut istilah Bahasa Arab, kalimah Ijarah merujuk kepada bayaran yang diberikan kepada orang yang melakukan sesuatu kerja sebagai ganjaran kepada apa yang dilakukannya.

Contoh 1: Ahmad datang membawa sepotong kain kepada seorang tukang jahit untuk dibuat seluar,tukang jahit itu menjamin dalam pengakuannya,bahawa seluar tersebut akan selesai tempoh 3 hari. Setelah sampai waktunya,si Ahmad datang mengambil seluarnya dan menyerahkan wang sebanyak RM 50 kepada tukang jahit itu.

Firman Allah s.w.t :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ ﴿٢٦﴾ قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿٢٧﴾

Maksudnya: (26) Salah seorang di antara perempuan yang berdua itu berkata: Wahai ayah, ambillah dia menjadi orang upahan (mengembala kambing kita), sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah. (27) Bapa perempuan itu berkata (kepada Musa): Aku hendak mengahwinkanmu dengan salah seorang dari dua anak perempuanku ini, dengan syarat bahawa engkau bekerja denganku selama delapan tahun; dalam pada itu, jika engkau genapkan menjadi sepuluh tahun, maka yang demikian itu adalah dari kerelaanmu sendiri dan (ingatlah) aku tidak bertujuan hendak menyusahkanmu; engkau akan dapati aku Insya Allah, dari orang-orang yang baik layanannya. – Surah Al-Qasas – 26 – 27

AR-RAHNU (PAJAK GADAI)

Menjadikan harta benda sebagai jaminan atas hutang iaitu maksudnya menjadikan sesuatu barang sebagai cagaran bagi sesuatu hutang dan menjadi bayaran sekiranya tidak terdaya membayar hutang itu nanti.

Firman Allah s.w.t :

وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ﴿٢٨٣﴾

Maksudnya: “Dan jika kamu sedang dalam perjalanan (lalu kamu berhutang) dan tidak kamu peroleh orang yang akan menuliskannya maka boleh diserahkan saja jaminan yang dapat di pegang”. (Surah Al-Baqarah ayat 283)

Sabda Rasulullah s.a.w : Maksudnya :

Dari Aisyah r.a bahawa nabi s.a.w pernah membeli makanan dari seorang yahudi dengan cara berjanji dan  dirungguhkannya (digadaikannya) sehelai baju besi”. (Riwayat Al-Bukhari &Muslim)

AL-WAKALAH (BERWAKIL)

Ertinya seseorang yang menyerahkan sesuatu urusannya kepada orang lain pada apa yang boleh diwakilkan menurut syarak,agar orang yang diwakilkan itu dapat melakukan sesuatu yang diserahkan kepadanya Selagi yang menyerahkan itu masih hidup.

Al-Wakalah ini lebih berhubung dengan muamalat & munakahat seperti bab jual-beli dan bab perkahwinan dan lain-lain. Tidak sah mewakilkan sembahyang,puasa dan lain-lain hal yang bersangkut-paut dengan ibadah kecuali ibadah haji & umrah(kedua-duanya boleh diwakilkan),sebab ibadah itu adalah perhubungan manusia dengan tuhannya.

Firman Allah s.w.t :

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا ﴿٣٥﴾

Dan jika kamu bimbangkan perpecahan di antara mereka berdua (suami isteri) maka lantiklah “orang tengah” (untuk mendamaikan mereka, iaitu), seorang dari keluarga lelaki dan seorang dari keluarga perempuan. Jika kedua-dua “orang tengah” itu (dengan ikhlas) bertujuan hendak mendamaikan, nescaya Allah akan menjadikan kedua (suami isteri itu) berpakat baik. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui, lagi Amat mendalam pengetahuanNya. (Surah An-Nisa’ ayat 35)

AL-MUDHARABAH (BERKONGSI UNTUNG)

Pada bahasa ialah musafir untuk berniaga.

Firman Allah s.w.t :

عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٢٠﴾

Maksudnya :”Dia juga mengetahui bahawa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan yang lainnya orang-orang yang musafir di muka bumi untuk mencari rezeki dari limpah kurnia Allah dan yang lainnya lagi orang-orang yang berjuang pada jalan Allah (membela agamaNya). Maka bacalah mana-mana yang sudah kamu dapat membacanya dari Al-Quran dan dirikanlah sembahyang serta berikanlah zakat dan berilah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (ikhlas) dan (ingatlah), apa jua kebaikan yang kamu kerjakan sebagai bekalan untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah, -sebagai balasan yang sebaik-baiknya dan yang amat besar pahalanya dan mintalah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani..(Surah Al-Muzammil ayat 20)

Mudharabah juga dikenali dengan nama qiradh iaitu potong,kerana orang yang memiliki harta memotong sebahagian hartanya untuk diniagakan dengan harta itu.Mudharabah juga dikenali sebagai Mu’amalah yang dimaksudkan disini ialah aqad perjanjian yang dibuat oleh dua pihak:

Pihak pertama: Memberi sejumlah wang kepada pihak kedua supaya berniaga,dengan syarat keuntungan dibahagikan antara keduanya mengikut persetujuan sebagaimana yang dijanjikan seperti 1/2,1/3 dan seterusnya.

Pihak kedua: Berusaha atau berniaga dengan modal yang diberikan oleh pihak pertama mengikut segala syarat yang dipersetujui kedua pihak.

AL-QARDH AL-HASAN (HUTANG TANPA SYARAT/JANJI)

Ialah hutang tanpa syarat atau janji untuk membayar balik lebih daripada hutang tetapi memberi saguhati kepada tuan punya hutang semasa membayar,bukan kerana syarat atau janji.

Contoh 1: Seorang berhutang daripada seorang lain tanpa syarat atau janji sebarang bayaran lebih atau manfaat, semasa akad atau di luar akad atau sebelum hutang itu di jelaskan tetapi apabila menjelaskan hutangnya orang yang berhutang itu memberi saguhati atau hadiah kepada tuan punya hutang.

Contoh 2: Ali membayar hutangnya kepada Abu sebanyak RM50 beserta RM3 berupa saguhati.

AL-BAI BITHAMAN AJIL (JUALAN DENGAN HARGA TANGGUH)

Jualan dengan harga tangguh atau jualan dengan bayaran ansuran ialah menjual sesuatu dengan disegerakan penyerahan barang yang dijual kepada pembeli dan di tangguhkan bayaran harganya sehingga ke satu masa yang di tetapkan atau dengan bayaran beransur-ansur. Contohnya: Umpamanya kerusi antik, harga tunai RM2000, jika tangguh RM2200.

Rujukan & Petikan di ambil dari Kitab:

1) Kitab Matla’al Badrain-Syeikh Daud Fattani disusun oleh Ibnu Rahmat
2) Fiqh Syafie Jilid 2-Ustaz H.Idris Ahmad S.H.
3) Syarah Hadith 40-Khalil Ibrahim Mulla Khotir
4) Terbitan Sasbadi-Ustaz Hamil@Amir Abdul Hameed
5) Fiqh Muamalat & Jenayah/Fiqh 11 (PPJJ UKM)
i) Dr.Muhammad Hj Md Daud
ii) Dr.Ahmad Kamaruddin Hj Hamzah
6) Konsep Syariah Dalam Sistem Perbankan Islam
i) BIMB Institute Of Research And Traning Sdn. Bhd. (BIRT)

TEORI KERKAHAN BESAR DAN HARI KIAMAT


Artikel oleh : Natalia Sadiqova Ebrahimi


Al Quran telah membicarakan tentang hari kiamat dengan gambaran yang amat mengerikan. Allah berfirman:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya:“Mengapa bumi jadi begini?” (Az Zalzalah : 1-3).

Allah berfirman lagi tentang hari kiamat :

Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan (Al Qaariah : 4-5).

Pada hari kiamat, semua manusia yang telah mati akan dibangkitkan kembali dalam bermacam-macam keadaan seperti digambarkan didalam Al Quran :

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka ” (Az Zalzalah : 6).

Pada hari ini, hari kiamat bukanlah sekadar teori yang digambarkan oleh sebahagian ahli-ahli sains tetapi mereka meyakininya! !!

Hari kiamat bermaksud berakhirnya alam semesta yang maha luas ini. Ahli-ahli fizik dan kosmologi menyatakan keadaan berakhirnya alam semesta ini sebagai teori kerkahan besar (The Big Crunch).

Ahli-ahli fizik telah lama menyedari bahawa alam semesta ini sentiasa berkembang seperti sebiji belon yang ditiupkan oleh seseorang. Mereka mendapati galaksi-galaksi yang jauh saling bergerak menjauhi antara satu sama lain dengan kadarnya yang semakin pantas.

Pada tahun 1998, ahli-ahli astronomi telah mengkaji supernova-supernova yang jauh dan mendapati alam semesta semakin bergerak pantas mengembang. Mereka mengatakan terdapat sesuatu yang dipanggil tenaga hitam (Dark Energy) yang menyebabkan proses penolakan alam semesta. Sekaligus ia menyebabkan alam semesta mengembang dengan kadar yang semakin pantas.

Didalam teori tenaga hitam, proses pengembangan alam semesta dikatakan didorong oleh suatu medan yang disebut “scalar field”. Bahkan sejurus sahaja letupan besar berlaku medan inilah dikatakan menjadi faktor utama yang mendorong pengembangan alam semesta. Keadaan sejurus selepas berlakunya letupan besar (Big Bang) dinamakan sebagai infiniti.

Teori ini telah di bangunkan oleh seorang pengkaji fizik yang bernama Andrei Linde? dari Universiti Standford. Mengikut sesetengah ahli sains, kadar pengembangan alam semesta akan menjadi semakin perlahan sehingga mencapai suatu tahap yang dinamakan sifar (zero). Walaupun begitu mereka mempercayai alam semesta tetap lagi mengalami proses pengembangan selepas keadaan sifar. Namun teori ini mempunyai kelemahannya.

Mengikut Andrei Linde, alam semesta bukan sahaja akan berhenti proses pengembangannya sehingga mencapai ke tahap sifar, tetapi akan mewujudkan situasi yang dipanggil infiniti minus berdasarkan teori fizik kuantum. Keadaan infiniti minus (minus infinity) akan menyebabkan pengembangan alam semesta menjadi sebaliknya iaitu pengecutan dan menyebabkan fenomena ruang dan masa mengalami keruntuhan yang total.

Berdasarkan kajian sains, alam semesta pada ketika ini berumur dalam lingkungan 14 bilion tahun dan kemungkinan fenomena ini akan berlaku dalam jangkamasa 10 hingga 20 bilion tahun lagi. Ini bermaksud manusia pada hari ini berada ditengah-tengah zaman kehancuran alam semesta!

Sesetengah teori kosmologi menyatakan apabila berlakunya keadaan infiniti minus maka fenomena masa dan graviti akan berlaku secara berlawanan. Ini bermaksud masa akan kembali ke belakang dan graviti akan mempunyai daya yang bertentangan. Ahli-ahli fizik seperti Michael Berry, Thomas Gold, dan Stephen Hawking adalah penyokong kepada teori ini..

Allah swt berfirman :

Yaitu pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya” (Al Anbiyaa : 104).

Proses pengembalian masa ke belakang ini seumpama sebuah pita rekod yang merakamkan segala sejarah dan peradaban manusia.

Dan pada hari itu kamu lihat tiap-tiap ummat berlutut. Tiap-tiap ummat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan” (Al Jaatsiyah : 28).

Daya bertentangan graviti semasa berlakunya proses pengecutan alam semesta akan menyebabkan kesemua objek berjisim ditarik ke atas. Keadaan ini akan menyebabkan gempa bumi yang maha hebat dan gunung-ganang akan mengalami proses penarikan ke atas.

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur ” (Al Haaqqah : 13-14).

Proses keterbalikan graviti akan menyebabkan bumi memuntahkan segala isinya. Kesemua kandungan seperti larva yang panas dilapisan bawah bumi akan ditarik ke atas oleh kuasa graviti.

Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang beterbangan “(Al Maarij : 8-9).

Hari kiamat mampu dijelaskan melalui kaedah sains dan pada hari ini semakin ramai pengkaji yang meyakininya. Al Quran menjelaskan tiada sesiapapun yang mengetahui bilakah berlakunya hari kiamat. Namun kejadiannya dapat dijelaskan didalam teori kerkahan besar.

SUMBER
# Gambar hanyalah khayalan artis mengenai kejadian kemuasnahan alam semesta. Harap maklum.

Sesungguhnya orang yang beriman itu ialah orang yang apabila disebutkan Allah akan gementar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya (ayat-ayat Allah) akan bertambahlah iman mereka, dan kepada Rab (Tuhan) mereka bertawakal. (Surah an-Anfal: Ayat 2)

Wallahua’lam.

QURAN MENJELASKAN SISTEM PERTAHANAN BADAN DAN MINDA


Oleh: Pengkaji Al-Quran

Quran Menjelaskan Sistem Pertahanan Badan dan Minda

1) Pendahuluan

Alhamdulillah, bersyukur kehadrat Allah SWT serta selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, seluruh ahli keluarga baginda, para sahabat, para tabiin, mujahid, alim ulama, guru/ustaz, dan seluruh umat muslimin dan muslimat.

Alhamdulillah dengan izin Allah SWT kita dapat bertemu lagi. Kita sekarang sedang mengkaji ayat-ayat Al-Quran dari perspektif “Al-Quran dan ICT/sistem”, iaitu yang berasaskan “Al-Quran bi Al-Quran”, melihat Al-Quran sebagai “super-super computer” yang menyimpan 10 lautan-dakwat khazanan ilmu.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ ﴿٨١﴾

Dan Allah telah jadikan untuk kamu apa-apa dari dzilaalan yang telah Dia ciptakan. Dan Dia jadikan untuk kamu (bahan-bahan) dari bukit-bukau sebagai (bahan-bahan) penutupan (perlindungan dan keselamatan) , dan Dia jadikan untuk kamu pakaian untuk memelihara dari kepanasan (tenaga getaran) dan pakaian untuk memelihara(melindung) dari tenaga kekuasaan yang sangat hebat kamu (seperti pencemaran radiasi yang dilakukan oleh manusia), demikian itu Dia telah sempurnakan nikmatNya ke atas kamu semoga kamu menyerah diri (sentiasa menjadi selamat). An-Nahla 16:81

Ayat An-Nahl 16:81 menjelaskan serangan siber boleh berlaku bila-bila masa dan menyuruh umat Islam supaya sentiasa bersiap-sedia dengan membina sistem pertahanan dan keselamatan badan dan minda dari pancaran radioaktif dan elektromagnetik.

Kali ini kita mengkaji ayat An-Nahl 16:81 tentang ilmu dan teknologi “nano”, ilmu halus, ilmu quantum, dan bagaimana Al-Quran menyuruh umat manusia membina sistem pertahanan dan keselamatan diri dengan menggunakan bahan dari gunung-ganang seperti tanah-liat, granit, dsbnya. Ayat 16:81 ini mestilah dikaji bersama-sama dengan ayat Az-Zaariyat 51:1-11 dan ayat An-Nahl 16:48.

Ayat ini memang benar-benar membuktikan Al-Quran adalah Kalam Allah sebab kajian sains telah membuktikan kebenaran ayat ini iaitu bahan-bahan dari gunung-ganang seperti “bentonite clay” boleh menyahkan dan menutralkan pancaran radioaktif, elekmagnetik, dan sebagainya. Subhanallah!

2) Penjanaan Ilmu Baru = Penjanaan Ekonomi

Pada awal siri “Kajian Al-Quran” ini kita telah mengkaji ayat-ayat Az-Zaariyat 51:1-11 (tentang wireless communication) dan pada siri yang lepas ayat An-Nahla 16:48 menjelaskan tentang tenaga magnet “daakhirun” yang boleh menjana pelbagai jenis ikatan kimia (chemical bonding). Semua ini adalah dalam kategori ilmu-ilmu ghaib, ilmu-ilmu halus, atau nano atau quantum fizik. Ianya sudah lama diperjelas dalam Al-Quran, dengan begitu tepat dan terperinci.

Tidakkah ilmu-ilmu ini telah memberi kesan besar kepada penghidupan manusia? Tidakkah ilmu-ilmu ini adalah petunjuk, rahmah, dan berita gembira kepada umat Islam?

Kaji dan perhatikan kepada industri ICT, ianya sudah menjadi satu industri yang amat besar padahal hanya wujud sejak 50-60 tahun yang lepas. Industri baru ini telah membuka sumber ekonomi yang amat besar berjumlah beribu-ribu juta ringgit dan menyediakan peluang pekerjaan kepada beratus juta manusia. Sebab itu Allah SWT menyuruh umat Islam mengkaji ayat-ayat Quran kerana di dalam Al-Quran itu terdapat banyak “petunjuk, rahmah, dan kegembiraan kepada seluruh umat Islam”.

Malang sekali tidak ramai umat Islam yang mahu dan berminat untuk mengkaji ayat-ayat Quran dan mengeluarkan pelbagai ilmu hukum alam (laws of the universe) dan ilmu-ilmu yang dapat membolehkan mereka melakukan amalan solehan, melakukan penambah-baikkan, melakukan “continuous improvement” atau “kaizen” dalam bahasa Jepun seperti yang dituntut dalam Islam.

3) Al-Quran adalah Super-super Computer

Umat Islam tidak mahu mengkaji Al-Quran sebab ada segelintir para alim ulama mengatakan Al-Quran adalah kitab umum yang tidak menjelaskan segala-galanya. Mereka kata kitab Al-Quran tidak mampu berdiri dengan sendiri, kitab Al-Quran memerlukan kepada kitab-kitab lain (untuk menjelaskan isi kandungannya). Mereka skeptikal dan tidak yakin kepada Al-Quran.

Melalui pengalaman semakin dikaji, saya nampak kitab Al-Quran adalah juga kitab sains dan ICT, bukan sahaja kitab agama (solat, puasa, zakat, halal, haram, dsbnya). Kitab Al-Quran adalah kitab yang “hidup”, yang tahu segala permasalahan manusia dan sentiasa menyediakan jalan penyelesaian. Oleh itu para alim ulama agama seharusnya mengaplikasikan penemuan-penemuan baru ini ke dalam amalan kehidupan seharian.

Bahkan semakin mendalam kajian saya, saya yakin bahawa Al-Quran itu adalah super-super computer. Cuba kaji bahasa yang digunakan Al-Quran (bahasa arab), cuba lihat pada i’rabnya, pada wazannya, adakah ianya lebih mirip kepada bahasa manusia atau kepada bahasa komputer?

Mana ada bahasa manusia menggunakan i’rab dan wazan (yang sistematik dan berfungsi) selain dari bahasa Arab dan bahasa komputer? Tanpa i’rab, tanpa “parameter” sistem komputer tidak boleh berfungsi. Malah konsep “wazan” (how to treat the verbs) yang digunakan dalam Al-Quran (bahasa Arab) digunakan dalam “artificial intelligence”, “neuro-programming” dan “very advanced computing”. Konsep wazan tidak ada digunakan dalam bahasa-bahasa lain selain dari komputer!

Cuba fikir kenapa Allah menyuruh manusia mengkaji ayat-ayat Al-Quran dengan metod “Al-Quran bi Al-Quran”? tidakkah metod ini amat pintar dan genius? Cuba fikir bolehkah seseorang pilot memandu pesawat Boeing 787 dengan menggunakan buku panduan Airbus A383? Bolehkan seseorang pomen membaiki kereta Ferrari dengan menggunakan buku panduan Perodua Kancil?

Sudah tentu tidak, kalau memandu pesawat Boeing mestilah menggunakan buku manual Boeing juga, dan kalau mahu betulkan kereta ferrari mestilah menggunakan buku manual Ferrari juga. Begitulah juga dengan Kitab Al-Quran, kalau mahu memahami dan mengeluarkan ilmu dari Al-Quran mestilah menggunakan buku panduan Al-Quran juga (Al-Quran bi Al-Quran).

Mungkin juga betul pendapat alim ulama bahawa Al-Quran bergantung kepada kitab-kitab hadith, tetapi mungkin ianya dalam domain agama sahaja, seperti untuk mengeluarkan ilmu dan fatwa agama, seperti cara-cara solat, mengerjakan haji dan sebagainya. Namun pada hakikatnya Al-Quran adalah kitab yang lengkap dan sempurna, yang boleh berdiri dengan sendiri untuk menjana ilmu-ilmu petunjuk, ilmu-ilmu untuk membina kekuatan umat Islam, sistem pertahanan minda, dan sebagainya.

4) Ilmu Ghaib Hakiki vs Ghaib Subliminal

Kita sekarang sedang mengkaji ayat-ayat Quran yang menjelaskan tentang makhluk tersangat kecil yang tidak nampak oleh mata manusia, makhluk ghaib, atau “quantum fizik” iaitu seperti elektron, foton, atom, gelombang elektromagnetik, graviti, dan sebagainya. Benda-benda ini tidak dapat dikesan oleh pacaindera kasar manusia (iaitu di bawah tahap mampu manusia atau dipanggil ilmu “subliminal”).

Secara ringkasnya, Al-Quran membahagikan “ilmu ghaib” kepada dua bahagian iaitu “ghaib hakiki” dan “ghaib subliminal”. Ghaib hakiki adalah tentang benda-benda ghaib yang tidak dapat dikaji oleh akal manusia tetapi hanya Allah SWT sahaja yang mengetahuinya. Allah melarang manusia mengkaji tentang ghaib hakiki ini sebab ianya tidak dijelaskan di dalam Al-Quran (melainkan hanya sedikit sahaja). Namun ianya wajib dipercayai dan diyakini (itulah yang dikatakan “iman”). Contohnya seperti kewujudan Allah SWT, syurga, neraka, dan roh.

Ghaib subliminal pula ialah benda ghaib yang tidak dapat dikesan sebab kelemahan manusia, sebab had kemampuan dan limit kebolehan manusia. Allah menggalakkan manusia mengkajinya untuk membuktikan Al-Quran adalah Kalam Allah, dan Allah SWT amat mengetahui segala-galanya, dan untuk menujukkan manusia itu tersangatlah lemah hanya dapat mengetahui ilmu-ilmu yang dapat dikesan oleh pacaindera kasar sahaja.

Sebab itu rukun iman ke-6 (Qada’ dan Qadar) kita wajib percaya kepada Qadar iaitu wajib percaya bahawa setiap makhluk dijadikan dengan had, kemampuan, dan kebolehan yang tertentu sahaja, yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Spesifikasi Qadar atau kudrat semua makhluk Allah telah ditulis di Luh Mahfuz sejak azali lagi.

Yang ditulis adalah spesifikasi sahaja, bukannya segala gerak-geri, tindakan dan perbuatan manusia. Kitab tentang perbuatan dan gerak-geri manusia belum lagi ditulis, dan kitab ini sedang ditulis oleh ke dua-dua malaikat yang menjaga kita (lihat ayat 19:79, 43:80, dsbnya).

5) Al-Quran Mendahului Zaman

Kali ini kita akan melihat dan mengkaji ayat An-Nahl 16:81, iaitu sambungan kepada perbincangan lepas, ayat An-Nahl 16:48. Ayat ini sekali lagi menjelaskan bahawa segala makhluk di alam ini dijadikan dari “dzilaalan” (bayang-bayang).

Dan Allah telah jadikan untuk kamu apa-apa dari dzilaalan yang telah Dia ciptakan. Dan Dia jadikan untuk kamu (bahan-bahan) dari bukit-bukau sebagai (bahan-bahan) penutupan (perlindungan dan keselamatan) , dan Dia jadikan untuk kamu pakaian untuk memelihara dari kepanasan (tenaga getaran) dan pakaian untuk memelihara(melindung) dari tenaga kekuasaan yang sangat hebat kamu (seperti pencemaran radiasi yang dilakukan oleh manusia), demikian itu Dia telah sempurnakan nikmatNya ke atas kamu semoga kamu menyerah diri (sentiasa menjadi selamat). An-Nahla 16:81

Secara ringkasnya ayat 16:81 ini adalah satu ayat saintifik, yang mengandungi ilmu yang tinggi lagi hebat. Ianya juga ayat hukum dan perundangan iaitu keperluan umat Islam menyediakan pakaian atau sistem pertahanan sel-sel badan dan otak.

Ianya harus dikaji dan difahami dengan ayat 16:48 dan ayat 51:1-11. Ianya menjelaskan tentang bahaya dari pencemaran kuasa getaran (string vibration) seperti “ionization” dan kuasa radiasi seperti pancaran radioaktif dan gelombang elektromagnetik. Manusia tidak boleh menuduh Allah SWT zalim (kerana tidak memberi ilmu) sekiranya tubuh-badan dan minda mereka rosak disebabkan kesan dan impak pencemaran radiasi.

Dalam ayat ini Allah SWT membuktikan kepada manusia bahawa kitab Al-Quran adalah kitab yang mendahului zaman, kitab yang mengajar umat Islam perkara-perkara ghaib yang tidak dapat difahami oleh manusia yang hidup pada zaman Nabi SAW.

6) Kehebatan Tanah-Liat

Ayat 16:81 ini menjelaskan kepentingan dan kehebatan bahan-bahan dari bukit-bukau seperti tanah-liat, granit, garam kristal, batu-batu permata, dan sebagainya. Ahli sains telah membuat kajian dan memang terbukti bahan-bahan seperti tanah-liat (misalnya bentonite clay) dapat menyahkan getaran dan radiasi dan sebagainya.

Kita telah mengkaji (pada beberapa siri yang lepas) akan kehebatan mikro-kristal yang bersifat piezoelektrik dan pyroelektrik. Dan sekarang Al-Quran mengulangi lagi penerangan dan kelebihan bahan-bahan dari tanah dan bukit-bukau.

“Yutimmu Ni’matahu” (Allah telah melengkapkan nikmatNya) merujuk kepada ilmu pertahanan badan dan minda, iaitu ilmu nanoteknologi, untuk menyelamatkan manusia dari serangan getaran string dan pancaran radiasi. Pada hari ini memang terbukti manusia terdedah kepada pelbagai pancaran dan sinaran yang merbahaya kepada kesihatan dan minda mereka.

Statistik menunjukkan penyakit mental (dan pelbagai penyakit ganjil) meningkat dengan mendadak sejak akhir-akhir ini dan dijangkakan pada tahun 2020 penyakit mental akan menjadi musuh utama manusia mengatasi penyakit jantung.

7) Model Atom Quantum vs Model Atom Quran

Saya berharap tidak ada yang keliru antara “dzilaalan” dan “daakhiran” (dalam ayat 16:48). Insyaallah kita akan kaji dengan mendalam perkataan dan konsep “dzilaalan” dan “daakhiran” apabila kita masuk bab quantum mekanik , teori relativiti, dan teori string. Buat setakat ini anggaplah “dzilaalan” dan “daakhiran” adalah benda yang hampir sama dan boleh bertukar-tukar (interchangeable).

Agar tidak keliru bayangkan “dzilaalan” sebagai partikel dalam bentuk “string” dan “daakhiran” sebagai tenaga magnet (energy) atau tenaga gelombang (wave). Sekarang saya juga sedang mengkaji model sub-atomic yang sebenarnya (berdasarkan ayat-ayat Quran), samada sama seperti model quantum fizik atau sama sekali berlainan.

8 ) Double-Slit Experiment & Makmal Saintifik Al-Quran

Apabila kita mengkaji atom, elektron dsbnya, maka tidak dapat tidak kita akan mengkaji double-slit experiment. Saintis Barat bingung dan keliru dengan sifat dan perangai elektron yang boleh berubah-rubah.

Misalnya apabila menggunakan single-slit, elektron akan bersifat seperti partikel. Tetapi apabila menggunakan double-slit, elektron bertukar menjadi gelombang (wave). Dan yang lagi hairan dan membingungkan ialah apabila “diperhatikan” (dipasang detektor untuk melihat elektron masuk dari lubang mana), sifat elektron akan bertukar semula menjadi seperti partikel. Bagaimana ini boleh berlaku? Adakah elektron sedar (konsius) yang ianya sedang diperhatikan?

Yang menjadi isu ialah sekiranya detektor di off (dimatikan), elektron yang melalui double-slit akan bersifat gelombang, tetapi apabila ditektor di buka (on) ia akan bersifat partikel. Yang lagi menjadi masalah besar ialah apabila detektor dibuka (on) selepas elektron menyeberangi double-slit, ianya masih mampu bertukar menjadi partikel! Adakah elektron sudah tahu terlebih awal (semasa keluar dari muncung senapang) akan niat manusia (untuk on atau off detektor)?

Para Saintis Barat membelanjakan beribu-ribu juta dolar untuk membina sebuah makmal untuk mengkaji struktur dan sifat-sifat elektron, neutron dan proton (bukan kereta proton, tetapi makhluk yang ada dalam nuklius sesuatu atom). Barat yakin dan percaya bahawa sesiapa yang terlebih dahulu dapat memahami struktur dan sifat elektron dan foton maka mereka akan menguasai dunia, mereka akan menjadi kuasa baru dunia!

Sudah tentulah ianya (perbelanjaan yang amat besar ini) tidak mampu dilakukan oleh negara kecil seperti Malaysia. Tetapi mampukah kita membelanjakan beberapa juta ringgit untuk membina sebuah “makmal saintifik Al-Quran” untuk mengkaji benda yang sama? Mahukah kita terus ketinggalan? Terus ditindas dan dikotak-katikkan?

9) Penjelasan (baru) ayat An-Nahl 16:81 dan Pengajaran

Ayat 16:81 ini boleh dibahagikan kepada 3 iaitu: a) awal, b) pertengahan, dan c) akhir. Di awal ayat, Allah SWT menyuruh manusia melihat tentang kejadian diri mereka sendiri iaitu yang dijadikan daripada “dzilaalan”. Di pertengahan ayat, Allah SWT memberitahu tentang bahan-bahan daripada bukit-bukau dan gunung-ganang seperti tanah-liat, garam galian, granit, batu permata, dan sebagainya.

Dan di akhir ayat, Allah SWT menjelaskan tentang “Penyempurnaan NikmatNya” iaitu ilmu pertahanan dan keselamatan badan dan minda.

Pelajaran dari ayat ini ialah, umat Islam haruslah mengkaji bahan atau material binaan rumah-rumah dan bangunan. Misalnya mengkaji bahan-bahan dari granit, tanah-liat, papan (kayu-kayan), plastik, kaca, dan sebagainya. Begitu juga dengan bahan-bahan membuat pakaian seperti dari benang kapas, sutera, nylon, dan sebagainya.

Kajian yang perlu dibuat adalah untuk mempastikan keselamatan manusia daripada pelbagai kesan pencemaran radiasi seperti pancaran gamma, x-ray, elektromagnetik, ultra-violet dan sebagainya. Begitu juga dengan kesan dan impak dari pelbagai getaran halus seperti ionik vibration, heat vibration, dan sebagainya.

10) Nanoteknologi dan Pakaian Keselamatan

Sekarang manusia sudah boleh membuat satu keping transistor yang hanya bersaiz 45 nm (kalau nak buat gambaran betapa kecilnya saiz transistor ini, cuba bayangkan hujung rambu yang dibelah kepada 10,000 bilah) dan dapat “menyumbat” hampir 1 bilion (1,000,000,000) transistor ke dalam sekeping mikro-prosesor (cpu komputer) yang hanya bersaiz sebesar ibu jari.

Umat Islam sepatutnya mengambil pengajaran dari ayat 16:81 ini dengan mencipta pakaian (baju, seluar, kain sarung, tudung, kopiah, serban, dsb) pelbagai fungsi bukan sahaja untuk menutup aurat tetapi sebagai pertahanan dan keselamatan sel-sel badan dan sel-sel otak. Kalaulah 1,400 tahun ayat ini tidak membawa banyak makna (sebab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak membuat rumah dalam bukit-bukit), tetapi pada hari ini ayat16:81 ini membawa makna yang amat besar kepada seluruh manusia.

Dengan adanya nanoteknologi maka ianya tidak mustahil untuk memasukkan lapisan nano-kristal ke dalam fabrik pakaian. nano-kristal ini akan menangkis segala serangan makhluk halus, seperti pancaran radiasi, getaran-nano, dan sebagainya.

Walaupun kita tidak pasti samada kecelaruan dan kekacauan yang berlaku dikalangan umat Islam sekarang sebagai petanda kita menjadi bahan uji-kaji senjata siber baru, tetapi yang pasti ialah ayat 16:81 memberi peringatan penting kepada umat Islam supaya menyediakan pakaian yang dapat mempertahankan dan menyelamatkan mereka dari pelbagai serangan pancaran radiaktif dan getaran string.

11) Kesimpulan

Ayat An-Nahl 16:81 menjelaskan betapa pentingnya umat Islam supaya sentiasa berjaga-jaga dan berwaspada, dan hendaklah bersiap-sedia dengan pakaian pertahanan yang dapat menangkis segala serangan siber, serangan pancaran radioaktif, pancaran mikro, dan sebagainya.

Ayat An-Nahl 16:81 seharusnya dikaji bersama-sama ayat An-Nahla 16:48 dan Az-Zaariyat 51:1-11, iaitu secara “Al-Quran bi Al-Quran” supaya ianya menjadi lebih jelas, dan umat Islam dapat mengeluarkan hukum dan fatwa yang sesuai agar dapat menyelamatkan umat Islam dari pelbagai ancaman subliminal, ancaman ghaib.

Ayat 16:81 ini adalah amat besar, bermakna, dan sepatutnya menjadi satu “hukum, peraturan, dan perundangan” kehidupan umat Islam supaya sentiasa bersiap-sedia dengan pakaian pertahanan sel-sel badan dan sel-sel otak. Penyediaan pakaian keselamatan ini seharusnya dibina sendiri oleh umat Islam, bukannya dengan mengimport dari musuh-musuh Islam.

Wallahu a’lam.

__________________________________________________
Sumber: http://kajian-quran.blogspot.com

SYEIKH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN


Penyebar Tasawuf di Jawa Barat
Koleksi tulisan HAJI WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

SEBAGAIMANA telah diketahui bahawa pelaku utama berkembangnya Thariqat Syathariyah di Asia Tenggara pada peringkat awal dilakukan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh dan Syeikh Abdul Mubin bin Jailan al-Fathani di Pattani.

Makam Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan

Syeikh Abdur Rauf mempunyai beberapa orang murid sebagai kadernya yang terkenal, di antara mereka ialah; Syeikh Burhanuddin Ulakan di Minangkabau, Syeikh Abdul Malik di Terengganu, dan ramai lagi, termasuklah Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang akan dibicarakan ini.

Ulama ini cukup terkenal dalam percakapan lisan di Jawa Barat, terutama sekali mengenai keramat-keramatnya. Bahan mentah yang berupa cerita lisan masyarakat yang bercorak mitos atau legenda atau dongeng yang berbagai-bagai versi penyampaiannya lebih banyak diperoleh, jika dibandingkan dengan berupa bahan yang bertulis. Walau bagaimanapun, ada tiga buah manuskrip, iaitu nombor kelas LOr.7465, LOr 7527 dan LOr.7705, di Muzium Negeri Belanda dikatakan bahawa adalah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.

Sewaktu penulis melanjutkan tugasan mengkatalogkan manuskrip yang tersimpan di Muzium Islam Pusat Islam (BAHAEIS), 1992, maka pada manuskrip nombor kelas MI 839 di beberapa tempat ada menyebut nama Syeikh Abdul Muhyi Karang Pamijahan, seolah-olah naskhah itu dinuqil daripada ajaran ulama sufi yang tersebut. Naskhah ditulis dalam bahasa Melayu dan disalin di Pulau Pinang. Selain itu, penulis juga mempunyai sebuah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, juga dalam bahasa Melayu, yang membicarakan Martabat Tujuh.

ASAL USUL DAN PENDIDIKAN

Syeikh Haji Abdul Muhyi adalah salah seorang keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H/1660 M dan wafat di Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1151 H/1738 M. Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya daripada ayahnya sendiri dan kemudian daripada para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Aceh untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar dengan Syekh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Lebih kurang enam tahun lamanya Syeikh Abdul Muhyi belajar dengan ulama besar Aceh itu, iaitu dalam lingkungan tahun 1090 H/1679 M-1096 H/1684 M.

Tahun pembelajaran Syeikh Abdul Muhyi di Aceh kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu, kita dapat membandingkan dengan tahun pembelajaran Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dipercayai termasuk seperguruan dengannya.

Syeikh Burhanuddin Ulakan yang berasal dari Minangkabau itu belajar kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri bermula pada 1032 H/1622 M, tetapi tahun ini tetap masih dipertikaikan kerana riwayat yang lain menyebut bahawa ulama yang berasal dari Minangkabau itu dilahirkan pada tahun 1066 H/1655 M.

Maka kita perlu membandingkan dengan tahun kelahiran Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dari tanah Bugis-Makasar, iaitu 1036 H/1626 M, selanjutnya keluar dari negerinya menuju ke Banten 1054 H/1644 M, seterusnya ke Aceh belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri juga. Selain itu, dapat juga kita bandingkan dengan tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu, iaitu tahun 1060 H/1650 M hingga tahun 1092 H/1681 M; Semua ulama yang tersebut dikatakan adalah murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Banyak pula ulama bercerita bahawa semua mereka termasuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah bersahabat.

Dengan perbandingan-perbandingan tahun tersebut, dapat kita ketahui bahawa tahun-tahun itu masih bersimpangsiur, masih sukar untuk ditahqiqkan. Yang sahih dan tahqiq hanyalah mereka adalah sebagai murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh. Yang lebih menarik lagi, bahawa semua mereka, kecuali Syeikh Burhanuddin Ulakan, diriwayatkan sempat belajar ke luar negeri ke Mekah, Madinah, Baghdad dan lain-lain. Termasuk Syeikh Abdul Muhyi diriwayatkan adalah murid kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani di Mekah dan Syeikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang kedua-dua ulama itu adalah ulama ahli syariat dan haqiqat yang paling terkenal pada zamannya.

Setelah Syeikh Abdul Muhyi lama belajar di Mekah dan Madinah, beliau melanjutkan pelajarannya ke Baghdad. Tidak jelas berapa lama beliau tinggal di Baghdad, tetapi diriwayatkan ketika beliau berada di Baghdad hampir setiap hari beliau menziarahi makam Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang sangat dikaguminya.

Dalam percakapan masyarakat, Syeikh Abdul Muhyi adalah termasuk keturunan/zuriat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Wali Allah, Quthbul Ghauts, yang sangat terkenal itu. Riwayat yang lain diceritakan bahawa Syeikh Abdul Muhyi ke Baghdad dan Mekah adalah mengikuti rombongan gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Dari Baghdad beliau kembali lagi ke Mekah dan selanjutnya kembali ke Jawa dan berkahwin di Ampel.

AKTIVITI

Setelah selesai perkahwinan di Ampel, Syeikh Abdul Muhyi bersama isteri dan orang tuanya berpindah ke Darma, dalam daerah Kuningan, Jawa Barat. Selama lebih kurang tujuh tahun (1678 M-1685 M) menetap di daerah itu mendidik masyarakat dengan ajaran agama Islam. Kemudian berpindah pula ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Di daerah itu, beliau hanya menetap lebih kurang setahun saja (1685-1686), walau bagaimanapun beliau berhasil menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu.

Pada 1686 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari selepas pemakaman ayahnya, Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke daerah Batuwangi. Beliau berpindah pula ke tempat yang berhampiran dengan Batuwangi iaitu ke Lebaksiuh. Selama lebih kurang empat tahun di Lebaksiuh (1686 M-1690 M), Syeikh Abdul Muhyi berhasil mengislamkan penduduk yang masih beragama Hindu ketika itu.

Menurut cerita, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama kerana Syeikh Abdul Muhyi adalah seorang Wali Allah yang mempunyai karamah, yang dapat mengalahkan bajingan-bajingan pengamal “ilmu hitam” atau “ilmu sihir”. Di sanalah Syeikh Abdul Muhyi mendirikan masjid, tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bahagian selatan Jawa Barat.

Kemudian Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke satu desa, iaitu Gua Safar Wadi di Karang Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Perpindahannya ke Karang Pamijahan itu, menurut riwayat bahawa beliau diperintahkan oleh para Wali Allah dan perjumpaan secara rohaniah kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, supaya beliau mencari suatu gua untuk tempat berkhalwat atau bersuluk di Jawa Barat. Cerita mengenai ini banyak dibungai dengan berbagai-bagai dongeng yang merupakan kepercayaan masyarakat terutama golongan sufi yang awam.

Bagi mengimbangi cerita yang bercorak mitos itu, ada riwayat yang bercorak sejarah, bahawa Syeikh Abdul Muhyi diundang oleh Bupati Sukapura, Wiradadaha IV, R. Subamanggala untuk memerangi dan membasmi ajaran-ajaran sihir yang sesat Batara Karang di Karang Pamijahan dan di gua Safar Wadi itu. Di kedua-dua tempat tersebut adalah tempat orang-orang melakukan pertapaan kerana mengamalkan ilmu-ilmu sihirnya.

Oleh sebab Syeikh Abdul Muhyi memang hebat, beliau pula dianggap sebagai seorang Wali Allah, maka ajaran-ajaran sihir yang sesat itu dalam waktu yang singkat sekali dapat dihapuskannya. Penjahat-penjahat yang senantiasa mengamalkan ilmu sihir untuk kepentingan rompakan, penggarongan dan kejahatan-kejahatan lainnya berubah menjadi manusia yang bertaubat pada Allah, setelah diberikan bimbingan ajaran Islam yang suci oleh Syeikh Abdul Muhyi, Wali Allah yang tersebut itu.

Gua Safar Wadi pula bertukar menjadi tempat orang melakukan ibadat terutama mengamalkan zikir, tasbih, tahmid, selawat, tilawah al-Quran dan lain-lain sejenisnya. Maka terkenallah tempat itu sebagai tempat orang melakukan khalwat atau suluk yang diasaskan oleh ulama yang terkenal itu.

Disingkatkan saja kisahnya, bahawa kita patut mengakui dan menghargai jasa Syeikh Abdul Muhyi yang telah berhasil menyebarkan Islam di seluruh Jawa Barat itu. Bukti bahawa beliau sangat besar pengaruhnya, sebagai contoh Bupati Wiradadaha IV, iaitu Raden Subamanggala pernah berwasiat bahawa jika beliau meninggal dunia supaya beliau dikuburkan di sisi gurunya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu. Tempat tersebut sekarang lebih dikenali dengan nama Dalem Pamijahan.

Murid-murid yang tertentu, Syeikh Abdul Muhyi mentawajjuhkannya menurut metod atau kaedah Thariqat Syathariyah yang salasilahnya diterima daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Walaupun tarekat yang sama diterimanya juga kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi, iaitu guru juga kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, namun Syeikh Abdul Muhyi memulakan salasilahnya tetap menyebut Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Hal demikian kerana tarekat yang tersebut memang terlebih dulu diterimanya daripada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al Fansuri.

Setelah beliau ke Mekah, diterimanya tawajjuh lagi daripada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi itu. Maka berkembanglah Thariqat Syathariyah yang berasal daripada penyebaran Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu di tempat-tempat yang tersebut, melalui bai’ah, tawajjuh, dan tarbiyah ruhaniyah yang dilakukan oleh Syeikh Abdul Muhyi muridnya itu.

KETURUNAN

Menurut riwayat, Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai empat isteri. Hasil erkahwinannya itu, beliau memperoleh seramai 18 anak. Menerusi Raden Ayu Bakta, memperoleh anak bernama Kiyai Haji Muhyiddin atau digelar Dalem Bojong. Namun menurut Aliefya M. Santrie, dalam buku Warisan Intelektual Islam Indonesia, setelah beliau pulang dari Pamijahan beliau menemukan satu artikel dalam majalah Poesaka Soenda yang menunjukkan bahawa tidak identiknya Kiyai Haji Muhyiddin dengan Dalem Bojong.

Kedua-duanya memang anak Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, tetapi Kiyai Haji Muhyiddin personaliti tersendiri dan Dalem Bojong personaliti yang lain pula. Menurutnya makam Kiyai Haji Muhyiddin dalam majalah itu disebut namanya yang lain, iaitu Bagus Muhyiddin Ajidin, terletak di sebelah selatan makam Syeikh Abdul Muhyi, sedang makam Dalem Bojong terletak di sebelah timur.

Barangkali keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu sangat ramai yang menjadi ulama di daerah Jawa Barat, sewaktu penulis berulang-alik di Pondok Gentur, Cianjur (1986 M-1987 M) difahamkan bahawa Kiyai Haji Aang Nuh di pondok pesantren adalah termasuk keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Penulis sendiri menerima beberapa amalan wirid dari kiyai itu dan ternyata memang terdapat hadiah al-Fatihah untuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dan beberapa ulama lainnya untuk memulakan amalan.

Dari Kiyai Haji Aang Nuh juga, penulis mendengar cerita-cerita yang menarik mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sampai sekarang Pondok pesantren Gentur dikunjungi mereka yang mempunyai permasalahan yang sukar diselesaikan dari seluruh Indonesia, tempat itu sentiasa ramai kerana doa kiyai itu dianggap mustajab.

Di Pondok-pesantren Gentur itu tidak mengajar disiplin ilmu sebagai pondok-pesantren lainnya, di situ hanya mengajar amalan-amalan wirid terutama selawat atas Nabi Muhammad. Penulis sempat mewawancara pengunjungnya, menurut mereka wirid atau amalan yang diterima dari kiyai itu terbukti mustajab.

PENYELIDIKAN ILMIYAH

Oleh sebab kepopularan ulama yang dianggap Wali Allah ini, beberapa sejarawan, budayawan dan lain-lain telah berusaha menyelidiki biografi ulama yang berasal dari Pulau Lombok itu. Di antara mereka umpamanya seorang Belanda, Snouck Hurgranje, pernah mengembara di Jawa Barat dan di Sukabumi menemukan beberapa naskhah karya yang dibangsakannya kepada karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.

R. Abdullah Apap ibn R. Haji Miftah menyusun sebuah buku berjudul, Sejarah Pamijahan: Kisah Perjuangan Syeik Haji Abdulmuhyi Mengembangkan Agama Islam di Sekitar Jabar. Aliefya M. Santrie menulis artikel Martabat (Alam) Tujuh Suatu Naskah Mistik Islam Dari Desa Karang, Pamijahan. Dan ramai lagi tokoh yang membuat kajian mengenai ulama yang dibicarakan ini.
Khas mengenai artikel Aliefya M. Santrie yang lebih menjurus kepada pengenalan ajaran Martabat Tujuh versi Kiyai Haji Muhyiddin yang ditulis dengan huruf pegon. Setelah penulis teliti dan membanding dengan naskhah yang ada pada penulis yang ditulis dalam bahasa Melayu/Jawi, yang juga tercatat sebagai karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, memang banyak persamaan.

Demikian juga dengan manuskrip koleksi Muzium Islam Pusat Islam Malaysia nombor kelas MI 839, membicarakan Martabat Tujuh yang merupakan nukilan karya Syeikh Abdul Muhyi itu. Sungguhpun demikian perlu kita ketahui bahawa ajaran Martabat Tujuh sebenarnya bukanlah ciptaan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan tetapi yang pertama membicarakan ajaran itu ialah dalam kitab bahasa Arab berjudul Tuhfatul Mursalah karya Syeikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri. Kitab tersebut disyarah oleh Syeikh Abdul Ghani an-Nablusi.

Martabat Tujuh dalam bahasa Melayu selain yang dibicarakan oleh Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan juga banyak, dimulai oleh ulama-ulama tasawuf di Aceh, diikuti oleh Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dengan Ad-Durrun Nafisnya, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani juga membicarakannya dalam Siyarus Salikin, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalus Shafi dan ramai lagi.

Oleh itu, perkembangan ilmu tersebut di dunia Melayu tumbuh subur, tak ubahnya seperti perkembangan ilmu tauhid metode sifat 20 dan fiqh menurut Mazhab Syafie pada zaman itu. Sebagai menutup artikel ini, perlu juga penulis sebutkan sungguhpun Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan terkenal di seluruh Jawa Barat tetapi riwayat hidupnya hampir-hampir tak dikenal di dunia Melayu lainnya. Oleh itu, artikel ini adalah satu usaha memperkenalkannya yang disejajarkan dengan ulama-ulama terkenal yang lain, yang hidup sezaman dengannya, iaitu Syeikh Abdul Malik Terengganu Syeikh Burhanuddin Ulakan, Syeikh Yusuf Khalwati, Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani dan ramai lagi.

%d bloggers like this: