• Assalammu'alaikum wbt. Blog ini membicarakan pelbagai topik agama yang merangkumi Artikel Umum, Akhir Zaman, Al-Quran, Hidayah Allah, Kebangkitan Islam, Satanisme, As-Siyasah, Doa & Bacaan, Fiqh Ibadah, Darah Wanita, Haji & Umrah, Korban & Akikah, Puasa, Solat, Toharoh, Zakat, Fiqh Muamalat, Hadis Pilihan, Ilmuwan Islam, Isu Semasa, Budaya Kufur, Islam Liberal, Pluralisme, Sekularisme, Syiah, Wahabiyyah, Kebesaran Allah, Kisah Teladan, Qishosul Anbiya', Sejarah Islam, Sirah Nabawi, Tafsir Al-Qur'an, Tasawwuf & Akhlak, Tauhid / 'Aqidah, Tazkirah, Akhirat, Bulan Islam, Kematian, Kisah Al-Quran, Tokoh Muslim, Ulama' Nusantara, Video Agama dan sebagainya. Semoga pembaca mendapat faedah ilmu dari pembacaan artikel dalam blog ini.. dalam mencari rahmat, keampunan dan keredhaan Illahi. InsyaAllah Ta'ala.

    CURRENT MOON PHASE

  • Pusat Latihan WoodValley Village, Sg. Congkak, Hulu Langat, kini dibuka untuk Penginapan Percutian, Program Hari Keluarga, Team Building dan Penempatan Kursus. Untuk tempahan dan info lanjut, sila hubungi:

    1) Arshad: 016-700 2170 2) Fahmi: 017-984 9469 3) Azleena: 012-627 2457

    [[ Download Brochure ]]

    [[Lawat Laman Web]

    -------------------------------------------
  • Klik untuk subscribe ke blog ini dan anda akan menerima email pemberitahuan tentang artikel terbaru. Taipkan email anda di kotak bawah:

    Join 65 other followers

  • KLIK PAUTAN

    • None
  • TERBARU DIMINATI

PERANG THAIF


Malik bin ‘Auf Menghasut

DENGAN perasaan gembira karena kemenangan yang telah diberikan Tuhan, kaum Muslimin masih tinggal di Mekah setelah kota itu dibebaskan. Mereka sangat bersenang hati sekali karena kemenangan besar ini tidak banyak minta kurban. Setiap terdengar suara Bilal mengucapkan azan sembahyang, cepat-cepat mereka pergi ke Mesjid Suci, berebut-rebutan di sekitar Rasulullah, dimana saja ia berada dan ke mana saja ia pergi.

Kaum Muhajirin pun sekarang dapat pulang, dapat berhubungan dengan keluarga mereka, yang kini telah mendapat petunjuk Tuhan. Hati mereka pun sudah yakin bahwa keadaan Islam sudah mulai stabil, dan bahwa perjuangan sebagian besar sudah membawa kemenangan. Akan tetapi limabelas hari kemudian setelah mereka tinggal di Mekah itu, tiba-tiba tersiar berita yang membuat mereka harus segera sedar kembali. Soalnya ialah, Kabilah Hawazin yang tinggal di pegunungan tidak jauh di sebelah timur-laut Mekah, setelah melihat kemenangan Muslimin yang telah membebaskan Mekah dan menghancurkan berhala-berhala, mereka pun kuatir akan mendapat giliran; pihak Muslimin akan juga menyerbu daerah mereka. Terpikir oleh mereka apa yang harus mereka lakukan dalam mencegah bencana yang akan menimpa mereka itu. dan membendung Muhammad serta mencegah arus kaum Muslimin yang akan menghilangkan kemerdekaan kabilah-kabilah itu di seluruh jazirah bila mereka semua digabungkan kedalam suatu kesatuan di bawah naungan Islam.

Untuk itu Malik b. ‘Auf dari Banu Nashr sekarang berusaha mengumpulkan kabilah-kabilah Hawazin dan Thaqif, demikian juga kabilah-kabilah Nashr dan Jusyam. Dari pihak Hawazin semua ikut, kecuali Ka’b dan Kilab. Sedang dari pihak Jusyam ada orang yang bernama Duraid bin’sh-Shimma, orang yang sudah berusia lanjut dan sudah tidak berguna buat ikut berperang, tetapi sebagai orang yang sudah bertahun-tahun punya pengalaman dalam perang, pendapatnya sangat diperlukan. Kabilah-kabilah itu semua berkumpul, membawa serta harta-benda, wanita dan anak-anak mereka. Mereka menuju dataran Autas. Bilamana dengusan unta, keledai yang melengking, tangisan anak dan kambing yang mengembik-embik sampai ke telinga Duraid, ia bertanya kepada Malik b. ‘Auf:

“Kenapa semua harta-benda, wanita dan anak-anak itu ikut serta dalam peperangan?”

Malik menjawab bahwa hal itu dilakukan guna memberi semangat kepada angkatan perangnya.

“Kalau kalian akan mengalami kekalahan mungkinkah hal ini bisa mencegahnya?” kata Duraid lagi. “Kalau harus menang juga, maka yang penting hanyalah laki-laki dengan pedang dan panahnya; sebaliknya kalau kamu harus mengalami kekalahan, keluarga dan hartamu hanya akan membawa bencana.”

Dengan Malik ia berselisih pendapat. Tetapi orang banyak ikut Malik. Dia seorang pemuda berusia tigapuluh tahun, bersemangat dan punya kemauan keras. Sekalipun sudah berpengalaman dalam perang, sekali ini Duraid menyerah kepada pendapat mereka.

Sekarang Malik memerintahkan supaya orang berangkat ke puncak gunung dan ke selat Lembah Hunain. Bilamana nanti kaum Muslimin turun ke lembah itu, maka hendaklah mereka diserang, sehingga dengan serangan satu orang saja barisan mereka akan sudah jadi lemah, mereka akan kucar-kacir, akan saling menghantami sesama mereka. Dengan demikian mereka akan hancur, pengaruh kemenangan mereka ketika membebaskan Mekah sudah takkan berarti lagi. Yang ada nanti hanya kemenangan kabilah-kabilah Hunain itu saja di seluruh jazirah Arab, suatu kemenangan yang akan dapat dibanggakan dalam menghadapi kekuatan yang kini menguasai tanah Arab itu. Perintah Malik ditaati oleh kabilah-kabilah dan mereka membuat pertahanan di selat wadi itu.

Muslimin Berangkat ke Hunain

Pihak Muslimin sendiri setelah dua minggu tinggal di Mekah, dalam persiapan senjata dan tenaga yang belum pernah mereka alami sebelum itu, dengan pimpinan Muhammad mereka berangkat pula cepat-cepat. Mereka bergerak dalam jumlah duabelas ribu orang. Sepuluh ribu terdiri dari mereka yang telah menyerbu dan membebaskan Mekah dan yang dua ribu lagi terdiri dari orang-orang Quraisy yang sudah Islam – di antaranya Abu Sufyan b. Harb. Mereka semua mengenakan pakaian berlapis besi didahului oleh pasukan berkuda dan unta yang membawa perlengkapan dan bahan makanan. Keberangkatan Muslimin dengan pasukan demikian ini, sebenarnya memang belum pernah dikenal di seluruh jazirah. Setiap kabilah didahului oleh panjinya masing-masing, tampil kedepan dengan hati bangga karena jumlah yang begitu besar, yang tidak akan dapat dikalahkan. Sampai-sampai antara mereka satu sama lain ada yang berkata: Karena jumlah kita yang besar ini sekarang kita takkan dapat dikalahkan.

Serangan Hawazin dan Thaqif

Menjelang sore hari itu mereka sudah sampai di Hunain. Di pintu-pintu masuk wadi itu mereka berhenti dan tinggal di sana sampai waktu fajar keesokan harinya. Ketika itulah pasukan mulai bergerak lagi. Muhammad mengikuti dari belakang dengan menunggang bagalnya yang putih. Sementara Khalid bin’lWalid yang memimpin Banu Sulaim berada di depan. Dari selat Hunain itu mereka menyusur ke sebuah wadi di Tihama. Akan tetapi sementara mereka sedang menuruni lembah itu, tiba-tiba datanglah serangan mendadak secara bertubi-tubi dari pihak kabilah-kabilah dengan komando Malik b. ‘Auf. Sementara masih dalam keadaan remang-remang subuh itu mereka telah dihujani panah oleh pihak Malik. Ketika itulah keadaan Muslimin jadi kacau-balau. Dalam keadaan terpukul demikian itu mereka berbalik surut dengan membawa perasaan takut dan gentar dalam hati, dan ada pula yang lari sekuat-kuatnya. Dalam hal ini, dengan senyum gembira di bibir – Abu Sufyan yang sekarang melihat kegagalan orang-orang yang kemarin telah dapat mengalahkan Quraisy itu – berkata “Mereka takkan berhenti lari sebelum sampai ke laut.”

Begitu juga Syaiba b. ‘Uthman b. Abi Talha berkata: “Sekarang aku dapat membalas Muhammad.” Berkata begitu, karena bapanya telah terbunuh dalam perang Uhud.

Ketika Kalada b. Hanbal berkata: “Ya, sihirnya sekarang sudah tidak mempan,” dibalas oleh Shafwan saudaranya sendiri: “Diam kau! Sungguh aku lebih suka di bawah orang Quraisy daripada di bawah Hawazin.”

Muslimin Kucar-Kacir

Percakapan demikian itu terjadi sementara keadaan pasukan perang sedang kucar-kacir. Dalam pada itu, kabilah-kabilah yang sedang mengalami kekalahan itu satu demi satu berlarian di hadapan Nabi yang berada di belakang – tanpa melihat ke kanan kiri lagi.

Apa kiranya yang diperbuatnya? Mungkinkah pengorbanan yang duapuluh tahun itu akan hilang dalam sekejap mata begitu saja pada pagi buta itu? Ataukah Tuhan sudah menjauhinya dan sudah tidak lagi memberikan pertolongan? Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin! Sebelum itu, sudah ada bangsa-bangsa yang sudah punah, golongan-golongan yang sudah tak ada lagi. Sebelum itu pun Muhammad sudah biasa bergumul dengan maut, dan kalau-kalau dalam mati membela agama Allah itu kemenangan akan ada. Dan apabila ajal itu sudah datang tidak akan dapat sedetik pun ditunda atau dimajukan.

Muhammad tetap tabah tiada bergerak di tempatnya. Beberapa orang dari kalangan Muhajirin, Anshar serta kerabat-kerabatnya tetap berada di sekelilingnya.

Dalam pada itu dipanggilnya orang-orang yang melarikan diri lewat di hadapannya itu seraya katanya: “Hai orang-orang! Kamu mau ke mana? Mau ke mana?”

Tetapi, orang-orang yang sudah penuh ketakutan itu sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Yang tergambar dalam mata mereka hanya Hawazin dan Thaqif yang kini sedang meluncur turun dari perkubuan di puncak-puncak gunung mengejar mereka. Dan gambaran mereka itu tidak salah. Pihak Hawazin sudah mulai turun dari tempat semula, didahului oleh seseorang di atas seekor unta berwarna merah, dan membawa sebuah bendera hitam yang dipancangkan pada sebilah tombak panjang. Setiap ia bertemu dengan pihak Muslimin ditetakkannya tombak itu kepada mereka, sementara pihak Hawazin, Thaqif dan sekutu-sekutunya terus meluncur turun dari belakang sambil terus menghantam.

Semangat baru timbul dalam hati Muhammad. Dengan bagalnya yang putih itu ia ingin menerjang sendiri ke tengah-tengah musuh yang sedang meluap-luap seperti banjir itu. Sesudah itu terserah kepada Tuhan. Akan tetapi Abu Sufyan b. Harith b. ‘Abd’l-Muttalib segera menahan kekang bagal itu dan dimintanya jangan dulu maju.

Abbas b. ‘Abd’l-Muttalib seorang laki-laki yang berperawakan besar dan lantang sekali suaranya. Ia berseru yang kira-kira akan dapat didengar oleh semua orang dari segenap penjuru: “Saudara-saudara dari kalangan Anshar yang telah memberikan tempat dan pertolongan! Saudara-saudara dari Muhajirin yang telah memberikan ikrar di bawah pohon! Marilah saudara-saudara, Muhammad masih hidup!”

Muslimin Kembali Bertempur

Seruan demikian itu diulang-ulangnya oleh Abbas, sehingga suaranya bersipongang dan bergema ke segenap penjuru wadi. Disinilah adanya mujizat itu: Orang-orang ‘Aqaba mendengar nama ‘Aqaba, teringat oleh mereka Muhammad, teringat akan janji dan kehormatan diri mereka. Demikian juga orang-orang Muhajirin, begitu mendengar nama Muhajirin, teringat oleh mereka akan pengorbanan mereka selama ini, teringat akan kehormatan diri mereka. Mereka itu sudah mendengar dan mengetahui tentang ketenangan dan ketabahan hati Muhammad, disamping sejumlah kecil orang-orang Muhajirin dan Anshar, yang sama tabahnya seperti ketika Perang Uhud dulu – dalam menghadapi musuh yang begitu besar. Dalam hati mereka kini terbayang betapa akibatnya kemenangan orang-orang musyrik itu terhadap agama Allah kelak sekiranya mereka ini sekarang gagal.

Seruan Abbas yang selama itu masih tetap berkemandang dalam telinga, hati mereka sekaligus tersentak karenanya. Ketika itulah mereka saling menyambut dari segenap penjuru: “Labbaika,1 Labbaika! “

Mereka-semua kini kembali, dan bertempur lagi secara heroik sekali.

Pihak Hawazin yang sudah menyusur turun dari tempatnya semula, sekarang sudah berhadapan muka dengan Muslimin dalam lembah itu. Sinar siang sudah mulai tampak dan remang pagi dengan sendirinya menghilang. Di sarnping Rasulullah sekarang sudah berkumpul beberapa ratus orang siap akan berhadapan dengan kabilah-kabilah itu. Jumlah mereka ini bertambah juga. Dan dengan kembalinya mereka itu, semangat yang tadinya sudah lemah kini kembali berkobar-kobar. Pihak Anshar sendiri berteriak: “Hai Anshar!” Lalu mereka saling memanggil-manggil: “Hai Khazraj!”

Perasaan lega mulai terasa oleh Muhammad tatkala dilihatnya mereka kini kembali lagi.

Sementara Muhammad menyaksikan pertempuran itu berkobar dengan pertarungan yang semakin sengit dan melihat moril anak buahnya makin tinggi dalam memukul lawan, ia berkata: “Sekarang pertempuran benar-benar berkobar. Tuhan tidak menyalahi janji kepada RasulNya.”

Kemenangan Muslimin

Kepada Abbas dimintanya segenggam batu kerikil dan kemudian kerikil itu dilemparkannya ke muka musuh seraya katanya: “Wajah-wajah yang buruk!” Dan terjunlah kaum Muslimin itu ke tengah-tengah gelanggang dengan tidak lagi menghiraukan maut demi di jalan Allah. Mereka percaya, bahwa kemenangan pasti datang dan barang siapa gugur ia akan mendapat kemenangan yang lebih besar lagi daripada hidup. Perjuangan ketika itu hebat sekali. Baik Hawazin maupun Thaqif dan pengikut-pengikutnya, begitu melihat bahwa setiap perlawanan ternyata tidak berhasil, bahkan mereka sendiri terancam akan habis samasekali, cepat-cepat mereka lari dalam keadaan berantakan tanpa melihat ke kanan-kiri lagi, dengan meninggalkan wanita-wanita dan anak-anak mereka sebagai rampasan perang di tangan kaum Muslimin, yang ketika itu dihitung sebanyak 22.000 ekor unta, 40.000 kambing dan 4.000 ‘uqiya2 perak. Sedang tawanan perang yang terdiri dari 6.000 orang itu telah dipindahkan dengan pengawalan ke Wadi Ji’rana. Mereka ditempatkan disana sementara menunggu Muslimin kembali dan mengejar sisa-sisa musuh serta sekaligus mengepung pihak Thaqif di Ta’if.

Muslimin meneruskan pengejarannya terhadap musuh mereka itu. Lebih tertarik lagi mereka mengadakan pengejaran itu karena Rasul mengumumkan, bahwa barang siapa dapat menyerbu orang musyrik, maka ia boleh merampasnya. Ketika itu Rabi’a bin’d-Dughunna telah dapat mengejar seekor unta yang membawa pelangkin, yang diduganya berisi wanita; ia pun ingin merampasnya. Unta itu berlutut dan ternyata isinya seorang laki-laki tua yang oleh pemuda itu tidak dikenalnya, yaitu Duraid bin’sh-Shimma. Kepada Rabi’a itu Duraid bertanya: Mau diapakan dirinya. “Akan kubunuh kau,” jawabnya, sambil mengayunkan pedang. Tetapi tidak berhasil.

“Jahat sekali ibumu mempersenjataimu!” kata Duraid. “Ambillah pedangku di belakang itu dan pukulkan. Keluarkan tulang dan otaknya. Begitulah aku menghantam orang dengan pedang itu. Dan kalau kau sudah pulang, katakan kepada ibumu bahwa engkau telah membunuh Duraid bin’sh-Shimma. Sudah sering sekali aku melindungi wanita-wanitamu.”

Sesampainya di rumah, oleh Rabi’a hal itu diceritakan kepada ibunya.

“Dasar tangan celaka kau,” kata ibunya. “Dia mengatakan itu hanya akan mengingatkan kita akan jasa-jasanya kepada engkau. Dia telah memerdekakan tiga orang ibu pada suatu pagi: Yaitu aku, ibuku dan ibu ayahmu.”

Pengejaran terhadap pihak Hawazin oleh pihak Muslimin diteruskan sampai di Autas. Di tempat ini mereka digempur dam dihancurkan samasekali. Kaum wanita dan barang-barang mereka dirampas lalu dibawa kepada Muhammad. Malik b. ‘Auf hanya sebentar saja bertahan kemudian ia pun lari, dia bersama-sama dengan kabilahnya dan golongan Hawazin, dan di Nakhla ia berpisah dengan mereka. Ia memutar haluan ke Ta’if dan di tempat ini ia berlindung.

Kehancuran Total Pihak Musyrik

Dengan demikian nyatalah sudah kemenangan orang-orang beriman itu dan nyata pula kehancuran total orang-orang musyrik, setelah remang-remang subuh itu pihak Muslimin dalam keadaan terancam, mendapat serangan serentak sehingga mereka menjadi kacau-balau. Kemenangan Muslimin yang sangat menentukan itu ialah karena ketabahan Muhammad dan sejumlah kecil orang-orang di sekelilingnya. Dalam hal inilah firman Tuhan turun:

“Tuhan telah menolong kamu pada beberapa tempat dan dalam Perang Hunain, tatkala kamu merasa bangga sekali karena jumlah kamu yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit pun tidak menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa amat sempit buat kamu, lalu kamu berbalik mundur. Sesudah itu Tuhan menurunkan perasaan tenang kepada Rasul dan kepada orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara yang tidak kamu lihat, dan disiksanya orang-orang kafir itu, dan memang itulah balasan buat orang-orang kafir. Sesudah itu kemudian Allah menerima taubat barangsiapa yang dikehendakiNya, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Orang-orang beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor. Sebab itu sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid Suci, dan kalau kamu kuatir menjadi miskin, maka Tuhan dengan kurniaNya akan memberikan kekayaan kepada kamu, jika dikehendaki. Sesungguhnya Tuhan Maha tahu dan Bijaksana.” (Qur’an, 9: 25-28)

Harga Sebuah Kemenangan

Akan tetapi kemenangan ini tidak diperoleh dengan harga murah oleh kaum Muslimin. Mereka membayarnya dengan harga yang cukup mahal. Mungkin ini tidak akan mereka lakukan, kalau tidak karena pada mulanya mereka telah mengalami kegagalan lari dalam kekalahan, sehingga seperti dikatakan oleh Abu Sufyan “Mereka takkan berhenti lari sebelum mencapai laut.” Mereka membayar harga mahal itu dengan jiwa orang-orang penting dengan pahlawan-pahlawan yang gugur dalam pertempuran itu, meskipun jumlah semua kurban tidak disebutkan dalam buku-buku biografi Nabi. Seperti sudah disebutkan, bahwa dua kabilah Muslimin hampir habis binasa, dan Nabi telah mendoakan semoga Tuhan memasukkan arwah mereka ke dalam surga. Tetapi bagaimana pun juga nyatanya ia telah mendapat kemenangan: kemenangan total yang diperoleh Muslimin terhadap lawan mereka, disertai rampasan dan tawanan perang, yang sebelum itu tidak pernah mereka alami. Kemenangan adalah segalanya dalam suatu pertempuran, betapa pun besarnya harga yang harus dibayar, selama itu merupakan suatu kemenangan terhormat. Dengan demikian Muslimin merasa gembira sekali akan kurnia yang telah diberikan Tuhan itu. Mereka tinggal menunggu pembagian rampasan perang dan dengan itu mereka kembali pulang. Akan tetapi Muhammad menginginkan suatu kemenangan yang lebih cemerlang lagi. Kalau Malik b. ‘Auf yang telah mengerahkan orang-orang, kemudian setelah mengalami kekalahan ia sendiri mencari perlindungan pada pihak Thaqif di Ta’if, maka pihak Muslimin sekarang hendaknya dapat mengepung Ta’if lebih ketat lagi. Begitu itulah cara dalam Khaibar setelah perang Uhud, dan terhadap Quraiza setelah Khandaq. Mungkin suasana ini mengingatkan dia ketika beberapa tahun sebelum Hijrah ia pergi ke Ta’if, menganjurkan Islam kepada penduduk kota itu. Tetapi dia malah dicemooh, dan anak-anak melemparinya dengan batu, sehingga terpaksa ia berlindung pada sebuah kebun anggur. Juga mungkin ia teringat betapa benar ia berangkat seorang diri ketika itu, dalam keadaan sangat lemah, tiada daya upaya selain Tuhan, selain iman yang besar yang telah memenuhi dadanya, iman yang telah dapat meruntuhkan gunung. Sekarang, sekarang ia berangkat menuju Ta’if dengan sebuah rombongan Muslimin, dengan suatu jumlah yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah jazirah itu.

Ta’if Dikepung

Jadi sahabat-sahabat itu oleh Muhammad diperintahkan berangkat ke Ta’if dan mengepung Thaqif yang dipimpin oleh Malik b. ‘Auf. Ta’if adalah sebuah kota yang sangat kukuh tertutup rapat oleh pintu-pintu gerbang seperti kebanyakan kota-kota negeri Arab ketika itu. Penduduk kota ini sudah punya pengetahuan dalam soal kepung-mengepung dalam peperangan dan punya kekayaan yang cukup besar pula untuk membuat perkubuan yang kuat. Dalam perjalanan itu Muslimin singgah di Liya. Di tempat ini ada sebuah benteng khusus buat Malik b. ‘Auf, yang kemudian mereka hancurkan, demikian juga sebuah kebun kepunyaan pihak Thaqif mereka hancurkan selama dalam perjalanan itu.

Bilamana Muslimin sudah sampai di Ta’if, Nabi memerintahkan pasukannya berhenti dan bermarkas di dekat kota itu. Sahabat-sahabat dikumpulkan dan mereka berunding apa yang akan mereka lakukan. Tetapi pihak Thaqif begitu melihat mereka dari atas perbentengan, dihujaninya mereka dengan serangan panah, sehingga tidak sedikit pihak Muslimin yang terbunuh. Dan tidak pula mudah kaum Muslimin dapat menyerbu benteng-benteng yang sangat kukuh itu. Suatu cara lain harus mereka tempuh bukan seperti yang selama ini mereka lakukan ketika mengepung Quraiza dan Khaibar. Dapatkah kita menduga, bahwa kalau hanya dikepung saja sampai mengalami kelaparan pihak Thaqif itu akan mau menyerah? Dan kalau akan mereka serbu saja, dengan cara baru bagaimana harus mereka lakukan?

Inilah beberapa masalah yang perlu dipikirkan dan akan memakan waktu. Jadi sebaiknya pasukan ini harus ditarik mundur jauh-jauh dari sasaran panah, supaya jangan ada lagi orang-orang Islam yang akan mengalami bencana dan tewas karenanya. Sesudah itu boleh Muhammad memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Dengan perintah Nabi ‘a.s. markas itu sekarang dipindahkan jauh dari sasaran panah, dipindahkan ke sebuah tempat yang kemudian setelah Ta’if menyerah dan menerima Islam dibangunnya mesjid Ta’if di tempat itu. Hal ini sudah menjadi suatu keharusan. Anak panah Thaqif sudah menewaskan delapanbelas orang Islam, dan tidak sedikit pula yang telah mendapat luka-luka, diantaranya salah seorang anak Abu Bakr. Disamping tempat itu, yang sudah jauh dari sasaran panah, dipasang pula dua buah kemah dari kulit berwarna merah untuk tempat-tinggal kedua isteri Nabi – Umm Salama dan Zainab – yang sejak ia meninggalkan Medinah, ikut bersama-sama dalam perjalanan menghadapi peristiwa-peristiwa itu. Diantara kedua kemah inilah Muhammad melakukan salat. Dan agaknya Mesjid Ta’if itu pun di tempat ini pula dibangun.

Diserang Dengan Manjaniq

Kaum Muslimin tinggal di tempat itu sambil menantikan apa yang akan ditentukan Tuhan terhadap mereka dan terhadap lawan mereka itu nanti. Ada salah seorang orang Arab gunung berkata kepada Nabi: Orang-orang Thaqif yang dalam benteng itu sama seperti rubah yang di dalam liangnya. Untuk dapat mengeluarkan mereka meminta waktu lama. Kalau dibiarkan saja, juga ia takkan mengganggu. Tetapi Muhammad sudah tidak mau kembali lagi sebelum mendapatkan sesuatu dari pihak Thaqif. Banu Daus [salah satu kabilah yang tinggal di bawah Mekah] yang sudah berpengalaman dalam menggunakan manjaniq3 dan “tank,”4 salah seorang pemimpinnya adalah Tufail, yang sudah bersahabat dengan Muhammad sejak perang Khaibar, dan yang sekarang ikut pula mengepung Ta’if. Orang ini oleh Nabi diutus memintakan bantuan kepada kabilahnya itu.

Kemudian orang ini datang kembali sudah membawa beberapa orang dari golongan itu lengkap dengan alat-alat. Mereka sampai di Ta’if empat hari kemudian setelah kota itu dikepung oleh Muslimin. Disinilah pihak Muslimin menyerang Ta’if dengan manjaniq, dan beberapa orang menyerbu dengan masuk ke dalam “tank” untuk menerobos dinding-dinding benteng itu. Tetapi pihak Ta’if tidak kurang pula pandainya sehingga mereka dapat memaksa lawannya harus melarikan diri juga. Beberapa batang besi mereka panaskan; bilamana sudah mencair, besi itu dilemparkannya ke arah “tank” dan alat itu pun terbakar. Karena takut terbakar juga tentara Muslirnin pun menyusup lari dari bawah alat-alat itu. Oleh pihak Thaqif mereka terus diserang dengan panah sehingga banyak pula yang terbunuh.

Jadi perjuangan ini juga tidak berhasil. Pihak Muslimin tidak dapat mengalahkan benteng-benteng yang kukuh itu.

Kebun Anggur Ditebang dan Dibakar

Sesudah itu, kiranya apa pula yang harus mereka lakukan? Lama sekali Muhammad memikirkan hal ini. Tetapi bukankah ia sudah dapat mengalahkan dan mengosongkan Banu Nadzir dari perkampungannya dengan jalan membakar kebun kurma mereka? Sekarang kebun anggur Ta’if jauh lebih berharga daripada kebun kurma Banu Nadzir Apalagi anggur ini sangat terkenal sekali di seluruh tanah Arab yang membuat Ta’if bangga sebagai tempat yang paling subur di seluruh jazirah, dan sebagai wahah, Ta’if seolah surga di tengah-tengah padang sahara.

Perintah Muhammad oleh kaum Muslimin sudah akan dilaksanakan. Mereka akan menebangi dan membakari tanaman-tanaman anggur itu – yang sampai sekarang masih tetap terkenal seperti dulu juga. Melihat hal ini orang-orang Thafiq yakin sekali bahwa Muhammad memang bersungguh-sungguh. Mereka mengutus orang kepadanya supaya kebun itu diambil saja kalau mau, kalau tidak supaya dibiarkan mengingat pertalian keluarga antara dia dengan mereka yang masih berkerabat itu. Muhammad segera menangguhkan hal itu, dan kemudian ia berseru kepada kalangan Thaqif, bahwa barangsiapa dari penduduk Ta’if yang bersedia datang kepadanya, orang itu akan dimerdekakan. Hampir sebanyak duapuluh orang dari mereka lalu melarikan diri dan datang kepadanya. Dari mereka inilah kemudian diketahui, bahwa dalam benteng-benteng itu terdapat persediaan makanan yang cukup untuk waktu lama. Oleh karena itu ia berpendapat bahwa pengepungan ini akan meminta waktu yang panjang, sedang pasukannya sudah mau pulang akan membagi-bagikan barang rampasan perang yang sudah mereka peroleh. Kalau diminta supaya mereka tetap tinggal juga, mungkin mereka akan kehilangan kesabaran. Disamping itu bulan suci pun sudah dekat pula dan perang tidak diperkenankan.

Oleh karena itu ia lebih senang pengepungan itu dibubarkan saja sesudah satu bulan berjalan. Ketika itu bulan Zulhijah, bulan muda sudah keluar. Dengan pasukannya itu ia kembali hendak melakukan umrah, dan diingatkannya pula, bahwa ia sudah bersiap hendak ke Ta’if bila bulan suci sudah lalu.

Muhammad dan kaum Muslimin yang lain sekarang berangkat meninggalkan Ta’if menuju Ji’rana, tempat barang rampasan dan tawanan perang itu ditinggalkan. Di tempat ini mereka berhenti mengadakan pembagian. Seperlima di antaranya oleh Rasul dipisahkan buat dirinya dan yang selebihnya dibaginya kepada para sahabat. Tetapi tatkala mereka di Ji’rana ini, tiba-tiba datang utusan dari pihak Hawazin yang sudah masuk Islam. Mereka ini mengharapkan, supaya harta mereka, wanita dan anak-anak dikembalikan kepada mereka karena sudah sekian lama mereka berpisah, dan sudah sekian lama pula mereka mengalami kepahitan hidup. Utusan itu datang menemui Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata: “Rasulullah, di tempat-tempat berpagar,5 orang-orang tawanan itu terdapat juga bibi-bibimu dari pihak ayah dan pihak ibu, ibu-ibu yang dulu pernah memeliharamu. Jika sekiranya kami yang menyusui Harith b. Abi Syimr atau Nu’man bin’l-Mundhir, kemudian ia datang melihat keadaan kami seperti yang kaualami sekarang ini, tentu kami manfaatkan dan kami mintai belas-kasihannya. Konon pula engkau, yang sudah mendapat pemeliharaan yang terbaik.”

Mereka tidak salah dalam mengingatkan Muhammad akan adanya hubungan dan pertalian keluarga itu. Dari kalangan tawanan perang itu terdapat seorang wanita yang sudah berusia lanjut mendapat perlakuan keras dari tentara Muslimin. Wanita itu berkata kepada mereka: “Kamu tahu, bahwa aku masih saudara susuan dengan kawanmu itu.”

Karena mereka tidak percaya, oleh mereka ia dibawa kepada Muhammad, yang ternyata segera mengenalnya, bahwa wanita itu Syaima’ bint’l-Harith ibn ‘Abd’l-Uzza. Dimintanya ia kedekatnya dan dihamparkannya mantelnya supaya ia duduk. Ia dipersilakan memilih – kalau senang tinggal, boleh tinggal dan kalau ingin pulang akan diantarkan kepada kabilahnya. Tetapi ternyata wanita itu ingin pulang juga kepada masyarakatnya sendiri.

Meningkat hubungan Muhammad dengan mereka yang datang menyerahkan diri dari Hawazin itu demikian rupa, sudah wajar sekali apabila ia bersikap penuh kasih sayang kepada mereka dan memenuhi pula permintaan mereka. Sejak dahulu memang demikian inilah sifatnya, kepada siapa saja yang pernah mengulurkan tangan kepadanya. Tahu berterima kasih dan mengingat budi orang sudah menjadi bawaan dan sifatnya.

Setelah mendengar kata-kata mereka itu ia bertanya: “Anak-anak dan isteri-isteri kamu ataukah harta kamu yang lebih kamu sukai?”

“Rasulullah,” jawab mereka, “kami disuruh memilih antara harta dengan sanak keluarga kami? Mengembalikan isteri-isteri dan anak-anak kami tentu itulah yang kami sukai.”

Lalu kata Nabi ‘a.s.; “Apa yang ada padaku dan pada Banu ‘Abd’l-Muttalib, itu akan kuserahkan kembali kepadamu. Bilamana nanti sudah selesai aku memimpin orang salat lohor hendaklah kamu berdiri dan katakan: ‘Kami meminta bantuan Rasulullah kepada kaum Muslimin dan meminta bantuan kaum Muslimin kepada Rasulullah mengenai anak-anak kami dan wanita-wanita kami.’ Maka ketika itu akan kuserahkan kepadamu, dan akan kumintakan buat kamu.”

Setelah apa yang diucapkan Nabi itu dilaksanakan oleh Hawazin, ia berkata lagi: “Apa yang ada padaku dan pada Banu ‘Abd’l-Muttalib, itu akan kuserahkan kembali kepadamu.”

Ketika itu juga kaum Muhajirin berkata: “Apa yang ada pada kami, itu kami serahkan kepada Rasulullah.”

Dan ini juga yang dikatakan oleh kaum Anshar.

Tetapi Aqra’ ibn Habis atas nama Tamim dan ‘Uyaina b. Hishn menolak, demikian juga Abbas b. Mirdas atas nama Banu Sulaim. Akan tetapi Banu Sulaim sendiri tidak mengakui penolakan Abbas itu. Dalam hal ini Nabi berkata: “Barangsiapa mau mempertahankan haknya atas tawanan itu, maka untuk setiap orang ia akan mendapat ganti enam bagian dari tawanan yang mula-mula didapat.”

Tawanan Hawazin Dikembalikan

Dengan demikian wanita-wanita dan anak-anak Hawazin itu dikembalikan kepada kabilahnya setelah mereka menyatakan diri masuk Islam. Kepada utusan Hawazin itu Muhammad menanyakan Malik b. ‘Auf. Setelah diberitahukan bahwa orang itu masih di Ta’if dengan Thaqif, dimintanya kepada mereka supaya disampaikan: kalau dia mau datang dengan sudah menerima Islam, maka keluarga dan harta bendanya akan dikembalikan dan akan diberi pula seratus ekor unta.

Sekarang orang mulai merasa kuatir – kalau Muhammad memberikan ini kepada setiap utusan yang datang – rampasan perang yang menjadi bagian mereka akan jadi berkurang. Oleh karena itu mereka mendesak supaya tiap-tiap orang mengambil bagiannya. Dan mereka terus saling berbisik. Bisikan demikian ini tampaknya sampai juga kepada Nabi, yang dalam hal ini ia lalu berdiri di samping seekor unta, diambilnya seutas bulu dari ponok unta itu, dan sambil dipegang dengan jari dan diacungkan ke atas ia berkata:

“Saudara-saudara.6 Demi Allah! Bagianku dari harta rampasan dan dari bulu ini hanya seperlima; ini pun sudah dikembalikan kepada kamu.” Kemudian dimintanya kepada mereka masing-masing supaya harta rampasan itu dikembalikan dan dengan demikian dapat dibagi secara adil. “Barangsiapa mengambil ini secara tidak adil sekalipun hanya sebentar jarum, maka buat yang bersangkutan ini suatu cemar, api dan aib sampai hari kiamat.”

Muhammad mengatakan itu dengan sikap marah setelah mantelnya yang mereka ambil dikembalikan, dan setelah mengatakan kepada mereka: “Kembalikan mantelku itu, saudara-saudara. Demi Allah, andaikata kamu mempunyai ternak sebanyak pohon di Tihama ini, tentu kubagi-bagikan kepada kamu, kemudian akan kamu lihat bahwa aku bukan orang yang kikir, pengecut dan pembohong.”

Kemudian rampasan perang itu dibagi lima dan yang seperlima diberikan kepada mereka yang paling sengit memusuhinya. Seratus ekor unta diberikan masing-masing kepada Abu Sufyan dan Mu’awiya anaknya, Harith bin’l-Harith b. Kalada, Harith b. Hasyim, Suhail b. ‘Amr, Huwaitib b. ‘Abd’l-‘Uzza, kepada bangsawan-bangsawan dan kepada beberapa pemuka kabilah yang telah mulai lunak hatinya setelah pembebasan Mekah. Kepada mereka yang kekuasaan dan kedudukannya kurang dari yang tadi, diberi lima puluh ekor unta. Jumlah yang mendapat bagian itu mencapai puluhan orang. Ketika itu Muhammad menunjukkan sikap sangat ramah dan murah hati, yang membuat orang yang tadinya sangat memusuhinya, lidah mereka telah berbalik jadi memujinya. Tiada seorang dari mereka yang perlu diambil hatinya itu yang tidak dikabulkan segala keperluannya

Ketika Abbas b. Mirdas mendapat beberapa ekor unta ia tidak senang hati dan mencela karena menurut anggapannya ‘Uyaina, Aqra’ dan yang lain tampaknya lebih diutamakan. Lalu Nabi berkata: “Temui dia dan berilah lagi supaya dia puas dan diam.”7 Lalu diberi lagi sampai dia puas. Dan itulah yang membuat dia diam.

Akan tetapi tindakan Nabi mengambil hati orang-orang yang tadinya merupakan musuh besar itu, telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan Anshar, dan satu sama lain mereka berkata: “Rasulullah telah bertemu dengan masyarakatnya sendiri.” Dalam hal ini Sa’d b. ‘Ubada berpendapat akan meneruskan kata-kata Anshar itu kepada Nabi dan akan mendukung pula pendapat mereka itu

“Sekarang kumpulkan masyarakatmu di tempat berpagar ini,”8 kata Nabi. Setelah oleh Sa’d mereka dikumpulkan dan kemudian Nabi datang, maka terjadi dialog berikut:

Muhammad: “Saudara-saudara kaum Anshar. Suatu desas-desus9 berasal dari kamu yang telah disampaikan kepadaku itu merupakan suatu perasaan yang ada dalam hatirnu terhadap diriku, bukan? Bukankah kamu dalam kesesatan ketika aku datang lalu Tuhan membimbing kamu? Kamu dalam kesengsaraan lalu Tuhan memberikan kecukupan kepadamu, kamu dalam permusuhan, Tuhan mempersekutukan kamu?”

Anshar: “Ya, memang! Tuhan dan Rasul juga yang lebih bermurah hati.”

Muhammad: “Saudara-saudara kaum Anshar. Kamu tidak menjawab kata-kataku?”

Anshar: “Dengan apa harus kami jawab, ya Rasulullah? Segala kemurahan hati dan kebaikan itu ada pada Allah dan Rasul-Nya juga.”

Muhammad: “Ya, sungguh, demi Allah! Kalau kamu mau, tentu kamu masih dapat mengatakan – kamu benar dan pasti dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami didustakan orang, kamilah yang mempercayaimu. Engkau ditinggalkan orang, kamilah yang menolongmu. Engkau diusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau dalam sengsara, kami yang menghiburmu.’ Saudara-saudara dari Anshar! Adakah sekelumit juga rasa keduniaan itu dalam hati kamu? Dengan itu aku telah mengambil hati suatu golongan supaya mereka sudi menerima Islam, sedang terhadap keislamanmu aku sudah percaya. Tidakkah kamu rela, saudara-saudara Anshar, apabila orang-orang itu pergi membawa karnbing, membawa unta, sedang kamu pulang membawa Rasulullah ke tempat kamu? Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad! Kalau tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan menempuh jalan Anshar. Allahuma ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak Anshar dan cucu-cucu Anshar.”

Semua itu oleh Nabi diucapkan dengan kata-kata penuh keharuan, penuh rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka yang pernah memberikan ikrar, pernah memberikan pertolongan dan satu sama lain saling memberikan kekuatan. Begitu besar keharuannya itu, sehingga orang-orang Anshar pun menangis, sambil berkata, “Kami rela dengan Rasulullah sebagai bagian kami.”

Dengan demikian Nabi telah memperlihatkan ketidaksukaannya pada harta yang telah diperoleh sebagai rampasan perang di Hunain itu, yang sebenarnya belum pernah ada suatu rampasan perang diperoleh sebanyak itu. Ia memperlihatkan ketidaksukaannya pada harta itu sebagai langkah dalam mengambil hati mereka – yang dalam beberapa minggu yang lalu masih musyrik – dapat melihat bahwa dalam agama yang baru itu ada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Kalau dalam membagi harta itu Muhammad sendiri sudah merasa payah sekali sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan Muslimin; dan kalau pun ini telah membawa kemarahan pihak Anshar karena ia telah bermurah hati kepada mereka yang perlu dijinakkan itu, namun dengan demikian ia telah memperlihatkan sikap yang adil, pandangan yang jauh serta kebijaksanaan politik yang baik sekali. Dengan demikian ia telah berhasil mengajak ribuan orang Arab ini – semua dengan senang hati, dengan perasaan lega – bersedia memberikan nyawanya demi jalan Allah.

Selanjutnya Rasul pun berangkat dari Ji’rana menuju Mekah, hendak menunaikan umrah. Selesai melakukan umrah ia menunjuk ‘Attab b. Asid sebagai tenaga pengajar untuk Mekah dengan didampingi oleh Mu’adh b. Jabal guna mengajar orang-orang memperdalam agama dan mengajarkan Qur’an.

Ia kembali pulang ke Medinah bersama orang-orang Anshar dan Muhajirin. Sementara Nabi tinggal di kota ini lahir pula anaknya Ibrahim, dan selama beberapa waktu itu, setelah agak merasakan adanya ketenangan hidup, kemudian ia pun harus bersiap-siap pula menghadapi perang Tabuk di Syam.
_________________________________
Catatan kaki:

  1. Harfiah, ‘kupenuhi panggilanmu’, yakni aku siap (A).
  2. ‘Uqiya. ‘Dahulu kala sama dengan 40 dirham (drakhma) dan di luar hadis sama dengan setengah 1/6 rati, yakni 1/12 bagian, dan ini tergantung kepada istilah negeri masing-masing’ (N). Pada umumnya ‘uqiya sekarang ditaksir sekitar 30 gram (A).
  3. Sebuah pesawat pelempar batu (junuq). Mungkin sama dengan ballista yang biasa digunakan dalam peperangan dahulu kala (A).
  4. Aslinya, dabbaba; dabba melata perlahan-lahan, yakni semacam alat dibuat daripada kayu dan kulit, orang masuk ke dalam alat tersebut lalu mendekat benteng yang sedang dikepung untuk dilubangi atau dibongkar dan mereka terlindung dan serangan yang datang dan atas (LA) mungkin dapat disamakan dengan testudo semacam alat perang dahulu kala, dari bahasa Latin, berarti kura-kura atau kulitnya yang dapat melindungi badan. Dalam pengertian sekarang kira-kira sama dengan tank (A).5 Hazira, ‘segala yang dilingkungi sesuatu, kadang terdiri dari buluh dan papan’ (LA) yakni tempat berpagar (A).
  5. Ayyuhan nas, harfiah: ‘Hai manusia’ (A).
  6. Iqta’u anni lisanahu, yakni ‘berilah lagi supaya dia puas dan diam’ (LA) Harfiah, ‘potongkan lidahnya tentang aku’ (A).
  7. Lihat catatan bawah halaman 531 (A).
  8. Qalatun, ‘Banyak bicara yang akan menimbulkan permusuhan’ (N), yakni desas-desus (A).

BERSUCI (MENYUCIKAN NAJIS)


Oleh: Ustaz Ahmad Adnan Fadzil

Apa yang dimaksudkan najis?

Najis bermaksud kekotoran yang menghalang sahnya sembahyang, yakni; tidak sah sembahyang jika terdapat pada pakaian atau badan atau tempat sembahyang. Pada dasarnya, setiap benda yang ada di alam ini adalah suci dan tidak najis kecualilah perkara-perkara yang telah dinyatakan oleh Syara’ sebagai najis. Selagi tidak ada nas atau dalil Syara’ menjelaskan bahawa sesuatu itu najis, maka ia kekal dengan hukum asalnya iaitu suci dan bersih.

Apakah benda-benda yang dianggap najis oleh Syarak?

Menurut Imam Ibnu Rusyd; empat benda disepakati oleh ulamak sebagai najis, iaitu;

  1. Bangkai haiwan darat yang berdarah mengalir
  2. Daging babi
  3. Darah dari haiwan darat jika ia mengalir, yakni banyak.
  4. Air kencing manusia dan tahinya.

Selain dari empat di atas (seperti; arak, tahi binatang, muntah dan sebagainya lagi) di kalangan ulamak terdapat beza pandangan; ada yang menganggapnya najis dan ada yang tidak. Menurut Imam asy-Syaukani; perkara-perkara yang ada dalil Syarak menyebutnya sebagai najis ialah;

  1. Tahi dan air kencing manusia
  2. Air liur anjing
  3. Tahi binatang (khusus kepada tahi kuda, baghal dan kaldai sahaja menurut beliau)
  4. Darah haid (lain dari darah haid (iaitu darah biasa) tidak najis menurut beliau).
  5. Daging babi

Hanya lima di atas sahaja –menurut Imam Syaukani- yang mempunyai dalil yang jelas dari Syarak tentang kenajisannya. Selain darinya adalah khilaf di kalangan ulamak”.[2]

Adapun dalam mazhab Syafi’ie, ada 13 perkara yang diputuskan sebagai najis berdasarkan ijtihad ulamak-ulamak mazhab, iaitu;

  1. Anjing; semua juzuk di badan anjing adalah najis.
  2. Babi; semua juzuk di badan babi adalah najis.
  3. Air kencing; semua jenis air kencing adalah najis sama ada dari manusia atau haiwan.
  4. Tahi; semua jenis tahi adalah najis sama ada tahi manusia atau haiwan.
  5. Air mazi; iaitu cecair nipis berwarna kekuningan yang keluar dari kemaluan ketika naik syahwat.
  6. Air madi; iaitu cecair kental berwarna putih yang keluar dari kemaluan selepas kencing atau selepas keletihan.
  7. Arak dan semua minuman yang memabukkan seperti tuak dan seumpamanya.
  8. Bangkai/mayat; kecuali mayat manusia, bangkai haiwan laut (ikan dan sebagainya) dan belalang.
  9. Darah; semua jenis darah adalah najis sama ada darah manusia atau haiwan.
  10. Nanah
  11. Anggota yang terpisah dari haiwan ketika masih hidupnya; kecuali bulu binatang yang halal dimakan seperti bulu biri-biri, bulu ayam dan sebagainya.
  12. Susu binatang yang tidak halal dimakan dagingnya.
  13. Muntah

Apakah kaifiyat bersuci dari najis yang ditetapkan oleh Syarak?

  1. Bersuci dengan menggunakan air
  2. Bersuci dengan air bercampur tanah
  3. Bersuci dengan benda-benda kesat
  4. Bersuci dengan menggosok ke tanah

Bagaimana caranya bersuci dengan air?

Menggunakan air adalah cara asal dalam bersuci. Tidak harus berpaling dari menggunakan air dalam bersuci kecuali dengan keizinan dari Syarak. Adapun cara bersuci dengan air ialah;

Pertama; Buang najis terlebih dahulu,

Kedua; Basuh tempat yang terkena najis itu dengan air hingga hilang sifat-sifatnya iaitu warnanya, baunya dan rasanya. Jika sekali basuhan telah dapat menghilangkannya, tidak perlu lagi diulangi basuhan. Jika tidak, wajib diulangi lagi basuhan termasuk dengan menggosok-gosoknya atau melakukan seumpamanya. Setelah dibasuh berulang kali, namun warna najis masih tidak tanggal atau baunya masih tidak hilang, ketika itu dimaafkan, yakni basuhan dianggap sempurna dan tidak perlu diulangi lagi.

Dikecualikan jika najis itu ialah air kencing kanak-kanak lelaki yang belum berumur dua tahun dan belum menikmati sebarang makanan kecuali susu ibunya, maka memadai dengan merenjis air hingga meratai kawasan yang terkena air kencing itu, kemudian dibiarkan kering. Tidak perlu membasuhnya atau mengalirkan air ke atasnya. Ummu Qais binti Mihsan –radhiyallahu ‘anha-. Menceritakan;

Beliau membawa seorang bayi lelaki yang belum memakan sebarang makanan kepada Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam-, tiba-tiba bayi itu kencing di atas pakaian baginda. Baginda meminta air, lalu merenjis pakaiannya dan baginda tidak membasuhnya”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Apakah najis yang perlu dibasuh menggunakan air bercampur tanah? Bagaimana caranya?

Iaitu najis anjing kerana Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

Apabila bekas kamu dijilat oleh anjing, hendaklah kamu membasuhnya tujuh kali; kali pertama dengan tanah” (Riwayat Imam Muslim).

Caranya ialah;

  1. Buang najis terlebih dahulu.
  2. Basuh tempat yang terkena najis anjing itu dengan air yang bercampur tanah (sekali sahaja).
  3. Bilas dengan air biasa sebanyak enam kali.

Oleh kerana cara membasuh najis anjing di atas lebih berat berbanding cara membasuh najis-najis yang lain, maka kerana itu najis anjing dinamakan ulamak dengan najis mughallazah (najis berat).

Adakah najis babi juga mesti di basuh dengan air bercampur tanah?

Ulamak-ulamak berbeza pandangan tentang babi; adakah ia termasuk dalam najis berat (mughalladzah) sebagaimana anjing di atas, atau ia hanya terdiri dari najis biasa (seperti arak, air kencing, tahi dan sebagainya) yang mencukupi dibasuh dengan air seperti biasa? Ada dua pandangan;

Pertama; Jumhur ulamak berpandangan; babi sama seperti najis-najis yang lain, iaitu mencukupi dibasuh seperti biasa hingga hilang kesan-kesannya. Tidak perlu diulangi basuhan hingga tujuh kali dan tidak perlu menggunakan tanah. Mengikut pandangan jumhur ulamak, najis berat hanya satu sahaja iaitu anjing. Dalil mereka ialah sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-;

Apabila anjing menjilat bekas salah seseorang dari kamu, cara menyucinya ialah dengan ia membasuhnya sebanyak tujuh kali, kali pertamanya dengan tanah” (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-).

Di dalam hadis ini, Nabi hanya menyebut anjing sahaja, tidak menyebutkan najis yang lain termasuk babi.

Kedua; mengikut mazhab Syafi’ie; babi sama seperti anjing, oleh itu ia mesti dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satu basuhan mesti dengan air bercampur tanah. Dalil mereka ialah dengan mengkiaskannya kepada anjing kerana babi lebih buruk keadaannya dari anjing di mana pengharaman memakannya adalah sabit dengan nas al-Quran, adapun pengharaman memakan anjing hanya sabit dengan ijtihad.

Adakah harus tanah digantikan dengan sabun atau bahan pencuci lain?

Bagi masalah ini juga ada perbezaan pandangan di kalangan ulamak;

Pandangan pertama; tidak harus kerana cucian dengan tanah itu adalah arahan Syarak. Halnya sama seperti tayammum yang diarahkan oleh Syarak menggunakan tanah, maka tidak harus dialihkan kepada yang lain. Arahan menggunakan tanah itu bersifat ibadah, oleh itu tidak harus dinilai berdasarkan akal atau logik. Ini adalah pandangan yang rajih dalam mazhab Syafi’ie.

Pandangan kedua; harus tanah itu digantikan dengan sabun kerana penggunaan sabun lebih berkesan dari tanah dalam menghilangkan najis. Nabi menyebutkan tanah dalam hadis tadi bukan bertujuan membataskannya kepada tanah, tetapi untuk menegaskan perlunya penyucian najis berat itu dibantu dengan bahan lain di samping air. Masalah ini ada persamaannya dengan istinjak di mana selain dengan air, Nabi juga mengharuskan istinjak dengan batu. Menurut ulamak; walaupun nabi hanya menyebutkan batu, namun dikiaskan kepadanya bahan-bahan lain yang bersifat kesat dan berupaya menanggalkan najis seperti kertas, tisu kesat dan sebagainya. Nabi menyebut batu bukanlah bertujuan membataskannya kepada batu, tetapi untuk menjelaskan keharusan beristinjak dengan batu atau bahan-bahan lain yang mempunyai sifat yang sama. Ini adalah pandangan jumhur ulamak mazhab Hanbali.

Pandangan ketiga; Dalam keadaan terdapat tanah, wajiblah basuhan menggunakan tanah dan tidak harus berpindah kepada bahan yang lain sama ada sabun atau sebagainya. Jika tidak ada tanah, barulah harus menggunakan bahan yang lain menggantikan tanah. Ini adalah pandangan Abu Hamid (salah seorang ulamak mazhab Hanbali).

Apakah yang dimaksudkan dengan benda-benda kesat? Bilakah harus bersuci dengannya?

Benda-benda kesat adalah seperti batu, kertas atau tisu yang kesat, kayu dan sebagainya. Benda-benda kesat ini harus digunakan untuk beristinjak iaitu membersihkan najis di kemaluan setelah kencing atau berak. Telah sabit di dalam hadis bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam- menggunakan batu untuk beristinjak. Maka dikiaskan kepadanya segala benda yang kesat yang dapat menanggalkan najis dari dua saluran tersebut.

Apa syarat beristinjak dengan benda kesat?

Paling baik ialah berinstinjak dengan air kerana ia lebih menyucikan. Diharuskan beristinjak dengan benda-benda kesat sahaja sekalipun terdapat air, tetapi hendaklah dengan memenuhi syarat-syarat di bawah;

  1. Hendaklah dengan sekurang-kurangnya tiga kali sapuan. Tidak harus kurang dari tiga kali sapuan sekalipun telah kelihatan bersih dengan sekali atau dua kali sapuan. Ini kerana tiga kali sapuan itu adalah had minima yang ditetapkan Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-. Salman –radhiyallahu ‘anhu- menceritakan; “Nabi menegah kami dari beristinjak kurang dari tiga batu (yakni tiga sapuan batu)” (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Nasai). Jika tiga kali sapuan tidak mencukupi, wajib ditambah dan sunat tambahan itu ganjil (yakni lima, tujuh dan sebagainya).
  2. Hendaklah najis tidak melepasi papan punggung atau hasyafah (yakni kepala zakar). Jika najis meleleh melepasi kawasan tersebut, wajib istinjak dengan air.
  3. Hendaklah sebelum najis kering. Jika najis telah kering, wajib istinjak dengan air.
  4. Bahan yang digunakan hendaklah bersih dan kering. Sifatnya hendaklah boleh menanggalkan najis, iaitu tidak terlalu licin atau terlalu kasar kerana tujuan intinjak ialah untuk menanggalkan najis, maka hendaklah bahan yang digunakan boleh memenuhi tujuan tersebut.
  5. Bahan yang digunakan bukan dari makanan manusia atau jin seperti tulang.

Sabda Nabi;

Janganlah kamu beristinjak dengan tahi binatang, dan juga dengan tulang kerana ia adalah makanan saudara kamu dari kalangan jin”. (Riwayat Imam at-Tirmizi)

Bagaimana yang dikatakan bersuci dengan menggosok ke tanah?

Iaitu cara bersuci yang disebut oleh Nabi di dalam hadisnya;

Jika seseorang kamu datang ke masjid, hendaklah ia menterbalikkan dua sepatunya dan memerhatikannya; jika ia nampak ada najis, hendaklah ia menggosoknya ke tanah, kemudian tunaikan solat dengan memakai sepatunya itu”. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Abu Said al-Khudri r.a.).

Berdalilkan hadis ini, sebahagian ulamak –antaranya Imam Abu Hanifah- menegaskan;

Kasut atau sepatu yang terkena najis –sama ada kering atau basah- memadai menyucinya dengan menggosoknya ke tanah hingga hilang kesan najis pada kasut tersebut”.

Bagaimana cara menyucikan tanah yang dikenai najis?

Tanah yang terkena najis, cara menyucinya ialah;
Pertama; hendaklah dibuang terlebih dahulu najis jika kelihatan.
Kedua; setelah dibuang najis, curahkan sebaldi air ke atas tanah yang terkena najis itu dan biarkan ia kering. Abu Hurairah r.a. telah menceritakan;

Seorang lelaki dari pedalaman datang ke masjid Nabi s.a.w.. Tiba-tiba ia bangun dan kencing di satu penjuru masjid. Lalu Nabi s.a.w. berkata; “’Curahkan sebaldi air ke atas tempat yang terkena air kencingnya”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Jika seseorang itu selepas mengerjakan solat, ia ternampak najis di pakaiannya; adakah wajib ia mengulangi solatnya?

Para ulamak berbeza pandangan dalam masalah ini;

  1. Ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie- menegaskan; batal solatnya dan wajib diulangi kerana ia menunaikan solat dalam keadaan tidak memenuhi syarat sahnya iaitu bersuci. Adapun sangkaannya semasa sedang solat –bahawa ia bersih dari najis-, maka sangkaan itu tidak dikira kerana telah terbukti salah. Kaedah Fiqh menyebutkan; “Tidak diambil kira sangkaan yag telah ternyata salahnya”.
  2. Menurut mazhab Imam Abu Hanifah; tidak batal solatnya jika najis itu sedikit. Jika najis itu banyak, batallah solat dan wajib diulangi semula.
  3. Ada ulamak berpandangan; tidak batal solatnya secara keseluruhannya sama ada najis itu sedikit atau banyak. Mereka berdalilkan hadis dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu- yang menceritakan; “Suatu hari kami mengerjakan solat bersama Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-. Ditengah solat, Nabi menanggalkan dua kasutnya dan meletaknya di sebelah kirinya. Melihat berbuatan Nabi itu, kami pun turut melakukannya. Selesai solat, Nabi bertanya; “Kenapa kamu semua menanggalkan kasut?”. Kami menjawab; “Kami melihat kamu melakukannya, maka kami pun turut melakukannya”. Nabi berkata; “Di tengah solat tadi, Jibril datang kepadaku dan memberitahu bahawa di kasutku terdapat najis/kekotoran, maka kerana itulah aku menanggalkannya. Jika seseorang kamu datang ke masjid, hendaklah ia menterbalikkan dua kasutnya dan memerhatikannya; jika ia nampak ada najis, hendaklah ia menggosoknya ke tanah, kemudian bolehlah ia menunaikan solat dengan memakai kasutnya itu” (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud). Berkata Imam al-Khattabi; hadis ini menjadi dalil bahawa sesiapa menunaikan solat sedang di pakaiannya terdapat najis yang tidak diketahuinya, maka solatnya adalah sah dan tidak perlu ia mengulanginya”. [3] Selain Imam al-Khattabi, ulamak yang berpandangan serupa ialah Imam Ibnu Taimiyyah. Di dalam al-Fatawa al-Kubra, Imam Ibnu Taimiyyah menegaskan; “Sesiapa menunaikan solat dengan ada najis (di pakainnya) kerana lupa atau tidak tahu, tidak perlu ia ulangi solatnya”.[4]

__________________________

Nota Kaki

[1] Bidayatul-Mujtahid (1/101).
[2] Ad-Darari al-Madhiyyah, halaman 18.
[3] Bidayatul-Mujtahid (1/100).
[4] Al-Fatawa al-Kubra (5/327).

BERISTINJAK – BERSUCI


Apa maksud istinjak?

Istinjak bermaksud membasuh tempat keluar najis iaitu zakar/faraj dan dubur selepas membuang air kecil (yakni kencing) atau air besar (yakni berak). Hukumnya adalah wajib.

Apakah bahan yang harus digunakan untuk istinjak?

Bahan untuk beristinjak ialah air. Anas r.a. memceritakan; “Adalah Nabi s.a.w. apabila keluar membuang air, aku akan bawakan untuknya satu bekas air untuk beliau beristinjak”. Diharuskan juga menggunakan benda-benda kesat seperti batu, kertas dan sebagainya yang boleh menanggalkan najis. Banyak hadis menceritakan Nabi s.a.w. beristinjak menggunakan batu.

Menurut mazhab Syafi’ie, paling baik ialah menggabungkan kedua-duanya; iaitu menyapu najis dengan benda kesat (tisu atau sebagainya), kemudian disusuli dengan membasuh dengan air. Cara ini adalah terbaik kerana dapat menjimat air dan mengelak tangan dari terlalu banyak menyentuh najis. Harus menggunakan salah satu cara iaitu dengan air sahaja atau dengan benda kesat sahaja, namun beristinjak dengan air adalah lebih afdhal kerana lebih menyucikan.

Tangan manakah yang hendak digunakan ketika beristinjak?

Beristinjak sunat menggunakan tangan kiri. Beristinjak dengan tangan kanan adalah makruh, kecuali tidak dapat dielakkan. Kata Nabi s.a.w.;

Sesiapa dari kamu kencing, janganlah ia memegang zakarnya dengan tangan kanannya dan janganlah juga ia beristinjak dengan tangan kanannya”.[1]

Apakah syarat-syarat beristinjak dengan benda kesat?

Namun jika hendak beristinjak dengan benda-benda kesat sahaja (tanpa menggunakan air), mesti memenuhi syarat-syarat di bawah;

  1. Hendaklah dengan sekurang-kurangnya tiga kali sapuan, tidak boleh kurang darinya.[2] Salman r.a. menceritakan; “Nabi s.a.w. menegah kami dari beristinjak kurang dari tiga batu (yakni tiga sapuan batu)”.[3] Jika tiga kali sapuan tidak mencukupi, wajib ditambah dan sunat tambahan itu ganjil (yakni lima, tujuh dan sebagainya).
  2. Hendaklah najis tidak melepasi papan punggung atau hasyafah (yakni kepala zakar). Jika najis meleleh melepasi kawasan tersebut, wajib istinjak dengan air.
  3. Hendaklah sebelum najis kering. Jika najis telah kering, wajib istinjak dengan air.
  4. Bahan yang digunakan hendaklah bersih dan kering. Sifatnya hendaklah boleh meanggalkan najis, iaitu tidak terlalu licin atau terlalu kasar kerana tujuan intinjak ialah untuk menanggalkan najis, maka hendaklah bahan yang digunakan boleh memenuhi tujuan tersebut.
  5. Bahan yang digunakan bukan dari makanan manusia atau jin seperti tulang. Kata Nabi s.a.w.; “Janganlah kamu beristinjak dengan tahi binatang, dan juga dengan tulang kerana ia adalah makanan saudara kamu dari kalangan jin”.[4]

Apakah adab-adab semasa membuang air kecil atau air besar?

1. Jangan membuka aurat sebelum masuk ke dalam tandas. Apa yang selalu atau kadang-kadang dilakukan oleh sebahagian dari kita hari ini iaitu menyelak atau mengangkat kain hingga nampak aurat sebelum masuk tandas adalah menyalahi Syarak. Hukumnya adalah haram.

2. Ketika memasuki tandas dahulukan kaki kiri dan sebelum melangkah masuk, bacalah terlebih dahulu;


بسم الله، اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث

(Riwayat Imam al-Bukhari)

3. Keluar dari tandas, dahulukan kaki kanan dan apabila telah berada di luar tandas bacalah;

غفرانك، الحمد لله الذي أذهب عني الأذى وعافاني
(Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah)

4. Janganlah bercakap-cakap semasa di dalam tandas kecuali tidak dapat dielakkan. Malah Nabi s.a.w. tidak menjawab salam ketika baginda sedang buang air. Ibnu Umar menceritakan; “Seorang lelaki telah lalu berhampiran Nabi s.a.w. yang sedang kencing. Ia memberi salam kepada baginda, namun baginda tidak memjawab salamnya”.[5]

5. Jangan membawa masuk barang-barang yang terdapat nama Allah atau ayat al-Quran atau sebagainya yang dimuliakan oleh agama.

6. Jika terpaksa membuang air di tempat yang tidak mempunyai tandas (seperti di hutan dan sebagainya), hendaklah menjaga adab-adab berikut selain dari adab-adab di atas tadi;

  • Hendaklah mencari tempat yang jauh dari orang ramai.
  • Jangan mengadap ke arah qiblat atau membelakanginya.
  • Hendaklah mencari tempat yang sesuai. Elakkan dari buang air di jalan lalu lalang orang ramai, tempat berteduh mereka, laluan air, di bawah pohon yang berbuah atau sebarang tempat yang menjadi tumpuan orang ramai. Hal tersebut amat dilarang oleh Nabi s.a.w. kerana mengundang laknat orang terhadap pelakunya.
  • Jangan buang air di air yang tenang. Jabir r.a. berkata; “Nabi menegah kencing di air yang tenang
  • Jangan buang air di lubang yang telah tersedia kerana ia dikhuatiri didiami oleh binatang atau jin.

Abdullah bin Sarjis r.a. berkata; “Nabi s.a.w. melarang kencing ke dalam lubang”[6].

Apa hukum kencing sambil berdiri?

Diriwayatkan dari Huzaifah r.a. yang menceritakan; Aku bersama Nabi s.a.w.. Apabila sampai di satu tempat pembuangan sampah, Nabi s.a.w. kencing di situ sambil berdiri. Aku pun berpaling menjauhi baginda. Namun baginda berkata kepadaku;

Hampirilah’. Aku pun menghampiri Nabi hingga aku berdiri hampir dengan dua tumitnya. Setelah selesai kencing, Nabi mengambil wudhuk dengan menyapu dua khufnya”. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan keharusan kencing sambil berdiri, bukan menunjukkan kebiasaan Nabi s.a.w.. Kebiasaan Nabi s.a.w. ialah kencing sambil duduk sebagaimana riwayat dari Saidatina ‘Aisyah r.a. yang berkata;

Jika ada sesiapa menceritakan kepada kamu bahawa Nabi s.a.w. kencing berdiri, maka jangan kamu mempercayainya. Nabi tidak kencing melainkan sambil duduk”. (Riwayat Imam Ahmad, at-Tirmizi, an-Nasai dan lain-lain. Menurut Imam Nawawi; sanad hadis ini adalah baik).

Berdasarkan hadis ini, sebahagian ulamak menegaskan; hukum kencing berdiri adalah makruh kecuali jika ada sebarang keuzuran. Menurut mereka; perbuatan Nabi kencing berdiri dalam hadis pertama di atas adalah kerana ada keuzuran bagi baginda; kemungkinan susah bagi baginda untuk duduk pada ketika itu memandangkan tempat itu ialah tempat pembuangan sampah atau mungkin juga baginda mengalami sakit tulang belakang. Menurut Imam Syafi’ie; orang Arab jika mereka mengalami sakit belakang, mereka akan kencing berdiri.

Di kalangan para sahabat sendiri terdapat khilaf tentang kencing berdiri. Terdapat riwayat menceritakan bahawa Saidina Umar, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Anas r.a. pernah kencing sambil berdiri. Antara sahabat yang memakruhkannya pula ialah Ibnu Mas’ud dan diikuti oleh Imam as-Sya’bi dan Ibrahim bin Sa’ad.

Kesimpulannya; kencing berdiri hukumnya adalah harus atau makruh mengikut perbezaan ulamak di atas. Namun yang terbaik ialah kencing sambil duduk. Ini ditegaskan oleh Imam Ibnu al-Munzir; “Kencing sambil duduk lebih aku sukai. Namun kencing berdiri hukumnya adalah harus. Kedua-duanya ada dalil dari Nabi s.a.w.”.

_________________

Nota Kaki

[1] Riwayat Imam Bukhari dari Abi Qatadah r.a..
[2] Sekalipun telah kelihatan bersih dengan sekali atau dua kali sapuan. Ini kerana tiga kali sapuan tiu adalah had minima yang ditetapkan Nabi s.a.w., tidak harus kurang dari itu.
[3] Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Nasai.
[4] Riwayat Imam at-Tirmizi.
[5] Riwayat Imam Muslim.
[6] Riwayat Imam Abu Daud.

MENYELAMI ALAM CIPTAAN ALLAH


Susunan: Mohd Zamir bin Bahall

PENDAHULUAN

Kita sememangnya yakin alam yang maha luas dan besar ini bukanlah terjadi dengan sendirinya. Mustahil sesuatu itu terjadi dengan sendirinya melainkan ada yang menciptanya. Dan pencipta alam seluruhnya ini ialah ALLAH Tuhan bagi mereka yang bertaqwa.

Kita meyakini bahawa Allah s.w.t. bukan sahaja semata-mata mencipta bahkan mengatur pula perjalanan alam seluruhnya. Allah lah yang memutarkan bumi dan bulan  pada paksi dan orbitnya, menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya dan sebagainya. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)? (Yunus : 31)

PERLINDUNGAN ALLAH

Allah s.w.t. bukan sahaja mencipta dan mengatur alam sahaja, malah melindunginya juga. Tanpa perlindungan-Nya maka alam tidak mungkin dapat bertahan selama berjuta abad sebagaimana yang kita dapat saksikan pada hari ini. Tanpa perlindungan Allah, tidak mungkin ada kehidupan di atas muka bumi ini.

Untuk mengetahui betapa hebatnya perlindungan Allah maka mari kita perhatikan perkara berikut:

Putaran Bumi

Kita semua dapat hidup di atas muka bumi ini kerana bumi berputar di atas paksinya dalam tempoh 24 jam sehari. Cuba bayangkan sekiranya bumi ini tidak berputar, mustahil kita dapat hidup dengan aman dan sentosa di permukaan bumi.

Dari putaran inilah terjadinya siang dan malam. Permukaannya yang menghadap matahari akan mengalami siang manakala permukaan yang membelakangkan matahari akan menjadi malam. Seandainya bumi tidak berputar maka sudah tentu bahagian yang menghadap matahari akan menjadi siang selama-lamanya hingga hari kiamat dan begitulah sebaliknya.

Putaran bumi mengelilingi matahari, menyebabkan fenomena siang dan malam adalah sebahagian daripada buktik kebesaran Allah SWT.

Apakah yang akan terjadi sekiranya siang berlaku terus menerus? Sudah pasti keadaan udara dan hawa dari saat ke saat, dari minit ke minit  dan dari jam ke jam akan menjadi bertambah panas. Dalam tempoh 100 jam sahaja udara akan mencapai takat didih 100ºC sehingga lautan, tasik, danau, sungai dan sebagainya akan mendidih dan menggelegak. Cuba anda bayangkan apa yang akan terjadi sekiranya seluruh sungai, danau dan samudera mendidih airnya? Begitu juga darah yang mengalir di dalam tubuh kita juga turut mendidih. Dalam keadaan sedemikian, tidak ada satu pun makhluk yang dapat hidup. Semuanya akan mati dan musnah menjadi debu-debu yang berterbangan.

Apa pula yang akan terjadi sesudah 100 jam atau 1000 jam berikutnya? Bukan sahaja semua ini akan mendidih, bahkan semua permukaan bumi ini sama ada benda-benda pepejal atau sebagainya, akan menjadi bara api yang tersangat panas. Ketika itu, bukan setakat manusia sahaja akan mati terbakar malahan bumi ini sendiri akan terbakar menjadi debu dalam sekelip mata sahaja.

Kemudian apa pula yang akan terjadi sekiranya waktu malam berlaku terus menerus sehingga hari kiamat? Hawa dan udara dari saat ke saat dan seterusnya dari jam ke jam akan terus bertambah dingin sehingga dalam tempoh 100 jam sahaja akan mencapai takat 0ºC sehingga seluruh air dan benda yang cair akan membeku menjadi ais yang pejal dan keras. Mungkin di saat itu, manusia dan binatang-binatang masih dapat hidup seperti keadaan di Kutub Utara dan Selatan. Namun begitu, bagaimana pula keadaannya sesudah 100 jam atau 1000 jam berikutnya? Apabila udara dan suhu menjunam turun ke bawah paras 0ºC maka sudah pasti akan lenyaplah segala kehidupan di muka bumi ini.

Kedua-dua ibarat ini harus kita fikirkan sedalam-dalamnya untuk melihat betapa hebatnya kekuasaan Allah dan juga perlindungan-Nya yang diberikan untuk kehidupan setiap makhluk khasnya kita sebagai manusia yang dikurniakan akal fikiran yang sempurna. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Katakan pula, bagaimanakah pendapat kamu sekiranya Allah menjadikan siang terus menerus sampai hari kiamat? Siapakah selain Allah yang akan mendatang malam kepadamu yang kamu dapat beristirehat padanya?  Maka apakah kamu tidak memperhatikannya? Dan kerana rahmatnya-Nya, Dia jadikan untuk kamu malam dan siang supaya kamu beritirehat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari kurniaan-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qasas: 72-73)

Dengan adanya putaran bumi siang dan malam maka keadaan hawa di permukaan bumi ini menjadi seimbang dan sederhana iaitu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Sehingga manusia, haiwan-haiwan dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup dengan selesa di permukaan bumi ini.

Ya, semamangnya kita harus renungkan siapakah lagi selain Allah yang dapat memutarkan bumi sebesar ini? Iaitu planet yang berukur lilit 40,003 km dan beratnya beribu-ibu juta tan itu. Perkara ini hendaklah kita fikirkan sedalam-dalamnya. Seterusnya hendaklah kita selalu mengingati dan berterima kasih kepada Allah s.w.t. Janganlah kita sekali-kali menjadi orang-orang yang seakan-akan tidak mendengar dan melihatnya sedangkan kita mempunyai telinga, mata dan akal untuk bersyukur memuji-Nya.

Peredaran Bumi Mengelilingi Matahari

Selain daripada berputar atas paksinya, bumi juga berputar mengelilingi matahari dalam lingkaran orbitnya yang amat luas. Ingatlah bahawa jarak antara bumi dengan matahari adalah 149,000,000 km dan putarannya mengambil masa selama 365¼ hari iaitu setahun mengikut perkiraan kita.

Semasa beredar mengelilingi matahari, bumi akan berputar di atas paksinya dalam berkeadaan condong. Maka sesetengah negara yang terletak jauh dari garisan khatulistiwa akan lebih terdedah kepada cahaya matahari lalu jadilah musim panas ataupun kurang menerima cahaya matahari lalu jadikan musim sejuk. Sebagai akibat daripada pergantian musim ini terjadilah pelbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan di permukaan bumi ini yang menjadi nikmat dan hikmah yang amat besar kepada seluruh kehidupan di muka bumi.

Begitulah keadaannya dari semasa ke semasa dan silih berganti tanpa henti-henti sehingga hari kiamat… akibat peredaran bumi di sekeliling matahari. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

… Dan engkau lihat bumi ini kering tetapi setelah kami turunkan air (hujan) padanya, ia menjadi lembut dan subur dan menumbuhkan pelbagai macam tumbuhan dan buah-buahan yang cantik dan lazat. (Al-Hajj: 5)

Firmannya lagi yang bermaksud:

Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-ganang yang kukuh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. (Qaaf: 7)

Jarak Di Antara Bumi Dengan Planet-Planet Lain

Kita sudah pun mengetahui jarak di antara bumi dengan matahari dan semamangnya telah dapat dibuktikan menerusi sains dan nas-nas Al-Quran bahawa jika jarak itu berubah sedikit sahaja maka terjadilah kerosakan yang amat dahsyat di bumi.

Sekiranya bumi mendekati matahari dengan kadar lebih atau kurang dari jarak yang sedia ada sekarang maka sudah pasti akan berlaku mala petaka dan bencana-bencana alam yang tidak terkira dahsyatnya. Begitulah juga bulan dan planet-planet lain, sekiranya terkeluar sedikit dari orbitnya sama ada terlebih atau terkurang nescaya akan berlanggaran antara satu sama lain.

Jarak tertentu yang ditetapkan oleh Allah s.w.t. bagi bumi di tengah-tengah angkasa raya dan cakerawala-cakerawala ini merupakan perlindungan-Nya yang sangat besar faedah dan manfaatnya kepada seluruh kehidupan di muka bumi.

Jarak tertentu yang ditetapkan oleh Allah s.w.t. bagi bumi di tengah-tengah angkasa raya dan cakerawala-cakerawala ini merupakan perlindungan-Nya yang sangat besar faedah dan manfaatnya kepada seluruh kehidupan di muka bumi. Lebih-lebih lagi untuk kehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Semuanya ini harus kita renungkan. Jangan sekali-kali kita gunakan akal dan fikiran semata-mata untuk perkara-perkara yang kecil dan remeh sahaja seperti soal makan, pakaian, perhiasan dan sebagainya. Mengapa kita tidak gunakan keupayaan sebenar akal yang dikurniakan Tuhan iaitu untuk merenung alam ciptaan-Nya seterusnya mendatangkan kesedaran, keyakinan dan kegerunan kepada kebesaran Allah s.w.t. Ini selanjutnya dapat membina sikap dan akhlak yang sentiasa bertunjangkan ajaran Islam dan syariatnya. Menggunakan akal sedemikian barulah memberi faedah yang sebenar-benarnya kepada manusia yang membawa kepada kebahagiaan hidup dan jauh daripada amalan atau perbuatan yang merosakkan. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Ketahuilah bahawa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.  (Al-Hadid : 20)

Jika kita renungkan sedalam-dalamnya bahawa setiap bintang dan palnet itu bebas bergerak di angkasa raya, bergerak dan berputar dari abad ke abad, masing-masing tetap pada jaraknya yang tertentu maka sedarilah betapa hebatnya kukuasaan Allah s.w.t. dalam mengatur segalanya sehingga saling tidak berlanggaran. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Matahari berjalan di tempat yang ditetapkan baginya. Demikianlah Allah Yang Maha Gagah Lagi Maha Mengetahui. Sedangkan bulan kami tentukan baginya tempat yang tertentu sehingga ia kembali berbentuk seperti pelepah kurma yang kering (bulan sabit). Tiadalah matahari mendekati bulan dan tidak pula malam mendahului siang sedang semuanya beredar pada garis edarannya (orbit).  (Yassin : 38-40)

Air Laut Yang Masin

Hampir ¾ bumi ini diliputi air. Di mana 97% daripadanya merupakan samudera yang luas dipenuhi air dengan rasanya yang masin. Pada waktu siang dan malam, berjuta-juta tan bahan buangan dan kotoran dibuang dan dilemparkan ke dalam laut. Jika sekiranya air laut itu tidak masin, sudah tentu kotoran itu akan mengeluarkan bau yang amat busuk sehingga dalam beberapa waktu sahaja air laut akan menjadi tersangat busuk. Bagaimanakah keadaan ketika itu? Kita tidak mampu menggambarkan apa yang bakal terjadi, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Sekurang-kurangnya tertentu ia akan merosakkan kesihatan penghuni bumi ini.

Terciptanya air yang masin ini akan menjadi bukti betapa Allah s.w.t. melindungi segala kehidupan di permukaan bumi ini.

Terciptanya air yang masin ini akan menjadi bukti betapa Allah s.w.t. melindungi segala kehidupan di permukaan bumi ini. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), laut yang tawar lagi segar dan laut yang masin lagi pahit. Dan Dia jadikan diantara kedua-duanya dinding dan batas yang menghalangi. (Al-Furqan : 53)

Laut (air) tawar yang dinyatakan di dalam ayat di atas adalah terdiri daripada sungai, danau, tasik dan sebagainya yang sekalipun berdekatan dengan laut namun ia tetap tidak bercampur dengan air masin. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau kami kehendaki nescaya Kami jadikannya masin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (Al-Waqiah: 68-70)

Andainya perlindungan Allah s.w.t. kepada makhluk-Nya kita selidiki, kaji, ulas dan bahas maka sudah pasti ianya tidak akan tamat malahan jika ditulis ia akan menjadi jilidan buku yang tebalnya melebihi tinggi langit dan bumi.

Manusia yang celik mata hatinya dan peka pancainderanya akan mengakui bahawa walau secerdik mana manusia dan setinggi mana ilmu pengetahuannya, mereka tetap tidak mampu menlindungi diri mereka sendiri tanpa bantuan dan perlindungan Allah, lebih-lebih lagi apabila berhadapan dengan bencana alam seperti letupan gunung berapi, taufan, ombak besar (tsunami), gempa bumi dan banyak lagi Maha Suci Allah betapa  kerdilnya manusia dan betapa perkasanya Engkau.

KETERBATASAN ILMU MANUSIA

Bagaimana hebatnya ilmu pengetahuan yang telah dicapai dan yang akan dicapai oleh manusia, namun ianya masih sedikit sekali jika dibandingkan dengan besar dan luasnya alam semesta yang masih belum banyak diketahui dan diterokai oleh manusia. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit. (Al-Isra :85)

Tidak perlu kita perhatikan terlalu jauh, cukup dalam diri kita sendiri. Ada sesetengah pihak yang mengkaji tentang nyawa tetapi sehingga sekarang masih belum juga ditemui apakah hakikat nyawa itu. Bagaimana bentuk dan rupanya? Adakah ia  seperti air, udara atau… hanya Allah sahaja Yang Maha Mengetahui. Sedangkan tentang diri sendiri pun banyak lagi yang kita tidak ketahui, inikan pula tentang bumi, planet-planet dan ruang angkasa, sekalipun ilmu pengetahuan manusia pada zaman teknologi maklumat ini lebih maju dan terkehadapan berbanding ilmu pengetahuan di zaman silam.

Apabila kita melihat langit, kita dapati ia kelihatan begitu dekat seolah-olah beberapa kilometer sahaja. Akan tetapi setelah ada manusia naik ke bulan maka didapatinya langit itu masih juga jauh. Sehinggakan planet yang terjatuh dari kelompok matahari iaitu Pluto, di sana juga masih terdapat langit. Ya… betapa luasnya alam maya ciptaan Tuhan.

Sejauhmana tinggi sekalipun ilmu pengetahuan seseorang namun ia tidak mampu menerangkan atau akalnya tidak memahami bagaimana sebenarnya rahsia perkembangan sebuah sel yang begitu halus yang bercantum sehingga menjadi makhluk berbentuk manusia, binatang atau tumbuhan. Ilmu yang dikurniakan Allah kepada  manusia adalah sangat sedikit diibaratkan jika kita ambil sebatang jarum lalu kita celupkan ke dalam laut lantas diangkat semula maka air yang terlekat di jarum itulah umpamanya pengetahuan manusia, sedangkan air laut yang masih tinggal di samudera luas adalah umpama luasnya pengetahuan Allah.

Bagi mengelakkan hati kita daripada mati, mata daripada buta dan telinga daripada tuli maka marilah kita menyelami alam semesta ciptaan Tuhan supaya kita tergolong ke dalam golongan yang disebut oleh Allah melalui firman-Nya yang bermaksud:

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka (dari petunjuk dan nasihat), dan penglihatan mereka ditutup (daripada mendapat pengajaran dari al-Quran dan alam semesta). Dan bagi mereka seksa yang amat berat. (Al-Baqarah : 7)

Seluruh alam yang dapat kita lihat dengan mata kasar adalah terdiri dari kelompok matahari kerana mataharilah yang menjadi induk dan terpenting. Marilah kita renungkan saban hari apabila sang suria memancarkan sinarnya, alam semesta akan menjadi terang benderang. Apabila sang suria beradu di ufuk barat, pada mulanya cahaya kelihatan samar-samar kemudian seluruh alam gelap gelita. Apabila malam terus merangkak, sang bulan pula muncul dan bercahaya dengan dihiasi bintang-bintang yang berkelipan, namun ia tetap tidak dapat menyamai siang yang terangnya diberikan oleh matahari.

Apabila kita pada suatu malam berkunjung ke tepi pantai dengan langit yang cerah dan melihat ke lautan yang luas, kita akan dapat menyaksikan sendiri betapa hebat dan luasnya alam semesta raya ini. Lautan terdampar luas di hadapan kita dengan riak dan gelombangnya yang tidak pernah membosankan, sedang di angkasa raya bertaburan berjuta-juta bintang kecil dan besar dengan sinarnya yang berkedip-kedipan sampai ke mata kita. Ketika dan saat itu, kita dapat rasakan betapa tenangnya jiwa dan perasaan kita tambahan pula diiringi oleh hembusan bayu malam yang dingin. Tiada seorang pun yang tidak merasai kagum dan terpesona melihat keindahan alam di waktu malam yang indah dan permai itu.

Sudah pasti manusia yang merasa kagum terhadap kehebatan dan keluasan alam semesta ini, akan merasai lebih kagum lagi tentang kebesaran Allah yang menciptakannya.

Sememangnya kita sebagai manusia haruslah memikirkan kejadian dan keadaan alam cakerawala yang maha luas ini. Sudah pasti manusia yang merasa kagum terhadap kehebatan dan keluasan alam semesta ini, akan merasai lebih kagum lagi tentang kebesaran Allah yang menciptakannya. Jika masih ada lagi manusia yang kagum dengan alam semesta tetapi tidak kagum langsung terhadap penciptanya maka itulah manusia yang disifatkan Allah lebih hina daripada haiwan lantaran mensia-siakan akal fikiran kurniaan Tuhan.

Ini baru setakat perbicaraan tentang luas dan jarak planet di antara planet-planet yang lain, belum lagi membicarakan susunan dan peredaran bintang-bintang di angkasa raya. Sekiranya kita benar-benar mengkaji dan menyelidik kemudian mencatatkan segalanya tanpa tertinggal walau satu pun nescaya tidak akan cukup samudera yang luas pada pandangan kita ini sebagai dakwat dan tidak cukup seluruh ranting dan dahan kayu untuk dijadikan pena. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (ilmu) Tuhanku, maka akan habislah lautan ini sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al-Kahfi: 109)

Jika di bandingkan dengan alam cakerawala yang maha luas ini, bumi adalah ibarat debu yang halus sahaja. Jika bumi merupakan debu, maka air laut yang ada di muka bumi ini hanyalah berupa ¾ debu, tentu sahaja tidak cukup untuk mencatat alam semesta yang luas dan banyak itu. Inilah kekaguman terhadap kehebatan dan luasnya alam semesta ciptaan Tuhan yang tidak dapat dinafikan oleh setiap manusia yang mempunyai akal.

Manusia yang merupakan satu unit daripada alam semesta ini tidak kurang juga keajaibannya tersendiri. Jika kita mengkaji sel-sel dalam tubuh badan manusia seperti kromosom maka kita akan dapati bahawa di dalam kromosom terdapat pula gen yang tersangat halus yang akan membawa perwarisan sesuatu keturunan kepada generasi yang akan datang. Untuk melihat sel ini kita perlu menggunakan mikroskop atau mikroskop elektron. Cuba anda bayangkan betapa telitinya Allah s.w.t. mengatur segala kejadian di alam ini. Kesemuanya ini menimbulkan kehairanan dan pertanyaan kepada setiap sarjana-sarjana sains. Apakah yang sebenarnya ada di sebalik keanehan dan keajaiban itu? Mungkinkah keanehan itu sendiri yang melahirkan keanehan tersebut? Walau apa sekalipun, pasti ada pencipta segala keanehan itu. Ya… sudah pasti. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Az-Zariyat: 20-21)

Cuba kita perhatikan bakteria pula. Bukan sahaja ia merupakan makhluk yang sangat halus, malahan mempunyai pelbagai bentuk pula. Ada yang berbentuk bulat (coccus), ada yang leper (becillus), ada yang panjang (spirillium) dan bermacam-macam lagi, hanya orang-orang yang mengkaji sahaja yang mengetahui. Rasanya jika ahli-ahli sains itu insaf terhadap kejadian-kejadian seumpama ini, maka tentunya mereka akan beriman dan iman mereka pasti lebih kukuh terhadap Allah s.w.t. berbanding orang lain.

KEJADIAN MANUSIA ADALAH NIKMAT

Lazimnya, sesudah memikirkan segala kejadian alam semesta dan keagungan Allah yang menciptakannya, akhirnya kita akan kembali memikirkan kejadian diri kita sendiri. Kita tercipta daripada ibu bapa kita dan sekiranya ibu bapa tiada atau salah seorangnya tiada, tentu sahaja kita tidak mungkin dilahirkan ke dunia ini.

Cuba kita renung dan fikirkan, bagaimana kiranya kita tidak ada, tidak pernah ada, tidak tertulis di Loh Mahfuz atau tidak pernah dilahirkan ke dunia. Jika tidak mencipta kita sudah pasti kita tidak ada. Jika kita tidak ada, sudah tentu kita tidak mengetahui adanya alam semesta yang luas ini. Tentu kita tidak kenal matahari dan bulan, tidak kenal manisnya gula, lazatnya makanan dan hidangan. Kita juga tentunya tidak dapat merasakan indahnya rasa kasih sayang, cinta dan tentunya saat-saat bahagia tidak mungkin kita rasai.

Syukur, alhamdulillah, kini kita telah ada dan wujud. Kita sudah dapat menyaksikan keindahan alam maya, dapat melihat pelbagai warna dan pemandangan, melihat sang suria, bulan dan bintang-bintang yang menghiasai segala ruang angkasa. Kita sudah dapat menikmati pelbagai makanan dan hidangan yang lazat dan enak. Kita juga telah dapat merasai betapa indahnya belaian kasih sayang, cinta dan saat-saat kebahagiaan. Seterusnya kita dapat mengenali siapa pencipta kepada semuanya ini termasuk alam yang maha luas ini. Lalu kita dapat menikmati kasih dan sayang-Nya serta bernaung di bawah lindungan dan rahmat-Nya. Inilah sebenarnya nikmat terbesar yang telah Allah kurniakan kepada kita. Kita seharusnya menggandakan rasa kesyukuran dan berterima kasih kepada Allah kerana bukan sahaja telah menjadikan kita, bahkan telah memilih kita menjadi umat-nya yang beriman dan diberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Sehingga kita dapat mengenali Pencipta kepada alam semesta ini yang begitu indah dan teliti sekali.

KESIMPULAN

Oleh itu, kita sebagai insan yang telah diberi panduan hidup iaitu ajaran Islam yang berasaskan al-Quran dan sunnah, haruslah memikirkan dengan sedalam-dalamnya di dalam hati dan sanubari kita tentang kekuasaan Allah dan sifat Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang-Nya yang amat luas ini. Kita hendaklah selalu mengingati dan berterima kasih kepada-Nya. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Ad-Dhuha:11)

Janganlah kita termasuk di dalam golongan mereka yang lalai dan langsung tidak bersyukur kepada Penciptanya yang Maha Agung. Segala pujian hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Dari Allah kita datang dan kepadanya-Nya jua kita kembali.

MEKAH KA’BAH DAN QURAISY


2.1.  Letak Mekah

Di tengah-tengah jalan kafilah yang berhadapan dengan Laut Merah – antara Yaman dan Palastin – membentang bukit-bukit barisan sejauh kira-kira lapan puluh kilometer dari pantai. Bukit-bukit ini mengelilingi sebuah lembah yang tidak begitu luas, yang hampir-hampir terkepung sama sekali oleh bukit-bukit itu kalau tidak dibuka oleh tiga buah jalan: pertama jalan menuju ke Yaman, yang kedua jalan dekat Laut Merah di pelabuhan Jedah, yang ketiga jalan yang menuju ke Palastin.

2.2.  Ibrahim dan Isma’il

Dalam lembah yang terkepung oleh bukit-bukit itulah terletak Mekah. Untuk mengetahui sejarah dibangunnya kota ini sungguh sukar sekali. Mungkin sekali ia bertolak ke masa ribuan tahun yang lalu. Yang pasti, lembah itu digunakan sebagai tempat perhentian kafilah sambil beristirahat, kerana di tempat itu terdapat sumber mata air. Dengan demikian rombongan kafilah itu membentangkan kemah-kemah mereka, baik yang datang dari jurusan Yaman menuju Palastin atau yang datang dari Palastin menuju Yaman. Mungkin sekali Ismail anak Ibrahim itu orang pertama yang menjadikannya sebagai tempat tinggal, yang sebelum itu hanya dijadikan tempat kafilah lalu saja dan tempat perdagangan secara tukar-menukar antara yang datang dari arah selatan jazirah dengan yang bertolak dari arah utara.

Kalau Ismail adalah orang pertama yang menjadikan Mekah sebagai tempat tinggal, maka sejarah tempat ini sebelum itu gelap sekali. Mungkin dapat juga dikatakan, bahawa daerah ini digunakan sebagai tempat ibadat juga sebelum Ismail datang dan menetap di tempat itu. Kisah kedatangannya ke tempat itu pun memaksa kita membawa kisah Ibrahim a.s. secara ringkas.

Ibrahim dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual kepada masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian disembah oleh masyarakat dan betapa pula mereka memberikan rasa hormat dan kudus kepada sekeping kayu yang pernah dikerjakan ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya. Kepada ayahnya ia pernah bertanya, bagaimana hasil kerajinan tangannya itu sampai disembah orang?

Kemudian Ibrahim menceritakan hal itu kepada orang lain. Ayahnyapun sangat memperhatikan tingkah-laku anaknya itu; kerana ia kuatir hal ini akan rnenghancurkan perdagangannya. Ibrahim sendiri orang yang percaya kepada akal fikirannya. Ia ingin membuktikan kebenaran pendapatnya itu dengan alasan-alasan yang dapat diterima. Ia mengambil kesempatan ketika orang sedang lengah. Ia pergi menghampiri sang dewa, dan berhala itu dihancurkan, kecuali berhala yang paling besar. Setelah diketahui orang, mereka berkata kepadanya:

“Engkaukah yang melakukan itu terhadap dewa-dewa kami, hai Ibrahim?” Dia menjawab: “Tidak. Itu dilakukan oleh yang paling besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang mereka boleh berkata.” (Qur’an, 21: 62-63).

Ibrahim melakukan itu sesudah ia memikirkan betapa sesatnya mereka menyembah berhala, sebaliknya siapakah yang seharusnya mereka sembah.

“Bila malam sudah gelap, dilihatnya sebuah bintang. Ia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Aku tidak menyukai segala yang terbenam.’ Dan setelah dilihatnya bulan terbit, iapun berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat.’ Dan setelah dilihatnya matahari terbit, iapun berkata: ‘Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Tetapi bilamana matahari itu juga kemudian terbenam, iapun berkata: ‘Oh kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang telah menciptakan semesta langit dan bumi ini. Aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an 6: 76-79).

Ibrahim tidak berhasil mengajak masyarakatnya itu. Malah sebagai balasan ia dicampakkan ke dalam api. Tetapi Tuhan masih menyelamatkannya. Ia lari ke Palastin bersama isterinya Sarah. Dari Palastin mereka meneruskan perjalanan ke Mesir. Pada waktu itu Mesir di bawah kekuasaan raja-raja Amalekit (Hyksos).

Sarah adalah seorang wanita cantik. Pada waktu itu raja-raja Hyksos biasa mengambil wanita-wanita bersuami yang cantik-cantik. Ibrahim memperlihatkan, seolah Sarah adalah saudaranya. Ia takut dibunuh dan Sarah akan diperisterikan raja. Dan raja memang bermaksud akan memperisterikannya. Tetapi dalam tidurnya ia bermimpi bahawa Sarah bersuami. Kemudian dikembalikan kepada Ibrahim sambil dimarahi. Ia diberi beberapa hadiah di antaranya seorang gadis belian bernama Hajar- Oleh kerana Sarah sesudah bertahun-tahun dengan Ibrahim belum juga beroleh keturunan, maka oleh Sarah disuruhnya ia bergaul dengan Hajar, yang tidak lama kemudian telah beroleh anak, iaitu Ismail. Sesudah Ismail besar kemudian Sarahpun beroleh keturunan, iaitu Ishaq.

2.3.  Kisah Penyembelihan dan Penebusan

Beberapa ahli berselisih pendapat tentang penyembelihan Ismail serta kurban yang telah dipersembahkan oleh Ibrahim. Adakah sebelum kelahiran Ishaq atau sesudahnya? Adakah itu terjadi di Palastin atau di Hijaz? Ahli-ahli sejarah Yahudi berpendapat, bahawa yang disembelih itu adalah Ishaq, bukan Ismail. Di sini kita bukan akan menguji adanya perselisihan pendapat itu. Dalam Qishash’l-Anbia’ Syaikh Abd’l Wahhab an-Najjar berpendapat, bahawa yang disembelih itu adalah Ismail. Argumen ini diambilnya dari Taurat sendiri bahawa yang disembelih itu dilukiskan sebagai anak Ibrahim satu-satunya. Pada waktu itu Ismail adalah anak satu-satunya sebelum Ishaq dilahirkan. Setelah Sarah melahirkan, maka anak Ibrahim tidak lagi tunggal, melainkan sudah ada Ismail dan Ishaq. Dengan mengambil cerita itu seharusnya kisah penyembelihan dan penebusan itu terjadi di Palastin. Hal ini memang boleh terjadi demikian kalau yang dimaksudkan itu terjadi terhadap diri Ishaq. Selama itu Ishaq dengan ibunya hanya tinggal di Palastin, tidak pernah pergi ke Hijaz. Akan tetapi cerita yang mengatakan bahawa penyembelihan dan penebusan itu terjadi di atas bukit Mina, maka ini tentu berlaku terhadap diri Ismail. Oleh kerana di dalam Qur’an tidak disebutkan nama person korban itu, maka ahli-ahli sejarah kaum Muslimin berlain-lainan pendapat.

Tentang pengorbanan dan penebusan itu kisahnya ialah bahawa Ibrahim bermimpi, bahawasanya Tuhan memerintahkan kepadanya supaya anaknya itu dipersembahkan sebagai kurban dengan menyembelihnya. Pada suatu pagi berangkatlah ia dengan anaknya. “Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia (Ibrahim) berkata: ‘Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi, bahawa aku menyembelihmu. Lihatlah, bagaimanakah pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Jika dikehendaki Tuhan, akan kau dapati aku dalam kesabaran.’ Setelah keduanya menyerahkan diri dan dibaringkannya ke sebelah keningnya, ia Kami panggil:

‘Hai Ibrahim. Engkau telah melaksanakan mimpi itu.’ Dengan begitu, Kami memberikan balasan kepada mereka yang berbuat kebaikan. Ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan kami menebusnya dengan sebuah kurban besar.” (Qur’an, 37: 102-107)

Beberapa cerita melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang indah sekali, sehingga di sini perlu kita kemukakan, sekalipun tidak membawa kisah tentang Mekah. Kisahnya, setelah Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahawa ia harus menyembelih anaknya dan memastikan bahawa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada anaknya itu: ‘Anakku, bawalah tali dan parang itu, mari kita pergi ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita.’ Anak itu pun menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang syaitan dalam bentuk seorang laki-laki, mendatangi ibu anak itu seraya berkata: ‘Tahukah engkau ke mana Ibrahim membawa anakmu?’ ‘Ia pergi mencari kayu dari lereng bukit itu,’ jawab ibunya. ‘Tidak,’ kata syaitan lagi, ‘ia pergi akan menyembelihnya.’ Ibu itu menjawab lagi: ‘Tidak. Ia lebih sayang kepada anaknya.’ ‘Ia mendakwakan bahawa Tuhan yang memerintahkan itu.’

‘Kalau itu memang perintah Tuhan biarkan dia menaati perintahNya,’ jawab ibu itu. Syaitan itu lalu pergi dengan perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti ayahnya itu. Kepada anak itu pun ia berkata seperti terhadap ibunya tadi. Tapi jawapannya pun sama dengan jawapan ibunya juga. Kemudian syaitan mendatangi Ibrahim dan mengatakan, bahawa mimpinya itu hanya tipu-muslihat syaitan supaya ia menyembelih anaknya dan akhirnya akan menyesal. Tetapi oleh Ibrahim ia ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa jengkel Iblis itu mundur teratur, kerana maksudnya tidak berhasil, baik dari Ibrahim, dari isterinya atau dari anaknya.

Kemudian itu Ibrahim menyatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya. ‘Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan.’ Lalu katanya lagi dalam ballada itu: ‘Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahawa aku takkan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku kuatir bila ayah kelak melihat wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.’

‘Anakku,’ kata Ibrahim, ‘ini adalah bantuan besar dalam melaksanakan perintah Allah.’

Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi kemudian ia dipanggil: ‘Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.’ Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya.

Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini adalah kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah.

Ishaq telah menjadi besar di samping Ismail. Kasih-sayang ayah sama terhadap keduanya. Akan tetapi Sarah menjadi gusar melihat anaknya itu dipersamakan dengan anak Hajar dayangnya itu. Ia bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama dengan Hajar dan anaknya tatkala dilihatnya Ismail memukul adiknya itu. Ibrahim merasa bahawa hidupnya takkan bahagia kalau kedua wanita itu tinggal dalam satu tempat. Oleh kerana itu pergilah ia dengan Hajar dan anak itu menuju ke arah selatan. Mereka sampai ke suatu lembah, letak Mekah yang sekarang. Seperti kita sebutkan di atas, lembah ini adalah tempat para kafilah membentangkan kemahnya pada waktu mereka berpapasan dengan kafilah dari Syam ke Yaman, atau dari Yaman ke Syam. Tetapi pada waktu itu adalah saat yang paling sepi sepanjang tahun. Ismail dan ibunya oleh Ibrahim ditinggalkan dan ditinggalkannya pula segala keperluannya. Hajar membuat sebuah gubuk tempat ia berteduh dengan anaknya. Dan Ibrahimpun kembali ke tempat semula.

2.4.  Zam-zam

Sesudah kehabisan air dan perbekalan, Hajar melihat ke kanan kiri. Ia tidak melihat sesuatu. Ia terus berlari dan turun ke lembah mencari air. Dalam berlari-lari itu – menurut cerita orang – antara Shafa dan Marwa, sampai lengkap tujuh kali, ia kembali kepada anaknya dengan membawa perasaan putus asa. Tetapi ketika itu dilihatnya anaknya sedang mengorek-ngorek tanah dengan kaki, yang kemudian dari dalam tanah itu keluar air. Dia dan Ismail dapat melepaskan dahaga. Disumbatnya mata air itu supaya jangan mengalir terus dan menyerap ke dalam pasir.

Anak yang bersama ibunya itu membantu orang-orang Arab yang sedang dalam perjalanan, dan merekapun mendapat imbalan yang akan cukup menjamin hidup mereka sampai pada musim kafilah yang akan datang.

Mata air yang memancar dari telaga Zam-zam itu menarik hati beberapa kabilah akan tinggal di dekat tempat itu. Beberapa keterangan mengatakan, bahawa kabilah Jurhum adalah yang pertama sekali tinggal di tempat itu, sebelum datang Hajar dan anaknya. Sementara yang lain berpendapat, bahawa mereka tinggal di tempat itu setelah adanya sumber telaga Zam-zam, sehingga memungkinkan mereka hidup di lembah gersang itu.

2.5.  Perkahwinan Ismail dengan Jurhum

Ismail sudah semakin besar, dan kemudian ia kahwin dengan gadis kabilah Jurhum. Ia dengan isterinya tinggal bersama-sama keluarga Jurhum yang lain. Di tempat itu rumah suci sudah dibangun, yang kemudian berdiri pula Mekah sekitar tempat itu.

Juga disebutkan bahawa pada suatu hari Ibrahim minta izin kepada Sarah akan mengunjungi Ismail dan ibunya. Permintaan ini disetujui dan ia pergi. Setelah ia mencari dan menemui rumah Ismail ia bertanya kepada isterinya: “Mana suamimu?”

“Ia sedang berburu untuk hidup kami,” jawabnya.

Kemudian ditanya lagi, dapatkah ia menjamu makanan atau minuman, dijawab bahawa dia tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan.

Ibrahim pergi, setelah mengatakan: “Kalau suamimu datang sampaikan salamku dan katakan kepadanya: “Ganti ambang pintumu.”

Setelah pesan ayahnya itu kemudian disampaikan kepada Ismail, ia segera menceraikan isterinya, dan kemudian kahwin lagi dengan wanita Jurhum lainnya, puteri Mudzadz bin ‘Amr. Wanita ini telah menyambut Ibrahim dengan baik setelah beberapa waktu kemudian ia pernah datang. “Sekarang ambang pintu rumahmu sudah kuat,” (kata Ibrahim).

Dari perkahwinan ini Ismail mempunyai dua belas orang anak, dan mereka inilah yang menjadi cikal-bakal Arab al-Musta’-riba, yakni orang-orang Arab yang bertemu dari pihak ibu pada Jurhum dengan Arab al-‘Ariba keturunan Ya’rub ibn Qahtan. Sedang ayah mereka, Ismail anak Ibrahim, dari pihak ibunya erat sekali bertalian dengan Mesir, dan dari pihak bapa dengan Irak (Mesopotamia) dan Palastin, atau kemana saja Ibrahim memijakkan kaki.

2.6.  Pembangunan Ka’bah

Cerita ini diambil dari sejarah yang hampir merupakan konsensus dalam garis besarnya tentang kepergian Ibrahim dan Ismail ke Mekah, meskipun terdapat perbezaan dalam detail. Dan yang memajukan kritik atas peristiwa secara mendetail itu berpendapat, bahawa Hajar dan Ismail telah pergi ke lembah yang sekarang terletak Mekah itu dan bahawa di tempat itu terdapat mata air yang ditempati oleh kabilah Jurhum. Hajar disambut dengan senang hati oleh mereka ketika ia datang bersama Ibrahim dan anaknya ke tempat itu. Sesudah Ismail besar ia kahwin dengan wanita Jurhum dan mempunyai beberapa orang anak. Dari percampuran perkahwinan antara Ismail dengan unsur-unsur Ibrani-Mesir di satu pihak dan unsur Arab di pihak lain, menyebabkan keturunannya itu membawa sifat-sifat Arab, Ibrani dan Mesir. Mengenai sumber yang mengatakan tentang Hajar yang kebingungan setelah melihat air yang habis menyerap serta tentang usahanya berlari tujuh kali dari Shafa dan Marwa dan tentang telaga Zam-zam dan bagaimana air menyembur, oleh mereka masih diragukan.

Sebaliknya William Muir menyangsikan kepergian Ibrahim dan Ismail itu ke Hijaz dan ia menolak dasar cerita itu. Dikatakannya, bahawa itu adalah Israiliat (Yudaica) yang dibuat-buat orang Yahudi beberapa generasi sebelum Islam, untuk mengikat hubungan dengan orang Arab yang sama-sama sebapa dengan lbrahim, kalau Ishaq itu yang menjadi nenek-moyang orang Yahudi. Jadi apabila saudaranya, Ismail itu moyang orang Arab, maka mereka adalah saudara sepupu yang akan menjadi kewajipan orang Arab pula menerima baik emigran orang-orang Yahudi ke tengah-tengah mereka, dan akan memudahkan perdagangan orang Yahudi di seluruh jazirah Arab. Pengarang Inggeris ini mendasarkan pendapatnya pada cara-cara peribadatan di negeri-negeri Arab yang tidak ada hubungannya dengan agama Ibrahim, sebab mereka sudah benar-benar hanyut dalam paganisma, sedang agama Ibrahim agama murni.

Kita tidak melihat bahawa argumen demikian itu sudah cukup kuat untuk menghilangkan kenyataan sejarah. Jauh beberapa abad sesudah meninggalnya Ibrahim dan Ismail paganisma Arab tidak menunjukkan bahawa mereka memang sudah demikian tatkala Ibrahim datang ke Hijaz dan tatkala ia dan Ismail bersama-sama membangun Ka’bah. Andaikata waktu itu paganisma sudah ada, tentu itu akan memperkuat pendapat Sir William Muir. Masyarakat Ibrahim sendiri waktu itu menyembah berhala dan ia berusaha mengajak mereka ke jalan yang benar, tapi tidak berhasil. Apabila ia mengajak masyarakat Arab seperti mengajak masyarakatnya sendiri, lalu tidak berhasil, dan orang-orang Arab itu tetap menyembah berhala, tentu hal itu tidak sesuai dengan kepergian Ibrahim dan Ismail ke Mekah. Keterangan sejarah itu secara logik bahkan lebih kuat. Ibrahim yang telah keluar dari Irak kerana mahu menghindar dari keluarganya, ia pergi ke Palastin dan Mesir, adalah orang yang mudah bepergian dan biasa mengarungi sahara. Sedang jalan antara Palastin dan Mekah sejak dahulu kala sudah merupakan lalu-lintas terbuka bagi para kafilah. Dengan demikian tidak pula pada tempatnya orang meragukan kenyataan sejarah yang dalam garis besamya sudah menjadi konsensus itu.

Sir William Muir dan mereka yang menunjang pendapatnya itu mengatakan tentang kemungkinan adanya segolongan anak-anak Ibrahim dan Ismail sesudah itu yang pindah dari Palastin ke negeri-negeri Arab serta adanya pertalian mereka dalam arti hubungan darah. Kita tidak mengetahui, kalau kemungkinan mengenai anak-anak Ibrahim dan Ismail ini bagi mereka dapat diterima, sedang kemungkinan mengenai kedua orang itu sendiri tidak! Bagaimana akan dikatakan belum dapat dipastikan padahal peristiwa sejarah sudah memperkuatnya. Bagaimana pula takkan terjadi padahal sumbernya sudah tidak dapat diragukan lagi dan sudah disebutkan dalam Qur’an dan dibincangkan juga dalam kitab-kitab suci lainnya!

Ibrahim dan Ismail lalu mengangkat sendi-sendi Rumah Suci itu.

“Bahawa rumah pertama dibuat untuk manusia beribadat ialah yang di Mekah itu, sudah diberi berkah dan bimbingan bagi semesta alam. Disitulah terdapat keterangan-keterangan yang jelas sebagai Maqam (tempat) Ibrahim; barangsiapa memasukinya menjadi aman.” (Qur’an, 3: 96-97)

“Dan ingatlah, Kami jadikan Rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat bersembahyang, dan kami serahkan kepada Ibrahim dan Ismail menyucikan RumahKu bagi mereka yang bertawaf, mereka yang tinggal menetap dan mereka yang ruku’ dan sujud. Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: ‘Tuhanku, jadikan tempat ini Kota yang aman dan berikanlah buah-buahan kepada penduduknya, mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.’ Ia berkata: ‘Dan bagi barangsiapa yang menolak iman akan Kuberi juga kesenangan sementara, kemudian Kutarik ia ke dalam siksa api, tujuan yang paling celaka. Dan ingatlah tatkala Ibrahim dan Ismail mengangkat sendi-sendi Rumah Suci itu (mereka berdoa):

‘Tuhan, terimalah ini dari kami. Sesungguhnyalah Engkau Maha mendengar, Maha mengetahui.” (Qur’an, 2: 125-127)

Bagaimana Ibrahim mendirikan Rumah itu sebagai tempat tujuan dan tempat yang aman, untuk mengantarkan manusia supaya beriman hanya kepada Allah Yang Tunggal lalu kemudian menjadi tempat berhala dan pusat penyembahannya? Dan bagaimana pula cara-cara peribadatan itu dilakukan sesudah lbrahim dan Ismail, dan dalam bentuk bagaimana pula dilakukan? Dan sejak bila cara-cara itu berubah lalu dikuasi oleh paganisma? Hal ini tidak diceritakan kepada kita oleh sejarah yang kita kenal. Semua itu baru merupakan dugaan-dugaan yang sudah dianggap sebagai suatu kenyataan. Kaum Sabian[1] yang menyembah bintang mempunyai pengaruh besar di tanah Arab. Pada mulanya mereka – menurut beberapa keterangan – tidak menyembah bintang itu sendiri, melainkan hanya menyembah Allah dan mereka mengagungkan bintang-bintang itu sebagai ciptaan dan manifestasi kebesaranNya. Oleh kerana lebih ramai yang tidak dapat memahami arti ketuhanan yang lebih tinggi, maka diartikannya bintang-bintang itu sebagai tuhan. Beberapa macam batu gunung dikhayalkan sebagai benda yang jatuh dan langit, berasal dan beberapa macam bintang. Dari situ mula-mula manifestasi tuhan itu diartikan dan dikuduskan, kemudian batu-batu itu yang disembah, kemudian penyembahan itu dianggap begitu agung, sehingga tidak cukup bagi seorang orang Arab hanya menyembah hajar aswad (batu hitam) yang di dalam Ka’bah, bahkan dalam setiap perjalanan ia mengambil batu apa saja dari Ka’bah untuk disembah dan dimintai persetujuannya: akan tinggal ataukah akan melakukan perjalanan. Mereka melakukan cara-cara peribadatan yang berlaku bagi bintang-bintang atau bagi pencipta bintang-bintang itu. Dengan cara-cara demikian menjadi kuatlah kepercayaan paganisma itu, patung-patung dikuduskan dan dibawanya sajian-sajian untuk itu sebagai kurban.

Ini adalah suatu gambaran tentang perkembangan agama itu di tanah Arab sejak Ibrahim membangun rumah sebagai tempat beribadat kepada Tuhan, sebagaimana dilukiskan oleh beberapa ahli sejarah dan bagaimana pula hal itu kemudian berbalik dan menjadi pusat berhala. Herodotus, bapa sejarah, menerangkan tentang penyembahan Lat itu di negeri Arab. Demikian juga Diodorus Siculus menyebutkan tentang rumah di Mekah yang diagungkan itu. Ini menunjukkan tentang paganisma yang sudah begitu tua di jazirah Arab dan bahawa agama yang dibawa Ibrahim di sana bertahan tidak begitu lama.

Dalam abad-abad itu sudah datang pula para nabi yang mengajak kabilah-kabilah jazirah itu supaya menyembah Allah semata-mata. Tetapi mereka menolak dan tetap bertahan pada paganisma. Datang Hud mengajak kaum ‘Ad yang tinggal di sebelah utara Hadzramaut supaya menyembah hanya kepada Allah; tapi hanya sebahagian kecil saja yang ikut. Sedang yang sebahagian besar malah menyombongkan diri dan berkata:

“Wahai Hud, kau datang tidak membawa keterangan yang jelas, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami hanya kerana perkataanmu itu. Kami tidak percaya kepadamu.” (Qur’an, 11: 53).

Bertahun-tahun lamanya Hud mengajak mereka. Hasilnya malah mereka bertambah buas dan congkak. Demikian juga Saleh datang mengajak kaum Thamud supaya beriman. Mereka ini tinggal di Hijr yang terletak antara Hijaz dengan Syam di Wadi’l-Qura ke arah timur daya dari Mad-yan (Midian) dekat Teluk ‘Aqaba. Sama saja, hasil ajakan Saleh itu tidak lebih seperti ajakan Hud juga. Kemudian datang Syu’aib kepada bangsa Mad-yan yang terletak di Hijaz, mengajak supaya mereka menyembah Allah. Juga tidak didengar Merekapun mengalami kehancuran seperti yang terjadi terhadap golongan ‘Ad dan Thamud.

Selain para nabi itu juga Qur’an telah menceritakan tentang ajakan mereka supaya menyembah Allah yang Esa. Sikap golongan itu begitu sombong. Mereka tetap bersikeras hendak menyembah berhala dan bermohon kepada berhala-berhala dalam Ka’bah itu. Mereka berziarah ke tempat itu sesetiap tahun; mereka datang dari segenap pelosok jazirah Arab. Dalam hal ini turun firman Tuhan:

“Dan Kami tidak akan mengadakan siksaan sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Qur’an 17: 15)

Sejak didirikannya Mekah di tempat itu sudah ada jabatan-jabatan penting seperti yang dipegang oleh Qushayy bin Kilab pada pertengahan abad kelima Masehi. Pada waktu itu para pemuka Mekah berkumpul. Jabatan-jabatan hijaba, siqaya, rifada, nadwa, liwa’ dan qiyada dipegang semua oleh Qushay. Hijaba ialah penjaga pintu Ka’bah atau yang memegang kuncinya. Siqaya ialah menyediakan air tawar – yang sangat sulit waktu itu bagi mereka yang datang berziarah serta menyediakan minuman keras yang dibuat dari kurma. Rifada ialah memberi makan kepada mereka semua. Nadwa ialah pimpinan rapat pada sesetiap tahun musim. Liwa’ ialah panji yang dipancangkan pada tombak lalu ditancapkan sebagai lambang tentera yang sedang menghadapi musuh, dan qiyada ialah pimpinan pasukan bila menuju perang. Jabatan-jabatan demikian itu di Mekah sangat terpandang. Dalam masalah ibadat seolah pandangan orang-orang Arab semua tertuju ke Ka’bah itu.

Saya kira semua itu datangnya bukan sekaligus ketika rumah itu dibangun, melainkan satu demi satu, pada satu pihak tidak ada hubungannya satu sama lain dengan Ka’bah serta kedudukannya dalam arti agama, di pihak lain sedikit banyak memang ada juga hubungannya.

2.7.  Mekah di Bawah Jurhum

Tatkala Ka’bah dibangun menurut gambaran yang ada dalam khayal kita – tidak lebih Mekah hanya terdiri dari kabilah-kabilah Amalekit dan Jurhum. Sesudah Ismail menetap di sana dan bersama-sama dengan ayahnya memasang sendi-sendi rumah itu, barulah Mekah mengalami perkembangan. Untuk beberapa waktu yang cukup lama kemudian ia menjadi sebuah kota atau yang menyerupai kota. Kita katakan menyerupai kota, kerana Mekah dengan penduduknya waktu itu masih membawa sifat sisa-sisa keterbelakangan dalam arti yang sangat bersahaja. Beberapa penulis sejarah tidak keberatan dalam menyebutkan, bahawa Mekah itu masih terbelakang sebelum semua urusan berada di tangan Qushayy pada pertengahan abad kelima Masehi itu. Sukar bagi kita akan dapat membayangkan suatu daerah seperti Mekah dengan Rumah Purbanya yang dianggap suci itu akan tetap berada dalam suasana hidup pengembaraan. Padahal sejarah membuktikan bahawa persoalan Rumah Suci itu berada di tangan Ismail dalam lingkungan keluarga Jurhum selama beberapa generasi kemudian. Mereka tinggal di sekitar tempat itu, di samping Mekah masa itu memang tempat pertemuan kafilah-kafilah dalam perjalanan ke Yaman, Hira, Syam dan Najd. Juga hubungannya dengan Laut Merah yang tidak jauh dari tempat itu merupakan hubungan langsung dengan perdagangan dunia. Sukar akan dapat dibayangkan adanya suatu daerah dalam keadaan demikian itu akan tetap tanpa ada pendekatan dari dunia lain dari segi peradabannya. Beralasan sekali dugaan kita, bahawa Mekah, yang sudah didoakan oleh Ibrahim dan ditetapkan Allah akan menjadi suatu daerah yang aman sentosa, sudah mengenal hidup stabil selama beberapa generasi sebelum Qushayy.

Meskipun sudah dikalahkan oleh Amalekit, Mekah masih di tangan Jurhum sampai pada masa Mudzadz bin ‘Amr ibn Harith. Selama dalam masa generasi ini perdagangan Mekah mengalami perkembangan yang pesat sekali di bawah kekuasaan orang-orang yang biasa hidup mewah, sehingga mereka lupa bahawa mereka berada di tanah tandus dan bahawa mereka perlu selalu berusaha dan selalu waspada. Demikian lalainya mereka itu sehingga Zam-zam menjadi kering dan pihak kabilah Khuza’a merasa perlu memikirkan akan turut terjun memegang pimpinan di tanah suci itu.

Peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya tentang akibat hidup berfoya-foya, tidak berhasil. Ia yakin sekali bahawa hal ini akan menghanyutkan mereka semua. Kemudian ia berusaha menggali Zam-zam lebih dalam lagi. Diambilnya dua buah pangkal pelana emas dari dalam Ka’bah beserta harta yang dibawa orang sebagai sajian ke dalam Rumah Suci itu. Dimasukkannya semua itu ke dalam dasar telaga, sedang pasir yang masih ada di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan pada suatu waktu ia akan menemukannya kembali. Ia keluar dengan anak-anak Ismail dari Mekah. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh Khuza’a. Demikian seterusnya turun-temurun sampai kepada Qushayy bin Kilab, nenek (datuk) Nabi Muhammad yang kelima.

Fatimah bint Sa’d bin Sahl kahwin dengan Kilab dan mempunyai anak bernama Zuhra dan Qushayy. Kilab meninggal dunia ketika Qushayy masih bayi. Kemudian Fatimah kahwin lagi dengan Rabi’a bin Haram. Kemudian mereka pergi ke Syam dan di sana Fatimah melahirkan Darraj. Qushayy semakin besar juga dan ia hanya mengenal Rabi’a sebagai ayahnya. Lambat-laun antara Qushayy dengan pihak kabilah Rabi’a terjadi permusuhan. Ia dihina dan dikatakan berada di bawah perlindungan mereka, padahal bukan dari pihak mereka Qushayy mengadukan penghinaan itu kepada ibunya.

“Ayahmu lebih mulia dari mereka,” kata ibunya kepada Qushayy. “Engkau anak Kilab bin Murra, dan keluargamu di Mekah menempati Rumah Suci.”

Qushayy lalu pergi ke Mekah, dan menetap di sana. Kerana pandangannya yang baik dan mempunyai kesungguhan, orang-orang di Mekah sangat menghormatinya. Pada waktu itu pengawasan Rumah Suci di tangan Hulail bin Hubsyia – orang yang berpandangan tajam dari kabilah Khuza’a. Tatkala Qushayy melamar puterinya, Hubba, ternyata lamarannya diterima baik dan kahwinlah mereka. Qushayy terus maju dalam usaha dan perdagangannya, yang membuat ia jadi kaya, harta dan anak-anaknya pun ramai pula. Di kalangan masyarakatnya ia makin terpandang. Hulail meninggal dengan meninggalkan wasiat supaya kunci Rumah Suci di tangan Hubba puterinya. Tetapi Hubba menolak dan kunci itu dipegang oleh Abu Ghibsyan dari kabilah Khuza’a. Tetapi Abu Ghibsyan ini seorang pemabuk. Ketika pada suatu hari ia kehabisan minuman keras kunci itu dijualnya kepada Qushayy dengan cara menukarnya dengan minuman keras.

Khuza’a sudah memperhitungkan betapa kedudukannya nanti bila pimpinan Ka’bah itu berada di tangan Qushayy sebagai orang yang banyak hartanya dan orang yang mulai berpengaruh di kalangan Quraisy. Mereka merasa keberatan bilamana masalah pimpinan Rumah Suci berada di tangan pihak lain selain mereka sendiri. Pada waktu Qushayy meminta bantuan Quraisy, beberapa kabilah memang sudah berpendapat bahawa dialah penduduk yang paling kuat dan sangat dihargai di Mekah. Mereka mendukung Qushayy dan berhasil mengeluarkan Khuza’a dari Mekah. Sekarang seluruh pimpinan Rumah Suci itu sudah di tangan Qushayy dan dia diakui sebagai pemimpin mereka.

2.8.  Qushayy dan Anak-anaknya

Seperti sudah kita kemukakan, beberapa orang berpendapat, bahawa sampai pada waktu pimpinan Mekah berada di tangan Qushayy, bangunan apapun belum ada di tempat itu, selain Ka bah. Alasannya ialah, kerana baik Khuza’a atau Jurhum tidak ingin melihat ada bangunan lain di sekitar Rumah Tuhan itu, juga kerana pada malam hari mereka tidak pernah tinggal di tempat itu, melainkan pergi ke tempat-tempat terbuka. Ditambahkan pula bahawa setelah Qushayy memegang pimpinan Mekah ia mengumpulkan Quraisy dan menyuruh mereka membangun di tempat itu. Dengan dipelopori oleh Qushayy sendiri dibangunnya Dar’n-Nadwa sebagai tempat pertemuan pembesar-pembesar Mekah yang dipimpin oleh Qushayy sendiri. Di tempat ini mereka bermusyawarah mengenai masalah-masalah negeri itu. Menurut kebiasaan mereka, setiap persoalan yang mereka hadapi selalu diselesaikan dengan persetujuan bersama. Baik wanita atau laki-laki yang akan melangsungkan perkahwinan harus di tempat ini pula.

Dengan perintah Qushayy orang-orang Quraisy lalu membangun tempat-tempat tinggal mereka di sekitar Ka’bah itu, dengan meluangkan tempat yang cukup luas untuk mengadakan tawaf sekitar Rumah itu dan pada setiap dua rumah disediakan jalan yang menembus ke tempat tawaf tersebut.

Anak Qushayy yang tertua ialah Abd’d-Dar. Akan tetapi Abd Manaf adiknya, sudah lebih dulu tampil ke depan umum dan sudah mendapat tempat pula.

2.9.  Mekah di Tangan Qushayy

Sesudah usianya makin lanjut, kekuatannyapun sudah berkurang dan sudah tidak kuat lagi ia mengurus Mekah sebagaimana mestinya, kunci Rumah itu pun diserahkannya kepada Abd’d-Dar, demikian juga soal air minum, panji dan persediaan makanan. Sesetiap tahun Quraisy memberikan sumbangan dari harta mereka yang diserahkannya kepada Qushayy untuk membuatkan makanan pada musim ziarah. Makanan ini kemudian diberikan kepada mereka yang datang tidak dalam kecukupan. Qushayy adalah orang yang pertama mewajibkan kepada Quraisy menyiapkan persediaan makanan. Dikumpulkannya mereka itu dan ia sangat merasa bangga terhadap mereka ketika bersama-sama mereka berhasil mengeluarkan Khuza’a dari Mekah. Ketika mewajibkan itu ia berkata kepada mereka:

“Saudara-saudara Quraisy! Kamu sekalian adalah tetangga Tuhan, keluarga RumahNya dan Tempat yang Suci. Mereka yang datang berziarah adalah tamu Tuhan dan pengunjung RumahNya. Mereka itulah para tamu yang paling patut dihormati. Pada musim ziarah itu sediakanlah makanan dan minuman sampai mereka pulang kembali.”

2.10.  Hasyim dan Abd’l-Muttalib

Seperti ayahnya, Abd’d-Dar juga telah memegang pimpinan Ka’bah dan kemudian diteruskan oleh anak-anaknya. Akan tetapi anak-anak Abd Manaf sebenarnya mempunyai kedudukan yang lebih baik dan terpandang juga di kalangan masyarakatnya. Oleh kerana itu, anak-anak Abd Manaf, iaitu Hasyim, Abd Syams, Muttalib dan Naufal sepakat akan mengambil pimpinan yang ada di tangan sepupu-sepupu mereka itu. Tetapi pihak Quraisy berselisih pendapat: yang satu membela satu golongan yang lain membela golongan yang lain lagi.

Keluarga Abd Manaf mengadakan Perjanjian Mutayyabun dengan memasukkan tangan mereka ke dalam tib, (iaitu bahan wangi-wangian) yang dibawa ke dalam Ka’bah. Mereka bersumpah takkan melanggar janji. Demikian juga pihak Keluarga Abd’d-Dar mengadakan pula Perjanjian Ahlaf: Antara kedua golongan itu hampir saja meletus perang yang akan memusnakan Quraisy, kalau tidak cepat-cepat diadakan perdamaian. Keluarga Abd Manaf diberi bahagian mengurus persoalan air dan makanan, sedangkan kunci, panji dan pimpinan rapat di tangan Keluarga Abd’d-Dar. Kedua belah pihak setuju, dan keadaan itu berjalan tetap demikian, sampai pada waktu datangnya Islam.

2.11.  Tugas-tugas Duniawi dan Agama di Mekah

Hasyim termasuk pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Dialah yang memegang urusan air dan makanan. Dia mengajak masyarakatnya seperti yang dilakukan oleh Qushayy datuknya, iaitu supaya masing-masing menafkahkan hartanya untuk memberi makanan kepada pengunjung pada musim ziarah. Pengunjung Baitullah, tamu Tuhan inilah yang paling berhak mendapat penghormatan. Kenyataannya memang para tamu itu diberi makan sampai mereka pulang kembali.

Peranan yang dipegang Hasyim tidak hanya itu saja, bahkan jasanya sampai ke seluruh Mekah. Pernah terjadi musim tandus, dia datang membawakan persediaan makanan, sehingga kembali penduduk itu menghadapi hidupnya dengan wajah berseri. Hasyim jugalah yang membuat ketentuan perjalanan musim, musim dingin dan musim panas. Perjalanan musim dingin ke Yaman, dan perjalanan musim panas ke Syria.

Dengan adanya semua kenyataan ini keadaan Mekah jadi berkembang dan mempunyai kedudukan penting di seluruh jazirah, sehingga ia dianggap sebagai ibukota yang sudah diakui. Dengan perkembangan serupa itu tidak ragu-ragu lagi anak-anak Abd Manaf membuat perjanjian perdamaian dengan tetangga-tetangganya. Hasyim sendiri membuat perjanjian sebagai tetangga baik dan bersahabat dengan Imperium Rom dan dengan penguasa Ghassan. Pihak Rom mengizinkan orang-orang Quraisy memasuki Syria dengan aman. Demikian juga Abd Syams membuat pula perjanjian dagang dengan Najasyi (Negus). Selanjutnya Naufal dan Muttalib juga membuat persetujuan dengan Parsi dan perjanjian dagang dengan pihak Himyar di Yaman.

Mekah sekarang bertambah kuat dan bertambah makmur. Demikian pandainya penduduk kota itu dalam perdagangan sehingga tidak ada pihak lain yang semasa yang dapat menyainginya. Rombongan kafilah datang ke tempat itu dari segenap penjuru dan berangkat lagi pada musim dingin dan musim panas. Di sekitar tempat itu didirikan pasar-pasar untuk menjalankan perdagangan itu. Itu pula sebabnya mereka jadi cekatan sekali dalam utang-piutang dan riba serta segala sesuatu yang berhubung dengan perdagangan. Tidak ada yang teringat akan menyaingi Hasyim yang kini sudah makin lanjut usianya itu dalam kedudukannya sebagai penguasa Mekah. Hanya kemudian terbayang oleh Umayya anak Abd Syams -sepupunya – bahawa sudah tiba masanya kini ia akan bersaing. Tetapi dia tidak berdaya, dan kedudukan itu tetap dipegang Hasyim. Sementara itu Umayya telah meninggalkan Mekah dan selama sepuluh tahun tinggal di Syria.

Pada suatu ketika dalam perjalanan pulang dari Syria, ketika Hasyim melalui Jathrib dilihatnya seorang wanita baik-baik dan terpandang, muncul di tengah-tengah orang yang sedang mengadakan perdagangan dengan dia. Wanita itu ialah Salma anak ‘Amr dari kabilah Khazraj. Hasyim merasa tertarik. Ditanyakannya, adakah ia sedang dalam ikatan dengan laki-laki lain? Setelah diketahui bahawa dia seorang janda dan tidak mahu kahwin lai kecuali bila ia memegang kebebasan sendiri, Hasyim lalu melamarnya. Dan wanita itu pun menerima, kerana dia mengetahui kedudukan Hasyim di tengah-tengah masyarakatnya.

Beberapa waktu lamanya ia tinggal di Mekah dengan suaminya. Kemudian ia kembali ke Jathrib. Di kota ini ia melahirkan seorang anak yang diberi nama Syaiba.

Beberapa tahun kemudian dalam suatu perjalanan musim panas ke Ghazza (Gaza). Hasyim meninggal dunia. Kedudukannya digantikan oleh adiknya, Muttalib. Sebenarnya Muttalib ini masih adik Abd Syams. Tetapi dia sangat dihormati oleh masyarakatnya. Kerana sikapnya yang suka menenggang dan murah hati oleh Quraisy ia dijuluki Al-Faidz’, (“Yang melimpah”). Dengan keadaan Muttalib yang demikian itu di tengah-tengah masyarakatnya, sudah tentu segalanya akan berjalan tenteram sebagaimana mestinya.

Pada suatu hari terfikir oleh Muttalib akan kemenakannya, anak Hasyim itu. Ia pergi ke Jathrib. Dan kerana anak itu sudah besar, dimintanya kepada Salma supaya anaknya itu diserahkan kepadanya. Oleh Muttalib dibawanya pemuda itu ke atas untanya dan dengan begitu ia memasuki Mekah. Orang-orang Quraisy menduga bahawa yang dibawa itu hambanya. Oleh kerana itu mereka lalu memanggilnya: Abd’l Muttalib (Hamba Muttalib). “Hai,” kata Muttalib. “Dia kemenakanku anak Hasyim yang kubawa dari Jathrib.” Tetapi sebutan itu sudah melekat pada pemuda tersebut. Orang sudah memanggilnya demikian dan nama Syaiba yang diberikan ketika dilahirkan sudah dilupakan orang.

Pada mulanya Muttalib ingin sekali mengembalikan harta Hasyim untuk kemenakannya. Tetapi Naufal menolak, lalu menguasainya. Sesudah Abd’l-Muttalib mempunyai kekuatan ia meminta bantuan kepada saudara-saudara ibunya di Jathrib terhadap tindakan saudara ayahnya itu dengan maksud supaya miliknya dikembalikan kepadanya. Untuk memberikan bantuan itu pihak Khazraj di Jathrib mengirimkan lapan puluh orang pasukan perang. Dengan demikian Naufal terpaksa mengembalikan harta itu.

Sekarang Abd’l-Muttalib sudah menempati kedudukan Hasyim. Sesudah pamannya Muttalib, dialah yang mengurus pembahagian air dan persediaan makanan. Dalam mengurus dua jabatan ini terutama urusan air – ia menemui kesulitan yang tidak sedikit. Sampai saat itu anaknya hanyalah seorang, iaitu Harith. Sedang persediaan air untuk tamu – sejak terserapnya telaga Zam-zam didatangkan dari beberapa telaga yang terpencar-pencar sekitar Mekah, yang kemudian diletakkan di sebuah kolam di dekat Ka’bah. Anak yang ramai itu akan merupakan bantuan besar dan memudahkan pekerjaan serupa ini serta pengawasannya sekaligus. Sebaliknya, kalau Abd’l-Muttalib harus memikul jabatan penyediaan air dan makanan sedang anak hanya Harith satu-satunya, tentu hal ini akan terasa berat sekali. Ini jugalah yang lama menjadi fikiran.

2.12.  Berziarah ke Mekah

Orang-orang Arab masih selalu ingat kepada telaga Zam-zam yang telah dicetuskan oleh Mudzadz bin Amr beberapa abad yang lalu. Menjadi harapan mereka selalu andaikata telaga itu masih tetap ada. Dan sesuai dengan kedudukannya Abd’l-Muttalib pun tentu lebih banyak lagi memikirkan dam mengharapkan hal itu. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidurnya seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali telaga yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu. Demikian mendesaknya suara itu dengan menunjukkan sekali letak telaga itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zam-zam tersebut, sampai achirnya diketemukannya juga, iaitu terletak antara dua patung: Saf dan Na’ila.

Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai tampak. Sementara itu orang-orang lalu mahu mencampuri Abd’l-Muttalib dalam urusan telaga itu serta apa yang terdapat di dalamnya. Akan tetapi Abd’l-Muttalib berkata:

“Tidak! Tetapi marilah kita mengadakan pembahagian, antara aku dengan kamu sekalian. Kita mengadu nasib dengan permainan qid-h (anak panah). Dua anak panah untuk Ka’bah, dua untuk aku dan dua untuk kamu. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat bahagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada juru qid-h yang biasa melakukan itu di tempat Hubal di tengah-tengah Ka’bah. Anak panah Quraisy ternyata tidak keluar. Sekarang pedang-pedang itu untuk Abd’l-Muttalib dan dua buah pangkal pelana emas untuk Ka’bah. Pedang-pedang itu oleh Abd’l-Muttalib dipasang di pintu Ka’bah, sedang kedua pelana emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd’l Muttalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah telaga Zam-zam dapat berjalan lancar.

Kerana tidak ramai anak, Abd’l-Muttalib di tengah-tengah masyarakatnya sendiri itu merasa kekurangan tenaga yang akan dapat membantunya. Ia bernadar; kalau sampai beroleh sepuluh anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak lagi seperti ketika ia menggali telaga Zam-zam dulu, salah seorang di antaranya akan disembelih di Ka’bah sebagai kurban untuk Tuhan. Tepat juga anaknya yang laki-laki akhirnya mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan pula sesudah itu tidak beroleh anak lagi.

Dipanggilnya semua anak-anaknya dengan maksud supaya dapat memenuhi nadarnya. Semua patuh. Sebagai konsekwensi kepatuhannya itu setiap anak menuliskan namanya masing-masing di atas qid-h (anak panah). Kemudian semua itu diambilnya oleh Abd’l-Muttalib dan dibawanya kepada juru qid-h di tempat berhala Hubal di tengah-tengah Ka’bah.

2.13.  Abdullah bin Abd’l-Muttalib

Apabila sedang menghadapi kebingungan yang luarbiasa, orang-orang Arab masa itu lalu minta pertolongan juru qid-h supaya memintakan kepada Maha Dewa Patung itu dengan jalan (mengadu nasib) melalui qid-h. Abdullah bin Abd’l-Muttalib adalah anaknya yang bungsu dan yang sangat dicintai.

Setelah juru qid-h mengocok anak panah yang sudah dicantumi nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal untuk kemudian disembelih oleh sang ayah, maka yang keluar adalah nama Abdullah. Dipimpinnya anak muda itu oleh Abd’l-Muttalib dan dibawanya untuk disembelih ditempat yang biasa orang-orang Arab melakukan itu di dekat Zam-zam yang terletak antara berhala Isaf dengan Na’ila.

2.14.  Kisah Penebusannya

Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakat melarangnya supaya jangan berbuat, dan atas pembatalan itu supaya memohon ampun kepada Hubal. Sekalipun mereka begitu mendesak, namun Abd’l-Muttalib masih ragu-ragu juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku Makhzum berkata: “Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah.”

Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib yang sudah biasa memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya menangguhkan sampai besok.

“Berapa tebusan yang ada pada kalian?” tanya sang dukun.

“Sepuluh ekor unta.”

“Kembalilah ke negeri kamu sekalian,” kata dukun itu. “Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan.”

Merekapun menyetujui. Setelah yang demikian ini dilakukan ternyata anak panah itu keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah keluar atas nama unta itu. Sementara itu orang-orang Quraisy berkata kepada Abd’l-Muttalib – yang sedang berdoa kepada tuhannya: “Tuhan sudah berkenan.”

“Tidak,” kata Abd’l-Muttalib. “Harus kulakukan sampai tiga kali.” Tetapi sampai tiga kali dikocok anak panah itu pun tetap keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abd’l-Muttalib merasa puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau binatang.

Dengan begitu itulah buku-buku biografi melukiskan. Digambarkannya beberapa macam adat-istiadat orang Arab, kepercayaan serta cara-cara mereka melakukan upacara kepercayaan itu. Hal ini menunjukkan sekaligus betapa mulianya kedudukan Mekah dengan Rumah Sucinya itu di tengah-tengah tanah Arab. At-Tabari menceritakan – sehubungan dengan kisah penebusan ini – bahawa pernah ada seorang wanita Islam bernadar bahawa bila maksudnya terlaksana dalam melakukan sesuatu, ia akan menyembelih anaknya. Ternyata kemudian maksudnya terkabul. Ia pergi kepada Abdullah bin Umar. Orang ini tidak memberikan pendapat. Kemudian ia pergi kepada Abdullah bin Abbas yang ternyata memberikan fatwa supaya ia menyembelih seratus ekor unta, seperti halnya dengan penebusan Abdullah anak Abd’l-Muttalib. Tetapi Marwan – penguasa Madinah ketika itu – merasa hairan sekali setelah mengetahui hal itu. “Nadar tidak berlaku dalam suatu perbuatan dosa,” katanya.

Kedudukan Mekah dengan status Rumah Sucinya itu menyebabkan beberapa daerah lain yang jauh-jauh juga membuat rumah-rumah ibadat sendiri-sendiri, dengan maksud mengalihkan perhatian orang dari Mekah dan Rumah Sucinya. Di Hira pihak Ghassan mendirikan rumah suci, Abraha al-Asyram membangun rumah suci di Yaman. Tetapi bagi orang Arab itu tidak dapat menggantikan Rumah Suci yang di Mekah, juga tidak dapat memalingkan mereka dari Kota Suci itu. Bahkan sampai demikian rupa Abraha menghiasi rumah sucinya yang di Yaman, dengan membawa perlengkapan yang paling mewah yang kira-kira akan menarik orang-orang Arab – bahkan orang-orang Mekah sendiri – ke tempat itu.

2.15.  Kisah Abraha dan Gajah

Akan tetapi setelah ternyata bahawa tujuan orang-orang Arab itu hanya Rumah Purba itu juga, dan orang-orang Yaman sendiripun meninggalkan rumah yang dibangunnya itu serta menganggap ziarah mereka tidak sah kalau tidak ke Mekah, maka sekarang tidak ada jalan lain bagi penguasa Negus itu kecuali ia harus menghancurkan rumah Ibrahim dan Ismail itu. Dengan pasukan yang besar didatangkan dari Abisinia dia sudah mempersiapkan perang dan dia sendiri di depan sekali di atas seekor gajah besar.

Tatkala pihak Arab mendengar hal itu, besar sekali kekuatirannya akan akibat yang mungkin ditimbulkan kerananya. Suatu hal yang luar biasa bagi mereka, kedatangan seorang laki-laki Abisinia akan menghancurkan rumah suci mereka dan tempat berhala-berhala mereka. Seorang laki-laki bernama Dhu-Nafar – salah seorang bangsawan dan terpandang di Yaman – tampil ke depan mengerahkan masyarakatnya dan orang Arab lainnya yang bersedia berjuang melawan Abraha serta maksudnya yang hendak menghancurkan Baitullah. Tetapi dia tidak dapat menghalangi Abraha. Malah dia sendiri terpukul dan menjadi tawanan. Nasib yang demikian itu juga yang menimpa Nufail bin Habib al-Khath’ami ketika ia mengerahkan masyarakatnya dari kabilah Syahran dan Nahis, malah dia sendiri yang tertawan, yang kemudian menjadi anggota pasukannya dan menjadi penunjuk jalan. Ketika Abraha sampai di Ta’if penduduk tempat itu mengatakan, bahawa rumah suci mereka bukanlah rumah suci yang dimaksudkan Abraha. Itu adalah rumah Lat. Kemudian ia diantar oleh orang-orang yang bersedia menunjukkan jalan ke Mekah.

Bila Abraha sudah mendekati Mekah dikirimnya pasukan berkuda sebagai kurir. Dari Tihama mereka dapat membawa harta benda Quraisy dan yang lain-lain, di antaranya seratus ekor unta kepunyaan Abd’l-Muttalib bin Hasyim. Pada mulanya orang-orang Quraisy bermaksud mengadakan perlawanan. Tapi kemudian berpendapat, bahawa mereka takkan mampu. Sementara itu Abraha sudah mengirimkan salah seorang pengikutnya sebagai utusan bernama Hunata dan Himyar untuk menemui pemimpin Mekah. Ia diantar menghadap Abd’l-Muttalib bin Hasyim, dan kepadanya ia menyampaikan pesan Abraha, bahawa kedatangannya bukan akan berperang melainkan akan menghancurkan Baitullah. Kalau Mekah tidak mengadakan perlawanan tidak perlu ada pertumpahan darah.

Begitu Abd’l-Muttalib mendengar, bahawa mereka tidak bermaksud berperang, ia pergi ke markas pasukan Abraha bersama Hunata, bersama anak-anaknya dan beberapa pemuka Mekah lainnya. Kedatangan delegasi Abd’l-Muttalib ini disambut baik oleh Abraha, dengan menjanjikan akan mengembalikan unta Abd’l-Muttalib. Akan tetapi segala perbincangan mengenai Ka’bah serta supaya menarik kembali maksudnya yang hendak menghancurkan tempat suci itu ditolaknya belaka. Juga tawaran delegasi Mekah yang akan mengalah sampai sepertiga harta Tihama baginya, ditolak. Abd’l-Muttalib dan rombongan kembali ke Mekah. Dinasihatkannya supaya orang meninggalkan tempat itu dan pergi ke lereng-lereng bukit, menghindari Abraha dan pasukannya yang akan memasuki kota suci dan menghancurkan Rumah Purba itu.

Malam gelap gelita tatkala mereka memikirkan akan meninggalkan kota itu dan di mana pula akan tinggal. Malam itulah Abd’l-Muttalib pergi dengan beberapa orang Quraisy, berkumpul sekeliling pintu Ka’bah. Dia bermohon, mereka pun bermohon minta bantuan berhala-berhala terhadap agresor yang akan menghancurkan Baitullah itu.

Ketika mereka sudah pergi dan seluruh Mekah sunyi dan tiba waktunya bagi Abraha mengerahkan pasukannya menghancurkan Ka’bah dan sesudah itu akan kembali ke Yaman, ketika itu pula wabah cacar datang berkecamuk menimpa pasukan Abraha dan membinasakan mereka. Serangan ini hebat sekali, belum pernah dialami sebelumnya. Barangkali kuman-kuman wabah itu yang datang dibawa angin dari jurusan laut, dan menular menimpa Abraha sendiri. Ia merasa ketakutan sekali. Pasukannya diperintahkan pulang kembali ke Yaman, dan mereka yang tadinya menjadi penunjuk jalan sudah lari, dan ada pula yang mati. Bencana wabah ini makin hari makin mengganas dan anggota-anggota pasukan yang mati sudah tidak terbilang lagi ramainya.

Sampai juga Abraha ke Shan’a’ tapi badannya sudah dihinggapi penyakit. Tidak berselang lama kemudian diapun mati seperti anggota pasukannya yang lain. Dan dengan demikian orang Mekah mencatatnya sebagai Tahun Gajah. Dan ini yang diabadikan dalam Qur’an:

“Tidakkah kau perhatikan, bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap pasukan orang-orang bergajah? Bukankah Dia gagalkan rancangan mereka? Dan dilepaskan di atas mereka pasukan-pasukan burung. Melempari mereka dengan batu yang keras membakar. Sehingga mereka seperti daun-daun kering yang binasa berserakan.” (Qur’an 105: -4)

Peristiwa yang luar biasa ini lebih memperkuat kedudukan Mekah dalam arti agama, di samping itu telah memperkuat pula kedudukannya dalam arti perdagangan. Juga menyebabkan penduduknya lebih ramai memperhatikan dan memelihara kedudukan yang tinggi dan istimewa itu serta mempertahankannya dari segala usaha yang akan mengurangi arti atau akan menyerang kota ini. Orang-orang Mekah lebih bersemangat lagi mempertahankan kota mereka, mengingat kehidupan yang mereka peroleh kerananya, hidup makmur dan mewah sejauh yang dapat kita bayangkan kemewahan hidup mereka di daerah padang-pasir ini, gersang dan tandus.

Kegemaran penduduk daerah ini yang luarbiasa ialah minum nabidh (minuman keras). Dalam keadaan mabuk itu mereka menemukan suatu kenikmatan yang tidak ada taranya! Suatu kenikmatan yang akan memudahkan mereka melampiaskan hawa nafsu, akan menjadikan dayang-dayang dan hamba-hamba belian yang diperjual-belikan sebagai barang dagangan itu lebih memikat hati mereka. Yang demikian ini mendorong semangat mereka mempertahankan kebebasan peribadi dan kebebasan kota mereka serta kesadaran mempertahankan kemerdekaan dan menangkis segala serangan yang mungkin datang dari musuh. Yang paling enak bagi mereka bersenang-senang waktu malam sambil minum-minum hanyalah di pusat kota sekeliling bangunan Ka’bah.

Di tempat itu – di samping tiga ratus buah berhala atau lebih, masing-masing kabilah dengan berhalanya – pembesar-pembesar Quraisy dan pemuka-pemuka Mekah duduk-duduk; masing-masing menceritakan hal-hal yang berhubung dengan keadaan pedalaman, dengan Yaman, orang-orang Mundhir di Hira dan orang-orang Ghassan di Syria, tentang datangnya kafilah serta lalu-lintas orang-orang pedalaman.

Kejadian demikian itu sampai kepada mereka dalam bentuk cerita, dari suatu kabilah kepada kabilah yang lain. Setiap kabilah mempunyai “pemancar” dan “pesawat radio” yang menerima berita-berita kemudian disiarkan kembali. Masing-masing membawa cerita yang ada hubungannya dengan berita-berita orang pedalaman, kisah-kisah tetangga dan handai-tolan sambil minum-minum nabidh. Dan sesudah mereka bermalam suntuk di Ka’bah mereka menyiapkan diri untuk hal yang sama untuk lebih memuaskan kehendak hawa-nafsu. Dengan mata batu permata berhala-berhala itu menjenguk melihat kepada mereka yang sedang berdagang itu, dan mereka merasa mendapat perlindungan, kerana Ka’bah itu dijadikan Rumah Suci dan Mekah menjadi kota aman sentosa. Demikian juga berhala-berhala mendapat jaminan mereka, bahawa tidak seorangpun Ahli Kitab akan memasuki Mekah kecuali tenaga kerja yang takkan bincang tentang agama atau kitabnya.

Itulah sebabnya di sana tidak ada koloni-koloni Yahudi seperti di Jathrib atau Nasrani seperti di Najran. Bahkan Ka’bah yang dijadikan tempat paganisma yang paling suci ketika itu mereka lindungi dari semua yang akan menghinanya, dan merekapun berlindung ke sana dari segala serangan. Begitulah seterusnya Mekah itu bebas berdiri sendiri, seperti kabilah-kabilah Arab yang bebas pula berdiri sendiri-sendiri. Mereka tidak mahu kalau kebebasannya itu diganti, dan mereka tidak pedulikan cara hidup lain selain kebebasannya ini di bawah perlindungan berhala-berhala. Masing-masing kabilah tidak pula terganggu, dan tidak pula terfikir oleh mereka akan mengadakan suatu kesatuan bangsa yang kuat, seperti yang dilakukan oleh Rom dan Parsi dalam meluaskan kekuasaan dan melakukan peperangan.

Oleh kerana itu tetaplah kabilah-kabilah itu semua tidak mempunyai sesuatu bentuk apapun selain cara-cara hidup pedalaman, tempat mereka mencari padang rumput untuk ternak, kemudian hidup di tengah-tengah itu dengan cara hidup yang kasar, tertarik oleh segala kebebasan, kemerdekaan, kebanggaan dan kepahlawanan.

Pada dasarnya tempat-tempat tinggal di Mekah mengelilingi lingkungan Ka’bah. Jauh dekatnya rumah-rumah itu dari Ka’bah tergantung dari penting dan tingginya kedudukan sesuatu keluarga atau suku. Kaum Quraisy adalah yang terdekat letaknya dan paling banyak berhubung dengan Rumah Suci itu. Merekalah yang memegang kuncinya dan kepengurusan air Zam-zam, juga segala gelar-gelar kebangsawanan menurut paganisma ada pada mereka, yang sampai menimbulkan perang kerananya, menyebabkan adanya persekutuan, atau perjanjian-perjanjian perdamaian antar kabilah, yang tetap tersimpan di dalam Ka’bah, supaya dapat disaksikan oleh sang berhala untuk kemudian menurunkan murkanya bagi mereka yang melanggar.

Di belakang rumah-rumah Quraisy itu menyusul pula rumah-rumah kabilah yang agak kurang penting kedudukannya, diikuti oleh yang lebih rendah lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal kaum hamba dan sebangsa kaum gelandangan. Termasuk umat Kristian dan Yahudi di Mekah, seperti kita sebutkan tadi – adalah juga hamba. Tempat-tempat tinggal mereka jauh dari Ka’bah malah sudah berbatasan dengan sahara. Oleh kerana itu percakapan mereka tentang kisah-kisah agama, baik Kristian atau Yahudi, tidak sampai mendekati telinga pemuka-pemuka Quraisy dan penduduk Mekah umumnya. Letak mereka yang lebih jauh itu benar-benar membuat mereka lebih rapat lagi menutup telinga. Mereka tidak mahu menyibukkan diri dengan itu. Dalam perjalanan mereka melalui biara-biara dan tempat-tempat para rahib sudah biasa mereka mendengar cerita serupa itu.

Hanya saja apa yang sudah mulai diperkatakan orang tentang akan datangnya seorang nabi di tengah-tengah orang Arab waktu itu, sudah cukup menimbulkan heboh. Abu Sufyan pernah marah kepada Umayya bin Abu’sh-Shalt kerana orang ini sering mengulang-ulang cerita para rahib tentang hal serupa itu. Dan barangkali sesuai dengan kedudukan Abu Sufyan juga ketika itu ketika ia berkata kepada kawannya itu: Para rahib itu suka membawa cerita semacam itu kerana mereka tidak mengetahui soal agama mereka sendiri. Mereka memerlukan sekali adanya seorang nabi yang akan memberi petunjuk kepada mereka. Tetapi kita yang sudah mempunyai berhala-berhala, yang akan mendekatkan kita kepada Tuhan, tidak memerlukan lagi hal serupa itu. Kita harus menentang semua perbincangan semacam itu.

Dapat saja ia berkata begitu. Dia, yang begitu fanatik kepada Mekah dan kehidupan paganismanya, tidak pernah membayangkan bahawa saatnya sudah di ambang pintu, bahawa kenabian Muhammad saw sudah dekat dan bahawa dari tanah Arab pagan yang beraneka ragam itu cahaya Tauhid dan sinar kebenaran akan memancar ke seluruh dunia.

Abdullah bin Abd’l-Muttalib sebenarnya adalah pemuda yang berwajah tampan dan menarik. Menarik perhatian gadis-gadis dan wanita-wanita Mekah. Lebih-lebih lagi yang menarik perhatian mereka ialah kisah penebusan, dan kisah seratus ekor unta yang tidak mahu diterima oleh Hubal kurang dari itu. Tetapi takdir sudah menentukan Abdullah akan menjadi seorang ayah yang paling mulia yang pernah dikenal sejarah. Demikian juga Aminah bint Wahb akan menjadi ibu bagi anak Abdullah itu. Ia kahwin dengan wanita itu dan selang beberapa bulan kemudian iapun meninggal. Tidak ada lagi penebusan berupa apapun yang akan melepaskan dia dari maut. Tinggal lagi Aminah kemudian akan melahirkan Muhammad dan akan mati semasa yang dilahirkan itu masih bayi.

Pada gambar berikut ini salasilah keturunan Nabi yang menerangkan perkiraan tahun-tahun kelahiran mereka masing-masing.

2.16.  Salasilah Muhammad s.a.w.

_____________________________________

Nota Kaki:

[1] Kaum Sabian yang dimaksudkan di sini bukan yang dimaksudkan dalam Qur’an (2: 62), iaitu mazhab Nasrani yang berpegang pada Taurat dan Injil yang belum mengalami perubahan, melainkan orang-orang Harran yang disebut oleh Ibn Taimia sebagai pusat golongan ini dan sebagai tempat kelahiran Ibrahim atau tempat ia pindah dan Irak (Mesopotamia). Di tempat ini terdapat kuil-kuil tempat menyembah bintang-bintang. Kepercayaan mereka ini sebelum datangnya agama Nasrani. Setelah datang Agama Nasrani, kepercayaan mereka menjadi campur-baur dan dikenal sebagai pseudo-Sabian. (Dikutip oleh al-Qasimi dalam Mahasin’t-Ta’wil, jilid 2 hal. 154-147). Juga mereka tidak sama dengan kaum Sabaean yang berasal dari Saba di
Arab Selatan (A)

KEDATANGAN ISLAM DI ASIA TENGGARA


Koleksi Karya: Allahyarham Ustaz Wan Mohd. Shaghir Abdullah
_______________________________

Kedatangan Islam di Asia Tenggara telah banyak dibicarakan, terutama oleh para sarjana Islam. Walaupun sampai sekarang masih wujud perselisihan pendapat antara satu dengan yang lainnya, namun sebagai perkenalan diringkaskan di bawah ini:

Banyak pendapat mengatakan Islam tersebar di Asia Tenggara sejak abad 11, 12 dan 13 M. Ada berpendapat bahawa pengislaman negeri Kelantan datangnya dari negeri Patani. Sejak akhir abad ke- 2 Hijrah atau abad ke-7 Masihi telah datang pedagang Arab ke Patani yang kemudian terjadi asimilasi perkahwinan dengan orang-orang Melayu, dan dipercayai, sekali gus mereka menyebarkan Islam di pantai Timur Semenanjung Tanah Melayu.

PERTEMUAN

Dikatakan seorang bangsa Arab bernama Sheikh Ali Abdullah yang dahulunya tinggal di Patani, mengislamkan raja Kelantan. Pengakuan Perdana Menteri Kelantan, Haji Nik Mahmud Nik Ismail tentang pertemuan mata wang tahun 577 Hijrah atau 1181 Masihi, tulisan dengan angka Arab, juga tertulis dengan huruf Arab sebelah menyebelah mata wang itu masing-masing dengan Al-Julusul Kalantan dan Al-Mutawakkal ‘alallah.

Sekitar tahun 1150 Masihi, datang seorang Sheikh dari Patani menyebarkan Islam di Kelantan. Diriwayatkan pula oleh ulama Patani secara bersambung bahawa Islam masuk ke Patani dibawa oleh Sheikh Abdur Razaq dari Tanah Arab. Sebelum ke Patani, beliau tinggal di Aceh hampir 40 tahun.

 

Penyebaran Islam dari Timur Tengah ke Asia Tenggara

Selain itu, tulisan Arab telah lama digunakan sekali gus bersama tulisan Melayu/Jawi. Hal ini dibuktikan dengan mata wang yang digunakan di Patani. Sebelah hadapannya tertulis dengan bahasa Melayu, “Ini pitis belanja di dalam negeri Patani”, manakala di sebelah belakangnya dengan bahasa Arab yang jika diterjemahkan ertinya seperti di atas, tetapi di sebelah bahasa Arabnya ditambah dengan kalimat Sanah 1305.

Mata wang itu dibesarkan tiga kali ganda dari aslinya, maka sebelah yang bahasa Melayunya tertulis, “Duit ini untuk perbelanjaan dalam negeri Patani”, manakala sebelah bahasa Arabnya tertulis kata-kata ‘tahun Masihi 1305’. Tulisan Arab bahasa Melayu pada mata wang Patani tersebut tidak berjauhan tempoh jaraknya dengan Batu Bersurat yang terdapat di Kuala Berang, Terengganu yang bertahun 702 Hijrah atau 1303 Masihi atau 786 Hijrah atau 1398 Masihi.

Dikatakan Kedah menerima agama Islam dibawa oleh seorang mubaligh bernama Sheikh Abdullah bin Syeikh Ahmad bin Sheikh Ja’far Qaumiri dari negeri Syahrir, Yaman. Beliau sampai di Kedah pada tahun 531 Hijrah. Beliau berhasil mengislamkan Sri Paduka Maharaja dan menteri-menterinya.

Aceh termasuk negeri yang pertama diketemui oleh para pedagang Islam yang datang ke wilayah Nusantara tersebut. Di antara penyebar Islam yang terkenal bernama Sheikh Abdullah Arif (di abad ke 12M). Salah satu karya tasawufnya dalam bahasa Arab berjudul, Bahrul Lahut.

Dalam karya klasik karangan Tun Sri Lanang, dalam Sejarah Melayunya yang terkenal itu, bahawa beliau menceritakan kedatangan Sheikh Ismail yang berhasil mengislamkan seorang yang akhirnya terkenal dengan nama Sultan Malikush Shaleh.

Islam di Aceh sampai ke puncak kejayaannya di zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Melalui Aceh sehingga negeri Minangkabau menerima Islam, walaupun pada mulanya berjalan agak lambat lantaran pengaruh agama Hindu yang masih sangat menebal.

Pada tahun 1440 Masihi, Islam mulai bertapak di Palembang (Sumatera Selatan) yang disebarkan oleh Raden Rahmat. Di Leren Jawa diketemukan batu nisan seorang perempuan bernama Fathimah Maimun bertahun 495 Hijrah atau 1101 Masihi. Kira-kira tahun 1195 Masihi, Haji Purwa iaitu salah seorang putera Raja Pajajaran kembali dari pengembaraannya, lantas mengajak semua keluarga kerajaan supaya memeluk agama Islam. Namun usaha beliau itu gagal.

Para penyebar Islam di Pulau Jawa memuncak tinggi dengan sebutan Wali Songo/ Wali Sembilannya, yang terkenal di antara penyebar itu seumpama Maulana Malik Ibrahim yang makamnya di Gersik tahun 1419 Masihi.

Pada abad ke-15 Masihi Islam berkembang di Maluku dengan pantas, terkenal penyebarnya bernama Sheikh Manshur yang berhasil mengislamkan Raja Tidore serta rakyat di bawah pemerintahannya.

Adapun Sulawesi berdasarkan buku Hikayat Tanah-Tanah Besar Melayu, tanpa nama pengarang, yang diterbitkan oleh Printed at the Government Printing Office, Singapore, Straits Settlement, 1875 dikatakan bahawa yang terakhir menerima Islam ialah bangsa Bugis. Barangkali lebih kurang tahun 1620 Masihi.

Tahun 1620 Masihi boleh disejajarkan dengan tahun kedatangan mubaligh-mubaligh penyebar Islam yang datang dari Minangkabau. Dato’ Ri Bandang (Khathib Tunggal Abdul Makmur) telah mengislamkan Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyore dan Raja Goa I Mangarangi Daeng Manrabia, yang memeluk agama Islam pada hari Jumaat 9 Jamadilawal 1015 Hijrah bersamaan 22 September 1605 Masihi.

Dato’ Ri Bandang dibantu oleh Raja Goa menyiarkan Islam di Wajo. Beliau meninggal dunia di Patimang negeri Luwu (Indonesia), maka terkenallah beliau dengan sebutan Dato’ Patimang. Penyiar Islam yang seorang lagi bernama Dato’ Ri Tiro.

Barangkali Islam masuk di Sulawesi lebih awal dari tahun tersebut di atas. Pada tahun 1412 Masihi, seorang ulama Patani pernah mengembara hingga ke Pulau Buton dengan tujuan menyiarkan agama Islam ke bahagian Timur. Raja Mulae i-Goa menyambut kedatangan ulama itu dengan berlapang dada.

Pada tahun 1564 Masihi, disusul oleh Sheikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman yang lama menetap di Johor lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Buton. Walaupun beliau berasal dari Patani tetapi dikatakan masyarakat bahawa beliau adalah ulama Johor.

Seorang bangsa Portugis bernama Pinto pernah datang ke Sulawesi Selatan dalam tahun 1544 Masihi, beliau melaporkan bahawa di Sulawesi Selatan telah banyak pedagang Islam yang datangnya dari Johor, Patani dan Pahang.

Selanjutnya terjadi perkahwinan para pedagang yang beragama Islam itu dengan penduduk asli sehingga ramai rakyat memeluk agama Islam.

Pada tahun 1565-1590 Masihi, Raja Goa Tunijallo mendirikan sebuah masjid untuk pedagang Islam itu di sebuah kampong bernama Mangallekana berdekatan kota Makasar/Ujung Pandang (Indonesia).

Di dalam Hadiqatul Azhar, Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa Al-Fathani menyebut Islam masuk ke Sulawesi pada tahun 800 Hijrah, dan raja yang pertama Islam bernama Lamadasilah (La Meddusala).

Kalimantan (Indonesia) dikatakan menerima Islam pada abad ke 16M, Raja Banjar yang pertama memeluk agama Islam ialah Raden Samudera yang menukar namanya kepada Sultan Surian Syah selepas memeluk Islam dan akhir pemerintahannya ialah pada tahun 1550 Masihi.

Dikatakan sebagai penolong kanannya dalam pemerintahan ialah bernama Masih. Beliau mengambil tempat di pinggir Bandar. Dari perkataan Bandar, lalu dikenali dengan nama ‘Kerajaan Banjar’ dan lama kelamaan menjadi ‘Bandar Masih’ kerana mengambil sempena nama ‘Masih’ dan kini terkenal dengan nama ‘Banjarmasin’. Tetapi huruf ‘h’ ditukar dengan huruf ‘n’.

Di antara ulama Banjarmasin yang paling terkenal ialah Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari, penyusun kitab Sabilul Muhtadin dan Sheikh Muhammad nafis bin Idris Al-Banjari, penyusun kitab Ad-Durrun Nafis.

Sukadana menerima agama Islam yang dibawa oleh dua mubaligh bernama Sheikh Syamsuddin dan Sheikh Baraun, mubaligh yang membawa surat dari Mekah untuk memberi gelaran Raja Sukadana itu dengan Sultan Aliuddin atau juga digelar dengan nama Sultan Shafiuddin.

Sambas didatangi oleh mubaligh-mubaligh Islam yang paling ramai setelah Portugis menakluk Melaka dan setelah Aceh menakluk Johor. Di antara mubaligh yang sampai sekarang sebagai keramat (disebut keramat Lumbang) bernama Sheikh Abdul Jalil berasal dari Patani.

Ada juga mubaligh berasal dari Filipina, salah seorang keturunannya sebagai ulama besar, iaitu Sheikh Nuruddin kuburnya di Tekarang, Kecamatan Tebas, Sambas (meninggal dunia tahun 1311 Hijrah), Indonesia.

Pengislaman Sulu dilakukan dengan aman, yang datang ke sana adalah seorang mubaligh yang berpengalaman sejak dari Mekah, dan beliau sampai di Sulu pada tahun 1380 Masihi. Nama beliau ialah Syarif Karim Al-Makhdum.

Selepas Syarif Karim Makhdum datang pula Syarif Abu Bakar pada tahun 1450 Masihi. Beliau juga dipercayai seorang mubaligh yang banyak pengalaman dan aktiviti dakwahnya dilakukan sejak dari Melaka, Palembang dan Brunei.

Selain itu yang agung juga namanya dalam pengislaman di Filipina ialah Syarif Kebungsuan. Nama asalnya ialah Syarif Muhammad bin Zainal Abidin yang datang dari negeri Johor. Adapun Syarif Zainal Abidin itu diketahui adalah keturunan Rasulullah yang menyebarkan Islam di Johor.

SYEIKH ABDUR RAHMAN SHIDDIQ AL-BANJARI


Koleksi Karya: Allahyarham Ustaz Wan Mohd. Shaghir Abdullah

_______________________________

Ulama yang diriwayatkan ini adalah keturunan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, sama dengan Tuan Husein Kedah al-Banjari yang diriwayatkan minggu lalu. Jalur keturunan dari sebelah ayahnya ialah Mufti Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kiyai Dipa Santa Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad al-Banjari.Jalur keturunan yang menyentuh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama dunia Melayu yang sangat terkenal, ialah bahawa ibunya bernama Shafura binti Mufti Haji Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad. Ibu Mufti Haji Muhammad As’ad bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, iaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Bajut.

Syeikh Abdur Rahman Siddiq Al-banjari

Dari jalur yang lain pula bahawa ibu Muhammad Afif bernama Sari binti Khalifah Haji Zainuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, iaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Guat.Berdasarkan catatannya sendiri yang penulis peroleh daripada keturunan beliau di Sapat dan Tembilahan, Inderagiri Hilir (1982) bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir bulan Rabiulakhir, malam Khamis, sebelum Subuh, 1284 Hijrah/Ogos 1867 Masihi.

Beliau memadamnya dan diganti dengan 1288 Hijrah/Jun/Julai 1871 Masihi. Penulis tidak sependapat dengan beberapa orang penulis yang menyebut bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir pada tahun 1857 Masihi. Mengenainya barangkali satu kekeliruan menyesuaikan tahun 1284 Hijrah atau 1288 Hijrah ke tahun Masihi saja. Bahawa 1284 Hijrah bukan bersamaan dengan tahun 1857 Masihi tetapi yang betul ialah tahun 1867 Masihi. Catatan tambahan yang dilakukan oleh anaknya bahawa beliau wafat pada hari Isnin, jam 5.40, 4 Syaaban 1358 Hijrah/18 September 1939 Masihi, dalam usia 70 tahun.

PENDIDIKAN

Pendidikan asasnya diperoleh dari lingkungan keluarga ulama Banjar yang ada hubungan dengan beliau. Sama ada kedua-dua orang tuanya, mahu pun Abdur Rahman Shiddiq sendiri berhasrat untuk memperoleh ilmu yang banyak di Tanah Suci Mekah, namun beliau menempuh jalan yang berliku-liku. Abdur Rahman Shiddiq banyak memperoleh ilmu di alam terbuka, bumi dipijak, langit dijunjung di beberapa tempat yang dirantaunya. Mulai Banjar berlayar ke Jawa, ke Sumatera, sambil berlayar, di rantau orang mengajar dan berusaha untuk memperoleh wang untuk sampai ke Tanah Suci Mekah.

Perjuangannya adalah suci untuk memperoleh ilmu memartabatkan Islam, semangatnya adalah teguh kukuh tidak akan terabai dan tergugahkan. Sempat belajar dengan beberapa orang ulama di Padang, sambil berdagang emas dan perak di Padang. Beliau juga merantau ke daerah Tapanuli. Pernah mengajar kitab Sabilul Muhtadin, karangan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, datuk neneknya di Barus dan Natal di daerah Tapanuli.

Berdasarkan catatan Abdur Rahman Shiddiq bahawa dalam musim haji tahun 1306 Hijrah yang bererti bersamaan dengan Julai 1889 Masihi barulah cita-cita Abdur Rahman Shiddiq sampai ke Mekah, dan tinggal di sana hingga tahun 1312 Hijrah/1894 Masihi.Oleh sebab Haji Abdur Rahman Shiddiq sampai di Mekah pada tahun tersebut di atas dinyatakan oleh beliau sendiri, maka penulis tidak sependapat dengan kenyataan Imran Effendy Hs dalam buku Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, halaman 16, 18 dan 63 yang menyebut bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq berangkat ke Mekah pada 1882/3 Masihi.

Catatan tulisan tangan Haji Abdur Rahman Shiddiq penulis miliki sejak tahun 1982 di Sapat daripada salah seorang keturunan beliau. Dalam catatan itu jelas bahawa sejak dilahirkan, catatannya berada di Padang pada 10 Zulhijjah 1305 Hijrah/18 Ogos 1888 Masihi, bahawa beliau bernama Abdur Rahman Shiddiq. Oleh sebab catatannya ditulis jauh sebelum beliau berada di Mekah, maka penulis juga tidak sependapat dengan buku di atas (halaman 18) yang menyebut bahawa gelar `Shiddiq’ diberikan oleh gurunya, al-Syata (maksudnya Sayid Abu Bakri asy-Syatha) di Mekah.Sewaktu belajar di Mekah, beliau bersahabat dengan beberapa orang, di antara mereka ialah Tuan Husein Kedah al-Banjari, keturunan Banjar yang dilahirkan di Kedah ini (lahir 1280 Hijrah/1863 Masihi).

Usianya lebih tua beberapa tahun daripada Haji Abdur Rahman (lahir 1288 Hijrah/1871 Masihi). Sahabatnya yang lain ialah Haji Abdullah Fahim (lahir 1286 Hijrah/1869 Masihi), Tok Kenali (lahir 1287 Hijrah/1871 Masihi) dan ramai lagi. Mengenai guru-guru yang mengajar di Masjid al-Haram pada zaman itu telah banyak disebut pada siri-siri yang lalu, oleh itu tidak perlu dibicarakan lagi.

AKTIVITI

Sudah cukup jelas dan tidak perlu diragukan bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq pulang dari Mekah ialah tahun 1312 Hijrah/1894 Masihi. Oleh itu pendapat Imran Effendy Hs dalam bukunya (halaman 20) yang menyebut Haji Abdur Rahman Shiddiq pulang dari Mekah pada tahun 1890/1 dan pendapat Syafei Abdullah dalam bukunya Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Syeikh H.A. Rahman Shiddiq, Mufti Inderagiri, menyebut tahun 1897 Masihi penulis tidak sependapat dan perlu penelitian yang lebih kemas lagi.Pulang dari Mekah terus ke Martapura, kemudian pindah ke Bangka dilanjutkan pengembaraan di seluruh Semenanjung menziarahi teman-temannya, di antaranya Tok Kenali. Beberapa sultan, di antaranya sultan Johor meminta beliau menjadi mufti , semuanya beliau tolak. Akhirnya Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq membuka perkampungan sendiri yang kemudian diberi nama Parit Hidayat di Inderagiri Hilir. Di sanalah beliau membina umat membuka pengajian sistem pondok. Dalam masa kejayaannya membuka perkampungan untuk perkebunan kelapa dan pengajian itulah Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq dilantik sebagai Mufti Kerajaan Inderagiri.

PENULISAN

Karya-karya Mufti Haji Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari yang telah ditemui penulis senaraikan sebagai berikut:

  1. Asrarus Shalah, diselesaikan pada bulan Rejab 1320 Hijrah. Kandungannya membicarakan mengenai sembahyang. Cetakan yang pertama Mathba’ Haji Muhammad Sa’id bin Haji Arsyad, Kampung Silong, Jalan Arab Street, Kedai Surat No, 82 Singapura, akhir Zulhijjah 1327 Hijrah. Cetakan selanjutnya oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1348 Hijrah/1929 Masihi (cetakan ketiga).
  2. Fat-hul `Alim, diselesaikan pada 10 Syaaban 1324 Hijrah. Kandungannya membicarakan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah secara lengkap. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 28 Syaaban 1347 Hijrah/8 Januari 1929 Masihi.
  3. Risalatut Tazkirah li Nafsi wa lil Qashirin Mitsli, diselesaikan pada 20 Syaaban 1324 Hijrah. Kandungannya merupakan tazkirah dan nasihat yang dipetik daripada Majmu’ karangan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Cetakan pertama, Tempat Cap Haji Muhammad Amin, Singapura, 1324 H.
  4. Risalah Amal Ma’rifat, diselesaikan di Sapat, Inderagiri, 8 Rabiulawal 1332 Hijrah. Kandungannya membicarakan akidah menurut pandangan tasawuf. Cetakan yang kedua, 30 Muharam 1344 Hijrah oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 50 Minto Road, Singapura.
  5. Syair Ibarat dan Khabar Kiamat, diselesaikan 25 Zulhijjah 1332 Hijrah. Kandungannya menceritakan peristiwa Hari Kiamat ditulis dalam bentuk syair. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 50 Minto Road, Singapura, 9 Syaaban 1344 Hijrah.
  6. Risalah Kecil Pelajaran Kanak-kanak Pada Agama Islam, diselesaikan 1 Safar 1334 Hijrah. Kandungannya merupakan pelajaran fardu ain untuk kanak-kanak. Cetakan yang ketiga oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1348 Hijrah/1929 Masihi.
  7. Aqaidul Iman, diselesaikan di Sapat, Inderagiri, 16 Rabiulawal 1338 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang akidah. Cetakan baru oleh Toko Buku Hasanu, Jalan Hasanuddin Banjarmasin atas izin Mahmud Shiddiq, Pagatan, Kota Baru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, 1405 Masihi. Diterbitkan daripada salinan tulisan tangan oleh Hasan Bashri Hamdani.
  8. Syajaratul Arsyadiyah, diselesaikan 12 Syawal 1350 Hijrah. Kandungannya membicarakan asal-usul Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari dan keturunan-keturunannya. Cetakan pertama oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura.
  9. Risalah Takmilah Qaulil Mukhtashar, diselesaikan 10 Safar 1351 Hijrah. Kandungannya menceritakan tanda-tanda Hari Kiamat dan mengenai kedatangan Imam Mahdi. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, dicetak kombinasi dengan Syajaratul Arsyadiyah (103 halaman) oleh pengarang yang sama, dan Risalah Qaulil Mukhtashar fi `Alamatil Mahdil Muntazhar (55 halaman) karya Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari.
  10. Mau’izhah li Nafsi wa li Amtsali minal Ikhwan, diselesaikan 5 Rejab 1355 Hijrah. Kandungannya merupakan kumpulan pengajaran akhlak. Cetakan yang pertama oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1355 Hijrah.
  11. Beberapa Khuthbah Pakai Makna Karangan Jaddi as-Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Kandungannya merupakan kumpulan khutbah yang pernah diucapkan oleh Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 101 Jalan Sultan, Singapura, tanpa dinyatakan tahun cetakan.
  12. Majmu’ul Ayat wal Ahadits fi Fadhailil `Ilmi wal `Ulama’ wal Muta’allimin wal Mustami’in, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Kandungannya merupakan kumpulan hadis serta terjemahannya dalam bahasa Melayu. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1346 Hijrah/1927 Masihi.
  13. Catatan, tanpa tarikh, ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Kandungannya merupakan beberapa catatan Syeikh Abdur Rahman Shiddiq mulai lahir malam Khamis, sebelum Subuh 1288 Hijrah/ Jun/Julai 1871 Masihi. Wafat hari Isnin, jam 5.40, pada 4 Syaaban 1358 Hijrah/18 September 1939 Masihi, dalam usia 70 tahun. Tahun 1306 Hijrah beliau ke Mekah. Tinggal di sana hingga tahun 1312 Hijrah. Selain itu terdapat catatan kelahiran dan wafat anak-anaknya dan lain-lain.
  14.  

%d bloggers like this: