• Assalammu'alaikum wbt. Blog ini membicarakan pelbagai topik agama yang merangkumi Artikel Umum, Akhir Zaman, Al-Quran, Hidayah Allah, Kebangkitan Islam, Satanisme, As-Siyasah, Doa & Bacaan, Fiqh Ibadah, Darah Wanita, Haji & Umrah, Korban & Akikah, Puasa, Solat, Toharoh, Zakat, Fiqh Muamalat, Hadis Pilihan, Ilmuwan Islam, Isu Semasa, Budaya Kufur, Islam Liberal, Pluralisme, Sekularisme, Syiah, Wahabiyyah, Kebesaran Allah, Kisah Teladan, Qishosul Anbiya', Sejarah Islam, Sirah Nabawi, Tafsir Al-Qur'an, Tasawwuf & Akhlak, Tauhid / 'Aqidah, Tazkirah, Akhirat, Bulan Islam, Kematian, Kisah Al-Quran, Tokoh Muslim, Ulama' Nusantara, Video Agama dan sebagainya. Semoga pembaca mendapat faedah ilmu dari pembacaan artikel dalam blog ini.. dalam mencari rahmat, keampunan dan keredhaan Illahi. InsyaAllah Ta'ala.

    CURRENT MOON PHASE

  • Pusat Latihan WoodValley Village, Sg. Congkak, Hulu Langat, kini dibuka untuk Penginapan Percutian, Program Hari Keluarga, Team Building dan Penempatan Kursus. Untuk tempahan dan info lanjut, sila hubungi:

    1) Arshad: 016-700 2170 2) Fahmi: 017-984 9469 3) Azleena: 012-627 2457

    [[ Download Brochure ]]

    [[Lawat Laman Web]

    -------------------------------------------
  • Klik untuk subscribe ke blog ini dan anda akan menerima email pemberitahuan tentang artikel terbaru. Taipkan email anda di kotak bawah:

    Join 65 other followers

  • KLIK PAUTAN

    • None
  • TERBARU DIMINATI

HAL-EHWAL NABI-NABI DAN MALAIKAT-MALAIKAT A.S. TENTANG TAKUT


KUPASAN KITAB IHYA’ ULUMIDDIN JILID 4

Diriwayatkan ‘A-isyah r.a.,bahwa Rasullulah s.a.w. apabila terjadi perobahan udara dan berhembus angin keras, maka wajah beliau berobah. Beliau bangun dan bulak-balik dalam kamar. Beliau masuk dan keluar. Semua itu adalah karena takut kepada azab Allah [Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.]

Nabi s.a.w. membaca suatu ayat dari surat Al-Waqi’ah. Lalu beliau jatuh pingsan. Dan Allah Ta’ala berfirman:

(Wa kharra muusaa sha-‘iqan).

Artinya: “Dan Musa jatuh pingsan”. S. Al-A’raaf, ayat 143.

Rasulullah s.a.w. melihat bentuk malaikat Jibril dengan meniarap. Lalu beliau jatuh pingsan [Dirawikan AI-Bazzar dari Ibnu Abbas. dengan sanad bagus].

Diriwayatkan, bahwa Nabi s.a.w. apabila beliau masuk pada shalat, maka terdengar guruh bagi dadanya, seperti bunyi guruhnya periuk tembaga [Dirawikan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan An-Nasa-i dari Abdullah bin Asy-Sykhair ].

Nabi s.a.w. bersabda:


(Maa-jaa-anii jibriilu qath-thu illaa wa huwa yar-‘adu faraqan minal-jab- baari).

Artinya: “Tiada sekalipun Jibril itu datang kepadaku, selain dia itu gemuruh bunyinya, karena takut kepada Yang Maha Perkasa” [Menurut AI-Iraqi, beliau tidak menjumpai hadits, dengan kata-kata demikian.]

Ada yang mengatakan, bahwa tatkala telah tampak atas iblis, apa yang telah tampak, maka Jibril dan Mikail senantiasa menangis. Lalu Allah menurunkan wahyu kepada keduanya: “Apakah kiranya kamu berdua menangis setiap tangisan ini?”.

Keduanya menjawab: “Hai Tuhan! Kami tidak merasa aman dari rencana Engkau’.

Maka Allah Ta’ala berfirman: “Begitulah kiranya kamu berdua! Kamu tidak merasa aman dari rencanaKu”.

Dari Muhammad bin Al-Munkadir yang mengatakan: “Tatkala diciptakan neraka, maka jantung para malaikat itu terbang dari tempatnya. Maka tatkala diciptakan anak-anak Adam, lalu jantung itu kembali”.

Dari Anas La., bahwa Nabi s.a. w. bertanya kepada Jibril:


(Maa Iii laa araa miikaa-iila yadl-haku?)

Artinya: “Mengapakah aku tidak melihat Mikail itu ketawa?”.

Maka Jibril menjawab: “Mikail itu tidak ketawa semenjak diciptakan neraka”. [Dirawikan Ahmad dan Ibnu Abid-Dun-ya dari Anas. dengan sanad bagus. ]

Dikatakan, bahwa Allah Ta’ala mempunyai malaikat-malaikal yang tiada seorangpun dari mereka itu ketawa semenjak diciptakan neraka. Karena takut bahwa Allah marah kepada mereka. Lalu IA meng-azabkan mereka dengan neraka itu.

Ibnu Umar r.a. berkata: “Aku keluar bersama Rasulullah SAW. Sehingga beliau masuk ke sebahagian kebun orang-orang anshar. Lalu beliau memetik buah kurmanya dan beliau  makan. Maka beliau bersabda: “Hai Ibnu Umar! Mengapa engkau tidak makan”.

Aku lalu menjawab: “Aku tiada keinginan untuk memakanya”.

Maka Nabi SAW. bersabda: “Tetapi aku ingin memakannya. Dan ini pagi ke empat yang aku tidak merasakan makanan dan tidak memperolehnya jikalau aku meminta pada Tuhanku, nescaya diberikanNYA kepadaku akan kerajaan kaisar (Rumawi) dan kisra (parsia). Maka bagaimana dengan engkau  hai Ibnu Umar,  apabila engkau berada di suatu kaum (golongan), yang menyembunyikan rezeki tahunan mereka dan lemah keyakinan pada hati mereka?”.

lbnu Umar r.a. meneruskan riwayatnya: “Demi Allah’ Senantiasalah kami di tempat kami itu. Dan tidak bangun berjalan, sehingga turunlah ayat :

(Wa ka-ayyin min daabbatin laa tahmilu rizqahaa, Allaahu yarzuquhaa wa iyyaa-kum, wa huwas-samii-ul—‘aliimu).

Artinya: “Dan berapa banyaknya binatang yang tiada membawa rezekinya sendiri. Allah yang memberinya makan dan (memberi makan) kamu. Dan DIA Maha mendengar dan Maha tahu”. [QS. AI-‘Ankabut, ayat 60.]

Ibnu Umar meneruskan riwayatnva: “Maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

(Innal-Iaaha lam ya’-murkum bi-kanzil-maali wa laa bittibaa-‘isy-syahawaati, man kanaza danaaniira yuriidu bihaa hayaatan faaniyatan, fa inn al-hayaata bi-ya-dil-lahi, a laa wa innii laa aknizu diinaaran wa laa dirhaman wa laa akh-ba-u rizqan Ii ghadin).

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kamu menyimpan harta dan tidak menuruti nafsu-syahwat. Barangsiapa menyimpan dinar (wang emas), yang ia maksudkan untuk hidup yang fana, maka sesungguhnya hidup itu di Tangan (kekuasaan) Allah. Ketahuilah, bahwa aku tidak menyimpan satu dinar dan satu dirham pun dan aku tidak menyembunyikannya untuk rezeki besok”. [Dirawikan Ibnu Maidawaih dan AI-Baihaqi. isnad tidak diketahui. ]

Abud-Darda’ berkata: “Adalah terdengar suara guruh jantung Ibrahim Khalilur-rahman a.s., apabila ia bangun pada shalat, dari jarak perjalanan satu batu, karena takut kepada Tuhannya”.

Mujahid berkata: “Nabi Dawud a.s. menangis empat puluh hari dalam bersujud, yang tiada mengangkat kepalanya, sampai tumbuh rumput dari air matanya. Dan sampai ia menutupkan kepalanya. Lalu ia dipanggil:

“Hai Dawud! Adakah engkau lapar, maka engkau diberi makan? Atau engkau haus, maka engkau diberi minum? Atau engkau tiada pakaian (bertelanjang), maka engkau diberi pakaian?”.

Lalu nabi Dawud a.s, itu memekik dengan pekikan yang mengeringkan kayu. Maka kayu itu terbakar dari kepanasan takutnya. Kemudian, Allah Ta’ala menurunkan tobat kepadanya dan ampunan.

Maka ia berdo’a: “Wahai Tuhan! Jadikanlah kesalahanku dalam tapak-tanganku!”. Maka jadilah kesalahannya itu tertulis pada tapak-tangannya. Maka ia tidak membuka tapak-tangannya untuk makan, minum dan lainnya, melainkan ia melihat kesalahannya yang tertulis itu. Lalu membawa ia menangis.

Mujahid meneruskan riwayatnya: “Dan dibawa kepada Dawud a.s. gelas yang berisi dua-pertiganya. Maka apabila ia memegangnya, lalu ia melihat kesalahannya. Maka tidaklah diletakkannya gelas itu pada bibirnya, sampai penuh gelas itu dengan air matanya”.

Diriwayatkan dari nabi Dawud a. s. bahwa ia tiada mengangkatkan kepala-nya kelangit, sampai ia wafat. Karena malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengucapkan dalam munajahnya: “Wahai Tuhanku! Apabila aku ingat akan kesalahanku, nescaya sempitlah kepadaku bumi, serta lapangnya. Dan apabila aku ingat akan rahmatMU, nescaya kembalilah kepadaku nyawaku. Mahasuci ENGKAU wahai Tuhanku! ENGKAU datangkan tabib-tabib hamba ENGKAU, untuk mengubati kesalahanku. Maka semua mereka menunjukkan aku kepada ENGKAU. Maka siallah orang-orang yang berputus asa dari rahmat ENGKAU!

Al-Fudlail berkata: “Bahwa sampai kepadaku pada suatu hari, nabi Dawud a.s. mengingati dosanya. Maka ia melompat dengan memekik dan meletakkan tangannya ke atas kepalanya. Sehingga ia sampai di bukit-bukit. Lalu berkumpul binatang buas kepadanya.

Maka Nabi Dawud a.s. berkata: “Pulanglah, aku tiada berkehendak kepadamu! Sesungguhnya yang aku kehendaki, ialah setiap orang yang menangis di atas kesalahannya. Maka ia tiada menghadap aku, selain dengan tangisan. Dan siapa yang tiada mempunyai kesalahan, maka tidak diperbuatnya akan kesalahan dengan Dawud”.

Adalah Nabi Dawud a.s. bicara tentang banyaknya tangisan. Beliau berkata: ‘Tinggalkanlah aku menangis, sebelum keluar hari tangisan, sebelum pengrobekan tulang-belulang dan nyala terbakarnya perut. Dan sebelum disuruhkan kepadaku, para malaikat, yang bersikap kasar dan keras. Mereka itu tiada mendurhakai Allah, terhadap apa yang disuruhNYA. Dan mereka berbuat akan apa yang disuruhkan”

Abdul-aziz bin Umar berkata: “Tatkala Dawud memperoleh kesalahan, maka kuranglah merdu suaranya. Lalu ia berdo’a: “Wahai Tuhanku! Bolehkanlah suaraku dalam kebersihan suara orang-orang shiddiq”.

Diriwayatkan, bahwa nabi Dawud a.s. tatkala telah lama tangisannya dan tidak bermanfaat yang demikian, lalu sempitlah baju besinya dan bersangatanlah gundah hatinya. Maka beliau berdo’a: “Wahai Tuhan! Apakah tidak ENGKAU rnengasihani akan tangisanku?”.

Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepadanya: “Hai Dawud! Engkau lupa akan dosa engkau dan engkau ingat akan tangisan engkau”.

Nabi Dawud a.s. berdo’a: “Wahai Tuhanku dan PENGHULUKU’ Bagaimana aku lupa akan dosaku apabila membaca kitab Zabur, nescaya ia mencegah air yang mengalir dari mengalirnya. Menenangkan hembusan angin. Dan burung menaungi aku atas kepalaku dan aku menjinakkan binatang-binatang liar ke tempat shalatku (mihrahku). Wahai Tuhanku dan PENGHULUKU! Maka apakah keliaran ini yang ada di antaraku dan ENGKAU?”.

Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada nabi Dawud: “Hai Dawud! Itu adalah kejinakan tha’at dan ini keliaran maksiat! Hai Dawud’ Adam itu makhluk dari ciptaanKU. AKU ciptakan dia dengan TANGAN (KEKUASAAN) KU. AKU hembuskan padanya dari ruhKU. AKU suruh sujud kepadanya para malaikatKU. AKU pakaikan padanya kain kemuliaanKU. AKU letakkan mahkota padanya, dengan mahkota kemuliaanKU. la mengadu kepadaKU akan kesendirian, maka AKU kawinkan dia dengan Hawa hamba wanitaKU. AKU tempatkan dia dalam syurgaKU, Maka ia berbuat maksiat kepadaKU. Lalu AKU usir dia dari tetanggaKU, dengan tak berpakaian dan hina. Hai Dawud! Dengarlah dari AKU! Yang benar AKU firmankan. Engkau tha’at akan KAMl, maka KAMI patuh kepada engkau. Engkau minta kepada KAMl, maka KAMI berikan kepada engkau. Engkau berbuat maksiat kepada KAMl, maka KAMI perlahan-Iahankan kepada engkau. Dan kalau engkau kembali kepada KAMI, atas apa yang ada dari engkau, nescaya KAMI terima akan engkau .

Yahya bin Abi Katsir berkata: “Telah sampai kepada kami riwayat, bahwa nabi Dawud a.s., apabila ia bermaksud meratap, nescaya ia berhenti sebelum itu selama seminggu, tidak makan makanan, tidak minum minuman dan tidak mendekati wanita. Apabila ia sehari sebelum itu, maka dikeluarkan olehnya mimbar baginya di tanah lapang. Maka ia suruh Sulaiman, supaya menyerukan dengan suara, yang meminta kedatangan tamu, dari negeri itu dan sekelilingnya. Yaitu: dari .semak-semak, bukit-bukit, gunung-gunung, padang sahara, candi-candi dan biara-biara. Maka diserukan padanya: “Ketahuilah, siapa yang ingin mendengar ratapan Dawud atas dirinya, maka datanglah!”.

Yahya bin Abi Katsir meneruskan ceritanya: “Maka datanglah binatang-binatang liar dari padang sahara dan bukit-bukit. Dan datanglah binatang-binatang buas dari semak-semak. Dan datanglah binatang-binatang yang menjalar dari gunung-gunung. Dan datanglah burung-burung dari sarang-sarangnya. Dan datanglah anak-anak gadis dari pingitannya. Dan berkumpullah manusia untuk hari itu. Dan datangJah Dawud, lalu ia naik di minbar. Dan ia dikelilingi oleh Bani lsrail (kaum Yahudi). Setiap bahagian mengelilingi nabi Dawud di atas batasnya. Dan nabi Sulaiman a.s. berdiri setentang kepalanya. Lalu nabi Dawud itu memuji Tuhannya. Maka gemparlah mereka itu dengan tangisan dan pekikan. Kemudian, nabi Dawud a.s. menyebut syurga dan neraka. Maka matilah binatang-binatang yang menjalar dan segolongan dari binatang-binatang liar, binatang-binatang buas dan manusia. Kemudian, nabi Dawud menerangkan tentang huru-hara hari kiamat dan pada meratapi dirinya. Maka matilah dari setiap macam itu suatu golongan. Maka tatkala Sulaiman melihat banyak yang mati, lalu berkata: “Wahai ayahku! Ayah telah merobek-robekkan para pendengar itu dengan setiap robekan. Dan telah mati beberapa golongan (dari Bani lsrail dan dari binatang-binatang liar dan binatang-binatang yang menjalar”.

Maka nabi Dawud a.s. lalu berdo’a. Dalam keadaan dia yang demikian, tiba-tiba ia dipanggil oleh sebahagian budak Bani Israil: “Hai Dawud! Engkau terlalu cepat meminta balasan dari Tuhan engkau”.

Yahya bin Abi Katsir meneruskan riwayatnya: “Maka Dawud jatuh tersungkur, dalam keadaan pingsan. Maka tatkala nabi Sulaiman melihat apa yang telah menimpa ayahnya (nabi Dawud a.s.), lalu ia mendatangkan tempat tidur dan diletakkannya nabi Dawud di atasnya. Kemudian, nabi S.ulaiman menyuruh orang yang menyeru, sebagai berikut: “Ketahuilah, siapa yang berteman atau berfamili dengan Dawud, maka hendaklah mendatangkan tempat tidur! Maka hendaklah membawanya di tempat tidur itu! Sesungguhnya orang-orang yang berada bersama Dawud, mereka itu telah terbunuh (mati) oleh menyebutkan syurga dan neraka”.

Adalah seorang wanita mendatangkan tempat tidur dan dibawanya familinya dengan tempat tidur itu, seraya mengatakan: “Wahai orang yang terbunuh oleh penyebutan neraka! Wahai orang yang terbunuh oleh ketakutan kepada Allah!”.

Kemudian, tatkala Dawud telah sembuh dari pingsannya, lalu bangun berdiri. Dan meletakkan tangannya di atas kepalanya. Ia masuk ke rumah ibadahnya dan dikuncikannya pintunya. Dan ia berdo’a: “Wahai Tuhan Dawud! Adakah ENGKAU marah kepada Dawud?”. Dan senantiasalah ia bermunajah dengan Tuhannya ..

Maka datanglah Sulaiman dan duduk di pintu. Dan meminta izin masuk. Kemudian, ia masuk. Dan padanya ada roti syair (serupa dengan gandum). Lalu ia berkata: “Hai ayahku! Kuatkan diri dengan ini, menurut kehendak ayah!”.

Lalu nabi Dawud a.s. memakan roti itu, masyaAllah banyaknya. Kemudian, beliau keluar, menemui kaum Bani Israil (Yahudi). Maka ia berada di antara mereka.

Yazid Ar-Raqqasyi berkata: “Pada suatu hari, nabi Dawud a.s. keluar kepada orang banyak. Beliau memberi pengajaran kepada mereka dan memberi berita takut. Lalu beliau keluar kepada manusia, yang jumlahnya empat puluh ribu orang. Maka mati tiga puluh ribu orang dari mereka. Dan beliau pulang dalam jumlah manusia sepuluh ribu orang Jagi.

Yazid Ar-Raqqasyi meneruskan riwayatnya: “Nabi Dawud a.s. mempunyai dua orang budak wanita, yang diambilnya untuk melayaninya. Sehingga apabila datang kepadanya ketakutan dan jatuh, lalu ia gugup, maka dua budak wanita itu duduk di atas dadanya dan di atas dua kakinya. Karena takut bercerai-berai anggota tubuhnya dan sendi-sendinya, lalu ia wafat nanti”.

Ibnu Umar ra. berkata: “Nabi Yahya bin Zakaria a.s. masuk ke Baitulmaqdis. Dan dia itu berumur delapan kali hajji [lapan tahun].

Lalu ia melihat kepada orang-orang yang sedang beribadah di antara mereka, yang memakai baju sempit lengan, dari bulu dan wol. Ia melihat orang-orang yang ahli ijtihad dari mereka, telah mengoyakkan baju yang besar lehernya. Dan mereka perbuat dengan baju itu seperti tali rantai. Dan mereka mengikatkan dirinya ke tepi Baitul-maqdis. Maka yang demikian itu mendahsyatkan Yahya bin Zakaria a.s. Lalu ia pulang kepada ibu-bapanya. Ia melintasi anak-anak kecil yang sedang bermain-main. Mereka mengatakan kepadanya: “Hai Yahya! Marilah kita bermain-main!”.

Yahya bin Zakaria a.s. menjawab: “Aku tidak dijadikan untuk bermain-main”.

Ibnu Umar r.a. meneruskan riwayatnya: “Maka datanglah Yahya menemui ibu-bapanya. Ia meminta pada ibu-bapanya, supaya ia diberi pakaian bulu. Lalu ibu-bapanya berbuat demikian. Maka Yahya a.s. kembali ke Baitul-maqdis. Ia melayani Baitul-maqdis itu pada siang hari. Dan ia bermalam sampai pagi di dalamnya. Sampai ia berumur limabelas tahun. Lalu ia keluar dan selalu ia tinggal di bukit-bukit dan di lembah-Iembah di antara bukit-bukit itu.

Maka pergilah ibu-bapa nabi Yahya mencarinya ke sana kemari. Lalu keduanya mengetahui, bahwa Yahya berada di danau AI-Ardun, merendamkan kedua kakinya dalam air. Sehingga hampirlah kehausan itu menyembelihnya (membunuhnya). Nabi Yahya itu berdo’a: “Demi kemuliaan ENGKAU dan demi keagungan ENGKAU! Aku tiada akan merasakan kedinginan minuman, sebelum aku tahu, di mana tempatku daripada ENGKAU”.

Maka ibu-bapanya meminta, supaya ia memakan roti syair yang ada pada keduanya. Dan meminum dari air itu. Lalu Yahya memperbuat yang demikian dan memberikan kafarat dari sumpahnya. Maka ia dipujikan sebagai orang yang berbakti [Artinya: ia herbakti kepada ibu-bapanya, dia tidak sombong dan durhaka, sebagaimana tersebut dalam AI-Ouran s. Maryam. ayat 14 ]

Dan ia dibawa pulang oleh ibu-bapanya ke Baitul-maksdis. Dan adalah Yahya, apabila ia bangun mengerjakan shalat, nescaya ia menangis. Sehingga menangislah bersama Yahya itu, kayu dan tanah. Dan nabi Zakaria a.s. (ayah nabi Yahya) itu juga menangis, dari karena menangisnya Yahya. Sehingga ia pingsan.

Terus-meneruslah Yahya itu menangis. Sehingga air matanya mengoyakkan daging dua pipinya. Dan tampaklah gigi gerhamnya bagi orang-orang yang melihatnya. Lalu ibunya mengatakan kepadanya: “Hai anakku! Kalau engkau izinkan bagiku, aku perbuat sesuatu yang menutupkan gigi gerhammu dari orang-orang yang memandangnya”.

Maka Yahya a.s. mengizinkan yang demikian bagi ibunya. Lalu ibunya mengambil dua potong kain bulu. Maka dilekatkannya ke dua pipi Yahya a.s. Dan Yahya a.s. itu apabila bangun mengerjakan shalat, nescaya menangis. Apabila air matanya tergenang pada dua potong kain bulu itu, nescaya datang ibunya kepadanya, Lalu ia memeras kedua kain bulu itu. Apabila Yahya a.s, melihat air matanya mengalir di lengan ibunya. lalu ia berdo’a: “Wahai Allah Tuhanku! Inilah air mataku! Inilah ibuku! Dan aku hamhaMU dan ENGKAU yang sangat pengasih dari yang pengasih”. Pada suatu hari, nabi Zakaria a.s, berkata kepada Yahya a.s. : “Aku bermohon kepada Tuhanku, kiranya IA memberikan engkau bagiku, supaya tetaplah dua mataku dengan engkau”.

lalu Yahya a.s. menjawab: “Hai ayahku! bahwa Jibril a.s. memberi khabar kepadaku, bahwa di antara syurga dan neraka itu padang pasir, yang tidak dapat dilampaui, selain oleh setiap yang menangis”.

Maka Nabi Zakaria a.s. menyahut: “Hai anakku, menangislah!”,

Nabi Isa AI-Masih berkata: “Hai para shahahatku’ Takut kepada Allah dan cinta kepada syurga firdaus itu mewariskan kesabaran di atas kesulitan. Dan dua hal itu menjauhkan dari dunia. Dengan sebenarnya. aku mengatakan kepadamu, bahwa memakan syair dan tidur di atas sampah bersama anjing, pada mencari Syurga firdaus itu sedikit jumlah orangnya”. Dikatakan, adalah nabi Ibrahim Khalilullah a.s., apabila mengingati kesalahannya nescaya ia pingsan. Dan terdengar getaran hatinya sejauh satu batu.

Maka datanglah Jibril kepadanya. seraya berkata: ‘Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Adakah engkau melihat khalil itu takut akan KHALlLnya?” [ Khalil, artinya: teman yang disayangi. Nabi Ibrahim disebut: Khalilullah, sebagaimana Nabi Musa as. Disebut Kalimullah, Nabi Isa as. Disebut Ruhullah dan lain-lain.]

Maka Ibrahim a.s. menjawab: “Hai Jibril’ Bahwa apabila aku mengingati kesalahanku, niscaya aku lupa akan ke-teman-anku”.

Inilah hal-keadaan nabi-nabi a.s. Maka ambillah perhatian padanya’ Sesungguhnya mereka mahluk Allah yang lehih mengenal (ma’rifah) akan Allah dan sifat-sifatNYA. Rahmat Allah kepada mereka sekalian dan kepada setiap hamba Allah yang mendekatkan diri kepadaNYA (al-muqarrabin).

Mencukupilah Allah bagi kita. Dan sebaik-baik Yang Diserahkan urusan kepadaNYA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: