PANDUAN PUASA RAMADHAN


PANDUAN PUASA RAMADHAN

Oleh: Ustadz Abu Rasyid

MUQADDIMAH

Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad).

Artinya : Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak (tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain: Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

Sabda Rasul saw.: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu, yangjika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim).

Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah” (HR. Ahmad).

Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh.

Dalam menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah puasa ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.

Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah puasa Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan KESIMPULAN dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. Amien.

I. MASYRU’IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADHAN.

1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa “(QS Al-Baqarah: 183).

2. “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini), maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah: 185).

3. ” Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka’bah. (HR.Bukhari Muslim).

4. “Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. “.

KESIMPULAN: Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :

  1. puasa Ramadhan hukumnya Fardu ‘Ain (dalil 1, 2, 3 dan 4).
  2. puasa Ramadhan disyari’atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).

II. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). (HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai)

3. ” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R.Muslim)

4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur’an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” (H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? (untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim).

KESIMPULAN: Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

1. Bulan Ramadhan adalah:

  • Bulan yang penuh Barakah.
  • Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
  • Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
  • Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
  • Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

  • Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
  • Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa’t.
  • Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6).

III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN

1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya

katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah puasa Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim).

KESIMPULAN:

  • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya).
  • Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2).
  • Pada dasarnya ru’yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2).
  • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama).

IV. RUKUN PUASA

1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…(AL-Baqarah :187).

2. “Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim).

3. “Allah Ta’ala berfirman : ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” (Al-Bayyinah :5)

4. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” (H.R Bukhary dan Muslim).

5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

KESIMPULAN: Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

  1. Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5).
  2. Menahan makan, minum, koitus (Jima’) dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2).

V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.

1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah : 183)

2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan .

- Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

KESIMPULAN: Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

VI. YANG DILARANG PUASA

1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim).

KESIMPULAN: Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN

1. “(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185.)

2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda: Hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim)

4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik” (HR. Ahmad dan Muslim)

6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka.” (HR.Tirmidzy).

7. “Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih

8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang puasa Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa .” (Riwayat Baihaqi) Shahih.

9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

  1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
  2. Orang yang bepergian (Musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

  1. Umurnya sangat tua dan lemah.
  2. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
  3. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
  4. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
  5. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. (dalil 2,7,8 dan 9).

VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…” (Al-Baqarah : 187).

2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).

3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa – maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal). (H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy)

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. (H.R : Abu Daud) hadits shahih.

6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa (Ramadhan), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah

kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda : Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

KESIMPULAN: Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa (Ramadhan) ialah sbb:

  • Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa. (dalil : 2)
  • Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa. (dalil :3)
  • Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6)
  • Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil : 7)
  • Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk Maghrib).(dalil : 4)

IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA

1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. (H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud)

3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa. (H.R : Al-Bukhary).

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R : Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih.

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. (H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).

6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. (H.R :Ashhabus Sunan)

7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).

KESIMPULAN: Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

  1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
  2. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1)
  3. Berbekam pada siang hari. (dalil : 3)
  4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5)
  5. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil : 6)
  6. Disuntik di siang hari.
  7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN.

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. (H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem)

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. (H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi)

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan)

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R : Al-Bukhary)

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R : An-Nasa’i)

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R : Al-Baihaqi)

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur)daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem)

12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir)

13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary)

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R : Muslim)

17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. (H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya)

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R : Muslim)

19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R : Jama’ah)

20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah)

22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : (artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang

telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R : Jama’ah)

24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim)

25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R : Muslim)

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah (artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)

27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R :Jama’ah kecuali At-Tirmidzi)

29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

30. Allah ta’ala berfirman : (artinya) Janganlah kalian mencampuri mereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati…(Al-Baqarah : 187)

31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku

dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan

berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : ” sesungguhnya saya sedang puasa” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. (H.R :Muslim)

34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R : Muslim)

KESIMPULAN:Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6) Sunnah berbuka adalah sbb :

  1. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. (dalil: 2,3 dan 4)
  2. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil : 6)
  3. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5)

2. Makan sahur. (dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

  • Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10)
  • Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil : 13)

4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. sampai akhir Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16) Cara shalat Tarawih adalah :

  1. Dengan berjama’ah. (dalil : 19)
  2. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil : 17)
  3. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil : 18)
  4. Bacaan dalam witir : Raka’at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga : Qulhuwallahu ahad. (dalil : 21)
  5. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22)

5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil : 25 dan 26)

6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27)

Cara i’tikaf :

  • Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28)
  • Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. (dalil : 29)
  • Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil : 30)

7. Mengerjakan umrah. (dalil : 33 dan 34)

8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32)

___________________________________

Maraji’ (Daftar Pustaka):

  1. Al-Qur’anul Kariem
  2. Tafsir Aththabariy.
  3. Tafsir Ibnu Katsier.
  4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
  5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
  6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.

Oleh Ustadz Abu Rasyid

SALAM RAMADHAN AL-MUBARAK


KEMUSYKILAN TENTANG PUASA


Di bawah ini ada beberapa persoalan yang sering kali menjadi kemusykilan mengenai ibadat puasa.

1. Bolehkah seseorang itu berniat puasa selama sebulan kerana takut terlupa?
Pada hari pertama, boleh berniat puasa sebulan, boleh juga berniat setiap malam untuk menguatkan azam, untuk menempuh cabaran berpuasa.

2. Adakah boleh tidak bersahur disebabkan malas untuk bangun bersahur?
Yang membezakan puasa kita dengan puasa bangsa Yahudi ialan makan sahur. Seeloknya bangun sejam sebelum masuk waktu imsak. Lagi lewat kita bersahur lebih berkat.

3. Benarkah berdosa wanita yang tidak berpuasa kerana haid, makan diwaktu siang kerana tidak menghormati bulan Ramadan?
Tidak berdosa dan boleh makan pada waktu siang selagi wanita tersebut tidak makan dikhalayak ramai.

4. Apakah hukumnya seorang suami menjimak isterinya pada siang hari dalam bulan Ramadan dan apakah hukumnya?
Hukum bersetubuh di siang hari pada bulan Ramadan haram dan di kenakan kaffarah (Kaffarah hanya dikenakan kepada lelaki sahaja) seperti berikut:-

  • Memerdeka seorang hamba(sudah tiada)
  • Berpuasa 2 bulan berturut-turut jika sudah dicuba beberapa kali namun tidak mampu disegi syarak hendaklah,
  • Menberi 60 orang miskin makan setiap seorang satu cupak makan asasi.
  • Wajib qadha puasa yang terbatal kerana bersetubuh tersebut.

5. Bolehkah seorang wanita mengandung dan menyusukan anaknya tidak berpuasa kerana tidak berupaya?
Menurut pendapat ulama mazhab Syafei bahawa wanita hamil dan menyusui apabila khuatir mengalami bahaya maka mereka wajib berbuka, tidak payah berpuasa. Dan dalam keadaan ini mereka hendaklah mengqadha puasanya kelak.

6. Adakah batal puasa bagi wanita yang bersolek di bulan Ramadan?
Tidak batal, asalkan gincu bibir yang dipakainya sederhana dan tidak mempunyai perasa ditakuti ketika menjilatnya lalu menelannya di anggap batal.

7. Adakah sah puasa sekiranya memberus gigi selepas azan subuh berkumandang untuk menunaikan solat subuh di dalam bulan puasa?
Sah puasa memberus gigi selepas azan subuh berkumandang. Perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa. Hukumnya sunat dia menggosok gigi sebelum gelincir matahari dan makruh selepas gelincir matahari(selepas masuk waktu zohor)

8. Adakah terbatal puasa jika bermimpi jimak dan keluar air mani?
Bermimpi berjimak dan keluar air mani dalam berpuasa tidak membatalkan puasa kerana bermimpi adalah bukan perkara yang disengajakan.

9. Adakah muntah tidak membatalkan puasa?
Melakukan dengan sengaja membatalkan puasa. Sekiranya muntah tanpa kerelaannya sendiri dan tidak dapat menahannya, maka tidaklah batal puasa.

10. Benarkah tidur pada siang hari dalam bulan Ramadan itu dikira sebagai ibadah? Jika benar tidur yang bagaimana?
Tidur di siang hari pada bulan Ramadan itu ibadah dan dapat pahala. Tidur yang dimaksudkan itu ialah tidur kerana keletihan berpuasa. Ini bererti semua pancainderanya tidak melakukan sebarang kegitan yang dilarang oleh syarak.

11. Adakah batal puasa sekiranya terlalu lama mandi dan berkumur?
Mandi berlebihan batal puasa, tetapi memasukkan sedikit air kerana berkumur tidak batal puasanya, kecuali berkumur terlalu dalam secara berlebihan.

12. Adakah batal puasa sekiranya melakukan aktiviti renang?
Melakukan aktiviti renang dengan niat untuk menyejukkan badan adalah makruh. Tetapi apabila air tersebut masuk ke dalam rongga yang terbuka seperti hidung, telinga dan sebagainya, maka hukum puasanya adalah terbatal dengan sebab melakukan aktiviti renang dengan sengaja.

13. Adakah sah puasa bagi seseorang yang pitam?
Sah puasanya, kecuali pitam yang berpanjangan dari terbit fajar sehinggalah terbenamnya matahari.

14. Apakah hukum cabut gigi, berbekam dan semasa berpuasa?
Hukumnya makruh.

15. Adakah melakukan pengubatan, misalnya suntikan ke tubuh badan dibolehkan?
Jika suntikan itu terpaksa dilakukan maka ia termasuk dalam darurat dan tidak membatalkan puasa.

16. Jika seseorang menunaikan puasa Ramadan tiba-tiba dia tidak dapat menahan rasa haus kerana cuaca teramat panas, bolehkan meminum sedikit air sekadar untuk membasahkan tekaknya?
Sekiranya orang yang berpuasa meminum air walaupun setitik atau seteguk, batal puasanya dan wajib baginya mengqadha puasanya itu.

17. Bilakah waktu yang sesuai untuk mandi wajib selepas bersama dengan suami pada malam hari pada bulan Ramadan?
Melambat-lambatkan mandi wajib adalah makruh. Sekiranya seseorang lelaki atau perempuan berjunub pada malam hari dalam bulan Ramadan dan tidak sempat mengangkat hadas besar sehingga terbit fajar (masuk waktu subuh), maka puasa kedua-dua mereka sah dengan syarat mereka berniat pada malam hari. Sama juga keadaan ini bagi mereka yang bermimpi pada malam hari sehingga keluar air mani.

18. Adakah sah puasa seseorang, ketika sedang bersahur terdengar azan subuh berkumandang?
Sah puasanya, dan hendaklah berhenti makan serta merta dan terus membuang sisa makanan yang berada di dalam mulutnya.

19. Saya berpuasa di Mekah lebih awal satu hari dari mereka berpuasa di Malaysia. Apabila saya balik, puasa saya sudah cukup 30 hari dan orang Malaysia masih berpuasa lagi. Adakah boleh saya berbuka dan berhari raya?
Mengikut khaul yang lebih betul tidak boleh berbuka dan berhari raya, hendaklah tunggu bersama berbuka dan berhari raya dengan penduduk Malaysia.

20. Apabila kita berpuasa dibulan ramadhan, dan melakukan onani, apakah kita perlu membayar fidyah/puasa berturut-turut seperti org yang melakukan persetubuhan. atau puasa tadi hanya perlu diganti satu hari sahaja.
Puasa wajib digantikan semula dengan berpuasa sebanyak mana hari yang ditinggalkan tersebut sahaja.

21. Batalkah puasa jika menggunakan ubat utk mata seperti EYE More semasa berpuasa?
Pesakit mata yang menggunakan ubat untuk mata seperti eye more dengan cara menitikkannya ke dalam mata semasa berpuasa, tidak batal puasa kerana ia bukan termasuk kategori anggota yang berongga.

22. Ada satu hadis mengenai jika kita berpuasa tanpa makan sahur adalah puasa kita menyerupai puasa orang yahudi, jadi adakah amalan puasa itu sia-sia dan tidak diterima Allah swt.
Bersahur adalah sunat dan merupakan sunnah nabi s.a.w. Jika kita tidak bersahur kita tidak dapat pahala sahur. Puasa yang dikerjakan tanpa bersahur akan diberi ganjaran oleh Allah juga.

23. Adakah sah bila kita niat puasa ganti wajib dengan niat bahasa melayu sahaja?
Sah puasa dengan hanya niat dalam bahasa Melayu sahaja.

24. Apakah perbezaan puasa antara kanak-kanak dan orang dewasa?
Kanak-kanak yang berpuasa akan diberikan ganjaran pahala manakala puasa bagi orang dewasa adalah satu kefardhuan yang ditetapkan oleh Allah SWT

25. Saya mempunyai penyakit ‘asma’ dan terpaksa menggunakan ‘inhaler’ untuk membantu pernafasan ketika diserang asma. Jika saya sedang berpuasa, adakah puasa saya sah?
Pesakit asma yang menggunakan inhaler untuk membantu pernafasan ketika diserang asma semasa sedang berpuasa adalah tidak terbatal puasanya. Mengikut pandangan ulama’ zaman ini, inhaler tidak membatalkan puasa lebih-lebih lagi mereka yang menghidapi athma kronik yang memerlukannya setiap saat dan ketika. Keharusan itu bukan bermaksud wajib atau sunat tetapi sebagai rukhsah (kelonggaran) atas keperluan dan dharurat seseorang pesakit yang membolehkan pesakit athma terus berpuasa tanpa berbuka dan menyukarkannya untuk melakukan puasa berterusan di dalam bulan Ramadhan.Walau bagaimanapun seseorang yang jarang diserang athma dan tidak bergantung dengan inhaler, tiba-tiba athma menyerang ketika berpuasa, mereka juga diberi rukhsah (kelonggaran) dengan alasan sakit untuk berbuka dengan tujuan makan ubat dan sebagainya dan menggantikannya (qadha’) di hari yang lain pula.

26. Seseorang yang berpuasa, kentut atau qada hajat didalam air, Adakah batal puasanya?.
Seseorang yang berpuasa, kentut atau qadha’ hajat di dalam air puasa tidak batal sekiranya dia meyakini bahawa air tidak memasuki dubur dan qubulnya.

27. Saya di beritahu oleh seorang rakan yang waktu imsak hanya lah sebagai “amaran” yang waktu subuh akan tiba. Dia juga mengatakan yang kita masih boleh makan atau minum sebelum azan subuh bermula walaupun melewati waktu imsak. Dia juga memberitahu bahawa ada hadis yang menyatakan tentang perkara ini.
Waktu puasa yang sebenarnya ialah waktu naik fajar subuh hingga terbenam matahari atau hingga masuknya waktu maghrib. Harus bagi seseorang bersahur pada waktu imsak, tetapi sebaik-baiknya mengambil sikap ihtiyat (cermat) dengan menahan daripada makan dan minum beberapa waktu yang lebih awal untuk mengelakkan melampaui batas-batas yang diharuskan dan meragukan.

28. Suami saya langsung tidak mengerjakan solat wajib lima waktu apatah lagi solat sunat. Jauh sekali solat Jumaat. Apakah puasanya diterima?
Puasa adalah puasa, solat adalah solat kedua-duanya wajib disempurnakan secara bersama. Malahan semua Rukun Islam yang terdiri daripada sembahyang, puasa, zakat dan haji dikehendaki ditunaikan semuanya dengan sempurna.Sesiapa meninggalkan salah satunya tanpa uzur ia dianggap meninggalkan Rukun Islam. Berpandukan pendapat ini orang yang berpuasa tetapi meninggalkan solat tanpa uzur yang munasabah dianggap lemah iman dan dibimbangi keimanannya. Jika ia berpuasa lengkap syarat dan rukunnya puasanya tetap sah sakalipun berdegil dengan solat terpulanglah kepada Allah SWT untuk mempertimbangkannya.

29. Benarkah pap smear tidak membatalkan puasa?
Batal puasa apabila memasukan sesuatu dalam rongga terbuka seperti kemaluan depan dan belakang.

30. Saya selalu selsema, selain menghembus saya juga tarik ke dalam, batalkah puasa saya?
Hingus yang keluar dari rongga hidung apabila disedut semula ke dalam hidung batal puasanya

31. Adakah boleh ambil darah semasa berpuasa?
Boleh ambil darah semasa berpuasa dan tidak membatalkan puasa hukumnya adalah makruh.

32. Apakah rongga terbuka yang boleh menyebabkan terbatal puasa seseorang jika dimasukkan sesuatu?
Yang dimaksudkan dengan rongga terbuka ialah hidung, mulut, telinga dan qubul dan dubur apabila dimasukkan sesuatu ke dalam rongga tesebut yang menyebabkan terbatal puasa.

33. Ketika kedua-dua suami isteri sedang berpuasa di bulan ramadan, suami menyuruh isteri memegang alat sulitnya tetapi tidaklah sehingga mengeluarkan air mani. Apakah status puasa kedua-duanya? perlukah membayar denda dsb?
Puasa bagi kedua-dua suami isteri sah dan tidak dikenakan apa-apa bayaran denda. Tuan puan dinasihatkan supaya tidak melakukan perkara tersebut di siang hari pada bulan puasa kerana ia boleh mengurangkan pahala puasa.

34. Suami-isteri bercium pada hari berpuasa,adakah puasanya terbatal?
Suami isteri boleh bercium di pipi sahaja dan tidak batal puasa yang kita kerjakan.Tetapi sekiranya memasukkan lidah ke dalam mulut batal puasa yang dikerjakan.

35. Huraian berkenaan puasa dan rawatan pergigian (tampalan, cabutan, scaling dsb)?
Menampal, mencabut dan scaling gigi di siang hari Ramadhan adalah makruh hukumnya, tetapi boleh membatalkan puasa sekiranya tertelan darah dan bahan rawatan bersama air liur.

36. Sah atau tidak puasa seorang wanita yang tidak mandi hadas setelah habis haid pada malam sebelumnya?
Sah puasa bagi wanita yang telah kering haid pada malam hari tetapi belum mandi hadas sehingga siang hari Ramadhan.

37. Adakah batal jika kita mengorek hidung/telinga pada siang hari pada bulan ramadhan dengan sengaja?
Batal puasa yang dikerjakan bagi mereka yang megorek hidung atau telinga hingga ke dalam rongga.Tetapi mengorek di tepi hingga tidak sampai ke dalam rongga tidak membatalkan puasa.

38. Saya tak terbangun makan sahur dan niat puasa selepas waktu imsak adakah sah atau tidak ?
Sah puasa yang dikerjakan walaupun berniat selepas waktu imsak.

39. Apakah hukumnya makan pil perancang untuk melewatkan darah haid turun untuk meneruskan puasa di bulan puasa?
Dilarang kepada wanita memakan pil perancang dengan tujuan berkenaan kerana ia akan memberi kemudharatan kepada kesihatan inspanidu tersebut.

40. Saya membuat rawatan Hemodialisis. Adakah batal puasa saya?
Puasa pesakit tidak batal walau pun dia menerima rawatan hemodialisis/cuci darah.

41. Saya ingin tahu, adakah batal puasa jika menelan kahak yang sedia ada didalam tekak?
Kahak yang terdapat di dalam tekak jika tertelan tidak batal tetapi sekiranya kahak itu sudah berada di mulut sekiranya ditelan dengan sengaja maka batal puasa tersebut dan wajib qadha’ puasa.

42. Batal kah puasa kita, jika kita memasukkan jari kedalam kemaluan belakang kita dengan niat ingin membersihkan dubur kita setelah membuang air besar?
Sekiranya perkara tersebut dilakukan semata-mata untuk membersihkan najis ia tidaklah membatalkan puasa.

43. Apa hukumnya bila seseorang itu memakai ‘tindik lidah’ dan ingin menjalani ibadah puasa. Adakah puasanya sah?
Islam adalah agama yang menitik beratkan akhlak dan budi pekerti. Meniru cara hidup atau budaya orang bukan Islam, tidak digalakkan. Justeru itu, panel menasihatkan supaya sesiapa yang memakai subang di lidah, hendaklah dibuka semasa berpuasa.

44. Apakah hukum puasa bagi mereka yang tidur sampai ke petang atau masuk waktu zuhur?
Sah puasa tersebut tetapi dihukumkan makruh.

45. Bagaimana sekiranya sahabat saya dalam keadaan sakit. Atas nasihat doktor, beliau tidak boleh berpuasa seumur hidupnya. Bagaimanakah beliau hendak menggantikan puasanya. Cukupkah dengan sekadar fidyiah. Dan berapakah sukatannya?
Cukup sekadar dia membayar fidyah untuk puasanya sehari bersamaan dengan satu cupak beras(675gram). Jadi, untuk bulan ramadhan, dia dikehendaki membayar 30 cupak beras

46. Adakah sepasang suami isteri dikira sebagai bersetubuh apabila perhubungan tidak sampai ke tahap jimak iaitu zakar dimasukkan ke dalam faraj ketika siang hari pada bulan puasa? Sebagai contoh, perhubungan yang hanya melibatkan pelukan atau ciuman sesama suami isteri.
Perhubungan yang melibatkan pelukan dan ciuman sesama isteri diwaktu siang hari pada bulan ramadhan adalah makruh.

47. Saya bekerja di stesen minyak, pada bulan puasa in kami membuka stesen mini mart stesen minyak kami dan menjual makanan kepada orang islam yang tidak berpuasa. apakah hukum kepada perkara tersebut?.
Mengenai hukum membuka mini mart dan menjual makanan kepada orang islam yang tidak berpuasa adalah haram hukumnya. Dihukumkan haram adalah kerana orang Islam diharamkan mengambil/memakan sebarang makanan dan minuman pada siang hari pada bulan ramadhan. Oleh yang demikian, menjual makanan kepada mereka yang diharamkan makan juga turut dihukumkan haram. Wallahu ‘alam.

48. Jika seseorang berpuasa tetapi masih berpegangan tangan, berpeluk walhal masih belum berkahwin adakah puasanya terbatal?
Perbuatan berpegangan tangan berpelukan antara lelaki dan wanita yang belum berkahwin adalah berdosa. Perbuatan tersebut boleh membawa kepada maksiat yang lebih besar iaitu zina. Jika mereka keluar mani hasil
daripada perbuatan tersebut (berpegangan tangan dan berpeluk), maka puasa mereka batal dan mereka wajib menggantikan puasa yang batal itu.

49. Batalkah puasa iaitu, “Berniat berbuka atau membatalkan puasa sebelum waktu”. Adakah seperti kita berniat puasa juga cuma bezanya ia adalah untuk membatalkannya? Atau adakah dengan lintasan dalam hati sahaja sudah cukup membuatkan puasa saya terbatal.?
Berniat untuk berbuka/membatalkan puasa tidak menyebabkan puasa seseorang itu terbatal. Puasanya akan terbatal sekiranya dia mengambil makanan ataupun melakukan sesuatu yang membatalkan puasa.

50. Adakah dibolehkan melambatkan berbuka puasa?
Adalah baik sekiranya menyegerakan berbuka puasa dengan air manis dan sebiji kurma sebelum menunaikan solat Magrib.

_______________________________________
Sumber: JAKIM, Ustaz Cyber

IBADAH PUASA


Dalil Diwajibkan Puasa

Firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Maksudnya : “ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa ”. (Surah Al-Baqarah Ayat 183)

Pengertian Puasa

Ertinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari.

Hukum – Hukum Puasa                       

  1. Wajib
  2. Sunat
  3. Makruh
  4. Haram

Puasa Wajib :                                                              

Puasa yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, qada’ puasa Ramadhan,puasa kifarah & puasa nazar.

Puasa Sunat : 

1)      Puasa dalam bulan Sya’ban

2)      Puasa 6 hari dalam bulan Syawal

3)      Puasa Arafah pada 9 zulhijjah

4)      Puasa hari  Tasu’a  dan  ‘Asyura pada 9 & 10 Muharram

5)      Puasa pada hari Isnin & Khamis

6)      Puasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan pada 13,14 & 15

7)      Puasa satu hari berbuka satu hari

8)      Puasa lapan hari daripada bulan Zulhijjah sebelum hari Arafah bagi orang yang sedang mengerjakan haji atau tidak.

9)      Puasa dalam bulan–bulan haram iaitu bulan Zulkaedah,Zulhijjah,Muharram dan Rejab

Puasa Makruh :

1)      Menentukan hari untuk berpuasa seperti jumaat sahaja,Sabtu & Ahad sahaja

2)      Berpuasa sepanjang tahun

Puasa Haram :

1)      Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya

2)      Puasa pada hari syak iaitu pada hari 30 Sya’ban

3)      Puasa pada hari raya aidil fitri,hari raya aidil adha dan hari-hari Tasyrik

4)      Puasa perempuan haid & Nifas

5)      Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa

Syarat-syarat Puasa Terbahagi kepada 2 :

1)      Syarat-syarat wajib

2)      Syarat-syarat sah

Syarat wajib

1)      Islam

2)      Baligh

3)      Berakal

4)      Berupaya(sihat)

5)      Bermukim

Syarat Sah

1)      Islam

2)      Berakal

3)      Bersih daripada haid & Nifas sepanjang hari

4)      Niat

Rukun Puasa

a)  Niat
b)  Menahan diri dari makan & minum serta perkara-perkara yang membatalkannya

Masa Puasa

Puasa bermula dari terbit fajar hingga terbenam matahari

Faedah Puasa

1)      Melahirkan perasaan belas kasihan terhadap golongan miskin

2)      Mendidik nafsu & jiwa kearah kebaikan

3)      Dapat merasai apa yang ditanggung oleh golongan miskin

4)      Puasa merupakan perbuatan taat kepada Allah

5)      Mendidik budi pekerti untuk memiliki sifat-sifat terpuji

6)      Puasa mengajar seseorang supaya beramanah terhadap diri sendiri

7)      Puasa mengajar kesabaran dan berperaturan

8)      Puasa menyebarkan perasaan kasih sayang & persaudaraan dalam jiwa manusia

Sunat-sunat puasa

1)      Makan Sahur serta melambatkannya

2)      Menyegerakan berbuka puasa & sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis

3)      Menjamu orang-orang yang berbuka puasa

4)      Mandi junub,haid dan nifas sebelum fajar

5)      Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan

6)      Membaca Al-Quran

7)      Beriktikaf terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan

Perkara Makruh Ketika Berpuasa

1)      Berbekam

2)      Mengeluarkan darah

3)      Berkucup

4)      Merasa makanan

5)      Bersugi selepas gelincir matahari

6)      Mencium wangian

Perkara Yang Membatalkan Puasa

1)      Memasukkan sesuatu ke dalam rongga dengan sengaja kecuali terlupa

2)      Makan dan minum sepanjang hari

3)      Muntah dengan sengaja

4)      Bersetubuh atau keluar mani dengan sengaja

5)      Keluar darah haid & nifas

6)      Gila

7)      Pitam atau mabuk sepanjang hari

8)      Murtad

Keuzuran Yang Mengharuskan Berbuka Puasa

1)      Musafir

2)      Sakit

3)      Mengandung & Ibu yang menyusukan anak

4)      Tua

Keistimewaan Bulan Ramadhan

1)      Bulan yang mulia,berkat dan setiap doa akan dimakbulkan

2)      Allah merahmati orang yang mengimaninya

3)      Al-Quran diturunkan dalam bulan ini

4)      Iblis dipenjarakan

5)      Terdapat malam yang mulia iaitu malam Lailatul qadar.

6)      Solat tarawikh dan zakat fitrah dilaksanakan. 

Menghormati Bulan Ramadhan

a)  Kita hendaklah mengelakkan diri daripada kebiasaan yang boleh merugikan diri kita seperti berbelanja dengan boros,suka berhibur,membuang masa dan bersembang tentang perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah sebaliknya hendaklah kita menyambut Ramadhan dengan azam yang tinggi untuk memperbanyakkan ibadat bagi menyucikan jiwa.

b)  Kita hendaklah berusaha menyediakan diri untuk menjaga benih-benih amal yang kita tanam di bulan Ramadhan kerana seseorang yang menanam benih jika tidak membaja,menyiram serta memelihara pasti tidak akan mengeluarkan hasil yang baik di masa hadapan.

Niat Puasa dan Qadha’ Puasa Ramadhan

1)  Lafaz niat puasa fardhu Ramadhan :

نويت صوم غد عن أداء فرض شهررمضان هذه السنة لله تعالى .

Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.

2)  Lafaz niat puasa Qhada’ Ramadhan :

نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى .

Ertinya :  Sahaja aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Taala.

Doa Ketika Berbuka Puasa

اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت برحمتك ياأرحم الراحمين.

Ertinya : Ya Tuhanku keranamu jua aku berpuasa dan denganmu aku beriman dan di atas rezekimu aku berbuka dengan belas kasihanmu Ya Allah yang amat mengasihani.

Qada’ Puasa Ramadhan

Ialah menggantikan puasa yang terbatal pada bulan Ramadhan diatas sebab-sebab yang diharuskan berbuka oleh syara’

Hukum Qada’ Puasa Ramadhan

Wajib menggantikan puasa Ramadhan bagi yang membatalkan puasa Ramadhannya samaada kerana keuzuran ataupun tanpa sebarang keuzuran

Firman Allah Ta’ala :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”. (Surah Al-Baqarah Ayat 184)     

Waktu Qada’ Puasa Ramadhan

-  Waktunya selepas bulan Ramadhan sehingga ke bulan Ramadhan yang berikutnya walaubagaimanapun qada’ puasa yang dilakukan dalam masa dilarang berpuasa adalah tidak sah contohnya seperti di hari raya.

-  Adapun bagi orang yang mengakhirkan qada’ Ramdhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi maka ia wajib qada’ dan membayar fidyah.

Kifarah Puasa

Ialah seseorang yang merosakkan puasanya dalam bulan Ramadhan dengan jalan melakukan jima’ maka ia wajib membayar kifarah (denda) iaitu si suami wajib mengeluarkan kifarah & qada’ puasa yang terbatal kerana jima’ walaubagaimanapun si isteri tidak wajib mengeluarkan kifarah tetapi wajib qada’ puasa yang terbatal.

Kifarah bagi puasa yang batal atau rosak ialah :

1)      Membebaskan seorang hamba yang beriman

2)      Jika tiada hamba untuk dibebaskan, wajib ke atasnya  berpuasa 2 bulan berturut-turut

3)      Jika tidak mampu berpuasa, wajib dia memberikan makan 60 orang fakir miskin setiap seorang mendapat secupak makanan asasi negeri itu.

Fidyah

Ialah bayaran denda dengan memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) dengan sebab-sebab tertentu atau mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi. Satu cupak bersamaan dengan 620 gram.

Hukum Fidyah

Wajib di keluarkan berdasarkan Firman Allah Ta’ala :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”.  (Surah Al-Baqarah Ayat 184)                                                     

Sebab-Sebab Wajib Fidyah

1)      Tidak mampu melakukan ibadah puasa

2)      Sakit yang tidak mampu untuk sembuh

3)      Perempuan hamil atau menyusukan anak iaitu jika berpuasa mendatangkan mudharat kepada anak yang di kandung dan boleh mengurangkan air susu

4)      Mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi.

AHLAN WA SAHLAN YA RAMADHAN


Artikel Panduan Puasa Ramadhan
Terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

KLIK UNTUK MUAT TURUN FAIL SEKARANG

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa (183).

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١٨٤﴾

(Puasa yang diwajibkan itu ialah beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka), kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu daripada memberi fidyah), kalau kamu mengetahui (184).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿١٨٥﴾

(Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah. Oleh itu, sesiapa dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa bulan itu dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah dia berbuka, kemudian wajiblah dia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan) dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya dan supaya kamu bersyukur (185).

(Surah Al-Baqarah: Ayat 183 – 185)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers

%d bloggers like this: