RUKUN IMAN 6 – PERCAYA KEPADA QADHA’ DAN QADAR


I. DEFINISI QADHA’ DAN QADAR

Qadha’ menurut bahasa memiliki beberapa makna yang berbeza menurut struktur kalimatnya, di antaranya bererti:

a. Hukum, حكم ertinya قضى يقضى قضاء menghukumi, memutuskan.

b. Perintah, seperti firman allah;

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. (al-Isra’ 17: 23)

c. Khabar, seperti firman Allah;

Dan telah kami khabarkan (wahyukan) kepadanya (Nabi Luth) perkara itu, iaitu bahawa mereka akan ditumpaskan habis di waktu Subuh. (al-Hijr 15: 66)

Sedangkan yang dimaksudkan di sini ialah erti yang pertama. Adapun Qadar, maka ia adalah takdir, iaitu menentukan atau membatasi ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya di Lauhul Mahfuz. Allah berfirman;

…dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya…  (Fushshilat 41: 10)

Keterangan Definisi

Qadha’ adalah hukum Allah yang telah Dia tentukan untuk alam semesta ini, dan Dia jalankan alam ini sesuai dengan konsekuensi hukum-Nya dan sunnah-sunnah yang Dia kaitkan antara akibat dengan sebab-sebabnya, semenjak Dia menghendakinya sampai selama-lamanya, maka setiap apa yang terjadi di alam ini adalah berdasarkan takdir yang mendahuluinya. Ini sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah dan yang telah Dia atur.

Maka apa yang terjadi bererti dia itu telah ditakdirkan dan ditentukan qadha’nya oleh-Nya, dan apa yang belum terjadi bererti dia itu belum ditakdirkan dan belum ditentukan qadha’nya. Apa yang ditakdirkan bukan bahagianmu, tidak akan mengenaimu dan apa yang ditakdirkan mengenai kamu, tidak akan meleset darimu.

II. BERIMAN KEPADA QADHA’ ALLAH DAN QADARNYA

Beriman kepada qadha’ dan qadar Allah adalah rukun ke enam dari rukun iman. Sebagaimana tersebut dalam jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril a.s. tentang iman, beliau bersabda,

Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman kepada qadar-Nya, yang baik maupun yang buruk.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 1/19-20, dan Muslim 1/37)

Makna beriman kepada qadar ialah membenarkan dengan sesungguhnya bahawa yang terjadi (samaada baik atau buruk) itu adalah atas qadha’ dan qadar Allah.

Seperti firman Allah,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَ‌ٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ﴿٢٣﴾

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (al-Hadid 57: 22-23)

Ayat-ayat tersebut membuktikan bahawa segala yang terjadi pada alam semesta dan pada jiwa manusia, yang baik mahupun yang buruk, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk. Maka apa yang tidak didapatkan dari sesuatu yang disukai tidak mengharuskan rasa susah, dan apa yang didapatkan dari kebaikan tidak mengharuskan rasa suka.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Tsabit, dia berkata, saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,

Seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan penduduk bumi, tentu Dia menyiksa mereka tanpa berbuat zalim kepada mereka. Jika Ia merahmati mereka maka rahmat-Nya adalah lebih baik bagi mereka daripada amal mereka. Seandainya engkau memiliki emas segunung Uhud atau seperti gunung Uhud yang engkau belanjakan di jalai Allah, maka Ia tidak akan menerimanya darimu sebelum engkau beriman kepada takdir dan engkau mengetahui bahawa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan bahagianmu tidak akan mengenaimu, dan sesungguhnya jika engkau mati atas (akidah) selain ini maka engkau masuk neraka.” (Hadis Riwayat Ahmad, 5/185, Ibnu Majah dan Abu Daud)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda,

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, tetapi pada diri masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, dengan memohon pertolongan kepada Allah, dan jangan malas. Apabila engkau tertimpa sesuatu maka janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat begini tentu hasilnya begini dan begini,’ akan tetapi ucapkanlah, ‘Allah telah mentaqdirkan dan apa yang Ia kehendaki Ia laksanakan.’ Karena sesungguhnya ‘andaikata’ (pengandaian) itu akan membuka perbuatan syaitan.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2052)

Semua yang telah ditakdirkan Allah adalah untuk sebuah hikmah yang diketahui oleh-Nya. Allah tidak pernah menciptakan keburukan yang murni, yang tidak melahirkan suatu kemaslahatan. Maka keburukan dan yang tidak disukai tidak dinisbatkan kepada-Nya dari sudut pandang sebagai keburukan yang mumi, akan tetapi ia masuk dalam rentetan makhluk-Nya.

Segala sesuatu apabila dinisbatkan kepada Allah adalah keadilan, hikmah dan rahmat. Maka keburukan murni tidak termasuk ke dalam sifat Allah dan tidak juga ke dalam perbuatan-Nya. Dia memiliki kesempurnaan mutlak. Hal ini ditunjukkan firman-Nya,

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا ﴿٧٩﴾

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisa’ 4: 79)

Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia adalah berasal dari Allah. Sedangkan keburukan yang menimpanya adalah kerana dosa dan kemaksiatannya. Tidak seorang pun boleh lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah pencipta manusia. Tidak ada yang terjadi di dalam kerajaan-Nya ini melainkan apa yang Dia kehendaki, dan Allah tidak meredhai kekufuran untuk hamba-Nya. Dia telah menganugerahi manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. Maka segala perbuatannya adalah tenjadi atas kemampuannya dan kemahuannya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki karena hikmah-Nya. Tidak ditanya apa yang Dia lakukan, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang amal perbuatan mereka.

III. TINGKATAN BERIMAN KEPADA TAKDIR

Iman kepada takdir memiliki empat tingkat:

Tingkat Pertama:

Iman kepada ilmu Allah yang merupakan sifat Allah sejak azali. Dia Mengetahui segala sesuatu. Dia menguasai segala sesuatu, tidak ada makhluk sekecil apapun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum Dia menciptakannya. Ia mengetahui keadaan mereka dan hal ehwal mereka di masa yang akan datang, semuanya, yang rahsia dan yang terang-terangan.

Adapun dalil-dalilnya cukup banyak, antara lain:

a. Firman Allah,

…dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq 65: 12)

b. Firman Allah,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan yang hak selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan nyata.” (Al-Hasyr: 22)

c. Firman Allah,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

yang berulang-ulang disebut di dalam al-Qur’an, di dalam surat al-Baqarah, al-An’am, ar-Raa’d, al-Mu’minun, ar-Rum, as-Sadjah, al-Jumuah dan at-Taghabun.

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (Saba’: 3)

d. Firman Allah,

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfizh).” (Al-An’am 6: 59)

e. Hadis imam Muslim dan lainnya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata bahawa Rasulullah s.a.w., ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau menjawab,

Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan ketika Ia menciptakan mereka.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2049, dan lihat al-Bukhari, bab al-Qadar 8/153)

Dalil-dalil di atas menunjukkan ilmu Allah, penguasaan-Nya terhadap segala sesuatu, yang hadir atau yang ghaib, yang telah lalu dan yang akan datang dan apa-apa yang tidak ada bagaimana seandainya ada; semuanya itu sangatlah jelas bagi-Nya.

Tingkatan kedua:

Mengimani bahawasanya Allah menulis dan mencatat takdir makhluk-Nya di Lauhul Mahfuzh. Tidak ada suatu apa pun yang terlupakan. Hal ini dibuktikan oleh dalil-dalil yang antaranya:

a. Firman Allah,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di burni dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid 57: 22)

b. Firman Allah,

Apakah kamu tidak rnengetahui bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalarn sebuah kitab (Lauh Mahfuzh)? Sesungguhnya yang demikian itu arnat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj 22: 70)

c. Firman Allah,

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti karnu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalarn al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (Al-Anam: 38)

d. Sabda Rasulullah s.a.w, riwayat Imam Ahmad dan lainnya, dari Ubadah bin Shamit,

Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah al-qalam (pena), kemudian Dia berkata kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena itu berkata, ‘Apa yang hamba tulis?’ Dia berkata, ‘Maka dia pun menulis apa yang ada dan apa yang bakal ada sampai hari Kiamat.’ (Hadis Riwayat Ahmad 5/37, lihat Kitab Syari’ah karya al-Ajurri, hal. 77, 178, 186, 187)

e. Sabda Rasulullah s.a.w., riwayat Imam al-Bukhari dengan sanad dari ali r.a.,

Tidak seorang pun di antara kalian melainkan sudah ditulis Allah tempat duduknya dari neraka atau dari syurga. Maka berkatalah seorang sahabat, ‘Mengapa kita tidak bertawakkal (bergantung pada takdir) saja Ya Rasulullah?’ Baliau menjawab, ‘Tidak, beramallah kalian, kerana masing-masing telah dimudahkan.’ Kemudian beliau membaca ayat, ‘Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10. Hadis Riwayat al-Bukhari 8/154, lihat Muslim 4/ 2040)

Dalil-dalil di atas menyatakan bahawa Allah telah mencatat segala sesuatu sebelum menciptakannya dan tidak melupakannya sedikit pun. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah yang tidak tersembunyi bagiNya suatu apa pun.

Tingkat ketiga:

Iman kepada masyi’ah (kehendak) Allah dan kekuasan-Nya yang menyeluruh. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi atas kekuasaan-Nya, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi; bukan karena tidak mampu, melainkan kerana Dia tidak menghendakinya. Allah berfirman,

Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit mahu pun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (Fathir: 44)

Dalil-dalil tentang masyi’ah Allah yang menyeluruh banyak di antaranya adalah:

Firman Allah,

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29)

b. Firman Allah,

Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (A1-An’am: 39)

c. Firman Allah,

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja)…” (An-Nahi: 39)

d. Firman Allah,

Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)

e. Hadis Rasulullah s.a.w., dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a.,

Siapa yang dikehendaki Allah untuk menjadi orang baik, maka Dia akan menjadikannya fakih (mengerti) dalam agama ini.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 1/27, Muslim 111/1524)

Dalil-dalil di atas tentang umumnya masyi ‘ah Allah sangat sekali, lah jelas. Maka apa saja yang terjadi di alam raya ini semuanya dikehendaki Allah dengan iradah kauniyah-Nya (kehendak universal), kerana Dia adalah satu-satunya al-Khaliq dan al-Malik yang mengatur. Tidak ada kejadian atau peristiwa dalam kerajaan-Nya ini yang terlepas dan keluar dari kemahuan-Nya. Tidak ada yang mampu menolak qadha’Nya, dan tidak ada yang memprotes hukum-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya.

Tingkat keempat:

Mengimani bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya, dan tidak ada Rabb selainNya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

a. Firman Allah,

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Az-Zumar: 62)

b. Firman Allah,

dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya . (Al-Furqan: 2)

c. Firman Allah,

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)

d. Firman Allah,

“Allah pencipta langit dan bumi “(Al-Anam: 101)

e. Firman Allah,

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Ash-Shaffat: 96)

f. Hadits Rasulullah s.a.w.,

Sesungguhnya Allah adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.” (Hadis Riwayat al-Hakim 1/31-32, dan Majma’ az-Zawa’id 7/ 197)

Dalam ayat-ayat dan hadis tersebut di atas terdapat pernyataan yang jelas bahwa Allah s.w.t., Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu dan yang menciptakannya. Dialah yang meliputi segala sesuatu dengan perhatian dan pengaturan-Nya. Allah telah mentakdirkan dan menciptakan segala yang ada tanpa ada contoh sebelumnya. Dia menganugerahi sebagian makhluk-Nya kemampuan dan perbuatan. Allah adalah Pencipta orang yang berbuat serta perbuatannya. Dialah al-Khallaq al-Alim (Maha Pencipta dan Maha Mengetahui).

IV. JENIS-JENIS / SKOP TAKDIR

Takdir ada empat macam, semuanya termasuk kandungan dan tulisan takdir umum dan semuanya kembali kepada ilmu Allah yang mutlak serta mencakup segala sesuatu.

Takdir Pertama:

Adalah takdir umum (taqdir azali), meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai Hari Kiamat. Ini adalah taqdir azali. Dalil takdir ini firman Allah,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Al-Hadid: 22)

Dan sabda Rasululah s.a.w.,

Allah telah menulis takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan Arsy-Nya berada di atas air’.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2044)

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lain.

Takdir Kedua:

Taqdir ‘Umuri, iaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan air sperma (blatokist) sampai pada masa sesudah itu, dan bersifat umum; mencakup rezeki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah s.a.w.,

Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan di perut ibunya selama 40 (empat puluh) hari, kemudian terbentuk ‘alaqoh (morula/segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian menjadi mudhghah (embrio/segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Allah mengutus seorang malaikat diperintah (menulis) empat perkara: rezekinya, ajalnya, sengsara atau bahagia. Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kamu atau seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka melainkan satu depa atau satu hasta, ternyata catatan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalnya ahli syurga maka ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli syurga sampai tidak ada jarak antara dia dengan syurga melainkan satu hasta atau dua hasta, ternyata tulisan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalnya ahli neraka, maka ia pun memasukinya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 8/152, dan Muslim 4/ 36)

Takdir ini lebih khusus dan yang ada di Lauhul Mahfuzh.

Takdir Ketiga:

Taqdir Sanawi (tahunan), iaitu yang dicatat pada malam lailatul qadar setiap tahun, seperti firman Allah:

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, Sesungguhya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (Ad-Dukhan: 4-5)

Para mufassir menyebutkan, pada malam itu ditulislah semua apa yang bakal terjadi dalam satu tahun: mulai dan kebaikan, keburukan, rezeki, ajal dan lain-lain, untuk memilah kejadian dan peristiwa dalam satu tahun, yang kesemuanya itu telah dicatat sebelumnya dalam Lauhul Mahfuzh, juga apa yang ditetapkan dalam takdir ‘umuri yang berkaitan khusus dengan individu. Dan Allah Maha Menjaga segala sesuatu.

Takdir Keempat:

Taqdir yaumi (harian), iaitu dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari; mulai dari penciptaan, rezeki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah,

Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar-Rahman: 29)

Maksudnya, apa yang menjadi urusan-Nya menyangkut makhluk-Nya. Takdir ini dan kedua takdir sebelumnya (‘umuri dan sanawi) merupakan penjabaran/pecahan dari taqdir azali.

V. LARANGAN MEMBINCANGKAN SECARA MENDALAM MASALAH TAKDIR

Beriman kepada takdir, yang baik mahupun yang buruk, adalah salah satu rukun iman. Takdir adalah satu mata rantai dari untaian tauhid. Dan beriman kepada sebab-sebab yang menghantarkan kepada takdir yang baik mahupun yang buruk adalah aturan syariat. Tidak akan lurus dan benar urusan dunia dan agama ini tanpa adanya iman kepada tauhid dari syariat. Rasulullah telah menegaskan makna ini kepada seseorang yang berkata,

“Tidak cukupkah kita menyerahkan diri kepada catatan takdir saja, dan kita tidak perlu beramal?” Maka beliau bersabda, “Beramallah, kerana masing-masing akan dimudahkan. Adapun orang-orang yang ditulis berbahagia, maka mereka akan dimudahkan melakukan amalan-amalan orang-orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang yang ditulis celaka, maka mereka akan dimudahkan melakukan amalan-amalan orang-orang yang celaka.” Kemudian beliau membaca ayat, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10. Hadis Riwayat Muslim 4/2039-2040. Lihat al-Bukhari 8/154)

Ini adalah pernyataan baginda Rasulullah s.a.w., suatu perintah untuk beramal dan larangan untuk pasrah kepada nasib yang digariskan. Amal-amal yang dihasilkan manusia menunjukkan bahawa hal itu telah dikehendaki dan ditakdirkan Allah sebelumnya. Yang menciptakan sebab dan akibat adalah Allah, Pencipta segala sesuatu. Mahasuci Allah, Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.

Takdir adalah rahsia Allah mengenai makhluk-Nya, tidak ada yang mengetahuinya; tidak malaikat yang paling dekat dan tidak pula nabi yang diutus.

Banyak nash-nash syariat yang membahas masalah takdir. Sebahagiannya telah disebutkan di awal perbincangan terdahulu. Di antaranya, ada (dalil) yang menafikan kezaliman Allah seperti firman Allah,

Dan tidaklah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Az-Zukhruf: 76).

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” (Yunus: 44)

Di antaranya lagi menetapkan adanya kekuatan dan kehendak bagi manusia serta menyandarkan perbuatan manusia kepada mereka sendiri. Hal ini akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya berdasarkan madzhab salaf (generasi awal Islam) dalam qadha’ dan qadar. Dan dari keterangan-keterangan di atas mukhathab (yang diajak bicara) yang pelbagai tingkatannya, akan dapat memahami sesuatu dari takdir sesuai dengan kemampuan masing-masing yang kesemuanya itu mengajak dan menuntun untuk mengimani sesuatu yang disembunyikan Allah dari mereka, iaitu ilmu ghaib yang diimani oleh orang-orang yang bertakwa yang menyerahkan kepada ilmu Allah Yang Mahaluas dan kekuasaan serta penciptaan-Nya atas segala sesuatu. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi.

Rasulullah s.a.w., yang bijak dan sangat memperhatikan umatnya memperingatkan mereka dari masalah qadha’ dan qadar yang menyebabkan ketergelinciran yang membahayakan. Maka beliau melarang umatnya agar tidak memperbincangkan dan membahas terlalu dalam tentang qadha’ dan qadar. Kerana hal itu akan mendorong untuk membanding-bandingkannya dengan hal-hal yang bboleh dikesan melalui pancaindera, yang di antaranya mengakibatkan terbentuknya fikrah maddiyah (pemikinan materialisme) yang berada di depan mata kita. Ini adalah jalan yang berbahaya, berupaya menjerumuskan manusia kepada perlawanan terhadap Allah Yang Maha Mengatur segala milik-Nya, dan akan menjerumuskan dia ke dalam jurang kebingungan dan kesesatan.

Manusia tidak akan sampai kepada sesuatu yang boleh membuat hatinya tenang kecuali jika ia mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan meninggalkan perbahasan yang mendalam tentang qadha’ dan qadar, dan menjadikan perintah-perintah syariat sebagai petunjuk yang menuntunnya untuk menyerahkan diri kepada Allah, serta redha terhadap sesuatu yang tidak difahaminya. Di dalam al-Quran terdapat peringatan yang serupa dengan masalah in iaitu tentang hakikat ruh. Allah berfirman,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (Al-Isra: 85)

Maksudnya, engkau tidak diberi ilmu melainkan sedikit sekali, yang dengan ilmu itu tidak memungkinkan engkau mengetahui hakikat ruh yang sebenarya, tetapi engkau mungkin mengetahui pengaruh-pengaruhnya atau fungsinya ketika dia masih berada pada jasad.

VI. MADZHAB SALAF DALAM QADHA’ DAN QADAR

Para salaf umat ini tidak ada yang berselisih tentang kebenaran qadha’ dan qadar Allah. Mereka semua mengatakan,

“Sesungguhnya Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Tuhannya dan Pemiliknya (akan sesuatu itu). Tidak ada suatu apapun yang keluar dari itu. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Tidak ada di alam semesta ini sesuatu yang terjadi melainkan dengan kehendak (masyi’ah) dan kekuasaan (qudrah)Nya. Tidak sesuatu pun yang menghalangi-Nya apabila Ia menginginkan sesuatu. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah berlalu, yang akan terjadi dan tidak ada bagaimana seandainya dia ada. Dia telah menulis segala yang ada sebelum terciptanya;

Perbuatan para hamba, rezeki, ajal dan bahagia atau celaka dan lain sebagainya.

Seperti dalam firman Allah,

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Al-An’am: 17)

Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami’.” (At-Taubah: 51)

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dan apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (Al-Qashash: 68)

Ayat-ayat ini dan yang seumpamanya menunjukkan bahawa setiap apa yang terjadi dalam alam semesta ini adalah telah ditakdirkan oleh Allah dan telah ditulis di sisi-Nya. Hal ini merupakan contoh dari sifat rububiyah-Nya yang mutlak. Mahasuci Allah, Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang apa yang mereka lakukan. Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dia mengatur segalanya dengan ilmu dan hikmah-Nya. Dia menjadikan dari pekerjaan-pekerjaan yang terjadi sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan oleh siapa pun selain Dia seperti hidup atau mati serta sifat-sifat makhluk tentang bentuk atau panjang pendek dan lainnya, juga bencana atau musibah yang menimpanya.

Sebagaimana firman-Nya,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di burni dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelurn Kami rnenciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Adapun segala perbuatan, sifat, dan kejadian yang berada di luar keinginan dan ikhtiar manusia, maka hal itu bukan medan taklif dari Allah dan tidak dinisbatkan kepada manusia. Tetapi ada perbuatan-perbuatan yang mampu dilakukan manusia dan berada dalam kemampuan manusia, yang kalau ia kerjakan berdasarkan kekuatan dan ikhtiar yang sudah dianugerahkan Allah kepadanya, maka nampaklah hikmah Allah dalam hal pembalasan. Seperti firman Allah,

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara karnu yang lebih baik arnalnya.” (Al-Mulk: 2, dan Hud: 7)

Setiap orang pasti merasa bahwa ia mampu melakukan perbuatan-perbuatan itu atau meninggalkannya. Jadi perbuatan itu benar-benar perbuatannya sendiri sesuai dengan kehendak dan keinginannya. Allah berfirman,

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (AI-Kahfi: 29)

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thur: 21)

(Iaitu) bagi siapa di antara kamu yang mahu menempuh jalan yang lurus.” (At-Takwir: 28)

Oleh kerana manusia boleh memilih dalam perbuatannya, baik itu iman dan istiqamah atau pun kebaikannya, dengan itu diadakanlah pertanyaan, hisab, pahala dan seksa. Tetapi hal ini tidak bererti perbuatan manusia keluar dari kekuasaan Allah, kerana ia tidak mampu berbuat kecuali dengan apa yang Allah telah tetapkan atasnya. Ia tidak berkehendak dan melakukan kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dikerakannya; sebagaimana disebutkan dalam dalil-dalil terdahulu.

Maka Allah adalah al-Khaliq, pencipta segala sesuatu, Pencipta manusia beserta amalnya. Allah telah mengaitkan antara sebab dengan akibatnya. Manusia mempunyai kekuatan dan kemahuan, tetapi ia mengikuti kekuasaan Allah dan kehendak-Nya. Menyandarkan perbuatan kepada Allah adalah hakikat (bukan majaz), sebagaimana menyandarkannya kepada makhluk adalah hakikat pula.

Perbuatan-perbuatan Allah adalah baik semuanya. Perbuatan Allah tidak mengandungi keburukan atau kejahatan sedikit pun dari segi mana pun, kerana Dia tidak pemah menciptakan keburukan yang murni dari segala arah. Sebab hikmah-Nya menolak untuk itu; kerana dengan begitu tidak ada kemaslahatan pada makhluk-Nya. Dia Mahasuci, di tangan-Nya-lah segala kebaikan, sedangkan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Nya. Apa yang dinisbatkan kepada-Nya tidaklah buruk. Dan penisbatan kepada-Nya tidaklah buruk.

Dan penisbatan kepada-Nya sehubungan dengan Dia yang menciptakan dan menghendaki tidaklah buruk, kerana Dia adalah Mahabijaksana dan Maha-Adil, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang layak dan semestinya. Sedangkan perbuatan buruk, hal ini disandarkan kepada hamba kerana ia telah melakukan suatu pebuatan yang menyebabkan kehancuran. Sebagaimana Allah berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebahagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

Rasulullah bersabda,

Segala kebaikan adalah berada ditangan-Mu, sedangkan keburukan tidaklah (dinisbatkan) kepada-Mu. (Hadis Riwayat Muslim 1/535)

Maksudnya, keburukan yang teijadi tidak dikembalikan kepada Allah; kerana ia kembali kepada dosa, ia terjadi kerana dosa yang dilakukan oleh hamba, maka tidak kembali kepada Asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya, akan tetapi kembali kepada makhluk-makhluk-Nya. Wallahu a’lam!

Kesimpulan Madzhab Salaf (Pegangan Salaf) Dalam Persoalan Qadha’ dan Qadar

  •  Beriman kepada rububiyah Allah yang mutlak. Dia adalah Rabb, Penguasa yang menciptakan segala sesuatu, Yang mengajarinya, mentakdirkannya, menginginkannya serta menulisnya. Mahasuci Allah.
  • Sesungguhnya seorang hamba mempunyai kemampuan, kehendak dan ikhtiar, yang dengan kesemuanya itu terwujudlah perbuatan-perbuatannya dan kerananya mereka diberi pahala atau siksa.
  • Sesungguhnya kemampuan dan kemahuan hamba yang dengannya dapat menghasilkan pelbagai perbuatan tidaklah keluar dari qudrah Allah dan masyi‘ah-Nya. Dialah yang menganugerahkan semua itu kepadanya, dan menjadikannya mampu memilah dan memilih. Maka pekerjaan mana saja yang ia pilih tidaklah keluar dari masyi’ah, qudrah dan penciptaan Allah.
  •  Sesungguhnya beriman kepada qadar, yang baik mahupun yang buruk adalah berdasarkan penisbatannya kepada makhluk. Adapun jika dinisbatkan kepada al-Khaliq maka seluruh qadar adalah baik, dan keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah. Ilmu Allah, masyi’ah, penulisan serta penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu adalah hikmah, keadilan, rahmat dan kebaikan. Keburukan tidak masuk sedikit pun kepada sifat-sifat atau perbuatan-perbuatan Allah. Tidak ada kekurangan atau keburukan pada Dzat Allah. Bagi-Nya adalah kesempumaan dan keagungan mutlak. Maka tidak dinisbatkan keburukan itu kepada-Nya secara tersendiri, sekalipun termasuk dalam makhluk-Nya; akan tetapi menciptakan dari segi ini saja tidaklah buruk.

VII. BERDALIH DENGAN QADHA’DAN QADAR UNTUK MELAKUKAN MAKSIAT

Sesungguhnya orang yang memahami erti qadha’ dan qadar, tingkatan-tingkatannya serta pendapat yang benar dalam masalah ini akan mudah baginya memahami hal-hal yang selama ini sering membingungkan orang yang dangkal pengetahuannya dalam hal ini. Yang paling tampak adalah apa yang dilakukan sebagian orang ketika ia meninggalkan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, ia lalu beralasan itu memang sudah ditakdirkan Allah s.w.t.. Mereka berpendapat demikian untuk menghibur dan menenangkan diri mereka. Bahkan mereka mengaku bahawa hal tersebut bererti iman terhadap qadha’ dan qadar. Ini adalah kesalahan besar dalam memahami salah satu rukun iman. Yakni iman kepada qadar Allah, yang baik mahupun yang buruk, yang manis mahupun yang pahit, semuanya itu dari Allah.

Sebahagian pemahaman yang benar telah kita jelaskan pada perbahasan sebelumnya dan tidak perlu mengulanginya lagi berkali-kali. Maka kita sekadar menghuraikan seperti berikut ini:

  • Sesungguhnya Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan terjadi. Allah sendirilah, dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya, bukan makhluk. Sedangkan selain Dia adalah makhluk. Dia adalah al-Khaliq. Dan termasuk makhluk-Nya adalah kebaikan dan keburukan, yang baik dan yang buruk.
  • Sesungguhnya hikmah Allah dalam menjadikan sebahagian makhluk-Nya sebagai mukallaf adalah sebagaimana firman Allah,

…agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.. .“ (Hud:7)

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih balk amalnya. Dan Dia Maha-Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)

Ayat-ayat di atas menunjukkan manusia diciptakan untuk diuji agar berbuat baik. Ini menurut kemampuannya untuk melakukan atau tidak setelah mengetahuinya. Dan kemampuan seperti itu telah terpenuhi dengan anugerah Allah yang berbentuk:

  • Akal sihat, yang merupakan tumpuan taklif. Maka orang yang berakal adalah orang mukallaf, dan siapa yang hilang akalnya maka hilang pula sifat taklif.
  • Normalnya alat yang menjadi tolok ukur kemampuan dari segi kesihatan dan kemampuan.

Adapun yang dimaksud dengan ma’rifat (mengetahui) adalah mengetahui apa yang diujikan. Dan Allah telah menjadikan sumber-sumber ma’rfat itu bemacam-macam; sebahagiannya lagi berasal dari luar dirinya. Adapun yang memotivasi kebaikan adalah fitrah, akal dan wahyu Allah yang diberikan kepada rasul-Nya yang telah disampaikan kepada umat manusia.

Sedangkan yang memotivasi kejahatan adalah syaitan yang memanfaatkan keinginan-keinginan nafsu. Allah memberinya kemampuan mengganggu manusia serta mempengaruhi mereka, dan Allah juga memerintahkan agar mereka meminta perlindungan kepada Allah dan kejahatannya. Allah berfirman,

Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dan kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia’.” (An-Nas: 1-6)

Rasulullah telah bersabda,

Sesungguhnya syaitan itu mengalir pada tubuh manusia seperti mengalirnya darah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 3/150, 9/87)

Allah adalah Hakim Yang Maha-Adil. Dia mempunyai hujjah yang nyata atas hamba-hamba-Nya. Dia menjadikan faktor pendorong kebaikan lebih banyak daripada faktor pendorong kejahatan, dan Dia menjelaskan dua jalan ini dalam firman-Nya,

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Al-Balad: 10)

Setelah itu manusia mengambil jalan yang ia kehendaki berdasarkan pilihannya. Maka siapa yang menempuh jalan kebaikan, menuruti berbagai faktor pendorong kebaikan, mengalahkan berbagai faktor pendorong kejahatan, maka dia berhak mendapat ganjaran. Dan siapa yang memilih jalan keburukan mengikuti berbagai faktor pendorong keburukan maka dia berhak mendapat siksa.

Dan semua perbuatannya itu terjadi atas kemahuan dan pilihannya sendiri. Dia merasa dengan sedar bahawa dia tidak dipaksa untuk melakukan atau meninggalkan. Jika ia mahu, ia tidak melakukannya. Ini dapat dimengerti secara sempurna dan dirasakan oleh setiap insan dan juga dinyatakan oleh dalil-dalil al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang suci.

Kemudian perlaksanaan kebaikan dan keburukan oleh manusia tidaklah menafikan penisbatannya kepada Allah yang menciptakan, kerana Dia adalah yang menciptakan segala sebab-sebab kejadian.

Sesudah ini maka barangsiapa beralasan dengan qadar untuk berbuat maksiat, maka alasannya tidak masuk akal dan tidak diterima. Allah telah mencela orang-orang musyrik yang berdalih dengan masyi’ah Allah atas kekufuran mereka dalam firman-Nya,

Orang-orang yang menyekutukan Tuhan akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, nescaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.’ Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakan kepada Kami? Kamu tidak lain hanyalah berdusta.’ Katakanlah, ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya’. (Al-An’am: 148-149)

Dan berkatalah orang-orang musyrik, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami mahupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin) mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang’. (An-Nahl: 35)

Mereka berdalil dengan masyi’ah Allah atas ridha dan mahabbahNya. Mereka menjadikan masyi’ah sebagai tanda ridha. Padahal Allah tidak mencintai kesyirikan dan tidak pula meridhainya, bahkan Allah mengutuknya serta melarangnya. Maka apa yang Dia perintah itulah yang diridhai dan dicintai, dan apa yang dilarangNya itulah yang dicela dan dimurkai. Dan keberadaanya sebagai hal yang dimurkai oleh Allah tidak mengeluarkan dia dan masyi’ah Allah yang bersifat universal (kauniyah) yang mencakup segala sesuatu. Berhujjah dengan qadar adalah merusak arti pembalasan atas amal perbuatan, dan merusak hikmah penciptaan surga dan neraka. Allah berfirman,

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus: 99).

Akan tetapi masyi’ah menghendaki adanya taklif.

Kemudian orang yang berdalih dengan takdir tidak mahu menerima hujjah orang lain yang juga berdalih dengan takdir dalam hal mengambil hartanya misalnya, atau sejenisnya. Bahkan ia menuntut haknya dan meminta agar diterapkan hukuman atas orang yang menyalahinya. Seandainya takdir itu hujjah, tentu akan menjadikan hujjah bagi semuanya, dalam segala urusan dan dalam keadaan/situasi apa sekalipun.

VIII. HUKUM BERDALIH DENGAN TAKDIR KETIKA TERTIMPA MUSIBAH

Berhujjah dengan takdir atas tertimpanya musibah adalah dibolehkan. Segala musibah yang telah ditakdirkan menimpa manusia wajib diterima dengan redha. Ini adalah hadis pembelaan Nabi Adam a.s. di hadapan Musa Rasulullah a.s., bersabda,

Adam dan Musa berbantah-bantahan, Musa berkata, ‘Wahai Adam, Anda adalah bapak kami, Anda telah mengecwakan kami dan mengeluarkan kami dari syurga’. Maka Adam berkata kepadanya, ‘Engkau Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menuliskan untukmu dengan Tangan-Nya. Apakah engkau (bertindak) mencelaku berdasarkan suatu perkara yang telah ditakdirkan Allah menimpaku sebelum aku diciptakan empat puluh tahun?’ Maka Nabi s.a.w., bersabda, ‘Maka Adam telah membantah Musa, Adam telah membantah Musa.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2042-2043)

Adam berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpanya, iaitu keluar dari syurga. Kerana itu Musa a.s. menyalahkan Adam dan berkata, ‘Mengapa engkau mengeluarkan kami dari syurga?’ Maka ternyata hujjah Adam menolak hujjah Musa a.s.. Allah telah menetapkan bahawa Adam dan anak keturunannya akan hidup di dunia, dan mereka diciptakan untuk itu, seperti yang dikhabarkan Allah s.w.t.;

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalfah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhanmu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (A1-Baqarah: 30)

Maka hujjah Adam menolak hujjah Musa, dan Musa tidak menyalahkan Adam atas kemaksiatannya iaitu memakan sesuatu dari pohon, Musa lebih mengerti untuk tidak mencela Adam atas dosa yang dia telah bertaubat kepada Allah, dan Allah pun menerima taubatnya. Dan Adam lebih mengerti untuk tidak berhujjah dengan takdir bahawa orang yang berdosa tidak mendapat cela. Wallahu a’lam!

Dipetik/disunting dari terjemahan (indonesia) terhadap kitab – التوحيد للصف الثاني العالي (Selengaraan Sheikh Dr. Soleh bin Abdullah al-Fauzan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: